Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022
Wenny Muncul di Depan Kamera
Kiara tidak pulang ke rumah Tanuwijaya malam itu.
Rayhan tidak memaksanya tinggal di Mansion Purnawan. Ia hanya membawanya ke ruang perawatan privat yang disiapkan hotel sampai dokter memastikan denyut jantungnya stabil. Setelah itu, ia mengantar Kiara ke apartemen servis di SCBD yang berada di bawah pengawasan Kiara Media.
"Satu malam," kata Rayhan sebelum Kiara sempat protes. "Santi tinggal di kamar sebelah. Dokter bisa datang kalau kamu pusing lagi. Besok kalau kamu ingin pulang ke rumah itu, aku antar."
Rumah itu.
Bukan rumahmu.
Kiara terlalu lelah untuk membantah.
Santi menangis begitu pintu apartemen tertutup. Ia memeluk Kiara hati-hati, tidak terlalu kuat karena takut membuatnya sesak.
"Maaf, Kak. Aku seharusnya tidak pergi."
"Kamu ditipu juga."
"Tapi aku yang menjaga Kakak."
Kiara mengusap punggung Santi dengan tangan lemah. "Kalau kamu tidak kembali cepat dan membawa Adi, mungkin lebih buruk. Jadi berhenti menyalahkan diri sendiri."
Santi mengangguk, tapi air matanya tetap jatuh.
Pagi berikutnya, berita tentang gala amal tidak meledak seperti yang direncanakan Yolanda.
Tidak ada foto Kiara di lounge.
Tidak ada headline murahan tentang aktris muda dan pria asing.
Yang muncul justru thread panjang dari beberapa akun industri tentang Purnawan Group menarik dukungan dari program keluarga Yanuar. Nama Yolanda tidak disebut terlalu kasar, tetapi cukup jelas untuk membuat orang membaca di antara baris.
Kiara membaca sambil duduk di sofa apartemen, selimut menutupi lutut.
Rayhan duduk di seberang, memeriksa laporan dari Adi. Ia belum tidur banyak. Kiara tahu dari bayangan gelap di bawah matanya, meski pria itu tetap tampak rapi.
"Kamu tidak harus membaca itu," ucap Rayhan.
"Aku perlu tahu."
"Aku bisa ringkas."
"Koko, ini tentang aku."
Rayhan berhenti, lalu meletakkan tablet.
"Wenny ada di dekat kamera."
Kalimat itu membuat jari Kiara berhenti menggulir layar.
"Aku tahu."
"Dia belum kubuka sepenuhnya."
Kiara menatapnya. "Kenapa?"
"Karena kamu menyebut kata jangan saat di lounge." Rayhan menatapnya balik. "Aku tidak yakin bagian mana yang kamu minta. Jadi aku menahan sebagian."
Dada Kiara terasa ditusuk pelan.
Di tengah kemarahannya, Rayhan masih mengingat satu kata lemah dari Kiara.
"Aku ingin menghadapi Wenny sendiri," katanya.
Rayhan terdiam.
"Dia bukan hanya orang yang ikut menjebakku. Dia seseorang yang selama ini memakai keluargaku untuk membuatku terlihat salah. Kalau kamu yang menghancurkannya, semua orang akan bilang aku berlindung di belakangmu lagi."
"Kamu memang boleh berlindung di belakangku."
"Aku tahu." Kiara tersenyum kecil, lelah. "Tapi kali ini aku ingin berdiri di depan."
Rayhan memandangnya lama.
Akhirnya ia mengangguk. "Aku berdiri di belakangmu."
Pernyataan itu terdengar seperti janji perang.
Siang harinya, Wenny bergerak lebih cepat dari yang Kiara duga.
Sebuah video pendek muncul di beberapa akun infotainment. Wenny berdiri di depan rumah Tanuwijaya dengan wajah pucat, mata merah, dan suara bergetar.
"Kiara masih trauma. Sebagai kakaknya, aku hanya ingin dia istirahat. Keluarga kami sangat mencintainya. Tolong jangan menyebarkan spekulasi yang menyakiti Kiara."
Video itu tampak seperti pembelaan.
Tapi setiap katanya mengikat Kiara kembali ke keluarga Tanuwijaya, seolah Wenny adalah juru bicara kasih sayang yang tidak pernah Kiara terima.
Tidak lama setelah video itu viral, Hendra menelepon.
Kiara menyalakan speaker karena Rayhan, Santi, dan Ci Lucy ada di ruangan yang sama.
"Kiara, pulang dulu. Jangan membuat masalah makin besar," suara Hendra terdengar berat. "Wenny sudah berusaha membantu menenangkan media."
Kiara menatap layar ponsel. "Menenangkan media atau menenangkan namanya sendiri, Pa?"
Lina mengambil alih telepon, suaranya lebih lembut tapi tidak kurang menekan. "Kiara, Mama tahu kamu ketakutan semalam. Tapi Wenny juga terpukul. Dia menangis semalaman karena merasa kamu membencinya."
Rayhan yang duduk di seberang langsung menjadi sangat diam.
Kiara memejamkan mata sebentar.
Lagi.
Ia yang hampir dijebak, tetapi Wenny yang harus dikasihani.
"Aku mengerti," kata Kiara pelan. "Kalau begitu sore ini aku akan bicara supaya semua orang paham siapa yang sebenarnya terluka."
Telepon terputus dalam keheningan.
Santi menonton dengan wajah marah. "Dia gila, Kak. Dia ada di sana semalam."
Ci Lucy menelepon tidak lama kemudian.
"Kiara, media mulai minta pernyataan. Kalau kita diam, narasi Wenny akan jadi versi paling aman untuk mereka. Kakak baik hati, adik trauma, keluarga kompak. Mereka suka cerita seperti itu."
Kiara menatap layar yang masih menampilkan wajah Wenny.
"Atur satu pernyataan singkat. Di studio Gerbang Majapahit sore ini. Aku bicara setelah latihan."
Rayhan langsung menoleh.
"Kondisimu."
"Aku duduk kalau pusing."
"Kiara."
"Kamu bilang berdiri di belakangku."
Rayhan menekan rahang.
"Aku tidak bilang diam saat kamu membuatku khawatir."
Kiara menatapnya, lalu mengulurkan tangan.
Rayhan menggenggamnya.
"Aku tidak akan memaksakan diri," ucap Kiara. "Tapi aku tidak mau Wenny terus meminjam kata keluarga untuk menutup mulutku."
Sore itu, halaman depan studio Gerbang Majapahit dipenuhi wartawan infotainment. Tidak sebanyak gala besar, tapi cukup untuk membuat kru menahan langkah saat keluar. Ci Lucy berdiri di samping Kiara. Santi membawa air hangat dan obat. Rayhan berada beberapa langkah di belakang, tidak masuk frame, tetapi semua orang tahu ia ada.
Wenny datang lebih dulu.
Tentu saja.
Ia memakai blouse putih dan riasan tipis, tampak seperti kakak yang kurang tidur karena mencemaskan adiknya. Begitu melihat Kiara, ia langsung berjalan mendekat dengan mata berkaca-kaca.
"Kiara."
Kamera menyala.
Wenny membuka tangan, seolah ingin memeluk.
Kiara tidak bergerak.
Pelukan itu berhenti di udara.
Wenny tampak terluka. Sangat cantik. Sangat tepat untuk kamera.
"Aku tahu kamu masih marah. Tapi kita keluarga. Jangan biarkan orang luar membuat kita saling menyakiti."
Orang luar.
Kiara hampir bisa merasakan Rayhan di belakangnya menjadi dingin.
Ia mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar Rayhan tidak maju.
Lalu ia menatap Wenny.
"Keluarga?"
Suara Kiara tidak keras.
Justru karena itu, para wartawan makin mendekat.
Wenny mengangguk cepat. "Tentu saja. Aku kakakmu."
Kiara menatap wajah yang selama bertahun-tahun memakai posisi itu untuk mengambil kasih sayang, sumber daya, dan simpati.
"Kalau begitu," kata Kiara pelan, "kenapa semalam kakakku berdiri di dekat kamera saat aku dibawa ke ruangan tertutup?"
Wajah Wenny membeku.
Lampu kamera menyala lebih terang.
Seseorang bertanya, "Maksudnya Wenny ada di lokasi jebakan itu?"
Wenny membuka mulut, tapi Kiara belum selesai.
"Aku juga ingin tahu," lanjut Kiara, masih dengan suara tenang. "Karena sejak pagi kamu bicara pada media sebagai kakak yang mencemaskanku. Jadi mungkin kamu bisa menjelaskan di depan mereka, bagian mana dari mencemaskan adik yang membuatmu berdiri bersama orang-orang berkamera malam itu?"
Untuk pertama kalinya, mata Wenny benar-benar panik.
Dan di belakang Kiara, Rayhan tidak bergerak sama sekali.
Ia membiarkan Kiara berdiri di depan.