Sekretaris lama bernama Indira Maheswari adalah sekretaris yang memiliki kompenten tinggi walaupun penampilannya tidak menarik.Dengan kacamata super tebal dan rambut yang selalu di ikat.Indira sangat tidak menyukai bos barunya anak dari bapak Abraham yang bernama Danish Bastian Abraham karena perlakuannya yang sering membawa keluar masuk wanita cantik dan sexy di kantornya.Begitupun dengan Danish yang tidak menyukai sekretarisnya yang cupu.
Danish akhirnya terperangkap dengan sekretarisnya karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang pria yang telah menghamili Indira.
yuk...guys baca dan nantikan per episodenya💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Riskiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melamar.
Danish menghampiri apartement Indira. Ia telah sampai tepat di depan pintu apartement Indira. Danish menekan belnya beberapa kali. Namun Indira juga belum membuka pintu apartementnya.
Dengan tangan yang menjadi kebiasaan Danish, yaitu masuk dalam kantong celananya sambil mondar mandir lalu menatap cctv penghubung yang berada di depan pintu apartement Indira.
Indira yang terbangun dari tidurnya merasa terkejut, siapa orang yang datang sepagi ini ke rumahnya? Sambil memasang kacamatanya yang tebal. Ia melihat cctv, dan sontak membuat Indira terkejut menjinjit mundur kebelakang dan maju kembali melihat dengan seksama, apakah benar yang ada di hadapannya adalah Danish bosnya.
Danish menekan-nekan sampai mungkin tombol tersebut rusak, saking lamanya Danish menekan. Ia adalah seseorang yang tidak suka menunggu. Disisi lain Indira juga bimbang harus bagaimana?
Indira merasakan kedatangan bosnya adalah hal yang buruk. Akhirnya Indira membuka pintunya, dan Danish menatapnya dengan tajam. Berani-beraninya Indira membuatnya ia menunggu.
" Apa kau sengaja membuatku menunggu?" Ucap Danish. Tidak bisakah ia memberi salam terlebih dahulu sebelum mengucapkan kata-kata kasar tersebut, fikir Indira.
" Maaf pak, apa bapak pergi kesini untuk memberiku kabar yang baik? Apakah saya boleh bekerja lagi?" Ucap Indira sangat berharap bisa kembali bekerja sembari memberi senyum palsunya. Indira tidak bisa kehilangan pekerjaannya.
" Tak bisakah kau membiarkan aku duduk terlebih dulu?" Ucap Danish. Bukankah Danish seorang tamu. Dia akan membicarakan hal penting. Mana bisa ia melontarkan hal penting di depan apartement Indira. Berharap bisa disambut dengan baik. Ancang- ancang ingin menyampaikan lamarannya, malah Indira berfikir tentang pekerjaannya.
" He..Silahkan masuk pak!" Ucap Indira. Tertawa renyah, menyilahkan Danish untuk masuk ke dalam apartementnya.
"Kau tinggal sendiri?" Tanya Danish melihat sekeliling Apartement Indira yang kecil namun sangat bersih. Terlihat foto Indira masih kecil dengan ayah dan kedekatannya dengan ibunya yang terpajang di sisi dinding ruang tamunya.
" Ia pak, Ibu saya di kampung." Jawab Indira yang duduk menjauh dari Danish.
" Bapak mau minum apa?" Tanya Indira berniat menjamu sang tamu.
" Tidak perlu. Aku kesini mau melamarmu. Aku akan bertanggung jawab dengan bayi yang ada di perutmu." Ucap Danish tanpa basa- basi. Dimana lontaran dari Danish membuatnya terkejut setengah mati. Indira membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh Danish.
" Bapak serius???" Ucap Indira memastikan. Bukankah selama ini bosnya sangat jijik dengan penampilannya? Mengapa tiba- tiba Danish ingin melamarnya? Bahkan Danish sudah tau mengenai bayi di dalam perutnya. Bagaimana bisa secepat ini, Danish mengetahuinya? Jika Danish tau mengenai bayinya, bukankah Danish akan menyuruh dirinya untuk menggurkan kandungannya, tapi malah dia ingin menikahinya saat ini.
"Emm.." Ucap Danish dengan bibir miring dan tidak ihklas. Jika bukan karena menyelamatnya harta orang tuanya. Danish benar-benar tidak sudi. Danish hanya terpaksa menikahi wanita yang buruk rupa bagi Danish.
" Bagaimana bapak tau jika saya hamil?" Tanya Indira.
" Kau pinsan terlalu lama, sehingga saya harus memanggil dokter pribadi saya.Oia bagaimana, kau mau menikah denganku?" Ucap Danish sambil membenarkan jasnya yang tidak bermasalah. Membiarkan aura ketampanannya keluar.
Menurut Danish sebuah keberuntungan bagi Indira bisa menikah dengannya, yah walaupun pernikahannya, pernikahan palsu.
" Lebih baik saya menggugurkan kandungan saya pak. Saya tau bapak pasti terpaksa menikahiku karena bayi ini kan? Saya hanya mau tetap bekerja di perusahaan bapak." Jelas Indira.
" Dia tau diri juga, jika aku terpaksa menikahinya. Bukan karena bayi di kandungannya. Tapi demi harta warisanku. Bilang aja, kamu betah punya bos seperti aku kan? " Batin Danish.
" Aku akan bertanggung jawab sampai bayi tersebut keluar dan akan menjadi milikku. Lalu setelah itu kita bisa bercerai." Ucap Danish.
" Hah, Apakah pernikahan itu sebuah lelucon?? Dan dia kira melahirkan segampang itu? Kalau begitu kenapa tidak dia saja yang hamil! Biar tau bagaimana rasanya! Dia semena- mena terhadapku! " Batin Indira cukup kesal dengan kalimat terakhir tersebut.
" Tapi pernikahan itu janji di hadapan tuhan pak. Saya takut untuk mempermainkannya." Ucap Indira.
Bagaimana jika karma datang kepadanya? Sudah cukup penderitaannya selama ini, dimana Indira mengira masalah yang datang bertubi- tubi itu adalah karma baginya. Padahal dirinya tidak memiliki kesalahan terhadap orang lain. Jadi bagaimana jika Karma karena ia sengaja melakukan kesalahan tersebut. Bukankah itu akan lebih buruk? Fikir Indira.
" Kenapa karma? Toh saya berniat baik menikahimu. Bukankah, kau juga ingin bebas setelah bisa menyelesaikan masalah ini? Atau kau diam-diam menyukaiku karena itulah kau tidak mau bercerai." Ucap Danish.
Sejak kapan Indira menyukai Danish? Indira rasa, bosnya itu sangat menyebalkan. Bahkan kalau Indira menyetujui permintaan Danish, Indira akan merasakan neraka terlebih dahulu sebelum bercerai.
Walau pun penampilan Indira buruk di mata Danish, namun Indira sedikit pun tidak menyukai Danish. Dia juga merupakan korban sehingga hamil anak Danish. Dimana malam itu Danish yang brut*l menyicipi tubuhnya. Dan dia bilang, Indira menyukainya? Entah mengapa Danish begitu percaya diri. Indira tidak habis fikir.
" Apa?? Saya suka sama bapak? Hahaha..baiklah saya menyetujui permintaan bapak. Aku hanya ingin menyelamatkan bayi yang tak berdosa ini." Ucap Indira tertawa terbahak, dimana ia merasa sampai kapan pun, Indira tidak akan menyukai Danish.
Danish tersenyum tipis dengan memiringkan bibirnya, tidak ada wanita yang mampu menolak kharisma dari Danish Abraham. Jika benar Indira tidak menyukainya. Itu adalah hal baik untuknya. Dengan begitu perceraiannya akan lancar, bukan!
Indira menatap Danish. Memilih untuk bersama Danish. Danish yang cukup dingin, arogant, dan mes*m. Padahal Indira sangat menginginkan pria yang mencintainya seperti ayahnya mencintai ibunya.
Tapi harapannya pupus seketika, ketika Indira bertemu dengan Danish yang merupakan biang masalah di hidupnya. Paling tidak Indira tidak perlu menggugurkan bayi di dalam kandungannya yang tidak bersalah. Paling tidak Indira tidak mengecewakan ibunya. Sebenarnya Indira tidak mau menutupi kesalahannya yang tidak di sengaja ini. Indira sampai saat ini memikirkan bagaimana cara membahagiakan ibunya. Tapi entah apa yang terjadi di hidupnya sehingga poros hidupnya berputar terbalik.
Uek...
Lagi-lagi Indira mau mual setiap melihat Danish. Indira segera membekap mulutnya sendiri dan menuju wastafel.
" Maaf pak, saya selalu mual jika melihat bapak." Ucap Indira jujur sembari menggosok perutnya dan menelan slavinanya yang terasa pahit.
" Apa kau bilang? Mungkin kau mual karena wajahmu sendiri yang bermasalah." Ucap Danish menghela nafasnya, berani-beraninya Indira melontarkan itu. Padahal menurut Danish wajahnya masih terlihat tampan, bagaimana dia bisa mual melihat wajah tampannya? fikir Danish.
" Bagaimana aku bisa melihat diriku sendiri. Karena mungkin anak ini melihat bapaknya yang kej*m dan tidak tau diri." Batin Indira mengumpati sikap Danish.