NovelToon NovelToon
Upstage My Heart

Upstage My Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romansa / Showbiz / Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:489
Nilai: 5
Nama Author: meongming

Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Liburan Bersama

Pagi itu, Lyla masih terlelap seperti habis bertempur di medan perang. Selimut menutupi seluruh tubuhnya, rambut berantakan, dan bantal sudah entah ke mana. Bahkan suara burung di luar jendela tidak mampu membangunkan gadis itu.

Tapi saat suara notifikasi ponsel berbunyi tring!—Lyla langsung terbangun seperti alarm otomatis yang diprogram hanya untuk notifikasi tertentu.

Dengan mata masih setengah terbuka, ia meraih ponselnya. Sekilas, wajahnya tampak berharap, tapi saat membaca isi pesan, ekspresinya berubah sedikit kecewa.

Dari grup Teater bukan dari Noah.

Lyla menarik napas dan membaca isi chat yang baru masuk.

Juliet:

"Kalian pasti masih tidur, ya?"

(dikirimi stiker kucing menguap lucu)

"Aku punya kabar baik! Karena sebentar lagi liburan semester selesai... gimana kalau kita ke pantai dan menginap semalam?"

Belum sampai lima detik, grup langsung dipenuhi balasan ceria dan emotikon melompat-lompat dari anggota lainnya.

Rose

"Wah! Aku setujuuu!!!"

Mika:

"Pantai?? Nginep?!! Count me in!!" ️

Rio

"Juliet emang paling bisa cari alasan biar liburan bareng!"

Lyla: (akhirnya ikut membalas)

"Asal jangan aku yang disuruh masak, ya."

Juliet langsung membalas cepat.

"Tenang, kamu bagian foto-foto momen kita. Siap-siap ya, Lylaaa~"

Lyla tersenyum kecil. Meski bukan dari Noah, suasana hati pagi ini jadi lebih baik. Tapi... tetap saja, sedikit bagian dari dirinya berharap satu notifikasi lagi muncul—yang isinya cuma satu nama. Noah.

Dan seolah semesta mendengar...

Tring!

Lyla melirik layar ponselnya cepat-cepat.

Noah:

"Selamat pagi, gadis make-up artis terbaik di dunia?"

Wajah Lyla langsung merona. Ia menggulingkan tubuhnya sambil memeluk bantal, tertawa kecil.

"Kenapa sih, dia selalu tahu waktu yang pas buat bikin aku senyum..." gumamnya sendiri.

Obrolan di grup teater kembali ramai

Juliet:

"Oke dengar! Aku sudah cek tempatnya. Namanya Azure Bay. Ada penginapan kecil tepat di tepi pantai, cukup untuk 10 orang!"

Rio:

"Kamu bergerak secepat kilat, seperti biasa."

Rose:

"Tapi kita akan pergi ke sana naik apa? Jangan bilang kita jalan kaki dari kota."

Juliet:

"Sudah kupikirkan. Kita bisa menyewa minibus. Kalau semua ikut, biayanya akan lebih ringan. Aku akan kirim rinciannya nanti malam."

Lyla:

"Kapan rencananya?"

Juliet:

"2 hari  lagi. Kita berangkat pagi, bermain seharian, menginap satu malam, dan kembali sore keesokan harinya. Setuju?"

Balasan-balasan bersemangat langsung membanjiri grup. Semua terlihat antusias.

Lyla menatap layar ponselnya dengan senyum tipis. Tapi diam-diam, ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya.

Apakah Noah akan ikut?

Seolah menjawab pikirannya, layar ponsel kembali menyala.

Noah:

"Kamu bakal ikut ke Azure Bay, kan? Sepertinya akan menyenangkan, kalau kamu ikut, aku juga pasti ikut."

Lyla tersenyum dan membalas cepat:

" aku senang kamu ikut... "

" kalau gitu bolehkan aku duduk di sebelahmu saat di bus nanti?"

Pipi Lyla langsung memanas. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum mengetik pelan.

Lyla:

"Asal kamu tidak tertidur di bahu orang lain lagi."

Beberapa detik kemudian, balasan Noah muncul lagi.

Noah:

"Tak akan. Soalnya bantal favoritku sekarang sudah bisa marah kalau aku sembarangan."

Lyla menutup ponselnya sambil memeluk bantal, menahan senyum yang terlalu sulit disembunyikan. Entah kenapa, rasanya liburan ke pantai itu mendadak jadi sangat penting.

**

2 hari kemudian 

Pagi itu cuaca cerah, langit membiru seperti menyambut petualangan baru. Semua anggota klub teater tampak ceria berkumpul di titik temu, menunggu minibus sewaan yang katanya "rekomendasi Juliet, pasti nyaman dan luas."

Beberapa dari mereka tertawa sambil menyeret koper, yang lain sibuk mengambil selfie dengan kamera polaroid. Lyla berdiri tak jauh dari kerumunan, membawa tas punggung mungil, wajahnya berseri-seri seperti matahari pagi.

Noah memperhatikan dari samping, mendekat sedikit, lalu membisik pelan.

"Kamu ceria sekali, Lyla."

Lyla menoleh. Senyumnya mengembang, lembut namun menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar antusiasme liburan.

"Iya... karena kamu ikut," jawabnya nyaris seperti angin.

Noah menatapnya beberapa detik, lalu tertawa pelan.

"Aku dengar itu," katanya sambil perlahan menggenggam tangan Lyla.

Jantung Lyla berdegup cepat. Tapi ia tidak menarik tangannya. Justru ia membiarkan jari-jarinya menyatu erat di sela jemari Noah, seolah itu tempatnya sejak awal.

Tak lama kemudian, suara klakson membelah kegaduhan pagi itu. Sebuah minibus putih berhenti tepat di depan mereka. Sopirnya turun sebentar untuk membuka bagasi, sementara para anggota klub teater langsung bersorak riang.

Tanpa aba-aba, semua langsung berebut naik seperti anak-anak bubar sekolah. Ada yang tertawa, ada yang salah masuk kursi, bahkan ada yang panik mencari sandal yang hampir tertinggal.

Juliet hanya berdiri di pinggir, tangan di pinggang dan kepala sedikit menggeleng.

"Baru juga liburan, sudah seperti rusuh pulang kampung..." gumamnya.

Di tengah kekacauan kecil itu, Noah dan Lyla tetap tenang. Mereka naik paling akhir. Di dalam bus, tanpa banyak bicara, Noah langsung menarik Lyla ke salah satu kursi dua di sebelah jendela.

Mereka duduk berdampingan, tangan mereka masih saling menggenggam, seolah itu hal yang paling alami di dunia. Belum ada yang sadar tentang kedekatan mereka… belum, kecuali Juliet yang sempat melirik dari kursi depan dan mengangkat sebelah alisnya.

Tapi dia tak berkata apa-apa. Hanya tersenyum kecil sambil memasang headset-nya.

Mesin minibus menderu pelan. Jalanan mulai terbentang di depan mereka, diselimuti cahaya matahari yang lembut. Mini bus pun melaju, membawa mereka menuju pantai… dan mungkin, awal dari cerita yang lebih panjang lagi.

**

Perjalanan berlangsung dengan cepat. Canda tawa di dalam bus tak pernah berhenti, namun waktu terasa seperti melesat. Debur ombak yang mulai terdengar dari kejauhan membuat semua langsung menempelkan wajah ke jendela.

"Kita sampai!!" teriak salah satu anggota.

Begitu bus berhenti di parkiran tepi pantai, semua langsung turun dengan semangat. Angin laut menyambut mereka—hangat, asin, dan membebaskan.

Juliet berdiri paling depan, tangannya diangkat tinggi.

"Oke semua! Kita punya waktu seharian penuh untuk menikmati ini. Jangan lupa, malam kita akan menginap di penginapan dekat sini, jadi bersenang-senanglah!"

Semua bersorak.

Lyla melangkah pelan ke arah pasir, sepatunya sudah dipegang di tangan. Kaki kecilnya langsung menyentuh pasir hangat, dan senyum pun terbit di wajahnya.

Di belakangnya, Noah menyusul. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan pelan di samping Lyla, membiarkan angin laut mengacak rambut mereka berdua.

Hari liburan pun dimulai.

Lyla menarik tangan Noah dengan semangat, membawanya mendekat ke bibir pantai. Hamparan pasir halus dan desiran ombak menyambut langkah mereka.

“Cepatlah,” ucap Lyla tanpa menoleh. Senyumnya merekah saat air laut menyentuh kakinya. Matahari siang membuat wajahnya berkilau hangat.

Noah mengikutinya dengan langkah santai, tapi tak melepaskan genggaman tangan Lyla. Jemari mereka masih bertaut erat, seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Dari kejauhan, Juliet yang sedang bermain bersama teman-teman lain melirik ke arah pasangan baru itu. Ia menyipitkan mata curiga, lalu berdiri dan berjalan cepat ke arah mereka, menepuk-nepuk celananya yang terkena pasir.

Tanpa aba-aba—byuur!

Cipratan air laut mendarat tepat mengenai Lyla dan Noah.

“Hei!” Lyla kaget, mundur selangkah sambil tertawa geli.

Juliet tertawa puas dan kembali memercikkan air ke arah mereka.

“Hah? Kalian pacaran sekarang?!”

Dia langsung nyerocos tanpa mikir.

“Di pantai pula! Serius deh, kalian niat banget bikin orang kesel!”

Dia ngakak, tapi nadanya jelas campur kaget dan sedikit sebal.

“Gila, sejak kapan? Sejak kapan kalian jadi gila gini?!”

Lyla tersipu, menunduk malu-malu. Noah justru tersenyum santai.

“Sejak pertama,” jawabnya pelan. “Aku yang jatuh cinta duluan.”

Lyla menoleh cepat, matanya membulat tak percaya.

“Noah…”

Tapi Noah hanya menatapnya lembut, seolah kata-katanya barusan bukan sesuatu yang butuh ditarik kembali.

Juliet mendecak. “Ugh… apa-apaan itu... menjijikkan.”

Ia lalu menyiram air lagi—dan lagi.

“Cepat sadar kalian, ini tuh di tempat umum !” teriaknya sambil berlari menjauh, tertawa puas.

Lyla hanya bisa tertawa kecil, wajahnya sudah semerah matahari senja. Noah mengangkat alis santai.

“Aku serius, lho,” bisiknya pada Lyla, sebelum ikut mengejar Juliet sambil tertawa.

Suara tawa mereka bercampur dengan deru ombak, membingkai siang itu menjadi kenangan yang tak akan mudah dilupakan.

1
StellaY
semangat terus thor💪
meongming: yesss💪💪
total 1 replies
StellaY
uwu banget😍😍
meongming: seneng ada yang suka 🤩 makasih dukungan mu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!