🏆 JUARA FAVORIT PEMBACA LOMBA "PENGKHIANATAN" SEASON 2 🏆
Qiana dan Emir sudah menjalin hubungan selama 12 tahun dan rencana mereka akan menikah tahun depan. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendatangi pernikahan Zeline, sahabat baiknya. Ternyata yang menjadi mempelai laki-laki adalah Emir.
Dunia Qiana terasa hancur saat tahu kalau dirinya sedang hamil anak Emir. Sementara laki-laki itu tidak mau mengakuinya. Akibat kejadian itu sang ibu meninggal karena gagal jantung.
Di tengah keterpurukan itu datang penolong yang selalu memberikan penyemangat, yaitu Keenan seorang office boy. Pemuda ini sering membantu Qinan secara diam-diam. Apalagi saat Emir ingin kembali merebut hati Qiana dan Zeline ingin selalu berusaha menghancurkan kehidupannya.
Siapakah Keenan itu?
Apakah Qiana akan mendapatkan kebahagiaan setelah datang banyak cobaan yang menderanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Bertemu Orang Tua Emir
Bab 15
"Qiana."
Terdengar suara seseorang memanggil perempuan itu. Secara spontan Qiana dan Bara membalikan badan mereka. Betapa terkejutnya mereka saat melihat kedua orang tua Emir yang kini berdiri di dekat rak pajangan susu ibu hamil.
"Mami … Papi," balas Qiana tanpa sadar.
"Eh, maaf. Tante Heni … Om Hari, apa kabar?" tanya Qiana dengan senyum tipis.
Terlihat tatapan sendu dan berkaca-kaca dari kedua orang paruh baya itu. Mereka sangat menyayangi Qiana dan sudah menganggapnya sebagai putri mereka. Bagaimanapun juga waktu 12 tahun itu bukanlah waktu yang sebentar. Sejak pertama kali Qiana di kenalkan oleh Emir dahulu, keduanya langsung suka kepada sosok perempuan yang pernah menjadi tunangan putra mereka.
"Kita baik. Bagaimana kabar kamu, Sayang?" tanya Heni balik sambil melihat ke arah perut Qiana.
"Baik, Tante," balas Qiana singkat.
Qiana sangat merindukan wanita berwajah teduh itu. Ibunya Emir adalah seorang wanita yang penyayang dan selalu memanjakan dirinya sejak dahulu. Rasa sayang di dalam hati Qiana untuknya masih ada.
"Kamu tidak mau panggil dengan sebutan mami lagi," ucap Heni dengan lirih. Kedua netranya terlihat berkaca-kaca, terlihat sarat akan kerinduan dan kesedihan.
"Maaf," balas Qiana dengan sendu dan pelan, dia takut nanti dirinya terbuai kembali oleh kebaikan mereka dan menimbulkan masalah baru untuknya.
"Sebaiknya kita dalam batasan masing-masing. Aku tidak mau terjadi masalah yang menimpa kepada putriku lagi gara-gara keluarga kalian. Terutama anak dan menantu kalian," ujar Bara dengan tegas. Kedua matanya menatap tajam kepada pasangan suami istri yang berdiri di hadapannya.
Heni dan Hari saling melirik sejenak. Mereka sudah mendengar apa yang sudah terjadi di antara menantu dan mantan calon menantunya. Namun, mereka tidak bisa ikut campur urusan itu.
"Maafkan kami, sampai sekarang pun kami masih menyayangi kamu Qiana. Hanya saja keadaan yang memaksa kami untuk melepaskan dirimu," aku Hari dengan suara bergetar. Laki-laki paruh baya ini menahan kesedihan yang mendalam. Baginya Qiana adalah calon menantu idaman dan terbaik.
"Sebaiknya kita jangan saling ikut campur urusan kehidupan kita masing-masing," tukas Bara, lalu dia merangkul Qiana dan pergi hadapan mereka.
"Om … Tante, jaga diri kalian baik-baik, ya!" Qiana lagi-lagi spontan mengucapkan kata-kata yang sering diucapkan ketika mereka akan berpisah.
"Ternyata Qiana menjaga bayinya," gumam Heni sambil menghapus air mata yang tidak bisa dia bendung lagi.
"Iya, aku berharap kalau bayi itu adalah benih dari Emir," lanjut Hari sambil merangkul bahu sang istri.
***
Sementara itu, di sebuah rumah yang sangat mewah. Orang-orang sedang sibuk karena tuan rumah akan mengundang tamu yang spesial untuk makan malam bersama.
"Kamu tidak boleh pergi ke mana pun malam ini," ucap Kinara saat melihat Keenan pulang ke rumah.
"Memangnya ada acara apa, Ma? Aku ada acara penting," tanya Keenan dengan malas.
"Pokoknya kamu harus diam di rumah, kalau masih ingin melihat mama dan papa," balas Kinara dengan tegas.
Mau tidak mau Keenan pun menuruti keinginan ibunya. Biasanya jika seperti ini akan ada acara kumpul keluarga atau ada tamu penting. Pemuda itu mengirim pesan kepada Qiana kalau malam ini dirinya tidak akan datang bermain ke apartemennya.
Malam pun tiba dan tamu pun datang menjelang waktu makan malam. Terlihat ada sepasang suami istri dengan didampingi oleh putra dan putrinya.
"Selamat datang Rosalin … Danu," kata Kinara sambil tersenyum ramah lalu memeluk dan cipika-cipiki kepada tamu wanita. Sementara berjabat tangan kepada tamu laki-laki.
"Terima kasih sudah mengundang kami untuk makan malam bersama," ucap wanita yang tadi dipanggil Rosalin.
"Ini Seruni dan Satria?" tanya Kinara saat melihat ke arah dua anak muda.
"Iya. Mereka sudah dewasa sekarang," ujar Rosalin sambil tersenyum tipis.
Kedua muda-mudi itu pun mencium tangan Kinara dan Gilang secara bergantian. Seruni terlihat seperti perempuan yang anggun dan pemalu. Sementara Satria terlihat gagah dengan tubuhnya yang tegap dan berotot, terlihat jelas dengan pakaiannya yang pres di badan pemuda itu.
Keenan tahu siapa mereka, karena Satria adalah teman satu angkatan saat sekolah SMP dan SMA. Sementara itu, Seruni adalah adik kelas dua tingkat di bawahnya.
Keluarga Seruni dan Satria itu merupakan orang terpandang dan kaya raya. Tentunya banyak orang yang tahu mereka. Namun, Keenan tidak begitu dekat dengan mereka.
"Keenan. Ini kenalkan Seruni, dia cantik, 'kan?" Kinara menyuruh putranya untuk kenalan pada putri temannya itu.
"Keenan," ucap pemuda itu dengan cuek. Kinara memelototinya agar putranya bersikap sopan.
"Seruni," balas gadis itu sambil mengulurkan tangannya dan mau tidak mau Keenan pun membalasnya.
Acara makan malam pun berjalan lancar dan semua menikmati makanan yang di sajikan di atas meja, kecuali Keenan. Pikiran pemuda itu kini sedang tertuju kepada Qiana. Seharian ini mereka bertemu cuma sebentar saat pagi hari. Saat istirahat tadi dirinya sedang berada di kantor perusahaan papanya. Memegang dua perusahaan sekaligus membuat dia harus bolak-balik kesana-kemari.
"Keenan, bagaimana dengan dirimu?" Suara Kinara mengembalikan kesadaran Keenan dari lamunannya.
"Eh, maaf. Bagaimana apanya, Ma?" tanya Keenan balik.
"Ish, kamu itu malah melamun. Kita ingin menjodohkan kamu dengan Seruni. Kita berharap kedua keluarga ini bisa bersatu," balas Kinara dengan senyum tipisnya dan minta dukungan kepada Gilang.
***
Apakah Keenan akan menerima perjodohan ini? Apa Qiana akan tahu alasan dibalik pengkhianatan Emir? Ikuti kisah mereka, ya!
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️❤️
knapa yg musuhin Qiana jd 2 gini?
Qiana, kuat ya...
tggu saja