Dalton Higs, terlahir cacat. Satu tangannya tidak berfungsi. Saat bermain petak umpet dengan kedua orang tuanya. Seseorang datang, menembaki keduanya tanpa ampun.
Dirinya yang saat itu bersembunyi di balik lemari pakaian, menyaksikan pembunuhan tragis malam itu.
Ketika uang berbicara, nyawa bisa melayang. Hanya uang, semua urusan selesai. Dan Hanya uang yang dapat membungkam mulut manusia kecuali binatang. Pembunuh itu tidak tahu, jika masih ada saksi mata yang melihatnya dan tidak bisa disuap.
Menjadi cacat, dan miskin tidak membuatnya terpuruk, justru berambisi untuk menjadi kaya dengan kecerdasannya.
Tumbuh dewasa lalu membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melancarkan Misi
Megan mendorong Joe setelah beberapa detik sadar, ia merapikan dirinya sendiri dan menjadi salah tingkah didepan pria yang sudah mencuri hatinya.
Dalton, ada di kantor Victoria. dan kini tengah menatap sinis Pria yang berada disebelah Megan. Dalton masuk menjadi penghalang keduanya. Ada dendam yang dirasakan Dalton meski bukti kebenaran belum didapat tapi sedikit lagi Dalton sudah bisa masuk kedalam keluarganya. Menjerat Victoria dengan segala kekuasaan yang dimilikinya.
Sementara Megan mengartikan tatapan Dalton sebagai tatapan pria pencemburu. Ia pun jadi salah tingkah.
"Maaf dia tamuku, sebaiknya Anda berdiri di sebelah sana," ucap Joe tak ingin lepas dari Megan
"Dia sekretaris saya," jawab Dalton
Ting pintu lift lantai tiga terbuka, mengalihkan suasana canggung. Semuanya keluar dari lift dan Megan berkata, "Benar Pak, beliau Pak Bryan, atasan saya yang ingin bertemu dengan Nona Victoria," ucap Megan
"Hemm Maaf Anda siapa?" tanya Dalton seolah pertanyaannya sangat menghina. Joe Stewart adalah pengusaha dan pebisnis terkenal.
Megan berbisik, dia takut Dalton tidak mengenal dirinya. "Pak dia Joe Stewart, pemilik perusahaan ini. Victoria hanyalah Direktur disini,"
"Anda tidak mengenal saya? Joe Stewart," ucap Joe seraya mengulurkan tangannya
Dalton membungkukkan badan, "Maaf tangan kanan saya sedikit terluka, Saya Bryan. Sekali lagi maaf saya tidak tahu. Maklum saya masih pemula dalam berbisnis," ucap Dalton yang enggan bersalaman. Soal tangan besinya tidak boleh ada yang tahu.
"Oh begitu," ucap Joe kemudian menarik uluran tangan sembari berkata, "Tidak apa, ayo mari ke ruangan putri ku. Dia nantinya yang akan menjelaskan semua persoalan untuk masalah bisnis Anda," ucap Joe
Tak lama kemudian mereka sampai di ruangan Victoria yang besar. Sekretaris Victoria menyambut pemilik perusahaan dengan hangat juga kepada Megan dan Dalton.
"Victoria di dalam kan?" tanya Joe
"Hemm mohon menunggu sebentar ya Pak, karena Nona Victoria sedang ada tamu," ucap Sekretaris itu dengan salah tingkah.
Pasti didalam Victoria tidak bekerja dengan baik. Sekretarisnya pun langsung menghubungi Victoria lewat interkom
"Nona, bapak besar datang. Apakah mereka bisa masuk?" tanya Sekretaris
"Oh... sebentar lagi ya, aku akan percepat," ucap Victoria yang langsung menutup teleponnya.
Joe, Dalton dan Megan di mohon menunggu di lobby depan ruangan. Sementara Victoria masih harus menyelesaikan pekerjaannya.
"Ku rasa kita harus berhenti sekarang, Daddy ku didepan," seru Victoria yang sedang terengah-engah karena nikmatnya permainan lidah dari kekasihnya, David.
Pria itu sedang berada diantara kedua paha Victoria menikmati pelabuhan V beraroma Vanila. Namun David tak langsung menyingkir dia masih menikmatinya dan membuat geli wanita yang sudah berumur 25 tahun itu.
Victoria mengancing kemejanya dan mendorong sedikit kepala David agar menghentikan aksinya
"Ayolah David,"
"Kita bahkan belum berbuat apapun,"
"Ck kau sudah menikmatinya meski hanya sekedar menjilat, pergilah! Tapi sebelumnya benahi dulu pakaianmu," suruh Victoria dan David kemudian bergegas pergi
Ia menghubungi sekretarisnya untuk mempersilahkan Ayahnya masuk. Ia tidak tahu jika sang ayah membawa tamu untuknya.
Pandangan pertama Victoria teralihkan dengan ketampanan Dalton, rambut sedikit gondrong, kumis dan brewok tipis. Tatapan tajam saat menatap dirinya. Sebenarnya itu hanyalah tatapan biasa memang dia memiliki tatapan tajam seperti elang.
Akting dimulai, Dalton memperkenalkan diri sebagai Bryan dan memiliki perusahaan baru. Ia tidak tahu apapun soal investasi dan meminta Victoria untuk membantunya.
Sementara Megan beranggapan, apa gunanya dirinya disana, jika Dalton sendiri bisa menemui Victoria, sia-sia sudah rencana untuk mendapatkan modal. Dan ia harus bersiap pergi dari perusahaan. Itu jika Dalton tak memiliki hati.
Selama perbincangan, semua penjelasan tentang perusahaan, Meganlah yang berbicara. Joe sebagai pengamat selain itu Dalton kerap bertanya agar terlihat benar-benar baru menerjuni investasi.
Sesekali Megan melihat ke arah Joe, dan pria tua itu bermain mata. Megan pun risih berharap pertemuan pagi itu segera berakhir
Beberapa menit kemudian, Dalton langsung menyetujui semua kesepakatan dan besok mereka akan bertemu lagi untuk menyetor uang yang akan diinvestasikan.
Megan sengaja memperlambat jalannya dan dia mendekati Victoria. Lalu berkata, "Nona, tahukah Anda... Pak Dalton sebenarnya ingin bertemu Anda, dia sering membicarakan soal kecantikan Anda. Menurut saya soal investasi yang akan ia tanamkan ini hanya sekedar basa-basi. Hemm Anda tahu maksud saya kan?" bisik Megan
"Oh ya, pria yang unik ya haha," Victoria tertawa kecil dalam hatinya dia sangat senang. Dia rela meninggalkan kekasihnya yang tidak memiliki apapun jika dibandingkan dengan Dalton.
"Saya permisi ya nona Victoria," ucap Megan
Tak berapa lama Victoria yang berdiri di depan pintu ruangannya menarik tangan Megan.
"Maaf, bisakah kau membuat kami hemmm lebih dekat maksud ku, bilang padanya jika aku tertarik. aku harap akan ada pertemuan lain diluar pekerjaan. Mungkin makan malam romantis...Kau mengerti maksud ku kan?" ucap Victoria
Secara tak langsung Megan mendapatkan lampu hijau. Berharap misinya untuk mendekatkan Dalton dengan Victoria berhasil. Megan mengiyakan keinginan Victoria kemudian pamit pergi setelahnya.
"Hahaa dia memintaku untuk mengatakan padamu kalau dia tertarik dengan mu, astaga.... Pak, Kau harus menghubunginya dan membuat kencan," ucap Megan yang sudah berada didalam mobil Dalton
"Baguslah, setidaknya misimu tidak jadi gagal," ucap Dalton yang fokus menyetir
"Pak, kenapa kau tidak bilang jika kau akan ke kantor itu juga,"
"Kenapa? Apa kau kurang puas karena tidak bisa bermesraan dengan Joe Stewart," ucap Dalton dingin malah terkesan cemburu.
"Hah.. justru aku berterima kasih, jika kau tidak datang mungkin dia bisa menodai bibirku," ucap Megan
"Jadi kau lebih suka, jika bibirmu ku nodai?" ucap Dalton membuat Megan teringat akan dirinya yang mengecup Dalton tiba-tiba
Pertanyaan apa itu, membuatku malu astaga seharusnya aku tidak menciumnya kemarin, batin Megan
Megan tidak menjawab dia memilih diam. Seketika ia baru saja menyadari jika mobil yang tumpanginya berbeda. Lebih mulus dan ruang dalamnya lebih luas, juga kedap suara. Tapi Dalton tidak meninggalkan aroma mobil yang sama aroma Expresso.
"Kenapa diam? Kau pikir aku patung?" ucap Dalton yang tidak suka diacuhkan.
"Hmm karena menurut ku, pertanyaan itu tidak untuk dijawab,"
"Hah?"
"Ma-maksudnya, kemarin itu kesalahan. Jadi aku bertingkah seperti itu karena kau sangat cerewet bos, hehe," ucap Megan
"Ok, alasan diterima," Dalton memberikan ponselnya pada Megan
"Untuk apa?"
"Aku tidak pandai berkata manis, ketik apapun dan ajak Victoria ke suatu tempat. Bukannya kau yang bilang dia menyuruhmu agar aku mengajaknya makan malam kan?" ucap Dalton
"Oh...siap bos," ucap Megan
Ia pun mengarang sesuatu, lalu mengetiknya lalu menghapusnya lagi. Astaga bagaimana caranya mengajak seorang wanita untuk dinner. Dia sendiri belum pernah berpacaran. Megan menggigit jarinya dan frustasi sendiri.
"Sudah," ucap Megan seraya mengembalikan ponsel Dalton
Dalton membacanya dan mengerutkan dahinya.
"Haha, jika seperti ini aku pun bisa Megan!!" ucap Dalton menghentikan mobilnya karena mereka sudah sampai di depan kantor.
"Jika begitu tulislah sendiri bos ku tersayang," ucap Megan keluar dari mobilnya dan berlari kecil masuk kedalam kantor, sebelum terkena marah lagi.
Dalton gemas pada Megan, ia sendiri enggan membaca pesan yang dikirimkan Megan.
"Hei, dinner yuk," isi pesan yang di tulis Megan
Tanpa kalimat basa-basi dan langsung to the poin 😅🤣😂