Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20- Persiapan Rombongan Kedua
Keheningan yang mencekat kembali melingkupi kantor Last Trip Express. Bau gosong sisa bakaran sihir keemasan dan jejak belerang yang ditinggalkan Gabriel masih tercium samar di udara.
Di tengah ruangan yang remang-remang itu, dua insan beda dimensi saling menatap dengan ketegangan yang merambat kaku.
Damar berdiri kaku dengan jemari yang mengepal erat di samping paha. Tas selempang di pundaknya terasa amat berat, menyimpan buku catatan tua beraksara kuno dan lukisan wajahnya yang berasal dari abad lalu. Pertanyaan yang dilayangkan Gabriel membakar habis rasa amannya.
Madam Helga melangkah pelan mendekat. Kipas sutranya terkumpul kaku di genggaman sarung tangan hitamnya.
"Aku bertanya padamu, Damar," ulang Madam Helga dengan suara datar yang tak menoleransi bantahan. "Apa yang dikatakan musang berbulu domba dari Eternity Horizon itu padamu?"
Damar menelan ludahnya yang terasa pahit. Keberanian yang jarang muncul mendadak mendorong dadanya.
"Dia bilang ... saya cuma wadah," ucap Damar, suaranya agak bergetar namun terdengar jernih di dalam ruangan yang sunyi. "Dia bilang saya diseret ke tempat ini cuma buat numbalin jiwa manusia saya demi melunasi dosa masa lalu Madam."
Alis Madam Helga terangkat sangat tipis. Tidak ada kejutan berlebih di wajah cantiknya, hanya kerutan halus yang menyiratkan rasa dingin yang semakin pekat.
"Dan kamu percaya padanya?" tanya Madam Helga, melangkah melintas di depan meja kerja seraya mengibaskan syal bulunya. "Seorang agen pesaing yang datang tanpa diundang, memprovokasi stafku, dan kamu menelannya mentah-mentah begitu saja? Sungguh kapasitas otak manusia yang sangat dangkal."
"Saya gak langsung percaya, kok!" potong Damar, napasnya mulai tak teratur. "Tapi gimana soal buku catatan tua ini?!"
Dengan gerakan nekat, Damar merogoh tas selempangnya, menarik keluar buku bersampul kulit tua itu, dan menaruhnya di atas meja tepat di bawah pendar lampu gantung. Buku itu terbuka tepat di halaman yang menampilkan sketsa lukisan pria berambut ikal dengan wajah yang identik dengan Damar.
Madam Helga mendadak menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam terkunci pada lembaran kertas tua tersebut. Untuk sepersekian detik, ada kilatan syok yang sangat nyata memercik di mata indahnya—sebuah retakan kecil pada benteng keangkuhannya yang biasanya tak tertembus.
"Kamu ...." Napas Madam Helga tertahan pelan.
Tangannya terangkat ragu hendak menyentuh buku itu, namun langsung ia tarik kembali seraya mengepalkan jemarinya.
"Aku sudah memerintahkanmu untuk tidak menyentuh barang yang bukan milikmu, Damar!"
"Siapa pria ini, Madam?!" seru Damar, tidak lagi mengacuhkan ancaman pemotongan gaji atau klausul kontrak. "Kenapa mukanya persis banget sama saya?! Kenapa ada tulisan soal 'Pemandu Pertama' dan 'utang darah' di bawahnya?! Dan kenapa Madam tatap cermin tua di ruang pribadi semalam seolah-olah Madam udah kehilangan separuh jiwa Madam?!"
Pertanyaan bertubi-tubi itu membalas keheningan malam. Damar menatap Madam Helga dengan dada kembung kempis, menanti kejujuran atau minimal sanggahan logis.
Madam Helga mematung di tempatnya. Wajah anggunnya mengeras. Keheningan di antara mereka terasa bagaikan benang tipis yang siap putus kapan saja.
Sang pemilik agen travel gaib itu menarik napas panjang, lalu perlahan menatap Damar. Tatapannya tidak lagi judes atau penuh celaan sarkastik, melainkan tatapan dingin nan dalam yang tak terukur kedalamannya.
"Ada rahasia di semesta ini yang belum sanggup ditampung oleh jiwa manusiamu yang rapuh, Damar," kata Madam Helga pelan, namun setiap kata dipatok dengan ketegasan yang tak bergeming. "Kamu ingin tahu apakah kamu dimanfaatkan? Kamu ingin tahu apakah kamu hanya wadah? Jawabannya adalah ... kerjakan tugasmu!"
"Madam—"
"Kontrak tinta merah di tanganmu adalah sah di hadapan Hukum Alam Transmisi!" potong Madam Helga seraya menancapkan ujung kipasnya ke meja, membuat buku tua itu tertutup rapat dengan suara BAM! yang keras.
"Apa pun masa lalumu, siapa pun sosok dalam lukisan itu, fakta saat ini tidak berubah: kamu adalah Tour Guide aktif Last Trip Express. Jika kamu ingin jawaban, tuntaskan kontrakmu sampai akhir. Buktikan bahwa kamu bukan sekadar jiwa penakut yang mudah goyah oleh hasutan musuh!"
Damar tertegun. Kata-kata Madam Helga tidak sepenuhnya membantah tuduhan Gabriel, namun juga tidak membenarkannya secara gamblang. Ada teka-teki raksasa yang sengaja dikunci rapat-rapat di balik keangkuhan wanita itu.
Namun, sebelum Damar sempat membalas atau memprotes lebih jauh—
TIIIINNNNNNN ...!
Suara klakson yang amat nyaring, berat, dan gaib bergema hebat dari luar bangunan kantor! Suara itu tidak seperti klakson Bus 666 yang biasa. Nadanya melengking sumbang, seperti rintihan ribuan jiwa yang kesakitan.
Kring-kring-kring-kring!
Bel kuningan di atas pintu kantor berdering liar tanpa henti. Kaca-kaca jendela kantor bergetar kencang, hampir retak oleh gelombang getaran energi gaib tingkat tinggi yang mendadak mengepung area luar.
Lampu-lampu gantung di langit-langit memercikkan api lalu padam seketika, menyisakan ruangan yang hanya diterangi oleh pendar merah menyala dari jam saku Chrono-Compass milik Damar.
KLAK-KLAK-KLAK-KLAK!
Jarum jam saku Damar berputar menggila, menunjukkan skala warna merah pekat yang menunjuk ke angka tertinggi—tanda bahaya tingkat darurat gaib!
"M-Madam ... ini apa?!" seru Damar panik, reflek menggenggam tiang meja saat lantai kayu di bawah kakinya bergetar pelan.
Madam Helga menyipitkan matanya, mengibaskan syal bulunya seraya berbalik cepat menghadap ke arah pintu keluar.
"Rombongan kedua ... mereka sudah tiba lebih cepat dari jadwal!"
Pintu kaca kantor terdorong terbuka keras oleh hantaman angin hitam berduri. Bau busuk yang mencekat—campuran darah kering, karat besi, dan hawa kematian yang pekat—menyeruak masuk membasmi sisa-sisa aroma bunga di ruangan tersebut.
Dari balik kegelapan malam, di pinggir jalan depan kantor, tampak sebuah armada bus raksasa yang sama sekali berbeda dari Bus 666.
Bus ini berwarna hitam pekat dengan corak merah darah yang seolah-olah bergerak merayap di badannya. Di kaca depan bus, tertera angka menyala.
ARMADA 000.
"Ini ... bukan Bus 666?" bisik Damar dengan mata membelalak lebar, melangkah mundur mendekati Madam Helga.
"Ini Bus Rombongan Khusus," desis Madam Helga dengan nada suara yang sangat serius—sebuah nada yang belum pernah Damar dengar sebelumnya dari wanita itu. "Rombongan berisi jiwa-jiwa terikat dendam kelam dan kematian tak wajar. Kasus tingkat tinggi yang ditolak oleh agen travel mana pun."
Pintu Bus 000 terbuka dengan suara derit besi berkarat yang menyakitkan telinga.
Dari dalam lorong bus yang gelap gulita, tidak ada gelak tawa atau komplain berbau jenaka seperti rombongan Pak Tejo atau Nadia. Yang terdengar hanyalah bisikan-bisikan dingin yang saling bertumpuk, helaan napas berat yang membekukan udara, dan suara rantai besi yang diseret di atas lantai.
Sesosok bayangan tinggi besar dengan aura hitam pekat dan mata merah menyala melangkah keluar dari dalam bus, berdiri di pintu masuk kantor.
Hawa menakutkan yang dipancarkannya begitu kuat hingga membuat bulu kuduk Damar berdiri tegak dan tubuhnya mendadak kaku tak bisa digerakkan.
BZZZZT!
Lembar itinerary baru di tangan Damar mendadak keluar secara otomatis dari clipboard-nya, terpanggang garis-garis tinta hitam yang terbentuk secara gaib. Nama-nama peserta tur rombongan kedua terukir di sana—diikuti dengan label merah menyala di bagian atasnya.
ROMBONGAN ARWAH DENDAM KELAM & MISTERI KEMATIAN KELUARGA.
"Damar," panggil Madam Helga pelan, tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya menggenggam kipas sutra yang kini memancarkan pendar emas paling terang yang pernah Damar lihat. "Simpan ragumu. Pasang mikrofonmu. Tur Rombongan Kedua ... resmi dimulai."
Damar menelan saliva dengan susah payah, menatap bayangan-bayangan mengerikan yang mulai turun dari Bus 000 satu per satu. Rasa takut yang hebat menjalar di seluruh tubuhnya, berkecamuk dengan misteri jati dirinya yang belum terpecahkan.
Satu hal yang pasti, perjalanan bersama Last Trip Express baru saja memasuki babak yang jauh lebih gelap, lebih berbahaya, dan mematikan.
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt