Raisa terlahir sebagai anak yang ceria selayaknya anak pada umumnya. Namun, setelah kejadian hilangnya sang adik semua kehangatan dan kebahagiaan yang dulu ia dapatkan di rumah sirna seketika. Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang hilang berada di jalanan, melepas semua beban dan merasakan kebebasan yang telah lama terkurung dalam sangkar. Karena trauma masa lalu yang berbekas di hatinya, memaksanya terlihat kuat di hadapan semua orang. walau sebenarnya hatinya sangat rapuh, sampai dia tak tahu artinya pelukan hangat, pujian yang membanggakan dan kasih sayang yang tulus. Akankah Raisa menemukan jati dirinya lagi yang selama ini ia kubur dalam-dalam dan menemukan seseorang yang mampu melelehkan hatinya yang telah membeku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. THE SILENT GAZE
D balik helm yang setengah terbuka, Raisa menggigit bibirnya yang sudah memar bukan karena sakit namun karena rasa bersalah yang mencabik pelan dari dalam. Tangannya mencengkram pinggang Alex tapi jarinya gemetar. setiap detik motor mendekati rumah, dadanya terasa sesak.
"Ayah pasti udah tau aku nggak ada di kamar, dia pasti panik...gimana kalo dia kambuh lagi? Aku harus gimana? Apalagi dengan kondisiku seperti ini, aku belum siap dengan semuanya." Pikiran itu terus berdatangan, seperti suara sirine yang meraung di dalam kepalanya.
"Sial...aku bisa melawan puluhan orang, tapi untuk pulang? Dan menghadapi Ayah... seseorang yang paling berharga di hidup ku, aku pengecut banget," pikirnya sambil mengatur napas panjang, menahan luka dan menyiapkan diri untuk luka yang lebih dalam yaitu tatapan kecewa dari seseorang yang paling ia cintai.
Udara dingin menusuk, tapi bukan itu yang membuat dada Raisa sesak. Alex bisa merasakan perasaan Raisa dari genggaman di pinggangnya. Dia sangat cemas dengan kondisi Raisa, bukan cuma karena luka di kaki bosnya atau memar diwajahnya. Tapi karena dia tahu luka yang paling dalam bukan di tubuh tapi di hati.
"Andai waktu bisa diputar balik, tapi dia harus pulang. Dia kuat banget, dan sekarang terlihat rapuh begini...Aku harus temenin dia sampai titik terakhir. My queen, tenanglah aku disini gak bakal tinggalin kamu," Alex memandang wajah Raisa yang sendu di balik kaca spion dengan senyum penuh kasih.
Roda motor gede berwarna hitam doff berhenti pelan di depan gerbang besar bercat hitam yang terbuka lebar, deru mesinnya seolah terhenti bersama detak jantung semua orang di sana.
Raisa mengusap semua airmata yang tak berhenti mengalir, menghela napas bersiap menghadapi semua yang akan terjadi.
"Lex, makasih...lo boleh pulang sekarang.." nadanya parau dan pelan nyaris tak terdengar. Tangan dinginnya menepuk pundak Alex pelan namun Alex hanya menoleh dan mengusap lembut tangan di pundaknya.
"Nggak bos, saya akan tetap disini temani bos. Saya gak mau bos kenapa-kenapa, saya harus pastikan bos baik-baik saja. Apalagi bos sangat berharga di hidup saya dan saya tidak..." Alex turun dari motornya, kedua tangannya bersandar di jok belakang melingkari tubuh Raisa yang masih terduduk dengan wajah sembab.
Wajahnya begitu dekat, hidung mancungnya seakan bersentuhan dengan hembusan napas berat Raisa. Alex menatap Raisa dengan tulus dengan lesung pipi terpampang jelas di wajahnya, membuat Raisa tertegun membisu menatap mata Alex seakan senyuman itu mampu meredakan kegelisahan di hatinya walaupun hanya sedikit. Mungkin jika di lain kesempatan, Alex akan kena masalah tapi berbeda dengan hari ini. Raisa saat ini butuh seseorang yang mengerti perasaannya.
Alex semakin mendekatkan wajahnya sehingga Raisa harus mencondongkan tubuhnya ke belakang. Alhasil tangan Alex memegang pinggang Raisa agar tidak terjatuh sambil membisikan sesuatu di telinga Raisa.
"Saya tidak akan membiarkan bos memikul semuanya sendiri, saya disini akan bantu bos menghadapi semuanya, bos tenang ya..."bisik Alex, hembusan napasnya terdengar jelas di telinga, nadanya pelan dan suara yang menggoda mampu menggetarkan hati wanita yang mendengarnya. Waktu seakan terhenti sejenak dengan kalimat yang diucapkan Alex.
"Nggak Lex, lo harus..." kalimatnya terhenti karena Alex menutup bibir Raisa dengan jari telunjuknya. Sentuhan lembut itu mampu menggetarkan hatinya namun ia tepis sejenak hanya untuk menenangkan sosok pemimpin panutannya yang sedang rapuh. Tangan Raisa ditopang anak buahnya, seorang pria maskulin dengan tatapan bersalah tapi setia. Raisa turun dari jok belakang dengan susah payah, kakinya masih pincang, bibirnya pecah dan membiru dengan noda merah yang mengering di pelipisnya.
Tepat disaat yang sama, suara mesin mobil terdengar dari arah garasi. Mobil SUV hitam berkelas dengan cat glossy dan velg krom besar mengeram, siap melaju menuju pintu keluar. Orang akan mengetahui mobil itu bukan milik sembarangan, melainkan simbol status dan kekuatan. Sang Ayah dengan napas memburu dan mata memerah karena cemas mendekap setir dan matanya liar penuh bayangan buruk. Sahabat setianya duduk disebelahnya, terdiam membisu sambil sesekali melirik Ayah Raisa dengan wajah yang tampak cemas.
Saat itu juga terdengar dari arah garasi, lampu depan menyala menyapu tubuh Raisa yang berdiri dengan kaki pincang dan noda merah yang mengering masih menempel di sudut bibirnya. Disamping, anak buahnya berdiri tegak meski tubuh dan wajahnya penuh luka lebam, namun tetap berusaha menampilkan keberanian di hadapan sang ayah.
Mobil itu bergerak perlahan hendak keluar. Namun roda mobil mendadak berhenti, keheningan mencekam menggantung di udara. Seketika waktu seakan berhenti. Ayahnya yang duduk dibalik kemudi membeku, matanya membelalak. Ada campuran amarah, kekecewaan, dan rasa takut kehilangan yang berbaur menjadi satu, menyesakkan dadanya hingga ia sulit untuk bernapas. Kedua tangannya gemetar masih menggenggam setir, tapi tatapannya terkunci pada sosok putrinya yang kini berdiri dengan kondisi yang mengkhawatirkan.
Bobby tertegun menahan napas tak mampu berkata apapun, matanya bergeser dari Raisa ke arah pria disebelahnya, melihat bagaimana rahang pria itu menegang dan dadanya naik turun seolah setiap napas adalah beban.
"Ra..Raisa..." suara itu akhirnya pecah, parau dan bergetar nyaris tak terdengar. Bukan sekedar panggilan nama, tapi jeritan hati seorang Ayah yang dunianya runtuh saat melihat putrinya hancur di depan matanya.
Raisa ingin bicara, tapi tenggorokannya tercekat, hanya ada suara serak yang tak jadi keluar. Ia menunduk, jemarinya menggenggam ujung jaket, berusaha menahan diri agar tidak runtuh di hadapan Ayahnya. Ada rasa bersalah yang menusuk, tapi juga ketakutan akan badai yang sebentar lagi meledak.
Airmata Raisa menetes tanpa bisa ditahan, jatuh ke tanah yang dingin. Ia tak pernah merasa sekecil itu dihadapan Ayahnya. Alex hanya bisa menegakkan bahu, meski jelas mereka pun diliputi rasa bersalah. Tegak, gagah tapi rapuh di dalam.
Begitu mobil berhenti mendadak, pintu penumpang langsung terbuka dengan kasar. Sahabat setianya melangkah keluar dengan tergesa-gesa, hampir tersandung karena terburu–buru, lalu berlari kecil ke arah Raisa.
“Raisa...” teriaknya, suaranya pecah di udara malam yang dingin.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung merengkuh tubuh Raisa ke dalam pelukan. Hangat tubuhnya menyelimuti Raisa, tapi eratnya genggaman itu membuat gadis itu sedikit meringis. Luka di bahunya berdenyut, dan kaki yang pincang tertekan.
“Aa..ah…” desis pelan lolos dari bibir Raisa.
Sahabatnya tersentak, segera melonggarkan pelukannya, tapi tangannya masih menempel di bahu Raisa, seakan takut kalau melepas, gadis itu akan hilang.
“Ma..maaf, Raisa… maaf, aku hanya..aku takut sekali melihatmu seperti ini,” ucapnya, suaranya bergetar menahan tangis. Matanya menyapu wajah Raisa, setiap luka, setiap goresan, seolah menusuk hatinya sendiri.
Raisa terdiam, tubuhnya bergetar di dalam dekapan itu. Ada rasa aman sekaligus perih yang bercampur jadi satu. Matanya basah, menunduk, tidak sanggup menatap balik.
Anak buah Raisa yang berdiri di sisi kanan hanya bisa mengalihkan pandangan, dadanya ikut sesak melihat betapa besar kasih sayang sahabat itu.
"Gini amat jadi nyamuk," benak Alex sambil memalingkan muka seakan tak rela melihat pemandangan itu.
Saat itu, gerbang rumah tak lagi jadi pintu masuk, melainkan garis tipis yang memisahkan cinta, amarah, dan luka. Dan di depan gerbang, tak ada satupun kata yang cukup. Hanya keheningan yang dipenuhi isak tertahan, dada yang sesak, dan tatapan yang saling menikam antara cinta seorang Ayah yang nyaris berubah jadi murka dan seorang putri yang pulang dengan tubuh penuh luka.
Bersambung...
Apa yang akan dilakukan ayahnya setelah melihat putrinya seperti itu?
Mampukah Raisa menjelaskan semua yang terjadi? Atau dia akan berbohong lagi?
Kawal terus kelanjutannya ya.. jangan lupa kasih suport seperti vote, like, komen dan subscribe agar tidak ketinggalan ceritanya ya..
Makasih yang sudah setia.. semoga aku terus semangat lanjutkan cerita Raisa..