Menjadi kekasih tidak dianggap, dimanfaatkan disakiti serta mendapat perlakuan kasar,
Berulang kali diselingkuhi, sama sekali tidak dianggap tetap tak menggoyahkan cinta Nara terhadap Heafen.
Sampai pada dimana titik Nara harus memilih menggugurkan kandungannya atau pergi dari Heafen.
Heafen marah ketika Nara, meninggalkannya apa yang terjadi setelah mereka bertemu lagi??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara Nuraini Saputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak berharga
"Rapihin baju lo, lemah amat gitu doang lemes. Cepet baju lo pakek lagi" ucap Heafen sambil membetulkan celananya, kemudian dia pindah ke bangku depan setir. Sedangkan aku yang masih lunglai di bangku blakang.
"Masih nangis lo hah, nangis kenapa si cengeng banget sumpek gue liatnya.
"Gue nggak sukanya sama lo tu gini ya Ra' nggak bisa diajak seneng bentar aja, bentar bentar nangis. Apa apa cengeng males liatnya gue liatnya"
"Lo bisa pulang sendiri kan, gue nggak bisa nganter lo karena gue ada urusan penting" ucapnya sambil mengotak atik isi ponselnya.
"Jangan apa apa tergantung sama gue dong. Ntar kalok Gue udah cabut lo nggak bisa idup lagi."
"Tapi aku nggak berani pulang sendirian, ini udah terlalu malem Heaf" ucapku sambil membenarkan pakaianku yang berantakan.
Heafen sama sekali nggak mendengarkan aku bicara, dia malah sibuk dengan ponselnya. Sesekali dia menolehku, melihatku malas, kemudian mengembuskan nafas yang sangat sangat berat.
Aku melihat Heafen dengan tatapan memelas, iya aku memang sedang memohon untuk diantar pulang, aku nggak tau arah ini terlalu jauh dari kampus maupun rumahku.
Kata kata Heafen memutar mutar di otaku tanpa jeda.
"Lo bisa pulang sendirikan jangan apa apa tergantung sama gue dong.
Ntar kalok Gue udah cabut lo nggak bisa idup lagi.
Gue nggak bisa nganterin lo Ra, Kevin sama Devano mau apart gue ucap Heafen.
Kan nggak mungkin lo gue ajak. Ntar semua orang tau lo cewek gue. Berabe dah urusan.
Kenapa cinta sama kamu harus se nggak nyaman ini si Heaf. Kenapa nggak kamu aja yang cinta sama aku dan aku nggak cinta sama kamu. Kenapa sakit banget ngikutin kamu dari belakang, batinku sambil mengelap bekas air mata yang membasahi pipi.
Kenapa kamu nggak pernah liat aku bentar aja, sekilas aja. Kenapa si kamu nggak bisa ngganggep aku tu ada, berharga dikit aja. Bahkan kamu nggak ngajak aku ketempat tinggal kamu. Parkiran cuma diparkiran, dengan tega kamu ngelakuin ini sama aku. Segitunya banget kamu tega sama aku Heaf.
"Udah gih cepet, keluar mobil, ntar ketahuan lo kalok sama gue semobil" Heafen membentaku agar secepatanya keluar dari mobil.
Akhirnya aku pelan pelan turun dari mobil Heafen, bagian bawah ku ngilu, nyeri dan tentunya sangat sakit.
"Tasnya berat banget, kenapa tasnya jadi berat" ucap ku sambil berjalan pelan keluar dari parkiran itu.
Aku membuang Nafas yang tadinya sesak, lalu aku mengganti posisi tas nya kedepan, seperti posisi merangkul tas. Sendangkan tanganku menyilakan rambut yang sedikit acak acakan.
"Astaga kacamatannya ketinggalan di mobil Heafen" Nara sambil mengusap air matanya yang menggering.
Gimana bisa pulang kalau aku nggak pakek kacamata, aku harus kembali ke mobil Heafen, semoga dia belum pergi, lalu secepatnya aku berbalik arah berjalan kerarah mobil Heafen.
"Siapa mereka", suaraku lirih, aku pelan pelan mendekati mereka, mataku buram karena nggak pakek kacamata.
Tanganku mencari cari tembok di lorong parkir biar bisa jalan tanpa hambatan.
Sampai didekat Mobil Heafen. Aku melihat Kevin Devano dan dua perempuan, aku sedikit terkejut, waluapun aku minus tiga, aku masih paham perawakan Heafen.
Heafen merangkul dan mencium wajah wanita itu, aku liat dia ketawa bahagia, beda ketika dia bersama ku yang selalu menjadi pemarah dan kasar.
Aku nggak kuat, ini terlalu menyakitkan untuku, akhirnya aku berbali arah, dan secepatnya pergi dari tempat itu.
Aku sedikit berlari karena menangis sesegukan, kenapa si harus sepilu ini hidup ku.
Brukkkkkkkkkk !!!!!!!!!
Auuuu pekik Nara.
Kenapa harus jatuh segala si sambil mencoba bangun.
Kakinya terkilir keseleo karena ada besi yang melintang di tengah tengah jalan parkiran yang gelap.
Nara menangis sampai tak bersuara.
Tangannya mengelus elus dengkul nya yang berdarah. Rok panjang robek kesangkut besi tersebut. Tangannya tergores karena mencoba menopang tubuhnya.
Sakit ucapnya sambil sesegukan menahan sakit.
Lalu dia mencoba berdiri kembali merayap di lorong parkiran tersebut. Bagimana tidak kacamatanya tertinggal di mobil Heafen.
Matanya tak jelas sama melihat kegelapan.
Waktu menunjukan pukul 21.50 Nara melihat samar samar di ponselnya.
Udah malem kaya gini apa masih ada gojek ucapnya mengalihkan rasa sakit akibat jatuh dan disakiti Heafen.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.
Dia berulang ulang bolak balik menggunakan aplikasi ojek online.
Tak satu pun ada yang aktif padahal di daerah elit, entah kanapa malam itu tak satupun ada yang menyambar pesanannya.
Matanya menyipitkan berulang kali agar dapat melihat ponselnya. remang remang.
Bagaimana tidak Minus Nara sudah -3 wajar kalau remang remang.
Jalan kaki bakalan lama sampeknya gerimis kaya gini aku nggak ada payung ucap Nara merapihkan tasnya kemudian menatap ke langit berulang kali Nara menetralkan Nafasanya agar terlalu sesak . Untung saja tas nya bahan yang tidak tembus air. Nara lega hal itu.
Kemudian Nara memutuskan Jalan kaki menuju Rumahnya. Kurang lebih tiga puluh menit untuk sampai.
Di sela sela jalan Nara hanya melamun meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan.
Masih terekam jelas ketika salah satu ibu asrama panti bercerita padanya. Umur 4 tahun sudah di tinggal orang tuanya. Di tinggalkan didepan panti dengan sekertas surat tertulis Nara adeeva 9 0ktober 2000.
Diperlakukan kurang baik di panti asuhan.
Kenangan kenangan itu membuat Nara tersenyum.
Entah mengapa kenangan pahit malah membuat Nara tersenyum. Mungkin lelah yang tak berujung. dia selalu mencoba bangkit namun selalu di patahkan oleh orang yang tak mengerti akan belas kasihan.
Nara kemudian berhenti berjalan mengorek isi tasnya mencari ear phone tanpa kabel miliknya di pasangkan ke telinga kanan dan mencoba mencari lagu yang ia pilih dia ponselnya. Niatnya mungkin akan menyetel acak namun ia memilih agar lebih nyaman didengarkan. Jalanan yang berlalu lalang mobil Nara merasa sangat sepi berjalan sendirian di tengah hujan yang tak deras.
Nara listen
*Aku t'lah tau hati ini
Harus menghindar
Namun kenyataan
Ku tak bisa
Maafkan aku terlanjur mencinta
Senyuman itu hanyalah menunda
Luka yang tak pernah kuduga
Dan bila akhirnya
Kau harus dengannya
Mengapa kau dekati aku*
Air matanya kembali ditahan agar tak jatuh lagi. Kembali mengedalikan Nafasnya yang sesak.
Kadang sering kali Nara marah terhadap diri sendiri.
Kenapa begitu bodoh memberikan jantung nya ke Heafen.
Sambil menepuk keras dadanya seperti orang gila berjalan sendiri di tengah hujan.
mungkin orang gila pun memilih untuk berteduh.
Dari perempuan yang banyak halu,
selamat datang di petualangan pedel pop. 🤭🤭
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
follow ig @heafen_tiger
Hallo semua hallo semua kayanya ini bukan lagu tayo deh, lagu pororo anjimss. Maap lupa gais.
Aku menyapa kalian semua
Makasih sudah mampir di novelku
Aku berharap ada di antara kalian jempol nya keseleo tapi gk sakit terus ke tekan tombol vote dan like.
Selain itu perlu juga hujatan kalian, tentunya untuk menghujat Heafen tiger si berandalan.
Komen hujatan kalian buat Heafen ya. Jangan lupa pokoknya. Heafen emang butuh du TEKEL biar taubad.
Mohon maaf apabila terdapat kata kata kasar beserta umpatan yang kurang mengenakan hati.
Mohon maaf juga apabila terdapat kalimat fullgars dan mengandung rate 19 ke atas.
Novel ini memang dikhususkan untuk para adult, yang mulai berimajinasi bebas.
Sekali lagi author memohon maaf sebanyak banyaknya.
Nara
Hey sekali lagi jangn lupa vote komen dan like.
bila anda terngiang ngiang oleh sosok Heafen yang bukan Heaven itu.
ada no wa ku 082281297852
dan ada ig ku @nnaravc
semangat buat kalian semua.
Saranghe❤️❤️❤️