Adhisti merupakan komplotan copet yang melakukan hal itu karena suatu alasan. Sedangkan Alsaki merupakan seorang yang terkenal. Pria ini benar-benar jenuh dengan keriuhan kehidupan yang selalu ramai akan fans yang memburunya. Hingga suatu saat, Al yang menyelinap ke ruang housekeeping tak sengaja bertemu dengan Adhisti, seorang housekeeping wanita di sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.
Al meminta tolong kepada Adhisti untuk diam dan tak memberitahu kepada orang-orang jika ia bersembunyi disana. Pria itu bahkan membuntuti Adhisti hingga kerumahnya yang reot.
Siapa sangka, benih-benih cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, saat keduanya sering di pertemukan dalam keadaan Adhisti yang tengah beroperasi mencopet.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Eng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Copet anti jambret
...🌻🌻🌻...
Usai menjalankan operasi kepada target mereka dan berhasil, kedua manusia yang kini kelaparan ini menepi di sebuah warung sederhana di dekat jalan raya, tempat dimana banyak sekali ruko-ruko elit dengan berbagi jenis usaha berjejeran di barat jalan.
" Yang di katakan Brio tadi ada benarnya juga Dhis. Lu tau kan, mereka itu bukan orang biasa. Hari ini kita selamet, belum tentu besok-besok kita lolos!"
" Selain itu, mereka pasti saat ini enggak tinggal diam sama kelakuan kita. Ya...meski presentase buat nangkap kita itu gak besar-besar amat!"
Inka cukup realistis kali ini. Wanita itu berkata seperti itu karena sejatinya perbuatan mereka ini memang sangat beresiko.
Wanita yang kini tengah sibuk mengaduk sedotan es rasa-rasa di sebuah warung kaki lima di pinggiran trotoar itu tampak merenungkan ucapan Inka. Telah lebih dari setahun ini, ia harus mencopet demi suatu hal.
" Ya... bukannya gue enggak mau bantuin. Tapi lu tau sendiri kalau hukum di negara kita itu tajem banget ama orang-orang sepel macam kita. Amit-amit nih ya, jangan sampai kita ngandang!"
Kebimbangan.
Di satu sisi, Dhisti melakukan itu karena tak memiliki cara lain. Ia memiliki tenggang waktu yang tak lama untuk melunasi hutang yang seharusnya tidak mereka tanggung.
Dan keberadaan Inka, adalah sama seperti sebuah cahaya dalam langka gelapnya. Wanita yang selalu ada untuknya itu, selama ini turut bekerja gelap bersamanya, karena juga tak memiliki pilihan.
Belum lagi mereka yang kini harus memikirkan beberapa anak terlantar yang membuat hari mereka terenyuh. Sebisa serta semampu mereka, melakukan kebijakan yang seharusnya di lakukan oleh penguasa negeri.
Dhisti masih saja merenung. Tampak mempertimbangkan saran Inka namun semakin ia memikirkan, semakin merasa buntu pula kepalanya.
Namun, alih-alih menjawab ucapan Inka yang sarat akan sebuah nasihat juga peringatan itu, Dhisti tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan membuat sarapan Inka bergoyang.
" Heh, kemana sih lo? Soto gue nih!"
Mengomel sebab semangkuk sotonya nyaris saja tunggang langgang akibat gerakan impulsif Dhisti.
Namun yang di omeli justru berlari tanpa mempedulikan ocehan Inka. Inka kini mengambil beberapa lembar tissue lalu mengusapkannya ke atas pahanya yang terkena sedikit kuah.
Hingga, wanita bertindik banyak di telinga itu terkejut demi melihat Dhisti yang saling dorong dengan pria dan tampak terjadi keributan di ujung sana.
Oh man!
Melihat temannya adu mulut dengan seorang bocah, ia buru-buru beranjak dari bangju sempit lalu berlari karena takut terjadi sesuatu dengan temannya itu.
" Eh Eh mau kemana ? Belum bayar ini!" Suara pemilik warung terdengar risau.
" CK, sotoku aja belum aku makan Buk. Lihat itu, aku mau lihat kesana bentar!" Sergah Inka yang menjawab kesal sebab ibu itu membuatnya menjeda langkah.
Urgent nih!
Ibu pemilik warung itu akhirnya mengangguk usai kedua bola matanya mengikutinya arah tunjuk Inka.
Tak di sangka, Dhisti yang melihat seorang wanita hendak di jambret dari tempatnya duduk tadi, seketika berlari untuk mencegah aksi itu.
Wanita yang penampilannya terlihat sempurna itu, kini berdiri dengan wajah ketakutan manakala Dhisti menghardik laki-laki muda yang menatap mereka kesal.
" Pergi, kalau lo mau operasi jangan disini. Apalagi ini wanita. Pergi!"
" Lu siapa, jangan sok Lo!
" Udah gak doyan nasi ni anak. Pergi atau aku bakal teriak!"
Laki-laki itu menatap Dhisti lekat-lekat untuk beberapa saat dan menyiratkan kegeraman, dan sejurus kemudian, laki-laki itu mengumpat kesal lalu kabur.
Membuat wanita yang sedari tadi harap-harap cemas di belakang Dhisti itu tampak lega.
Huft, hampir saja!
Usai memastikan anak laki-laki itu pergi, Dhisti kini berbalik ke arah wanita itu lalu menyodorkan tas hitam yang nilainya pasti lebih mahal dari gajinya di mall.
" Makasih banget ya. Untung kamu lihat tadi. Aku bener-bener gak fokus karena sibuk nelepon!"
Dhisti mengangguk. " Kalau pergi sendirian, lebih baik pakai tas yang aman. Apalagi kamu perempuan. Kejahatan kadang gak milih-milih!"
Perempuan itu merasa sangat berterimakasih kepada Dhisti. Ia memang ceroboh. Tak memperhatikan sekitar saat ia berjalan.
" Woy Dhis, ada apaan sih? Sotoku sampai aku tinggal tau gegara lihat elu tunjuk- tunjukan sama tuh bocah!"
Membuat wanita cantik itu menatap bingung Inka yang baru datang.
Siapa?
" Biasa. Bocah ingusan!" Sahut Dhisti menatap Inka menenangkan.
Inka mengangguk paham. Wanita itu sejurus kemudian memindai tampilan wanita cantik berpakaian mewah dengan tatapan menyelidiki.
"Pantas saja di jambret. Tampilannya begitu mencolok begitu! Orang tajir nih kayaknya!"
" Aku pergi dulu. Lain kali hati-hati!"
Merasa semua telah aman terkendali, wanita itu berniat kembali ke warung. Namun yang di tinggalkan terlihat menjeda.
" Eh tunggu!"
Dhisti berhenti kala suara itu terdengar. Mereka berdua terdiam saat melihat gadis cantik itu membuka dompet.
" Nih buat kamu. Makasih karena udah..."
" Enggak perlu!" Tolak Dhisti langsung menepis lembut tangan wanita yang kini menggenggam beberapa pecahan proklamator itu.
Membuat Inka mendelik.
"Kenapa di tolak bodoh?"
" Ini sebagai ucapan terimakasih aku ke kamu!" Paksa gadis itu dengan wajah muram.
" Kamu kasih kang jual tisu itu aja. Atau kamu beli dagangan bapak tua di ujung itu. Aku akan sangat berterimakasih!"
" Yuk In!"
Puri yang mendengar hal itu benar-benar takjub sekaligus tak menyangka. Di muka bumi ini masih saja ada manusia baik yang penuh ketulusan.
.
.
.
novel ini yg sengaja belakangan dibaca.
Paragraf akhir yg bikin mata ku basah. Cm sm km aku pernah ngomong ttg sesuatu yg gak sanggup aku tulis sndr.
Gpp, ini sudah mewakili. Terima kasih ya mom.