Status simpanan itulah yang harus disandang wanita cantik bernama Dista karna sebuah kesalahan fatal yang ia lakukan dengan suami sahabat karibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Leo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
bab 15
.
.
.
Rayyan.. mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah pergi dari sini. maafkan aku yang terpaksa pergi. aku tidak bisa membayangkan membesarkan kandungan dan dia nanti seorang diri. aku juga tidak mau membebani kau dan ibu lagi. ini aib ku Rayyan, aku tidak mau kau dan ibu juga terkena imbasnya.
Sampaikan permintaan maafku pada Ibu dan Via, Aku tidak berani bertemu ibu dan Via, nanti kalau dia sudah lahir aku akan mengunjungi kalian.
Terima kasih selama ini kau dan ibu selalu peduli denganku..
Sampai bertemu lagi..
Dista.
.
Rayyan meremas kertas yang tertulis tulisan tangan Dista. kecewa, ia benar-benar kecewa dengan keputusan Dista.
"Bagaimana bisa kau malah memilih menerima tawaran pria beristri Dista.."Wajah sedih terlihat sekali pada Rayyan.
segera pula Rayyan bergegas keluar dari rumah itu dengan membawa mangkuk makanan untuk pulang.
tiba dirumah Ibu Diana keheranan saat makanan buatannya dibawa pulang.
"Loh Ray, kenapa dibawa pulang lagi sup nya ?? Dista tidak suka ya?? "
"Dista pergi buk."Balas Rayyan.
"Pergi?? Kemana??!!"Ibu Diana keheranan.
"Dia punya privasi buk, biarkan saja. kita doakan saja semoga pilihan dia tidak salah."Balas Rayyan yang kembali akan keluar.
Meski bingung dengan jawaban Rayyan, ibu Diana hanya bisa diam dan tidak lagi bertanya.
.
.
Pagi itu Aqil sudah menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah yang entah kapan sudah ia siapkan. bahkan dari rumah itu keluar seorang pelayan yang menyambut kedatangannya.
Sebelum turun, Aqil menatap wajah pucat Dista yang terlelap tidur. sepanjang perjalanan Dista hanya memejamkan kedua matanya. karna jika ia bangun, Rasa mual yang malah ia rasakan.
Usapan lembut diberikan Aqil dikepala Dista. "Maafkan aku membuatmu seperti ini.."Gumam Aqil.
ketukan kaca jendela mobil Aqil membuyarkan Lamunan Aqil.
Aqil segera keluar terlebih dulu.
"Bibi turunkan barang-barang ya.. saya mau bawa Dista dulu kekamar. apa kamarnya sudah siap?? "Tanya Aqil.
"Sudah Tuan. silahkan.."jawab pelayan itu.
Aqil perlahan mengangkat tubuh Dista dan membawanya masuk kedalam rumah. memang rumah itu tidak sebesar rumah Aqil yang dijakarta, namun Aqil rasa itu cukup nyaman untuk tinggal Dista selama hamil.
Dista membuka matanya saat aqil meletakkan tubuhnya diatas kasur busa.
kesadarannya mulai terkumpul dan perlahan Dista hendak bangun.
"Kenapa bangun?? Kau pasti lelah. istirahat saja.. nanti aku hubungi dokter supaya memeriksamu.."Ucap Aqil.
"Kita dimana mas?? "Dista tidak mengindahkan ucapan Aqil. ia malah meneliti tempat asing dimana saat ini ia berada.
"Kita sudah sampai diBandung. Ini rumahmu. aku membelinya kemarin melalui temanku. selama hamil kau tinggal disini. disini ada bik Wati yang akan membantu semua pekerjaan rumah dan melayani semua kebutuhanmu."Terang Aqil. tak lama bik Wati masuk dengan membawa koper Aqil dan Dista.
"Tuan..koper tuan yang mana ya?? Mau ditaruh sini apa dikamar sebelah?? "Tanya Bik wati.
"Yang hitam bik. bawa kekamar sebelah saja.."Balas Aqil.
"Nonanya sudah bangun ya.. halo non.. saya bik Wati."Sapa Bik wati.
"Iya.. saya Dista.."Balas Dista dengan canggung. ia begitu tidak percaya Aqil memperlakukannya dengan begitu istimewa seperti ini.
"Kau lapar?? " Pertanyaan Aqil mengejutkan Dista
"Apa?? Emm.. aku mau melihat halaman rumah. boleh?? "Pinta Dista.
"Tentu saja. tapi kau yakin tidak lelah?? soalnya besok pagi kita menikah?? Hanya acara sederhana, tapi aku tidak mau kau sampai drop."Tutur Aqil dengan wajah kawatir.
"Aku baik. aku sudah lumayan Sehat."Dista hendak berdiri dari duduknya namun aqil terlihat cekatan segera membantu.
benar-benar Dista sudah lupa pada Siapa Aqil sebenarnya. kenyamanan itu begitu Membuat hati Dista sangatlah tenang.
.
.