kisah seorang gadis yang terpaksa menjadi simpanan Sugar Daddy demi bisa mendapatkan jaminan hidup layak setelah keluarga nya di kucilkan oleh keluarga besar mendiang sang ayah,mula nya kehidupan gadis bernama Ayana itu serba berkecukupan,tapi setelah ayah nya meninggal, seluruh aset kekayaan almarhum di kuasai oleh sang adik yang rakus akan harta kekayaan kakak nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winda Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Keada'an Bu Ayu yang mengidap penyakit kini makin membuat tubuh nya kurus kering. pak Wijaya juga tidak pernah pulang bahkan untuk sekedar mempertanyakan keadaan nya. seperti nya bu Ayu ngenes di landa pikiran tentang suami nya yang sudah berubah seratus persen.
pagi itu, pak Dayat, Laki-laki paruh baya yang bekerja sebagai penjaga perkebunan teh milik kluarga Wijaya, beliau mengantarkan Bu Ayu pergi ke rumah sakit terdekat untuk cek up rutin. Diam-diam rupanya bu Ayu mengidap penyakit kanker yang sudah beberapa bulan ini di derita nya.
suasana sudah hampir menjelang sore, Bu Ayu baru saja pulang dari rumah sakit menuju perjalanan pulang, hujan tiba-tiba turun di tengah langit yang tampak cerah, sesosok wanita berkerudung merah muda tampak berdiri di pinggiran ruko, rupanya wanita itu tengah berteduh menunggu hujan reda, dari raut wajah terlihat sangat lelah, tatapan nya kosong, bu Ayu yang merasa iba melihat sosok wanita itu, beliau langsung meminta pak Dayat menghampiri wanita tersebut dengan niat memberikan nya tumpangan gratis meskipun beliau sendiri tidak tau tujuan wanita itu hendak pergi ke mana.
suara tetesan air hujan gemuruh berisik, bu Ayu membuka pintu mobil lalu turun menggunakan payung yang memang sudah tersedia di mobil nya, pak Dayat hanya diam memperhatikan nyonya nya itu dengan wajah kagum.
" buk mau kemana hujan-hujan gini?!"
tanya bu Ayu mengeraskan suara nya, ternyata prempuan tersebut dalam keadaan basah kuyup,dia tampak menggigil kedinginan, bibir nya mulai membiru.
"saya mau pulang buk.! tapi kejebak hujan!"
wanita itu tak lain adalah bu Dini, beliau baru saja pulang dari rumah majikan nya, selama Ayana pergi merantau, bu dini bekerja sebagai Buruh cuci gosok dengan upah yang terbilang kecil.
"ya ampun, rumah ibu jauh atau enggak? kalau masih jauh mari saya antar. "
bu Ayu menawarkan bantuan sebagai bentuk amalan, siapa tau ketika dirinya nanti sudah meninggal, setidak nya sudah bermanfaat bagi orang lain dan menolong sesama, itulah yang ingin di lakukan bu Ayu sekarang, mengingat sakit yang di derita nya bukan penyakit biasa.
"tidak usah bu, nanti saya malah merepotkan. " tolak bu Dini sopan.
"gak apa-apa buk mari saya antar saja. " bu Ayu sedikit memaksa sambil meraih pergelangan tangan kanan bu Dini.
"tidak usah sungkan-sungkan, saya juga kebetulan mau pulang, siapa tau kita searah. "
bu Ayu langsung saja mengajak bu dini masuk ke dalam mobil nya tanpa mau mendengar alasan apapun lagi dari bu Dini.
"ta-tapi buk, baju saya basah. " ujar bu Dini dengan wajah yang terlihat canggung dan tidak nyaman, apa lagi mobil milik bu Ayu terlihat mewah.
"sudah gak apa-apa ayo masuk. " bu Ayu memayungi bu Dini, mereka berjalan beriringan bak kakak adik, umur mereka juga tidak beda jauh, hanya selisih dua atau tiga tahun saja. setelah memastikan bu Dini masuk, bu Ayu kemudian menyusul dan menutup pintu mobil nya.
"jalan pak. " perintah bu Ayu ke pak Dayat. "selama perjalanan mereka asik mengobrol satu sama lain. kedua nya tampak akrab meskipun baru pertama kali bertemu. tanpa terasa pertemuan mereka harus berakhir ketika bu Dini meminta pak Dayat menghentikan laju mobil nya.
"itu rumah saya buk, mari mampir dulu, saya buatkan teh hangat. " bu Dini tampak senang bisa mengenal sosok bu Ayu yang begitu baik dan ramah meskipun beliau merupakan orang berada.
"haduh maaf lho bu Dini, bukan nya saya menolak, cuma saya masih ada kesibukan lain mengurus perkebunan. "
tolak bu Ayu halus seraya tersenyum menujukan ekspresi tidak enak.
"owh ya sudah gak apa-apa buk Ayu, mungkin lain kali bu Ayu bersedia singgah di gubuk Saya.
bu Dini seperti merendah kan keadaan nya yang memang jauh berbeda dengan bu Ayu.
"lain kali saya sempatkan waktu buat main ke rumah bu Dini ya. "
bu Ayu menepuk punggung bu Dini sambil memberikan secarik kertas bertuliskan nama beserta alamat rumah bu Ayu, di sana juga tertera dengan jelas nomor telepon bu Ayu
"siapa tau bu Dini butuh apa-apa, jangan sungkan untuk hubungi saya. "
kebaikan hati bu Ayu membuat bu Dini tampak ber kaca-kaca, sejauh ini orang-orang memandang nya sebelah mata, jangan kan orang kaya, rakyat biasa pun seolah bersikap acuh tak acuh pada beliau.
"iya buk, sekali lagi terimaksih banyak. " bu Dini tak henti-henti nya mengucapkan kata Terima kasih. setelah memastikan bu Dini turun dari mobil, bu Ayu lantas melanjutkan perjalanan nya pulang menuju rumah. ".
satu minggu setelah pertemuan mereka, Bu Dini mendatangi rumah Bu Ayu untuk sebuah tujuan tertentu, beliau cukup heran mengapa bu Ayu mau tinggal di rumah yang tampak sederhana dan berada di area perkebunan teh sperti ini?
sungguh, kesederhanaan nya membuat Bu Dini kagum, meskipun Bu Ayu orang kaya, tapi dirinya mau tinggal di tempat sesunyi ini. kedatangan bu Dini jelas di sambut hangat oleh oleh Bu Ayu, apa lagi beliau selama ini tinggal sendiri, hanya ada mbok Sumi dan pak Dayat yang menemani hari-hari nya sambil mengurus perkebunan.
setelah mempersilahkan bu Dini duduk di ruang tamu, bu Ayu meminta mbok Sumi untuk membuat kan secangkir teh hangat dan cemilan. mereka berdua asik mengobrol dan saling membahas anak mereka masing-masing.
" owh jadi Regan itu seumuran sama anak saya ya buk., Ayana itu juga sebenar nya dulu pengen banget kuliah, tapi. "
Bu Dini tertunduk sedih kala mengingat peristiwa itu, peristiwa beberapa tahun silam yang membuat diri nya dan anak-anak nya menderita karena ulah seseorang. bu Dini juga sudah menceritakan semua tentang masalalu nya, tentang kehidupan nya yang dulu sebelum almarhum suami nya meninggal.
begitu juga dengan bu Ayu Yang curhat tentang masalah rumah tangga dan penyakit yang di derita nya kini. bu Dini yang mendengar cerita bu Ayu cukup menyimak dengan seksama,sesekali memberi motivasi dan semangat, rupa nya kehidupan bu Ayu jauh lebih pahit ketimbang diri nya.
"saya baru tau, ternyata kita punya anak seumuran ya buk, mereka juga pernah satu sekolah rupa nya."
ucap bu Ayu sambil tertawa lirih.
" jadi sekarang Ayana kerja atau? "
"Ayana kerja buk, di jakarta, ya jadi kasir di restoran, di sana ada paman nya. "
bu Dini menjelaskan dengan mimik wajah sendu, seperti nya beliau sangat merindukan Ayana.padahal Putri sulung nya itu baru beberapa bulan di kota, tapi rasanya sudah sangat lama.
" ya kita do'akan saja buk, Semoga Ayana baik-baik saja di sana dan selalu di berikan kesehatan. "
ucapan bu Ayu terdengar bijak dan penuh kesan.
" aamiin buk. "
obrolan mereka sudah lumayan lama, hingga tiba masa nya Bu Dini mengutarakan niatnya untuk meminta pekerjaan, bahkan sebagai Buruh petik teh juga tidak apa-apa, setidak nya beliau memiliki pekerjaan tetap.
untuk si Sera semoga mendapatkan karma nya lagi