Nina, ia gadis muda berusia 19 tahun. Dalam usianya yang masih muda, gadis berparas cantik itu harus memikirkan nasib keluarganya yang terombang-ambing di tengah kesulitan ekonomi.
Nina, ia terpaksa harus pergi ke negara tetangga untuk menjadi asisten rumah tangga. Siapa sangka, kalau anak majikannya itu menaruh hati dan melamar Nina.
Dengan segala kebaikan dan kelembutan dari pria itu, sudah sepantasnya Nina menyimpan perasaan padanya, Nina yang memiliki perasaan sama itu menerima lamaran tersebut dan pernikahan pun terjadi.
Perjalanan rumah tangga Nina tidaklah muda, sampai ketika, Nina harus pergi dari hidup suaminya, membawa benih yang tanpa suaminya ketahui.
Apa yang membuat Nina pergi dari hidup pria yang sangat ia cintai?
Terus simak kisah Nina yang akan melahirkan 'Bintang Dari Surga'.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
Dukung dengan gift/votenya, terima kasih 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon It's Me MalMal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manis
Sean harus bersabar untuk menunggu jawaban itu dan sekarang, Nina yang sedang dalam perjalanan untuk berbelanja kebutuhan kiosnya itu tak sengaja melihat Sean yang sedang turun dari mobilnya untuk membantu seorang wanita yang memakai tongkat.
Walau pincang, wanita itu tetap terlihat cantik dan Nina memperhatikan Sean yang membantunya menyebrang jalan.
"Dia memang baik, atau jangan-jangan dia memang suka membuat wanita nyaman dengannya?" tanya Nina yang sudah memarkirkan motornya di depan mobil Sean.
Sean yang baru saja membantu menyebrang itu berbalik badan saat akan kembali ke mobilnya dan Sean melihat Nina yang sedang memperhatikan.
"Calon istri, sedang apa kamu di situ?" tanya Sean seraya berjalan ke arah dan Sean yang tak melihat kanan kirinya saat menyebrang itu harus terserempet motor yang melaju kencang.
"Sean!" teriak Nina dan Nina segera menolong Sean yang tersungkur di aspal.
Bukannya tanggung jawab, pria pengendara motor itu justru meninggalkan Sean dan Nina.
Tidak lama kemudian, banyak warga yang berkerumun ingin membantu Sean. Salah seorang wanita, dia ibu-ibu dan membantu Sean untuk berdiri, Nina yang juga membantunya itu merasa tak suka saat melihat tangan ibu tersebut menyentuh Sean.
Nina pun menyingkirkan tangan wanita itu dari tangan Sean, Sean yang sedang berdebar karena hampir dijemput oleh malaikat maut itu tersenyum mendapati Nina yang cemburu.
Tetapi, Sean yakin kalau Nina tidak akan mau mengakui perasaannya.
"Maaf, saya hanya niat membantu," kata si ibu yang tangannya ditepiskan oleh Nina.
"Tidak apa, saya bisa membantu suami sendiri," kata Nina dan seketika, Sean tidak lagi merasakan sakit di bagian lengan dan wajahnya yang lecet.
"Baiklah, oia, di sana ada Klinik, kalau begitu saya permisi," kata si ibu yang kemudian pergi.
Setelah itu, semua orang yang berkerumun pun membubarkan diri dan Nina yang bertubuh kecil itu tak mampu menopang Sean yang sedang ia papah.
Lalu, Nina meminta bantuan pada seseorang, tentu saja Nina meminta bantuannya pada seorang laki-laki.
Sean tersenyum dan Nina yang merasa kalau dirinya sedang ditertawakan itu mencubit pinggang Sean. Nina yang mengantarkan Sean ke klinik yang tidak jauh itu melupakan motornya, tanpa Nina sadari kalau kunci motor itu masih berada di sana.
Saat Nina dan Sean kembali dari klinik, Nina tidak lagi melihat motornya.
Nina pun menangis karena motor itu adalah motor pertamanya, saksi bisu perjalanan hidup Nina sebelum menjadi seperti sekarang ini.
"Sean, bagaimana ini, tega sekali, kenapa ada yang mengambil motorku!"
"Sudah, jangan menangis, aku akan mendapatkan kembali motormu," kata Sean yang kemudian mengajak Nina untuk masuk ke mobil.
"Bagaimana caranya, Sean?" tangis Nina yang sedang dipaksa oleh Sean masuk ke mobil.
Lalu, Sean mengatakan kalau mobilnya memiliki CCTV dan akan terlihat jelas siapa yang mengambilnya, Sean membawa Nina ke kantor polisi dan di sana Sean menyerahkan rekaman CCTV itu.
Setelah melapor, Sean meminta pada Nina untuk bertanggung jawab.
"Apa yang ku lakukan, kenapa kamu minta tanggung jawabku?" tanya Nina yang sekarang sudah kembali duduk di mobil Sean.
"Aku seperti ini karenamu, kalau tidak melihatmu yang selalu cantik ini, mana mungkin aku akan terserempet motor!" kata Sean sedang mengemudikan mobilnya.
Nina hanya diam saja, ia membayangkan kejadian tadi, saat Sean yang tersenyum dan berjalan kearahnya tanpa melihat kanan kiri.
"Kenapa diam? Benarkan, ini semua salahmu," kata Sean.
"Astaga, tidak. Ini bukan salahku, salah yang menyerempet dan salah kamu yang menyebrang tidak lihat kanan kiri," jawab Nina yang tak mau disalahkan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memanggil suster untuk merawatku," kata Sean yang terdengar sedang mengancam.
"Luka seperti ini saja dirawat oleh suster, anak manja!" gumam Nina, ia terus menatap ke depan karena Nina akan merasa berdebar jika harus menatap Sean yang selalu menatapnya penuh cinta.
Tanpa Nina sadari, kalau Sean mengajaknya pulang ke apartemen.
"Ini tempat tinggal kamu?" tanya Nina seraya turun dari mobil dan Sean mengangguk.
Nina yang melihat Sean jalan dengan sedikit pincang itu menasehatinya, "Lain kali kalau di jalan itu hati-hati!"
"Iya, Nyonya," jawab Sean dan karena kasihan, Nina pun meminta tas selempang Sean untuk dibawakannya.
Sean memberikan tas itu, memakaikannya pada Nina.
"Terima kasih," ucap Sean dan Nina tak menjawab apapun.
Tidak lama kemudian, sekarang, Sean dan Nina sudah sampai di apartemen sederhana itu.
Sean mempersilahkan Nina untuk masuk dan Sean yang ingin diperhatikan oleh Nina itu meminta dibuatkan minuman hangat lengkap dengan makanan.
Nina yang masih berdiri di depan Sean itu menatapnya datar.
"Kesempatan dalam kesempitan, ya?" tanya Nina dan Sean menunjukkan luka di lengannya itu.
"Tanganku sakit, calon istri. Cepat buatkan minuman, aku haus," kata Sean dan Nina meminta padanya untuk berhenti memanggilnya calon istri.
"Baiklah, sayang," jawab Sean, pria yang tengah duduk di sofa ruang keluarga itu berbaring, menunggu pesanannya datang dan Nina yang tak membutuhkan waktu lama itu membuatkan coklat hangat dan pasta.
Nina membangunkan Sean dan memberitahu kalau makanan itu sudah siap.
Sean meminta bantuan Nina untuk bangun dan Nina membantunya. Sean yang benar-benar manja itu membuka mulutnya, meminta disuapi oleh calon istrinya.
"Tidak, kamu makan sendiri, aku harus pulang," kata Nina dan Sean menahan Nina, ia menarik Nina dan membuatnya duduk di atas pangkuannya.
Tentu saja, Nina berdebar begitu juga dengan Sean dan entah mengapa, Nina yang duduk di pangkuan Sean itu tak juga bangun, sehingga Sean mengira kalau Nina merasa nyaman dengannya.
Sean yang semula menatap mata Nina itu beralih ke bibirnya, Sean membayangkan betapa kenyalnya itu, pasti melebihi permen, begitu lah pikir Sean.
Sean yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu pun segera memajukan wajahnya, awalnya, Nina sedikit memundurkan wajahnya, tetapi, tangan Sean segera menahan kepala Nina.
Sean pun berhasil mengecup bibir tipis itu dan Sean hanya mengecup, ia ingin melakukan yang panas, tetapi, takut Nina akan menolak dan itu membuatnya kepalang tanggung.
Keduanya saling diam dan Nina harus turun dari pangkuan Sean saat Sean menyuruhnya.
"Turunlah, sebelum ku makan kamu," kata Sean dan Nina pun turun, setelah itu, Nina pergi tanpa permisi, ia terlalu malu pada Sean dan setelah keluar dari apartemen, Nina yang masih berada di depan itu mengatur nafas dan detak jantungnya.
"Bahaya, ini tidak boleh terjadi lagi, dia belum menjadi suamiku," kata Nina dalam hati, ia mengusap dadanya, lalu mulai melangkah.
Sementara itu, di dalam, Sean sedang tersenyum, ia senyum-senyum sendri setelah merasakan manisnya Nina.
Sean yang tak mendapatkan penolakan itu pun berpikir kalau Nina akan menerimanya sebagai Suami.
Jangan lupa like dan komen, ya, all.
Terima kasih sudah membaca 💙
mohon maaf untuk typonya 🙏
benci tapi nafsu juga kamu zack😏😏😏😏😏
lagian mengambil keputusan di saat terburu buru itu ga baik akhirnya kamu merasakan akibatnya kasian ntar Dante mendapatkan jandanya🙄🙄🙄