Akibat desakan dari sang mommy akhirnya Noah terpaksa menikah dengan Zoe adik tirinya. Noah menganggap Zoe sebagai adiknya sendiri bahkan, setelah menikah-pun Noah tetap mengatakan pada semua orang bahwa Zoe adalah adik bukan istrinya.
Pernikahan rahasia antara Noah dan Zoe dari publik ternyata membuat Zoe cukup sakit hati. Ia menaruh perasaan pada Noah yang ia anggap sebagai pria satu-satunya setelah sang daddy yang pantas di jadikan suami tapi, Noah tak pernah mengakuinya lebih dari gelar ADIK.
Apa yang akan Zoe lakukan? Mungkinkah ia akan selalu bersabar menunggu posisi barunya atau pasrah melepaskan Noah?!
....
Bagi yang baru baca cerita ini mohon baca dulu novel IMPOTEN HUSBAND.
Jangan lupa vote, like and komennya say, mohon kritik dan saran tapi dalam bahasa yang manusiawi ya😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Zoe lebih besar
Zoe mengantar makan siang ke perusahaan keluarganya. Gadis cantik dengan rambut emas dan senyum gummy itu mengangguk ramah saat beberapa karyawan menyapanya. Zoe memang terkenal ramah tapi jika ada yang berbuat tak mengenakan, ia juga tak segan berbuat kasar dan angkuh.
"Nona Zoe mau menemui presdir?" Tanya sekretaris Ruby yang menjemput Zoe ke lantai bawah.
"Iya, kakakku ada-kan?"
"Ada nona. Tapi tengah meeting. Satu jam lagi akan selesai. Apa nona tak keberatan menunggu?" Tanya wanita berkacamata itu agak segan.
"Tidak apa. Aku tunggu di ruangan kakakku," Jawab Zoe masuk ke lift bersama sekretaris Ruby yang menemaninya menuju lantai ruangan Noah.
Tak ada siapapun yang berani bergosip soal Zoe karena memang tak pernah ada rumor buruk tentang gadis cantik itu. Apalagi, Zoe sudah sering ke perusahaan jadi mereka telah terbiasa.
"Sepertinya kakakku sibuk," Ujar Zoe memecah keheningan.
"Iya, nona! Apalagi ada sedikit masalah soal investor yang tiba-tiba menarik diri dari proyek perusahaan yang sedang berjalan."
Zoe terkejut. Paper-bag bekal yang ia peggang semakin di genggam erat menatap sekretaris Ruby heran.
"Kenapa? Tak biasanya ini terjadi."
"Begitulah, nona! Alasannya karena presdir tak datang ke meeting kemaren dan sejak itu tuan Li Han mengklaim jika presdir tak serius dengan proyek yang mereka kerjakan."
"Berani sekali dia. Putus kerja sama dengan perusahaanya juga tak akan membuat rugi," Kesal Zoe mendengar penjelasan sekretaris Ruby.
"Memang tak merugikan perusahaan, nona! Tapi, karena kekecewaan tuan Li Han dia jadi menyebar rumor tak jelas soal presdir. Itu berakibat pada nama baik perusahaan kita di mata para investor."
"Ck." Zoe mendecih geram.
Pintu lift terbuka dan Zoe langsung pergi ke ruangan Noah sedangkan sekretaris Ruby hanya mengantarnya sampai ke lantai ini lalu kembali ke ruangannya.
Zoe masuk ke ruangan khusus presdir. Tempat luas dan megah itu sudah tak asing lagi bagi Zoe dari sejak daddynya menjabat dan sekarang kakaknya Noah semuanya tak berubah banyak.
"Pasti kakak sangat sibuk," Gumam Zoe meletakan paper-bag itu di sofa.
Dia duduk merilekskan kedua kaki jenjangnya. Zoe penasaran dengan yang namanya tuan Li Han.
"Aku harus memberinya pelajaran," Gumam Zoe kesal mendengar cerita sekretaris Ruby tadi.
Zoe mencempol rambutnya ke atas lalu berdiri. Ia tampak sangat cantik dan feminim mengenakan dress selutut berwarna moca polos lengan panjang dengan bagian pinggang bertali membuat lekuk pinggang dan perut ratanya di pertontonkan.
"Aku harus melihat sendiri tua bangka itu," Gumam Zoe berjalan keluar dari ruangan Noah meninggalkan paper-bag di sofa.
Ia hanya membawa ponsel di tangan kirinya seraya pergi menuju ruang meeting. Setibanya di sana, Zoe mengintip dari cela pintu dan melihat jika Vivian tengah memimpin rapat.
"Pertemuan kali ini membahas soal proyek perusahaan. Dan.."
"Bukan rumor yang beredar itu?" Tanya tuan Li Han tersenyum licik.
Noah menatap datar pria tua itu. Ia sangat tenang tak menyinggung soal masalah satu itu.
"Rumor?" Tanya Vivian menaikan satu alisnya tajam.
"Yah! Rumor dimana presdir mempermainkan para investor perusahaan."
"Kau yang menyebarkannya?"
"Kapan? Kalian tak ada bukti jika aku mengatakan hal buruk tentang presdir Noah!" Bantah pria itu tak mau kalah.
Dia begitu berani seperti tak ada takut-takutnya sama sekali. Zoe bertambah geram saat pria itu dengan lancang menunjuk wajah Noah yang masih tenang tak ingin terpancing.
"Kenapa presdir diam? Seharusnya kau sebagai pemimpin membuktikan jika rumor itu tak benar. Apa mungkin kau takut?"
"Kauu.."
Vivian ingin mematahkan jari tuan Li Han yang berani menunjuk wajah Noah di hadapan para investor lain tapi Noah mengangkat tangannya pertanda tak diizinkan.
Melihat Noah diam tuan Li Han kian tersenyum samar penuh kemenangan. Tugasnya adalah membuat Noah emosi dan menunjukan sikap arogan di depan para investor yang sekarang hanya diam.
"Presdir Noah yang terhormat. Sebaiknya anda mundur dari kursi kepemimpinan ini karena anda tak pantas. Menangani masalah sekecil ini saja anda tak bisa apalagi mempertahankan kehormatan perusahaan."
"Rumor tentangku yang bermain-main dengan para investor itu sudah tersebar. Menurutmu apa yang harus-ku lakukan?" Tanya Noah begitu tenang tapi tatapannya sulit di artikan.
Sebegitu tenangnya dia berbicara, mereka tak melihat cela ketakutan atau panik di manik hazel tajam itu.
"Lihat, anda sendiri tak tahu harus bersikap apa," Remeh tuan Li Han berdiri diantara tatapan bingung para investor proyek mereka.
"Hm. Aku tahu tapi disini kau yang berkoar-koar sedari tadi," Tegas Noah membuat tuan Li Han menyeringai.
"Saya bicara karena tak ingin para investor lain terjerat dengan pemimpin seperti anda, presdir Noah! Anda menuduh saya menyebarkan rumor itu tanpa bukti yang jelas."
"Aku tak mengatakan kau yang menyebarnya!"
"Omong kosong. Untuk apa anda memanggil kami kesini jika tak membahas masalah ini?"
"Memangnya siapa yang membuka pembahasan ini lebih awal?" Tanya Noah langsung menyadarkan tuan Li Han dengan kesalahannya.
Wajahnya yang semula tenang berubah pucat. Ia merutuki kebodohannya karena terlalu banyak bicara sampai tak bisa menerka situasi.
Melihat wajah gugup tuan Li Han, sudut bibir Noah terangkat samar. Tuan Li Han ingin menjebaknya dengan mengulik soal rumor itu dan ia marah membuat keadaan semakin memanas.
Tetapi sayang, Noah sudah lebih dulu membaca pergerakan tuan Li Han yang pasti akan memperpanas tentang rumor itu di meja pertemuan. Itu karenanya Noah mengadakan meeting mendadak seperti ini.
"Saya hanya bicara mewakili para investor yang tak akan berani komplain pada anda!" Elaknya masih bertahan.
"Kau memutus kerja sama dengan perusahaan hanya karena aku tak hadir di pertemuan proyek kalian. Sekarang, katakan apa masalah kalian terhadap ketidakhadiran-ku?!" Tanya Noah membuat semuanya diam saling pandang.
Mr Robert dan tuan Nicholas diam. Jujur mereka hanya terhasut oleh ucapan tuan Li Han yang mengatakan jika presdir Noah tak benar-benar serius menangani proyek besarnya.
"Presdir! Tuan Li Han memutus kerja sama dengan perusahaan anda karena ketidakprofesionalan presdir soal penyelesaian proyek."
"Baca ini!"
Vivian melemparkan dokumen proyek di meja mereka yang saling pandang dan segers membukanya.
Tuan Li Han melihat ekspresi terkejut Mr Robert yang tampak syok.
"Proyeknya sudah selesai?"
"Apaa??" Tuan Li Han tak kalah syok. Setahunya proyek itu akan selesai 6 bulan kedepan tapi kenapa bisa selesai secepat ini?!
Vivian tersenyum puas melihat wajah pias tuan Li Han yang pasti mendapat informasi salah dari orang yang menyuruhnya.
"Apa-apaan ini tuan Li Han??" Tanya mereka marah menatap pria paruh baya itu.
"Tidak. Aku sudah pastikan jika proyek itu gagal. Bahkan, aku mendapat dokumen salinan soal proyek ini dan di sana tertera jika proyek terlambat di selesaikan."
"Kau mencuri dokumen?" Tanya Vivian hingga wajah tuan Li Han benar-benar pias.
Noah hanya diam menikmati pertunjukan yang sedari tadi ia tunggu.
"A..aku.."
"Kau mengatakan salinan dokumen. Secara tak langsung kau sudah mencuri aset perusahaan, tuan Li Han!"
"Tidaak!! Bukan begituu!!" Bantahnya sengit tak terima sampai menggebrak meja saking takutnya.
Para investor menatap tuan Li Han marah. Hampir saja mereka melakukan kesalahan besar apalagi kerugian sudah di depan mata.
"A..aku tak mencuri apapun. S..salinan itu..itu di dapat d..dari..dari.."
"Kiriman seseorang!" Sela Vivian sudah meretas ponsel tuan Li Han dan menemukan pesan dengan sosok yang memberinya informasi itu.
"Kau..tidak, ini.."
"Kau bekerja sama dengan seseorang yang ingin membuat nama baik presdir rusak dan akhirnya turun dari kursi kepemimpinan!"
"TIDAAK!! I..ITU TIDAK BENAR!!"
"BAWA DIA!!" Titah Vivian hingga 2 bawahan mereka masuk dan menyeret tuan Li Han keluar ruangan.
"Presdiir!! Aku..aku tak bersalah. Aku hanya di ancam!!! Aku hanya terpaksaa!!"
Tuan Li Han di seret melewati Zoe yang ternyata merekam teriakan dan pemberontakan tuan Li Han tadi.
"Gadis sialaan!! Apa yang kau lakukan, haa??"
"Ck! SAMPAH," Desis Zoe menginjak kaki tuan Li Han sampai pria itu menjerit tapi Zoe masa bodoh.
Ia memposting rekaman itu di akun anonim-nya agar membantu memperluas informasi.
"Syukurlah kakak bisa bergerak cepat," Gumam Zoe melihat ke dalam ruangan dimana para investor meminta maaf atas kesalahan mereka pada Noah.
"Saya minta maaf karena terpengaruh akan ucapan tuan Li Han, presdir!"
"Yah. Kami diam karena mengira jika ucapannya benar."
Noah hanya setia dengan raut datarnya. Hal itu membuat mereka jadi gugup dan pucat di tempat.
"Aku tak peduli tentang kepercayaan kalian padaku. Tapi, ini menyangkut perusahaan. Jadi, jika kalian begitu takut dengan uang yang kalian investasikan pada proyek ini gagal, maka aku PUTUSKAN kontrak kerja sama kita!"
Degg..
Mata mereka membelalak lebar. Mereka memang bukanlah investor tetap dan inti jadi, perusahaan tak menderita rugi apapun.
"P..presdir!"
"Perusahaan akan mengembalikan uang kalian. Kami tak butuh nominal serendah itu," Tegas Noah datar tapi menukik jantung mereka semua.
Vivian mengangguk puas melihat wajah pias para manusia lemah ini.
"Presdir! Maafkan kami. Kami benar-benar tak tahu harus bersikap apa k..karena.."
Tuan Nicholas berhenti bicara dan terlihat ragu.
"Katakan!"
"Karena anda bukanlah anak kandung pemilik sah perusahaan. Kami hanya takut jika keputusan kami salah memihak anda!"
Kepalan Vivian menguat. Jadi hanya karena Noah bukanlah anak kandung daddy Zhen maka semua orang diam-diam masih tak percaya padanya.
"M..maafkan kami, presdir!"
"KALIAN MEMANG SIALAN!!" Maki Vivian tak terima tapi Noah meliriknya datar hingga Vivian diam meredam emosi.
"Maafkan kami!"
"Pergilah!" Titah Noah membuat mereka saling pandang ragu.
"Kerja sama tak akan di putuskan asal kalian tak mengulangi hal seperti ini lagi!"
"Baik, presdir!! Terimakasih!"
Mereka lega dan pamit keluar. Tinggallah Vivian dan Noah yang menghela nafas.
"Tuan! Anda tak perlu cemas. Walau tuan bukan anak kandung tuan besar Zhen tapi, perusahaan sudah di serahkan pada anda."
"Sejak kapan aku cemas?!" Tanya Noah tapi pandangannya tetap lurus kedepan.
Dia tak peduli akan apapun yang orang katakan padanya asal tak menyangkut keluarga besarnya.
Zoe menatap sendu dari luar pintu. Ternyata nasib kakaknya juga sama miris dengannya.
"Berarti selama ini banyak yang sudah menyinggung kakak. Tapi, kenapa kakak tak pernah cerita?!" Gumam Zoe merasa kasihan.
"Kau memang hobby mengintip rupanya!" Suara Noah terdengar gemas pada Zoe yang segera melebarkan senyumannya.
"Kakaak!!" Zoe memekik seketika jadi berubah kekanak-kanakan langsung meloncat duduk di atas pangkuan Noah yang tersenyum tipis.
Vivian akhirnya pergi tak mau mengganggu adik kakak yang mesra satu itu.
"Kenapa kesini, hm?" Tanya Noah langsung melepas cempolan rambut Zoe. Itu menjadi kebiasaanya setiap melihat Zoe mengikat rambutnya tinggi.
Zoe membiarkan Noah mengusap rambut panjangnya begitu lembut sampai kepala Zoe bersandar di dada bidang Noah seraya mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh Noah.
Posisi mereka memang begitu intim jika di lihat dari kacamata orang luar. Tapi, bagi Noah sikap manja Zoe memang selalu begini.
"Zoe mengantarkan makan siang. Tapi, kelihatannya kakak sibuk."
"Siapa bilang? Kakak tak sibuk," Jawab Noah menyandarkan dagunya ke kening Zoe yang beralih mengusap jakun milik Noah.
"Kak!"
"Hm?" Noah menikmati sentuhan jari lentik Zoe ke jakun jantannya.
Ntah sadar atau tidak, seharusnya Zoe tak pantas melakukan itu karena terlihat sangat intim.
"Zoe mencintaimu!"
Bibir Noah tersenyum tipis. Zoe sudah sering mengatakan cinta padanya dan masih saja terdengar menggelikan.
"Kakak juga."
"Seberapa besar?" Tanya Zoe dengan maksud yang berbeda.
"Sangat besar."
Zoe menatap bibir Noah yang pink alami. Pria ini memang mempunyai kesempurnaan kian membuat para wanita mabuk.
"Cinta Zoe lebih besar." Bisik Zoe mengecup jakun di leher Noah yang kegelian dengan tingkah Zoe.
...
Vote and like sayang
Jangan lupa mampir ke novel author di Fe**zo KEMALUT SENJA. Tak tunggu ya say😊