NovelToon NovelToon
My Perfect Husband

My Perfect Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahkontrak / Patahhati / Lari Saat Hamil / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / CEO / Tamat
Popularitas:374.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Marianay

Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak

Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.

Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri

Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?

maraton bacanya entah bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan?

hola guys. ini bagian Yuna lagi yah, biar, lanjutin yang bagian 13

•••••••••

Aku hanya bisa menghela nafas pelan, apanya dibuat nyaman. Aha! Good idea

"Bang minta makan, boleh ya"

"Makan?" Dia mengenyit heran

"Heem. Lihatlah bang, istrimu ini sangat kecil" ucapku mengiba

"Oke mau makan apa?"

"Mau makan Abang. Eh." Haduhh. Kututup mulut cepat, lancang sekali. Kenapa mulutku begini, ada2 aja. Habis aku.

"Apa?" Dia terkejut tapi tak lama, malah berganti dengan senyum mesumnya

"Ng-gak gitu"Mati aku dia bangun dari kursi nya.

"Jadi Abang makan kamu gitu?" tanyanya lagi.

"Gak, gak gitu" ucapku agak keras karena dia mulai mendekat.

Dia mendekat aku berusaha mundur menghindarinya. Hingga tak ada lagi jalan untuk lari. Dia mengurungku dengan tubuh dan dinding.

"Boleh kok sayang, tapi nanti dirumah jangan disini" bisiknya lagi.

Mataku yang tertutup tadi terbuka kembali, aku seperti de javu posisi yang sama dengan orang dan perasaan yang berbeda. Menegangkan.

"Hei, dek liatin apa?"

"Eh. Gak ada, sana abang pergi" kutolak dadanya, tapi hanya sia-sia jika dia sendiri tak mau pergi.

"Abang jadi lapar dek, mau makan kamu, dikit aja boleh ya"

Seringai itu tak hilang dari wajahnya. Mengerikan.

"Ka-kalau lapar ya makan nasi lah"

"Tapi maunya kamu, pasti enak"

Tatapannya seperti musuh ingin menerkam mangsa.Kusilangkan tangan cepat di depan dada tanda tak boleh.

"Gak, aku gak enak bang, benaran gak enak"

"Hah, gak tahan dekat kamu, bawaannya pengen makan" Waduuh, yang mau makan tadi aku bukan dia.

Gagal sudah mengerjai Bang Yusuf, maunya pesan makanan yang banyak, terus akan di habiskan sama Bang Yusuf.

"Udah sana duduk, jangan bengong entar Abang makan loh"

Dia sudah melepasku kembali ke mejanya lagi. Ku duduk disofa, mengambil ponsel untuk mainan penghapus jenuh.

Ceklekk

Pandanganku teralih ke pintu masuk ruangan Bang Yusuf. Seseorang masuk dengan nampan berisi makanan

"Permisi Pak, Bu"aku hanya mengangguk

"Letakkan saja disitu" Tunjuk Bang Yusuf pada meja dihadapanku

"Baik" uwaahh. Ini makanan pasti enak.

"Saya permisi dulu"

Kembali sekarang bang Yusuf yang hanya mengangguk. Kualihkan pandangan pada makanan ini, nampak lezat

"Makan dek" ujarnya

Tanpa menjawab atau pun menoleh lagi kumakan sendiri makanan ini. Sungguh lezat.

"Abang mau?"

"Boleh, sini suapin. Kalau adek mau" sambil menunjuk sampingnya

Makanan tadi dibagi dua, badannya juga lebih besar dariku. Kasiaan.

Kudekati mejanya, dia sangat sibuk. Dia bahkan lebih tampan jika serius begini.

Tak ada kursi disini, kuletakkan makanan diatas meja berniat mengambil kursi lain.

"Mau kemana?" Bang Yusuf menarik tanganku

"Mau ambil kursi lah, masa duduk satu kursi sama abang"

"Mm. Ide bagus, sini duduk"Apa dia bilang? Ide mana yang bagus.

"Eh, tunggu bang"

"Kenapa?"

"Aku duduk dikursi lain aja, nanti abang ke ganggu sama aku disitu karena satu kursi" Dia nampak berfikir.

"Oke"jawabnya singkat. Huffft. Selamat.

Kami berdua makan dalam diam hingga habis. Jus yang dibawa tadi pun tinggal setengah lagi sisa minumku.

"Eh.. Bang mau ngapain?" Kulihat Bang Yusuf meraih gelas berisi jus tadi.

"Ya, mau minum lah" balasnya santai

"Itu kan sisa, biar aku ambil yang lain aja ya"aku beranjak bangun ingin mengambil minuman lain.

"Gak usah, duduk lagi aja. Ini cukup" dia menarik tanganku untuk duduk lagi, dan meraih gelas ditanganku.

"Eh. Tapi kan-.." belum selesai aku berkata, dia sudah menghabiskannya.

"Sstt. Mending pijitin nih, disini" dia menunjuk ke bahunya. Aku menurut saja dari pada bosan.

Kedua bahunya ku pijat kuat, tapi aku tahu dia tak kesakitan. Raut wajahnya datar saja.

"Yang kuat dikit lagi dek" tidak tau apa ini udah kuat, dasar memang.

"Ini memang udah kuat kok" sungutku kesal

"Udah boleh, sini duduk lagi" dia menunjuk kursi disampingnya.

"Oh ya. Kamu kan mulai kerja hari ini, kok malah pergi kekantor?"

"Ng-tadi itu.."

"Tadi?."

"Tadi pagi mataku bengkak, gak berani kerja, mau tutupin pakek bedak pun masih keliatan jelas " terangku. Dia nampak terkejut.

Dia mengisyaratkan aku mendekatinya. Kudekati sedikit, dia malah terlihat jengkel. Diraih tanganku menarik perlahan hingga jatuh ke pelukannya.

Dia memeluk seakan melindungiku dari orang yang berniat jahat.

"Udah jangan ingat kejadian semalam, lupain aja ya" aku mengangguk dalam dekapan nya. Aku menyesal.

---

Sekarang aku berada di dalam mobil Bang Yusuf melaju menuju rumah. Jalanan pada jam pulang kerja memang sangat padat, dalam satu menit hanya jarak 3 meter bisa ditempuh mungkin.

Sampai dirumah semua sedang berkumpul, ini terhitung masih sore. Setelah kami mengucap salam, bergegas ke kamar beristirahat sebentar.

Aku sudah membersihkan diri, rasanya sedikit beban hilang. Turun kedapur membantu ibu dan Hana memasak.

Seperti biasa Hana berceloteh dengan ibu dan aku sebagai pendengar, sungguh keluarga sempurna.

Akankah Hana marah jika ku katakan tentang calon suaminya Adrian. Tapi aku juga tak bisa mengatakan jika tanpa bukti. Aku tak bisa membiarkan hana menikahinya bisa-bisa Hana disakiti olehnya.

"Yun" Ibu menyentuh bahuku

"Eh.. iya ada apa bu" ibu terkekeh pelan.

" Kamu ini, itu masakanmu udah mateng gitu, mau dibuat hangus lagi" aku mematikan kompor cepat, pasti ibu berfikir yang tidak-tidak

"Kakak mah Aneh, orang kalau udah nikah itu seneng. Lah kakak malah melamun aja"

"Ng- gak gitu kok"

"Apa gak, ibu juga ngerasa gitu kan bu" ibu mengangguk setelahnya mereke terkekeh. Aku hanya menunduk. Haduhh. Malu lagi

"Apa Bang Yusuf jahat sama kakak?"

"Gak kok Han. Kamu ngaco deh, bang Yusuf baik banget sama kakak"

"Kakak nih ya cuma mikirin pekerjaan tuh, udah seminggu kakak gak masuk"

"Eee. Kirain apa"

"Tuh lah. Gak boleh berburuk sangka. Dosa" setelahnya Kami melanjutkan memasak lagi.

----

Habis makan dan shalat isya aku tak keluar lagi, hanya membaca Qur'an sambil menunggu bang Yusuf pulang dari mesjid.

Ceklekk..

Pintu terbuka segera ku selesaikan bacaan dan melipat mukenah cepat.

"Abang" Dia menyodorkan tangan untuk kusalami. Aku menurut saja.

"Kenapa belum tidur?" Dia duduk diranjang.

"Belum ngantuk, masih awal pun buat tidur" jelasku

"Iya kah?" aku mengangguk

"Kalau gitu kita makan yuk" ungkapnya

"Makan?" Kan baru makan tadi.

"Iyah!"

"Makan apa?"tanyaku lagi

"Makan kamu" Apa katanya, makan aku, matilah aku. Dia bangun mulai berjalan mendekat.

Kusilangkan tangan di depan dada dan berjalan mundur dengan gelengan dikepala.

"Gak, gak boleh bang. Jangan !!" Ucapku mulai gemetar

"Kenapa?" Pertanyaan macam apa itu. Aku sendiri pun tak tau jawabannya.

Terasa dinding dibelakangku. Habis aku gak bisa kabur lagi. Semoga ada yang menolongku malam ini. Ponsel Bang Yusuf berbunyi, dia beranjak menuju ponselnya. Ahh sepertinya aku harus berterima kasih pada si penelpon.

Tapi hanya sebentar, dia kembali melihatku yang mematung disudut ruangan. Seseorang tolong aku.

"Ngapain berdiri disitu dek, sini" aku menggeleng kuat.

"Atau Abang yang gendong kamu kesini" aku tetal menggelengkan kepala.

Terdengar helaan nafas darinya, dia mendekat. Dia sudah berada di depanku. Apa ini. Kakiku tak memijak lantai lagi. Dia membopongku menuju ranjang.

"Udah jangan pikir aneh-aneh" eh tau aja aku mikir macam-macam. Dia meletakkanku di ranjang.

Bang Yusuf memutari ranjang dan duduk di ranjang bagiannya.

"Sini!" Aku menggeleng

"Sini atau Abang makan kamu" terpaksa dengan ancamannya aku mendekat duduk di samping bang Yusuf.

Bang Yusuf menarik tanganku memeluknya dan dia memelukku.

"Abang gak akan minta kok sebelum kamu siap" katanya. Auww dia sangat pengertian.

Bang Yusuf melepas pelukan agak memberi jarak. Dia mengangkat daguku, dibukanya jilbab dan mengurai rambutku. Aku masih deg-degan saja padahal ini bukan yang pertama dia melihat rambutku.

Jantungku berdetak tak karuan, suaranya sampai terdengar diteliga. Dia menangkup wajahku mencium kening ini. Refleks aku pejamkan mata

"Udah tidur, besok kerja" aku mengangguk

"Bang maafin aku ya?"

"Maaf untuk apa?"

"Maaf gak bisa memenuhi keinginanmu" Dia tersenyum ramah.

"Iya, gak papa. Abang paham kok. Tidur gih" Akuu rebahkan diri membelakanginya. Belum siap melihat menghadapnya.

Tak lupa tangannya melingkar ditubuhku. Aku mulai terbiasa walau jantungku belum terbiasa.

°°°°°°

Hari ini aku mulai bekerja, dari subuh sudah berkutat didapur sekarang aku sedang menunggu giliran mandi, mengapa lama sekali Bang Yusuf didalam.

Bugh.. Bugh..Bugh..

Kesal aku menggedor pintu agak keras.

"Bang, cepetan napa, aku mau mandi juga"teriakku

"Bentar dek, tunggu bentar"balasnya

"Bentar apa dari tadi juga, lama banget mandinya kayak cewek" gerutuku kesal

Ceklekk

Pintu kamar mandi terbuka. Apa ini, apa dia lupa membawa pakaian lagi. Dengan cepat kututup mata.

"Cepet sana, aku mau masuk" Terdengar langkah menjauh. Kubuka lagi mata merasa sudah aman.

Aku memasuki kamar mandi dengan senang mengunci pintu, saat berbalik. Apa lagi ini. Sontak mataku terpejam lagi

"A-abang ngapain disini lagi, bukannya tadi udah diluar." ucapku dengan mata terpejam. Mataku bisa ternodai karena pemandangan dibawah umur ini.

"Hahaha. Abang gak tahan dek, mau makan kamu." Kurasa dia sudah mendekatiku.

"Tapi Abang udah janji gak bakalan macam-macam"

Memperingati Bang Yusuf agar tak macam-macam padaku

"Gak macam-macam, cuma satu macam" bisiknya terasa tepat disamping telingaku

Aku mengenyit heran tak tau maksudnya.

"A-...

••••••••••

1
Royani Arofat
ngapain sih g jujur.udah mau d lecehkan jg.
Royani Arofat
unting aja yusuf sabar.cemburunya menakutkan.tdk sesuai porsi.kl kayak gitu lamaw g betah loh suaminya
tambahan bonus bunga karena sudah mau berteman dengan myako
kok aku belum di polback kak?
Ryana: udah kok kak
total 1 replies
mantul
suaminya maksa njerr
lanjutkan cuyy
singkat sekali
jangan lupa mampir di karyaku juga ya dan beri dukungannya. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman
bagus banget semangat terus kak
udh mampir nih☺semangat
Ig : Author_fanie.liem
AK mampir kak
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati
snow angel
😍😍
Natassa Putri
Ceritanya sangat bagus dan bikin penasaran buat baca chapter selanjutnya
Natassa Putri
Semangat trs Kak nulisnyaa💪😊
Ryana: iya kak mampir juga di novelku yang lain judulnya Hutang Cinta Helena
total 1 replies
Sry Purwanti
gak jelas novel ya.perempuan ya ter lalu muter2 pikiran ya dan naif
Ryana: Makasih kak, aku bakal jadi lebih baik lagi, baca novel lainnya juga, moga gak muter-muter kayak blender
total 2 replies
Ryana
terimakasih
harie insani putra
mampirrrr baca
Anariy
semangat Author
harie insani putra
Tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!