NovelToon NovelToon
ASI, Untuk Majikanku

ASI, Untuk Majikanku

Status: tamat
Genre:CEO / Romansa / Tamat
Popularitas:473.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Lusica Jung 2

Aneh Tapi Nyata. Nathan mengidap sebuah penyakit yang sangat aneh dan langka. Dia selalu bergantung pada Asi untuk menjaga kestabilan tubuhnya. Hampir setiap bulan sekali penyakitnya selalu kambuh sehingga Nathan membutuhkan Asi untuk mengembalikan tenaganya. Pada suatu ketika, stok ASI yang dia miliki benar-benar habis sementara penyakitnya sedang kambuh. Kedatangan Vivian, pelayan baru di kediaman Nathan mengubah segalanya. Mungkinkah Nathan bisa sembuh dari penyakit anehnya, atau dia harus terus bergantung pada Vivian? Hanya waktu yang mampu menjawab semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Kegaduhan Di Pagi Hari

Mentari baru saja muncul di ufuk timur, memberikan cahaya lembut yang menyelimuti Mansion mewah keluarga Xi. Namun, ketenangan pagi itu segera terganggu oleh kegaduhan yang datang dari salah satu kamar di lantai atas. Siapa lagi biang keroknya kalau bukan si kembar Rio dan Henry.

"Rio! Kenapa kau ngompol lagi?!" Henry berteriak histeris, suaranya menggema di sepanjang koridor.

Suara Henry yang nyaring membuat para pelayan terkejut dan segera bergegas menuju sumber suara. Di dalam kamar, Rio terlihat pucat dan malu, berusaha menutupi noda di kasur dengan selimut.

Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf. Aku tidak sengaja," jawab Rio dengan wajah penuh penyesalan.

Henry, yang sudah mengenakan piyama bersih, menatap Rio dengan kesal. "Kau sudah berjanji tidak akan mengulanginya, Rio. Sekarang aku harus tidur di mana?"

Rio mendesah, merasa bersalah. "Gampang, kau tinggal tidur di lantai, beres kan."

Di saat itu, pintu kamar terbuka dan Monica muncul dengan wajah masam. Dia adalah salah satu pelayan yang sering harus berurusan dengan kekacauan yang dibuat oleh si kembar. "Apa yang terjadi di sini?" tanyanya dengan nada dingin.

Henry menunjuk kasur yang basah. "Rio ngompol lagi," jawabnya tanpa basa-basi.

Monica menghela napas panjang, menahan kekesalannya. "Kalian berdua, bersiap-siaplah untuk sarapan. Aku akan mengurus ini," katanya sambil mulai menggulung seprai yang basah.

Sementara itu, Nathan dan Vivian, yang baru saja bangun, mendengar keributan dari lantai atas. Nathan menggelengkan kepala, menyadari betapa merepotkannya kedua adiknya itu. "Sepertinya pagi ini akan panjang," ucapnya dengan nada datar.

Vivian menatapnya dengan senyum lembut. "Sepertiga begitu, sepertinya kedua adikmu sering membuat kekacauan, ya," katanya mencoba meredakan suasana.

Nathan mendekatkan diri pada Vivian, mencium keningnya dengan lembut. "Kau benar. Ayo, kita sarapan," ajaknya sambil menggenggam tangan Vivian. Vivian tersenyum lalu mengangguk kepala.

Di ruang makan, Rio dan Henry duduk dengan tenang tanpa merasa bersalah sedikit pun, sesekali mereka menoleh kearah Monica yang masih sibuk membersihkan kekacauan di kamar mereka. Kegaduhan pagi itu perlahan mereda, tetapi cerita di Mansion keluarga Xi baru saja dimulai.

Sementara itu... Sammy dengan malu-malu menghampiri meja makan, merasa canggung di tengah keluarga besar Nathan. Namun, senyum lebar Rio dan Henry segera menyambutnya.

"Hai, Brother! Akhirnya kita bertemu," seru Rio dengan semangat, merangkul Sammy dengan hangat. "Mulai sekarang, kami berdua adalah kakakmu, dan kau harus memanggil kita dengan sebutan, Gege, oke."

Henry menambahkan dengan penuh semangat, "Dan kita akan satu kampus. Kau tenang saja, kalau ada yang mencoba mengindasmu, kami akan melindungimu."

Sammy tersenyum sedikit, merasa lebih nyaman dengan sambutan hangat dari kedua kakak barunya. "Terima kasih, Ge," ucapnya pelan, dia masih tampak malu-malu dan canggung.

Vivian, yang duduk di sebelah Nathan, melihat interaksi itu dengan senyum tipis di wajahnya. Melihat adiknya diterima dengan hangat oleh keluarga Nathan membuatnya merasa lega. Dia tahu betapa pentingnya bagi Sammy untuk hal ini.

Namun, di sudut ruangan, Monica menatap pemandangan itu dengan tidak suka. Dia membenci kakak beradik itu dan merasa bahwa Vivian dan Sammy tidak pantas berada di antara keluarga Xi yang terhormat. Bagi Monica, hanya dirinya yang layak dan pantas berada diantara keluarga besar itu, bukan orang baru seperti Vivian.

Nathan, yang duduk dengan tenang di kepala meja, memperhatikan semuanya dengan mata tajam. "Rio, Henry, pastikan kalian menjaga Sammy dengan baik," ucapnya dingin namun tegas. "Aku tidak ingin ada masalah di kampus."

Rio dan Henry mengangguk patuh. "Tentu, Ge. Sammy, adalah adik kami sekarang," jawab Henry dengan serius, meski senyum masih menghiasi wajahnya.

Vivian memandang Nathan dengan senyum tipis dibibirnya, meskipun tidak terucap. Nathan hanya mengangguk sedikit, memahami perasaan Vivian tanpa perlu banyak kata.

Di tengah kehangatan keluarga yang mulai terbentuk, Monica berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya, menyadari bahwa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya hanya akan membawa masalah lebih besar bagi dirinya sendiri. Tapi, di dalam hatinya, dendam dan ketidakpuasan terus membara.

***

Vivian berdiri di depan Nathan, jari-jari lentiknya dengan cekatan membantu pria itu memakai dasinya. Sentuhan mereka terasa begitu intim, dan setiap gerakan membuat jantung Vivian berdegup kencang. Nathan, dengan tangan yang melingkari pinggangnya, terus menatapnya dalam-dalam. Tatapan itu, begitu intens dan penuh makna, membuat Vivian merasa gugup dan canggung.

"Kenapa kau begitu gugup, hm?" tanya Nathan, suaranya rendah dan dingin, namun ada kehangatan yang terselip di dalamnya.

Vivian tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Mungkin aku hanya belum terbiasa," jawabnya lirih, matanya menatap dasi yang sedang diikatnya dengan hati-hati.

Nathan menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya ke Vivian. "Kau akan terbiasa," ucapnya singkat namun dalam, membuat Vivian merasakan semburat panas di pipinya.

Dalam hidupnya, baru kali ini Vivian diperlakukan sehangat ini oleh orang lain. Nathan, meskipun sering terlihat dingin dan tak banyak bicara, memiliki cara yang unik untuk menunjukkan perhatiannya. Sentuhan tangannya di pinggang Vivian memberikan rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Vivian selesai dengan dasi itu dan menatap Nathan. "Sudah selesai," katanya pelan.

Nathan tidak segera melepas pelukannya. Dia hanya menatap Vivian dengan tatapan yang sulit diartikan. "Terima kasih," katanya akhirnya, dengan nada yang lebih lembut dari biasanya. "Karena telah membuat pagi ini lebih baik." bisiknya.

Vivian masih dalam posisi yang sama, berdiri di depan Nathan dengan tangannya yang masih melingkari pinggangnya. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum bertanya, "Kapan kau akan melakukan operasi?"

Nathan menatapnya dengan tatapan tenang namun serius. "Tiga hari dari sekarang," jawabnya tanpa ragu.

Vivian mengangguk pelan. "Bagaimana perasaanmu? Kau terlihat sangat tenang," ucapnya, suaranya hampir berbisik.

Nathan menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Lalu aku harus bersikap bagaimana? Dan tak lama lagi, kau akan memiliki suami yang cacat," katanya dengan nada datar, seolah-olah sudah menerima nasibnya.

Vivian menggelengkan kepala dengan tegas, matanya penuh determinasi ketika membalas tatapan Nathan. "Penampilanmu tidak penting bagiku. Kau tetaplah suamiku, tidak peduli bagaimana pun penampilanmu nanti."

Nathan menatapnya sejenak, merasakan kehangatan dari kata-kata Vivian. "Kau benar-benar tidak peduli?" tanyanya, mencari kepastian.

Vivian mengangguk dengan yakin. "Tidak peduli. Aku akan tetap menerimamu apa adanya, bagaimanapun penampilanmu nantinya. Dan menurutku eyepacht hitam tidak buruk juga."

Nathan tersenyum tipis. "Baiklah. Aku akan melakukan operasi itu, dan aku ingin kau menemaniku selama proses berlangsung,"

Vivian mengangguk. "Tidak masalah, aku akan menemanimu nanti," ucapnya, lalu memberikan ciuman lembut di pipinya.

Nathan menarik Vivian lebih dekat. "Aku tahu," jawabnya pelan, membiarkan kehangatan itu meresap dalam hatinya. Nathan mendekatkan bibirnya lalu mencium singkat bibir Vivian.

***

Bersambung

1
Kusii Yaati
yang manggil Vivian tuan muda Nathan sendiri, salahnya Vivian dimana monicaaaa... kalau kamu nggak terima ngomong sendiri sama tuan muda mu berani nggak???... Heran deh sama pembantu satu ini/Speechless/
mamah cantikk
koq bs ya, msh virgin tp bs ngeluarin asi
mamah cantikk
protes sendiri klo brani
Juna Dong
luar biasa
Uniie Gentra
maaf thor baru aja pindah kamar koq nathan udah bilang kita sudah resmi menjadi suami istri nikahnya juga kan belom trus tadi nathan bilang akan mempersiapkan dokumen untuk pernikahan mereka....aku agak bingung di situasi itu
imhe devangana
tokyo atau london thor?
imhe devangana
untung doni disini ngk sprti crt lain klu di tolak akan melakukan apa sj yg penting bisa bersama wanita yg dicintai.mungkin doni cm kagum sj bkn cinta atau obsesi.😁😁😁😁
imhe devangana
Arnold salah langkah,harusnya dia ngk melibatkan viviant akibtnya adiknya yg ngk th apa2 pun jd sasaran nathan.sdh th nathan mengerikan
imhe devangana
jngn sampai nnti monica keluar dr rumah xi & bertm dg Arnold dan membocorkan semua rahasia nathan klu vivian orng plng berhrg buat dia
imhe devangana
thor apakah nathan seorng ketua Mafia?
Ruk Mini
cakep..man hrs tangguh nenk
Ruk Mini
bisa ye penuh luka msh bermesraan.. hadeuhhhhh bank..bank
Ruk Mini
sadizzzz
Ruk Mini
cpt cetak junior mu bank
Ruk Mini
cb dr kmren..ga bakal kehilangan kn bank..
Ruk Mini
ga tau ape tuan y kejam .main2 ..kena akibat y kn
Ruk Mini
ko bisa lolos..bukan y sgt ketat penjagaan y🥹
Ruk Mini
cacat .. tpi cakep ok lh
Ruk Mini
lg tgl nikmati aje pake berulah
Ruk Mini
usil y kelewatan kau babank imutz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!