(Terinspirasi kisah nyata, dikemas dengan imajinasi penulis)
Anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya. Kelahirannya dianggap kesalahan, membuatnya dibenci dan menderita sejak lahir. Hingga akhirnya ia bangkit melukai rasa sakit itu, dan bersinar menjadi bintang yang tak akan terlupakan. 🕊️✨
⚠️ Siapkan tisu, cerita ini penuh air mata! Jangan penasaran setengah jalan, yuk baca sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hopipahnp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyuman indah.
Hopipah mengambil beberapa bungkus mie instan. Membuka kulkas dan mengambil sayuran serta telur yang bisa ia campurkan.
Tentunya ia cukup lihai memasak, karena sejak kecil ia selalu dipaksa membantu dan ikut memasak.
Diminta berkreasi sesukanya, Hopipah mencampur semua mie dalam satu wajan, menumisnya dengan berbagai bahan dan bumbu yang ada.
Kelima pria yang sedang asyik dengan permainan masing-masing — ada yang main catur, menggitar, membuat sketsa, ada pula yang nonton TV — semuanya menoleh saat mencium aroma harum di sana. Mereka pikir Hopipah hanya menyeduh mie dan merebus telur serta sayur biasa saja. Tapi, ternyata gadis itu membuatnya dengan jauh lebih baik.
Hendryk mendekat, berdiri tepat di belakang Hopipah.
“Opi, masak apa? Baunya enak banget,” ucap Hendryk sedikit menunduk mendekati bahu Hopipah.
Hopipah menjauhkan wajahnya dan menoleh.
“Kok menjauh sih. Harusnya elo mendekat saja, biar bisa mencium wangi gue,” ucap Hendryk tersenyum manis tanpa dosa.
Hopipah melirik sinis, ia menggerakkan tangkan seolah hendak menyikut tubuh Hendryk.
“Menjauh, Kak!”
“Aduh,” keluh Hendryk mengusap dadanya yang tidak sakit itu.
“Awas saja kalau Kakak begitu lagi. Aku tidak akan segan memukul Kakak,” ancam Hopipah dengan spatula di tangannya yang diayunkan pelan.
Jujur saja hatinya berdebar cepat, karena pertama kalinya ada pria yang sedekat itu dan bersikap seperti itu padanya tadi.
“Ya ampun, galak banget,” sungut Hendryk kemudian meraih enam buah mangkuk. “Kapan matengnya nih? Jadi lapar gue.”
Hopipah hanya berdehem, meraih sendok hendak mencicipi.
“Gue, gue yang mencicipi,” potong Hendryk.
Hopipah mengambil satu sendok mie instan dan sedikit kuahnya. Perlahan menyodorkan ke mulut Hendryk.
"Em, enak banget. Cocok Lo jadi istri gue," ucap Hendryk mata berbinar takjub seketika sifat playboy nya berantakan.
Hopipah tidak menanggapi. Ia mematikan kompornya dan mulai menuangkan mie dengan sedikit kuah itu kedalam mangkok, membaginya dengan rata.
"Kok enam sih?" tanya Hopipah mengerjapkan mata, namun batinnnya berharap itu untuk dirinya.
"Buat Lo, gini-gini juga kita baik gak sejahat pikiran orang, apa lagi Kenji. Makan aja jangan di dengar," ucap Hendryk mengedikkan bahu santai.
Hopipah tersenyum lebar. Dan senyuman itu terlihat oleh Hendryk yang membuatnya terpana melihat senyuman gigi gingsul yang manis.
"Buset, senyumannya indah dan manis banget," nantinya yang mencoba menahan ada sesuatu dalam hatinya.
Akhirnya Hopipah membawa makanan tersebut di bantu Hendryk, Hopipah pun menundukan bobot tubuhnya dan menyajikan satu persatu.
"Wih kayanya enak nih dari aromanya aja bikin ngiler," puji Ryker tak menyangka bakal sewangi ini mana sekreatif mungkin nih yang masaknya.
Hopipah pun selesai menyajikan.
"Silangkahakan kakak-kakak selamat menikmati, bila ada yang mau di tambah dan pake sambal dan kecap sudah di sediakan." Ucap Hopipah bagaikan seperti pelayan lestoran, tak luntur dengan senyuman serta menunjukan gigi gingsul yang manis yang terukir di wajah manisnya. Kelimanya hanya menatapnya dan menyantap makanan mereka.
Hopipah duduk di lantai dan mengambil mangkuknya sendiri, tidak mau sekursi dengan mereka cukup mangkuknya saja satu meja.
Kenji hanya mendengus dan menyantap makanannya.
Wajah Ryker mendekati telinga Hendryk, yang duduk di sebelahnya lalu membisikan.
"Sumpah ku akui senyumannya manis, dan elo lihat. Jangan sampai jadi mangsa ke playboy-an lo sendiri," bisiknya, membuat Hendryk ngeberigidikan bahunya yang tandanya ia jijik.
"Bukan selera gue, dia mana paham jadi cewe cantik," ucap Hendryk menatap Ryker lalu ia pun menyantap mienya. Ryker pun hanya menggerakkan bahunya dengan ekspresi wajah yang tak percaya. Walau itu sedikit terdengar oleh Hopipah tapi ia hanya fokus dengan makanan siangnya.
"Ck, iyalah dekil. Paling juga cuma pakai sabun batangan buat nyentil daki," celetuk Kenji sinis dan terkesan meledek.
Hopipah menoleh dan berhenti sejenak untuk melahap makananya. Dan langsung tau, jika dirinya yang menjadi bahan pembicaraan, karena Kenji menatapnya sinis.
"Jangan sok tau kak. Buat nyentil daki aku pakai kopi, kunyit, sama madu selain murah juga terbukti. Ajaran si mbok ku," celetuknya sambil menepuk-nepuk wajahnya dan memutar bola matanya.
"Nyahut aja loh," ucap Kenji yang menyambung makan siangnya.
"Di gituin aja galak, padahal dia yang duluan dan nyebelin," batin Hopipah.
"Eh, ambilin minuman," perintah Kenji tatapan dingin, Hopipah hanya menatap.
"Kenapa malah ngeliat, terpesona Lo!" tegasnya, Hopipah pun memutar bola matanya jengkel, ia pun mengambil minuman.
"Bisa ambil sendiri udah di depan mata," ucapnya sambil menyodorkan ke Kenji. Lalu ia pun kembali ke makanannya.
"Elo kalau makan nggak usah banyak itu ini. Makan aja," ucap si tuan dingin yang jarang bicara, Keleo. Teman-teman Kenji yang lain hanya menatapnya.
Kenji mendelik. Namun, lagi-lagi memilih diam. Mulai menyantap mie yang beraroma harum itu. Dan mereka pun menyantap yang belom sempat mencoba.
"Wow, enak banget bumbunya kerasa kuat," ucap Jefarel begitu lahap menyantapnya.
"Aku pikir, mereka jarang banyak bicara dan begitu dengin, namun sepertinya tidak seburuk itu," pikir Hopipah yang melihat mereka tapi tidak dengan Kenji. Ia tidak begitu memikirkannya memang sudah buatnya derita.
"Kalau masih ada yang mau nambah, masih ada di wajan tuh. Kalian ambil saja," tutur Hopipah yang kembali menyantap mienya.
Kenji menikmati mienya, mengaduk dan di putar-putar mie tersebut hingga menghilang di ujung garpu, dan mie tersebut masuk ke mulutnya, Kenji terdiam menikmati.
"Cukup lumayan juga babu burik ini masak," batinnya memuji. Tiba-tiba Kenji kembali memerintahnya.
"Eh burik, ambilin sambal. Ini kurang pedas," ucapnya, Hopipah menghela nafas. Dengan sabar tetap bangkit. Keempat pria itu, hanya menatap Kenji namun mereka tidak bisa menggubris atau lainnya hanya menggelengkan kepala dan fokus makan. Berbeda dengan yang lain Keleo memperhatikan Hopipah.
Keleo memperhatikan Hopipah dengan tatapan yang berbeda, ada rasa penasaran dan ketertarikan dalam dirinya. Ia ingin tahu apa yang membuat Hopipah begitu kuat dan sabar dalam menghadapi Kenji, dirinya dan temannya.
"Terima kasih, babu burik," ucap Kenji dengan nada manis tapi kasar.
Hopipah hanya mengangguk dan kembali ke tempatnya, melanjutkan makanannya. Ia tidak bisa menyangkal perintah Kenji.
Keleo pun mulai menyantap kembali makannya, dan ia terdiam. Mie yang ia makan rasanya cukup enak dan menarik di lidahnya.
Beberapa menit pun mereka selesai makan, Hopipah pun merapihkan bekas makan mereka.
"Mienya cukup enak, jago juga Lo masak," puji Ryker.
"Udah terbiasa," jawabnya sambil ia pergi setelah merapihkan makanan tadi dan membawanya ke dapur.
"Opi! burik di mana baju basket gue?" teriak Kenji yang membuat Hopipah sedang buang sampah dan membereskan dapur, ia pun terpaksa kembali lagi.
"Dimana baju basket gue?" tanya Kenji, dan saat Hopipah di sana ternyata ada yang sudah membuka baju nya ya itu Ryker. Hopipah pun pura-pura tidak melihat.
"Baju, kalian ada di sebelah sana dan lihat baju kalian satu-satu kan ada nama kalian," jawabnya sambil menunjukan rak lemari sebelah kiri ujung.
"Kenapa gak masukin, kelemari kita masing-masing," sahut Keleo dingin menatap Hopipah.
"Waktu itu gak keburu, pengen cepet masuk." jawabnya.
*
*
Jangan lupa kasih like di setiap bab, komen dan Vote serta hadiah juga ya.
Terima kasih Sayangku 😘.