Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Kenapa Kamu Tidak Pernah Minta?
Pagi setelah lampu itu diganti, Naomi bangun lebih awal dari biasanya.
Ia tidak langsung keluar kamar. Ia duduk di depan meja, membuka buku catatan Jerman, lalu menyalakan lampu kecil di sudut.
Cahaya hangat jatuh ke halaman kosong.
Matanya tidak perih.
Justru dadanya yang terasa sakit.
Naomi memegang pulpen lama-lama, tetapi tidak menulis satu kata pun. Kalimat Kelvin semalam terus berputar di kepalanya.
Kamu mengunci dari dalam.
Ia ingin membantah. Ingin berkata Kelvin salah. Ingin berkata ia bukan orang yang menutup pintu, hanya orang yang tahu diri.
Tapi semakin lama duduk di bawah lampu itu, semakin sulit membohongi diri.
Sejak kecil, Naomi memang belajar menutup pintu sebelum orang lain sempat pergi.
Kalau lapar, ia bilang sudah makan.
Kalau sakit, ia bilang hanya capek.
Kalau butuh uang, ia mencari cara sendiri sampai kepalanya pening, sampai jari-jarinya gemetar mengetik lowongan kerja, sampai suara penagih pinjol masuk ke mimpi.
Meminta berarti memberi orang lain kesempatan untuk menolak.
Dan penolakan yang datang setelah berharap selalu lebih sakit daripada tidak berharap sejak awal.
"Naomi."
Ketukan Kelvin terdengar di pintu.
Naomi hampir menjatuhkan pulpen.
"Iya?"
"Kamu ada kelas pagi?"
"Tidak. Nanti siang."
"Keluar. Sarapan."
Ia menatap buku catatan. "Aku belum lapar."
Di luar pintu, hening sebentar.
"Aku tidak tanya kamu lapar atau tidak."
Naomi memejamkan mata.
Itu Kelvin.
Satu kalimat saja bisa membuat jantungnya lupa ritme.
Ia keluar lima menit kemudian dengan rambut masih diikat asal dan sweter kebesaran. Di meja makan sudah ada bubur ayam tanpa banyak sambal, telur rebus, dan air hangat.
Kelvin duduk di sisi seberang, layar tablet menyala di depannya, tetapi matanya langsung naik begitu Naomi datang.
"Duduk."
"Aku bisa ambil sendiri."
"Aku tahu."
Naomi menarik kursi pelan. Felix berbaring di dekat kaki meja, kepalanya menoleh mengikuti gerak Naomi seperti penjaga yang malas.
Ia mengambil sendok, mencicipi bubur, lalu berhenti.
Tidak pedas.
Kuahnya juga tidak terlalu asin.
"Kenapa?" tanya Kelvin.
"Tidak apa-apa."
Sendok Kelvin berhenti di udara.
Naomi baru sadar jawabannya salah setelah terlambat.
Kelvin meletakkan sendok.
"Hari ini aku hitung," katanya.
Naomi mengerutkan kening. "Hitung apa?"
"Berapa kali kamu bilang tidak apa-apa padahal wajahmu jelas bilang sebaliknya."
"Kelvin..."
"Baru pagi sudah dua."
Naomi menunduk ke mangkuk. Uap tipis naik ke wajahnya. "Aku benar-benar tidak apa-apa."
"Kalau begitu lihat aku waktu bilang begitu."
Ia tidak bisa.
Kelvin tidak mendesak dengan suara keras. Ia hanya duduk di sana, diam, menunggu sampai Naomi sendiri merasa kebohongannya terlalu penuh di mulut.
Beberapa detik kemudian, Naomi meletakkan sendok.
"Aku cuma... tidak terbiasa."
"Tidak terbiasa apa?"
"Ada orang yang menyiapkan makanan sesuai seleraku."
Kelvin menatap mangkuknya, lalu kembali menatap Naomi. "Itu hal yang sulit?"
Naomi tertawa kecil, hambar. "Buat kamu mungkin tidak."
"Buat kamu?"
Ia menekan ujung jari ke tepi mangkuk. Panas porselen merambat ke kulit.
"Buat aku, kalau ada orang baik, aku harus cepat-cepat menghitung kapan dia akan berhenti."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Terlalu jujur.
Naomi langsung menyesal.
Kelvin tidak bergerak. Namun ekspresinya berubah, bukan kaget, melainkan seperti seseorang yang akhirnya menemukan pintu yang selama ini dicari, lalu melihat di baliknya ada luka yang jauh lebih dalam dari perkiraan.
"Siapa yang bikin kamu berpikir begitu?"
Naomi menggeleng.
"Tidak ada."
"Itu jawaban ketiga."
"Kelvin, jangan mulai."
"Aku baru mulai."
Nada Kelvin tetap rendah, tetapi kalimatnya tidak memberi ruang lari.
Naomi meraih gelas air. Tangannya licin, hampir membuat gelas tergelincir. Kelvin bergerak cepat, menahan dasar gelas dari samping tanpa menyentuh jemarinya.
Naomi membeku.
Air di dalam gelas bergetar kecil.
"Lihat?" Kelvin berkata pelan. "Kamu hampir menjatuhkan gelas, tapi tetap mau bilang tidak apa-apa."
"Karena memang tidak jatuh."
"Harus pecah dulu baru boleh minta bantuan?"
Naomi mengangkat wajah.
Pertanyaan itu seperti menampar tanpa suara.
Kelvin menarik tangannya perlahan dari gelas. Ia menyandarkan punggung ke kursi, tetapi matanya tidak lepas dari Naomi.
"Kamu mau apa, bilang. Jangan selalu tidak apa-apa."
Naomi menelan ludah.
"Aku tidak tahu mau apa."
"Tidak mungkin."
"Benar."
"Naomi."
"Aku tidak tahu!" Suaranya naik sedikit, lalu langsung patah. Felix mengangkat kepala. Naomi menutup mulut dengan jari, seolah bisa memasukkan kembali emosinya. "Maaf."
"Jangan minta maaf karena punya suara."
Mata Naomi memanas.
Ia menunduk cepat.
Kelvin berkata lagi, lebih pelan, "Kenapa kamu tidak pernah minta?"
Naomi menggenggam sendok sampai buku jarinya memutih.
Karena kalau meminta uang sekolah, orang dewasa bilang nanti dulu.
Karena kalau meminta ditemani saat demam, pintu kamar tetap tertutup.
Karena kalau meminta penjelasan kenapa ia ditinggal, tidak ada yang datang menjawab.
Karena tubuhnya pernah berubah karena obat, dan orang-orang tertawa seolah sakitnya adalah lelucon.
Karena saat ia masih kecil, ia pernah percaya bahwa kalau ia cukup diam, cukup tidak merepotkan, cukup pandai menelan tangis, mungkin orang tidak akan mudah membuangnya.
Namun ia tidak bisa mengatakan semua itu.
Belum.
Jadi ia hanya berkata, "Karena orang capek kalau dimintai terus."
Rahang Kelvin mengeras.
"Aku tidak capek."
"Belum."
Satu kata itu membuat udara di meja makan berubah dingin.
Kelvin menatapnya lama. "Jadi di kepala kamu, semua orang hanya belum pergi?"
Naomi ingin berkata tidak.
Tapi bibirnya tidak bergerak.
Kelvin berdiri.
Naomi refleks menegang, mengira ia marah. Namun Kelvin hanya pindah ke kursi di sampingnya. Ia tidak duduk terlalu dekat. Jarak di antara mereka masih cukup untuk Naomi bernapas.
Lalu Kelvin meletakkan tangannya di atas meja, telapak menghadap ke bawah, tidak menyentuh Naomi.
"Aku di sini," katanya. "Bukan karena kamu tidak minta apa-apa."
Naomi menatap tangan itu.
Tangan yang biasa memegang setir mobil mahal, menandatangani dokumen, menariknya dari bahaya, menyentuh pinggangnya di depan banyak orang, dan berhenti tepat sebelum melewati batas ketika ia takut.
"Kalau aku banyak minta..." Suara Naomi nyaris tidak terdengar. "Nanti kamu lihat aku berbeda."
"Aku memang ingin lihat kamu dengan benar."
Air mata pertama jatuh sebelum Naomi sempat menahannya.
Ia cepat-cepat mengusap pipi, tetapi Kelvin tidak berkata apa pun. Ia tidak panik. Tidak menyuruhnya berhenti menangis. Tidak menertawakan kelemahannya.
Itu membuat air mata kedua lebih sulit ditahan.
"Aku tidak mau jadi orang yang merepotkan," bisik Naomi.
"Kamu bukan beban."
"Kamu tidak tahu."
"Kalau begitu beri tahu aku."
Naomi menggeleng cepat. "Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena kalau aku bicara, aku tidak tahu harus berhenti di mana."
Kelvin diam.
Kalimat itu menggantung di antara mereka.
Naomi menunduk semakin dalam. Rambutnya jatuh menutupi wajah. Ia menggigit bibir sampai terasa sakit, tetapi tangisnya tetap keluar, pelan dan patah-patah.
Kelvin menggeser tangannya sedikit ke dekat tepi meja.
Bukan menyentuh.
Hanya menyediakan tempat.
Naomi melihat gerakan itu dari balik air mata.
Ia seharusnya tetap diam.
Seharusnya menarik diri.
Seharusnya kembali berkata tidak apa-apa.
Namun pagi itu, di meja makan apartemen yang terlalu nyaman untuk disebut sementara, di depan seseorang yang tidak pernah ia izinkan melihatnya sekacau ini, Naomi kehabisan tenaga untuk berpura-pura kuat.
Kepalanya menunduk.
Air matanya jatuh ke punggung tangan Kelvin.
Hangat.
Satu tetes.
Lalu satu lagi.
Kelvin tidak bergerak.
Ia hanya diam di sana, membiarkan tangannya tetap terbuka di atas meja, menunggu Naomi memilih sendiri apakah ia akan menjauh atau akhirnya mulai meminta.