NovelToon NovelToon
AMBISI SANG SELIR

AMBISI SANG SELIR

Status: tamat
Genre:Harem / Fantasi Wanita / Konflik etika / Cinta Istana/Kuno / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:93.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Jika aku berhasil menaiki takhta ... kau adalah orang pertama yang akan ku buat binasa!”

Dijual sebagai budak. Diangkat menjadi selir. Hidup Esma berubah seketika tatkala pesonanya menjerat hati Padishah Bey Murad, penguasa yang ditakuti sekaligus dipuja.

Namun, di balik kemewahan harem, Esma justru terjerat dalam pergulatan kuasa yang kejam. Iri hati dan dendam siap mengancam nyawanya. Intrik, fitnah, hingga ilmu hitam dikerahkan untuk menjatuhkannya.

Budak asal Ruthenia itu pun berambisi menguasai takhta demi keselamatannya, serta demi menuntaskan tujuannya. Akankah Esma mampu bertahan di tengah perebutan kekuasaan yang mengancam hidupnya, ataukah ia akan menjadi korban selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ASS15

“Mansur Ağa, malam ini ... aku ingin Esma menemaniku. Sampaikan padanya, untuk bersiap-siap nanti malam,” ujar Bey Murad sore itu, menatap langit jingga di balik jendela istana.

Mansur menunduk hormat, lalu menjawab dengan hati-hati. “Ampunkan hamba, Baginda. Sepertinya malam ini, Esma tidak dapat memenuhi perintah Anda.”

Bey Murad menoleh cepat, menatap sinis sang kasim yang masih menunduk. “Apa maksudmu?!”

“Esma sedang tidak sehat, Tuanku,” jawab Mansur hati-hati. “Seharian ini panasnya tinggi sekali. Tabib berkata bahwa Esma hanya kelelahan dan butuh istirahat, ia juga telah diberikan ramuan penurun panas. Namun, sampai saat ini, belum juga ada perubahan.”

Bey Murad terdiam sejenak, raut wajahnya berubah dari sinis menjadi khawatir.

“Esma terus-terusan mengigau, katanya setiap tertidur ia bermimpi buruk—melihat sosok menyeramkan dan hewan-hewan yang tak wajar. Bahkan hari ini, ia mengaku bermimpi kakinya dipatuk ular,” jelas Mansur panjang lebar.

“Ular? Apakah dirinya juga memimpikan semacam kalajengking dan gagak?” tanya Bey Murad seakan ingin memastikan sesuatu.

“Benar, Baginda ....” Mansur perlahan menutup bibirnya dengan telapak tangan, ia sepertinya mulai paham pikiran Bey Murad mengarah ke mana.

Mimpi buruk berulang-ulang, bermimpi ular, kalajengking, gagak—semua identik dengan tanda-tanda sihir ataupun pengaruh ilmu hitam. Dalam kepercayaan lama di kalangan Ottoman, mimpi semacam itu diyakini sebagai pertanda bahwa roh jahat atau jin pelayan sihir sedang berusaha menembus pertahanan diri seseorang.

Ular melambangkan pengkhianatan dan racun, kalajengking menandakan kutukan dan penderitaan yang ditanamkan lewat sihir, sementara gagak adalah pembawa pesan kematian atau tanda bahwa seseorang telah dijatuhi niat jahat dari kejauhan. Dengan kata lain, Esma mungkin sedang menjadi korban santet kerajaan.

Bey Murad menatap kosong ke arah jendela beberapa detik, sebelum akhirnya berdiri dari kursinya.

“Pindahkan Esma ke kamarku. Sekarang juga,” ujarnya tegas. “Aku tak ingin kekasihku menderita sendirian di kamarnya, sementara ada yang berani bermain kotor di bawah atapku!”

Mansur langsung menunduk, bersiap untuk meninggalkan ruangan. “Perintah Baginda akan segera hamba laksanakan. Hamba akan segera memerintahkan kasim untuk mem—”

“Tidak,” potong Bey Murad cepat. Suara beratnya cukup untuk membuat Mansur berhenti melangkah. “Aku sendiri yang akan menjemputnya.”

Mansur menoleh perlahan, menatap tuannya dengan wajah tercengang. Namun lagi-lagi, ia hanya bisa mengangguk patuh.

Mansur segera mengambil jubah hitam panjang milik Bey Murad yang tergantung di sandaran kursi, lalu dengan sigap mengenakannya pada sang tuan.

“Setelah aku membawa Esma, perintahkan dua kasim dan dua pelayan untuk menggeledah kamarnya. Jika mereka menemukan jimat, abu, atau benda apa pun yang berbau sihir—segera bakar di halaman, dan panggil tabib istana untuk bersiap.”

Mansur menunduk patuh. “Baik, Baginda.”

“ORHAN!” seru Bey Murad lantang. Pintu segera terbuka, Panglima Orhan pun masuk dan segera menunduk hormat.

“Cari semua Cinçi Hoca yang berani berkeliaran di negeri ini. Seret mereka ke istana sebelum fajar. Aku ingin tau siapa dalang yang cukup berani menantang tahta ini dengan ilmu hitam.”

Bey Murad berjalan menuju pintu, melangkah keluar dengan jubahnya yang berkibar di belakang tubuh tegapnya.

...***...

Seluruh penghuni harem dibuat tercengang ketika sang penguasa, dengan penuh kasih, mengangkat Esma dalam gendongannya dan melangkah keluar kamar. Bisik-bisik mulai terdengar di sepanjang koridor harem yang kini menjadi saksi, betapa Sultan mereka yang dikenal dingin dan tak tersentuh, membawa seorang selir dengan kelembutan yang tak pernah terlihat sebelumnya.

“Lihatlah cara Baginda memandangnya,” bisik salah satu pelayan sambil menutup mulutnya. “Seolah hanya Esma yang ada di dunia ini. Terlihat sekali bahwa Baginda benar-benar mencintai Esma.”

“Wajar saja jika Baginda jatuh hati padanya,” sahut yang lain pelan. “Esma Hatun memang berbeda. Dia sangat lembut, sopan, dan tak pernah meninggikan suara meski terhadap pelayan seperti kita.”

“Kau benar,” timpal seorang lagi sambil melirik ke arah Yasmin yang berdiri kaku di ujung lorong. “Tak seperti Yasmin Hatun ... selalu memandang orang dari atas kepala, padahal wajahnya saja kalah jauh dari Esma.”

“Dan lihat sekarang,” bisik pelayan termuda dengan tawa pelan, “Baginda bahkan tak menoleh ke arah Yasmin sedikit pun.”

“Hey, kalian lihat wajahnya sekarang. Yasmin benar-benar tampak murka—wajahnya merah padam seperti disiram bara.”

Yasmin yang berdiri di ujung koridor mengepalkan jemarinya kuat-kuat, berusaha menyembunyikan amarah di balik senyuman palsu. Namun, sorot matanya menelanjangi isi hatinya sendiri—api cemburu itu berkobar terang benderang.

Di pelukan Bey Murad, Esma membenamkan wajah seolah malu. Namun, tidak ada yang tau bahwa sudut bibirnya perlahan mengembang, membentuk senyum licik yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Dalam hatinya, ia berbisik pelan. ‘Bagaimana, Yasmin? Apa hatimu kini terbakar panas oleh api cemburu? Hahaha, terima kasih untuk jimatmu—karena tanpanya, mustahil pria berkuasa ini menunjukkan cintanya di depan penghuni harem ... bahkan, tepat di depan matamu sendiri.’

Tatapannya yang tampak tenang sesungguhnya menyimpan kepuasan mendalam. Setiap langkah Sultan yang gagah sambil menggendongnya terasa seperti kemenangan kecil. Seperti sebuah penegasan, siapa yang kini berkuasa di hati Baginda. Di belakang sana, Esma dapat mendengar bisikan-bisikan yang semakin ramai. Namun, baginya semua itu hanyalah musik lembut yang mengiringi kejatuhan Yasmin.

*

*

*

1
Kustri
masya Allah... muslim gk boleh jd budak👍
baginda mau nyentuh hrs ada kata "sah"✌
Kustri
bagindane njijik'i, ky teh celup sopo wae dicelup yn lg birahi🤮🤧
Satri Eka Yandri
keren 👍👍
Dae_Hwa💎: Terima kasih banyak untuk penilaian sempurna nya, Kakak. 💗
total 1 replies
Emily
keren banget ceritanya Thor.. biasanya aku suka kesel sama novel yg tokoh ceweknya bukan cuma oon tapi juga lemah...tapi di novel ini MC ceweknya benar Badas
Dae_Hwa💎: Terima kasih banyak atas dukungannya, Kakak. 🥰
total 1 replies
Emily
meringis sekaligus senang di nuray di ksih pelajaran
Emily
si nuray kepingin nasibnya seperti yasmin
Emily
keren esma singkirkanpara pengkhianat
Emily
dasar selir2 bego..udah punya permata malah milih batu kali
Emily
nuray gila ya
Emily
hey nuray titah permaisuri adalah mutlak..
siapa kau berani melawan permaiduri
Emily
nuray benar benar titisan yasmin
Emily
yasmin berhati iblis
Emily
rasakan yasmin
Emily
0rang jahat pasti akan terpuruk
Emily
kata Mail eh Mansur "aku juga"😆
Emily
justru karena ambisi dan kepintaran Esme layak jadi permaisuri
Emily
Mansur frustasi dgn tingkah esma wkwkwk
Emily
esma aylin Alena trio yg sangat solid
Emily
semoga Esme cepat sembuh
Emily
safiye orang kepercayaan yasmin harusnya diawasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!