NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35 - Undangan Panggung

"Kalau kamu berani keluar."

Calvin tidak keluar.

Pagi harinya, ia masih berada di sisi kanan Felicia, satu tangan menggenggam tangannya di atas selimut. Sketchbook terbuka di meja kecil, halaman "Ci memilih" menghadap lampu tidur yang sudah padam. Wajah Calvin saat tidur terlihat lebih muda, lebih tidak berbahaya, tetapi jari-jarinya tetap memegang Felicia seperti anak yang takut gambar bagusnya dihapus orang.

Felicia bangun lebih dulu.

Rasa sakit di rusuk belum hilang, tetapi tidak lagi menggigit setiap napas. Bahu kiri masih perlu dijaga, namun tubuh ini mulai menerima bahwa ia tidak akan dibiarkan bergerak sembarangan oleh empat pria keras kepala.

Calvin membuka mata ketika Felicia menggerakkan jari.

"Ci masih di sini," katanya, suara serak tidur.

"Kamu kira aku pindah dunia semalam?"

"Dengan Ci, kemungkinan aneh selalu ada."

"Pagi-pagi sudah pintar."

Ia tersenyum. Tidak semanis biasanya. Lebih tenang.

Pintu diketuk.

Calvin langsung menutup mata lagi. "Aku belum siap diejek."

"Terlambat."

"Ci kejam."

"Masuk."

Nathan, Jayden, dan Sebastian masuk hampir bersamaan. Tiga pasang mata turun ke tangan Calvin yang masih menggenggam Felicia. Calvin membuka satu mata, lalu tersenyum seperti orang yang sengaja membiarkan pisau jatuh ke lantai untuk melihat siapa yang mundur.

Jayden menunjuknya. "Gue benci muka lo pagi ini."

"Kamu iri."

"Jelas."

Nathan meletakkan map di meja, ekspresinya terkendali tetapi telinganya merah. "Selamat pagi."

Sebastian melihat sketchbook. "Judul halaman?"

Calvin menjawab ringan, "Dokumen pribadi."

"Berarti ada."

Felicia tertawa pelan. "Kalian semua menyedihkan."

"Dan Ci memilih semuanya," kata Calvin.

Ruangan hening sepersekian detik.

Kalimat itu sederhana, tetapi benar.

Sis muncul di kepala Felicia seperti menunggu momen pengumuman. "Laporan siklus pertama! Nathan 6%, Jayden 4%, Sebastian 7%, Calvin 5%. Tidak ada bintang menyala. Kekuatan Tuan Rumah tetap 0%. Tapi stabilitas emosi semua target naik."

"Tidak ada yang menyala," ulang Felicia dalam hati.

"Belum. Urutan aman."

Bagus.

Ia belum butuh kekuatan untuk mengurus rumah ini. Untuk saat ini, otak, tubuh, dan empat pria yang semakin patuh sudah cukup.

Felicia mengetuk meja kecil dengan ujung jari. "Siklus pertama selesai."

Empat pria itu langsung menatapnya.

"Mulai malam berikutnya, Undian kembali dipakai. Hak override tetap milikku. Tidak ada sabotase, tidak ada protes panjang, tidak ada drama di depan pintu kamar."

Jayden membuka mulut.

"Protes pendek juga tidak," tambah Felicia.

Jayden menutup mulut lagi.

Nathan bertanya pelan, "Apakah urutan kemarin akan menjadi dasar tetap?"

"Tidak. Kemarin urutan kebutuhan. Berikutnya undian."

Sebastian mengangguk, jelas menyukai sistem yang kembali punya bentuk. "Star values sekarang: Nathan 6, Jayden 4, aku 7, Calvin 5. Tidak ada star lighting. Aku sarankan pembaruan dicatat di rules sheet."

Calvin tersenyum. "Seb, kamu benar-benar membuat romansamu seperti rapat evaluasi."

"Rapat evaluasi ini mencegah kalian saling membunuh."

"Poin valid," kata Nathan.

Jayden bersandar di kursi. "Gue tetap nggak suka angka gue paling kecil."

"Kalau kamu patuh, mungkin naik," kata Felicia.

Ia langsung duduk lebih tegak. "Gue patuh."

Calvin menggambar ekspresi Jayden itu dalam tiga garis cepat. Kali ini Jayden hanya menunjuknya, tidak merebut pensil.

Sarapan berjalan dengan suasana yang lebih aneh daripada tegang. Nathan mengatur jadwal obat. Sebastian mengecek catatan tidur. Jayden mencuri potongan buah dari piring Calvin. Calvin menggambar jari Jayden yang mencuri, lalu menambahkan tanduk kecil di kepalanya. Jayden melihat dan hampir melempar anggur, tetapi Felicia menatapnya sekali, dan ia memakan anggur itu sendiri.

Kemajuan.

Menjelang siang, Mama Wenny datang dengan wajah yang rapi tetapi lelah. Di tangannya ada tablet berisi daftar tamu.

"Ada yang perlu dibicarakan," katanya.

Hendrick berdiri di belakangnya. Ia tampak ingin masuk lebih dulu, tetapi berhenti karena Felicia tidak menatapnya.

Mama Wenny melanjutkan, "Keluarga besar meminta acara resmi untuk memperkenalkan statusmu. Mereka menyebutnya makan malam penyambutan. Sebenarnya itu rapat keluarga yang dibungkus catering."

Felicia menyukai kejujuran itu.

"Siapa saja?"

"Keluarga inti Tanuwijaya, beberapa kerabat senior, perwakilan legal, dan keluarga Charles."

Jayden mendengus. "Mereka masih diundang?"

"Kalau tidak diundang, mereka akan membuat drama di luar," kata Mama Wenny. "Kalau diundang, setidaknya dramanya ada di ruangan yang bisa kita kontrol."

Felicia menatap wanita itu lebih lama. "Kamu belajar."

Mama Wenny menerima kalimat itu tanpa tersinggung. "Terpaksa cepat."

Hendrick akhirnya berkata, "Feli, acara ini penting untuk posisimu."

Felicia menatapnya. "Panggil aku Felicia."

Wajah Hendrick menegang. "Felicia."

"Lanjut."

"Aku ingin semua orang tahu kamu putriku."

"Aku tidak butuh semua orang tahu karena kamu ingin."

Hendrick menunduk. "Aku tahu."

"Tapi aku butuh panggung."

Semua orang menoleh.

Felicia mengambil tablet dari Mama Wenny dan melihat daftar tamu. Nama Om Charles, Tante Lina, dan Clarissa ada di sana. Bagus. Musuh yang diundang lebih mudah dilihat daripada musuh yang bersembunyi.

Acara itu akan diadakan dua malam lagi di ballroom rumah utama, bukan restoran. Artinya semua pintu, kamera, dapur, dan posisi tempat duduk bisa dikendalikan. Mama Wenny bahkan sudah menandai meja keluarga inti, meja kerabat senior, dan jalur kursi roda agar Felicia tidak perlu melewati tangga.

"Kursi roda tetap?" tanya Nathan.

"Tetap," jawab Felicia. "Biar mereka meremehkan lebih dulu."

Ponsel Nathan berbunyi.

Ia membaca pesan, lalu wajahnya mendingin. "Hana mengirim sesuatu."

Layar dipindahkan ke tablet. Ada tangkapan layar dari close friends Instagram Clarissa. Bukan unggahan publik, tetapi cukup banyak orang di sekolah sudah melihatnya.

Foto blur rumah sakit, kursi roda, empat siluet pria di sekitar Felicia.

Teksnya:

Ada orang yang masuk keluarga bukan karena darah, tapi karena pandai membuat semua pria merasa wajib melindungi.

Hana menambahkan catatan di bawahnya:

Ini mulai disebar ke grup kelas. Aku simpan semua nama yang share.

Ningrum menambahkan:

Jangan balas dulu, kan?

Felicia tersenyum.

Calvin melihat senyum itu dan langsung menutup sketchbook. "Clarissa bodoh."

"Tidak sepenuhnya," kata Sebastian. "Dia memilih narasi moral sebelum acara keluarga. Tujuannya membuat Felicia terlihat seperti ancaman sosial, bukan korban serangan."

Nathan berkata, "Kita bisa tekan lewat sekolah."

"Tidak perlu."

Jayden menyeringai. "Berarti boleh cara kasar?"

"Juga tidak."

Felicia meletakkan tablet di meja.

"Dia ingin panggung."

Mama Wenny menatapnya. "Kamu akan datang?"

"Tentu."

"Dengan kondisi begini?"

"Kursi roda punya efek dramatis."

Jayden tertawa. Nathan memejamkan mata sebentar. Sebastian tampak ingin melarang tetapi sadar percuma. Calvin tersenyum paling lebar.

Felicia mengetuk nama Clarissa di daftar tamu.

"Siapkan makan malam itu. Pastikan semua orang yang ingin menonton datang."

Hendrick bertanya pelan, "Apa yang akan kamu lakukan?"

Felicia mengangkat mata.

"Memberi mereka pertunjukan yang pantas mereka bayar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!