“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.
Semuanya berawal dari ...
Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.
Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.
Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : TK MUTIARA HATI.
Pagi ini Isyana menikmati hangatnya sinar matahari dari taman belakang rumahnya. Bibirnya menyesap secangkir teh herbal yang setiap pagi, Bu Lastri buatkan untuknya. Tiba-tiba saja Isyana teringat percakapan Ikbal dengan selingkuhan nya tadi malam di telepon.
“Dira!”
“Ya, Bu.”
Dira asisten pribadi Isyana mendekat ke sofa tempat Isyana duduk.
“Tolong kamu cari tahu, tanggal berapa reservasi suami saya di Hotel Neo, yang ada di Bali.”
Dira hanya diam tidak menjawab perintah dari Isyana. Membuat Isyana sedikit heran, ia pun menengadah menatap mata Dira.
“Ada apa, Dir?” tanya Isyana.
“Emm, sebenarnya....” Dira nampak ragu untuk menjawab nya. Membuat Isyana semakin penasaran.
“Katakan saja,” ucap Isyana santai.
“Sebelumnya maafkan saya, Bu.”
Isyana mengerutkan dahi, sambil menyesap secangkir teh nya.
“Sebenarnya kemarin sore Pak Ikbal menemui saya di kantor dan bertanya pada saya ... kapan Bu Isyana ada jadwal dengan klien baru. Saya tidak menjawabnya, terus Pak Ikbal pergi begitu aja.”
Isyana mengingat lagi kemarin siang dia tidak sempat mengejar mobil Ikbal. Kemungkinan Ikbal ke kantor nya dan menemui Dira assinten Isyana.
“Tapi Bu, saya tidak sengaja mendengar Pak Ikbal bicara dengan Asisten nya di parkiran mobil.”
Isyana menoleh dengan penasaran.
“Apa yang dia bicarakan?” tanya Isyana dengan wajah serius.
“Saya dengar Pak Ikbal minta asisten nya reservasi Hotel Neo di tanggal 30 maret,” jawab Dira.
“Baiklah, terima kasih untuk informasinya.”
“Iya Bu.”
“Oh iya, tolong kamu rahasiakan hal ini dari orang lain ya,” tegas Isyana.
“Baik, Bu.”
“Jangan membuat saya kecewa ya, Dir. Saya sangat percaya padamu,” ucap Isyana tersenyum ramah kepada Dira.
“Saya tidak akan pernah mengecewakan, Ibu,” jawab Dira dengan sungguh-sungguh.
Beberapa menit kemudian. Terlihat Ikbal berjalan menuruni anak tangga. Isyana hanya diam dan pura-pura tidak melihat nya. Ikbal pun datang menghampirinya.
“Morning, Sayang!” sapa Ikbal dengan senyuman dibibirnya.
Isyana menghela nafasnya dan mengusahakan bibirnya untuk tersenyum.
“Pagi-pagi begini kamu mau kemana?” tanya Ikbal seraya ikut duduk di sofa tepat sebelah Isyana.
“Aku ada jadwal rutin mengisi acara parenting di TK MUTIARA HATI.” Isyana mengalihkan wajahnya ke arah Dira.
“Tolong kamu siapkan mobil saya, Dir. Hari ini saya menyetir sendiri, kamu bisa tetap di kantor saja,” ucap Isyana pada Dira.
Isyana menatap Ikbal yang menyesap secangkir kopi di tangan nya. Lalu memakan roti lapis yang menjadi menu sarapan mereka.
“Kamu juga tumben banget hari ini kerjanya pakai baju formal banget. Emang ada acara apa di kantor?” tanya Isyana dengan tatapan menyelidik.
Ikbal tersentak dan hampir tersedak roti lapis. Dia menunjuk gelas berisi air putih yang ada didekat isyana. Meminta Isyana untuk mengambilkan nya.
“Nggak kaya biasanya aja,” lanjut Isyana seraya memberikan gelas tersebut ketangan Ikbal.
Ikbal pun meminum air putih, dan melegakan tenggorokan nya. Lalu menatap Isyana dengan intens. Isyana memalingkan wajahnya karena tidak suka dengan tatapan Ikbal.
“Memangnya aku harus bergaya seperti apa, Sayang? Apa aku harus pakai celana jeans robek-robek dan kaos oblong hitam seperti anak punk?” jawab Ikbal.
“Kamu ini ada-ada saja pertanyaan nya,” ucap Ikbal seraya mengusap-usap pucuk kepala Isyana.
“Apaan sih, Mas. Rambutku jadi berantakan,” gerutu Isyana sambil merapikan rambutnya kembali.
Ikbal pun berdiri dan langsung mengecup kening Isyana.
“Aku pergi kerja dulu, I love you, Sayang!”
Isyana hanya diam dan memalingkan wajahnya yang datar. Dia mengatur nafas nya kembali. Tangan nya yang sedari tadi mengepal menahan amarahnya. Akhirnya bisa terenggang dengan bebas.
Sekarang berada didekat Ikbal, membuat Isyana tidak bisa jika tidak marah. Sampai-sampai dadanya terasa sesak jika dia menahan amarahnya setiap kali Ikbal menyentuh bagian tubuhnya. Seperti tadi saat Ikbal mencium keningnya.
“Rasanya ingin ku tonjok bibirnya itu,” gerutu Isyana seraya dia berjalan dengan anggun menghampiri Dira.
“Bye, Sayang!” ucap ikbal sambil melambai saat mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
“Iya, Mas. Hati-hati ya,” sahut Isyana seraya melambai dan tersenyum paksa.
Saat Ikbal sudah tidak lihat, wajah Isyana kembali datar. Dira yang melihat hal itu, mulai mengerti apa yang terjadi dalam rumah tangga bosnya. Namun dia memilih diam dan tidak mau ikut campur. Dia pun segera membukakan pintu mobil untuk Isyana.
Brum brum brum, mobil sport Isyana melaju keluar dari pekarangan rumahnya.
Isyana menggenggam kuat setir kemudinya. Melaju dengan kencang menuju TK MUTIARA HATI. Di tempat itu sudah menjadi jadwal rutinnya. Setiap satu bulan sekali di hari selasa. Dia akan mengisi acara parenting untuk anak-anak disana. Bermain dan makan siang bersama dengan anak-anak disana adalah hal favorit yang dia tunggu.
Sesampainya disana. Isyana langsung di sambut ramah dengan para guru yang mengajar di TK tersebut. mereka sangat berterima kasih kepada isyana karena sudah menyempatkan jadwalnya untuk mengisi acara parenting di TK MUTIARA HATI setiap bulan nya.
Acara pun di mulai kurang lebih selama 1 jam. Setelah itu waktunya anak-anak bermain dan memakan cemilan yang sudah Isyana siapkan. Tepat di jam 10 Isyana mengajak anak-anak serta para guru untuk makan bersama.
Isyana bercemin di depan wastafel toilet sambil mencuci tangan nya. Ia pun tersadar saat pandangan nya tertuju pada leher jenjangnya. Tampak polos dan tidak ada kalung yang biasa mengisi bagian itu.
“Astaga, kalungku ... dimana? Apa tadi terjatuh saat aku bermain dengan anak-anak?” Isyana meraba-raba lehernya.
Dia panik dan langsung keluar dari toilet. Kesana kemari berlari dan merangkak di bawah-bawah meja untuk mencari kalung tersebut.
Kalung itu adalah peninggalan dari sang ibu yang meninggal saat Isyana di usia 15 tahun. Tentu saja Isyana panik dan sampai meneteskan air mata saat kehilangan nya. karena kalung itu adalah teman yang biasa menemaninya di kala dia sedih, hanya dengan menyentuh kalung itu hati Isyana bisa tenang.
Isyana memegangi dadanya yang bernafas terengah-engah. Isyana pun beristirahat dengan duduk di salah satu kursi taman. Isyana menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Air mata nya tidak bisa berhenti menetes sedari tadi.
Isyana tidak sadar ada seorang anak laki-laki berjalan mendekatinya. Isyana tersadar saat anak laki-laki itu duduk di sebelahnya. Isyana pun membuka kedua tangan nya dan menatap anak laki-laki itu dengan mata sembab dan hidung yang memerah.
“Bu Isyana,” panggil anak tersebut.
Isyana mengangguk dan memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
Anak laki-laki itu lalu meraih tangan Isyana dan memberikan sesuatu di telapak tangan Isyana. Mata Isyana membulat menemukan kembali kalung peninggalan ibunya. Isyana pun tanpa sadar langsung memeluk anak tersebut.
“Terima kasih banyak, kamu sudah menemukan kalung ini,” tutur isyana.
Anak laki-laki itu pun tersenyum dengan lucunya. Tangan nya yang mungil bergerak mendekat ke wajah Isyana. Lalu dia mengusap air mata yang tertinggal di wajah Isyana dengan lembut. Isyana hanya terdiam dan menatap kagum anak tersebut.
“Terima kasih, sayang. Kamu baik sekali, siapa namamu?” tanya Isyana seraya embelai rambut anak itu.
“Nino, nama aku Nino,” jawabnya dengan tersenyum.
“Baiklah Nino, sebagai tanda terima kasihku, ini buat kamu,” ucap isyana seraya memberikan Nino sebuah gantungan kunci berbentuk seperti kereta gantung.
Nino hanya diam sambil membolak-balikkan gantungan kunci tersebut.
“Sama seperti kalung ini, gantungan kunci ini juga sangat berharga buatku ... kamu harus menjaga nya dengan baik,” ucap Isyana.
Nino pun mengangguk.
Bel pun berbunyi. Nino segera berlari masuk kedalam kelasnya. Isyana tersenyum menatap kepergian Nino.
“Dia menggemaskan sekali,” ucap Isyana.
*
“Terima kasih banyak untuk hari ini, Bu Isyana,” ucap kepala sekolah TK MUTIARA HATI kepada Isyana.
Isyana tersenyum dengan ramah. “Sama-sama, Bu. Saya juga sangat senang bisa bermain dengan anak-anak.”
Kalau begitu saya pamit pulang,” ucap Isyana seraya berjalan keluar.
Saat menuruni anak tangga, kaki Isyana salah menginjak. Akhirnya tubuhnya terhuyung. Tangan Isyana berusaha meraih pagar di ujung tangga, akan tetapi tidak bisa. Ia pun menyerah dan membiarkan tubuhnya terjatuh.
Dengan sigap seorang lelaki meraih tangan Isyana dan menahan agar tubuhnya tidak terjatuh. Seketika itu juga bagaikan sedang berhalusinasi. Isyana melihat sosok Elvano.
“Elvano?”
Isyana tersadar dan langsung melepaskan tangan nya dari genggaman Elvano. Dia merapikan baju dan rambutnya karena gugup.
“Emm, terima kasih,” ucap Isyana canggung.
“Sama-sama,” jawab Elvano seraya tersenyum. Isyana menatap Elvano begitupun sebaliknya.
Isyana tersenyum saat mengingat waktu berada di Newyork. Isyana berjalan diatas batang pohon yang sudah tua , saat itu keadaan nya sama seperti sekarang. Isyana hampir terjatuh tapi Elvano langsung menangkap tangan nya.
“Ayahhhh!!!” teriak seorang anak kecil.
Isyana menoleh kearah sumber suara tersebut.
“Nino?” Isyana tertegun menatap langkah kaki Nino berlari.
Elvano berjongkok dan langsung memeluk Nino. Membuat Isyana akhirnya sadar. Nino, pantas saja nama itu nampak tidak asing di telinganya. Karena Elvano pernah menyebutkan nama Nino saat menerima panggilan vidio waktu di Newyork.
“Selamat siang, Bu Isyana.”
Isyana tersenyum dengan kagum. Saat Nino mengucapkan salam dengan sopan.
“Selamat siang juga, Nino,” jawab Isyana seraya mengelus pipi Nino.
“Ayah, kenalin ini Bu Isyana,” ucap Nino kepada Elvano seraya mengarahkan tangan ayah nya di depan Isyana.
Elvano pun tersenyum dengan tingkah Nino.
“Bu Isyana, kenalin ini ayahnya Nino.” Nino kembali menatap Isyana untuk memperkenalkan nya pada Elvano.
Isyana pun menjabat tangan Elvano lalu tersenyum. Begitu juga dengan Elvano dia hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah anaknya.
“Ayah, kenapa diam saja? Cepat sapa Bu Isyana!”
Elvano tertawa mendengar rengekan Nino.
“Salam kenal Bu Isyana, saya Elvano ayahnya Nino,” tutur Elvano.
“Sudah, apa kamu puas sekarang?” Elvano pun menggendong sang anak.
Isyana tidak bisa berkata-kata lagi. Ternyata beginilah sosok Elvano saat bersama dengan anak nya. Dia adalah ayah yang baik, dimata Isyana.
“Kalau begitu, kami pamit pulang dulu ya, Bu Isyana,” ucap Elvano.
Isyana pun mengangguk.
“Dah Bu Isyana, hati-hati di jalan yah,” teriak Nino sambil melambai saat sang ayah memasukkan nya ke dalam mobil.
“Dahh Nino, hati-hati juga di jalan,” jawab Isyana membalas lambaian tangan Nino.
“Menggemaskan sekali,” gumam Isyana tersenyum seraya berjalan ke mobilnya.
To be continued....