NovelToon NovelToon
Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Yulia Nur Nun

"Senja dan Rasa yang tak pernah hilang termakan semesta."

Tulisan ini bercerita tentang kisah klasik sepasang insan penikmat jingga di kaki langit yang terpisah waktu. Diberikan kejutan indah oleh Sang Maha Cinta dengan dipertemukan secara tak sengaja. Melanjutkan hubungan yang dulu pernah terputus dengan mengikat janji di tali pernikahan.

Pernikahan ?
Ya. Tentu saja pernikahan yang tak luput dari konflik-konflik sebagai batu kerikil dijalan. Namun, mampukah pasangan Nadhira dan Reyhan melaluinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulia Nur Nun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Mama berjalan menyusuri koridor bangunan yang identik dengan warna putih itu bersama suaminya dengan langkah tergesa-gesa. Lalu berhenti tepat didepan meja administrasi.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak ?” Tanya seorang wanita yang sedang bertugas dibagian administrasi tersebut.

“Pasien bernama Reyhan Akbar Oktara dirawat diruangan mana, ya ?”

“Tunggu sebentar saya cek dulu, Pak.” Terlihat wanita tersebut mencari nama disebuah komputer yang ada di hadapannya.

“Pasien atas nama Reyhan Akbar Oktara di ruang VVIP, Pak.”

”Baiklah. Terimakasih.”

Mama kembali berjalan mengikuti jejak suaminya menuju kamar VVIP yang ditempati Reyhan.

“Kak...” Mama berlari menuju tempat dimana Reyhan terbaring lemah. Mama menangis dihadapan anak sulungnya. Melihat hal itu Farhan sedikit menyingkir memberi ruang untuk mamanya.

“Ma, Reyhan nggak apa-apa.” Reyhan menggenggam tangan mamanya untuk menenangkan.

“Ma, Farhan balik duluan ya ?” Farhan meraih lalu mencium tangan Mama.

“Iya. Hati-hati, Nak.”

“Kak, Farhan balik ya. Lekas sembuh.”

"Dik ?" panggil Reyhan dengan raut wajah penuh penyesalan.

"I'm ok," balas Farhan.

Farhan berlalu dari hadapan Mama dan kakaknya. Ia melangkah hendak meninggalkan ruangan. Dan tanpa sengaja tatapannya beradu dengan bola mata papanya. Farhan hanya menyunggingkan senyum tipis dan mengamit tangan papanya lalu menciumnya. Setelah itu, Farhan berlalu begitu saja.

Melihat pemandangan seperti membuat Reyhan merasa miris. Sampai kapan adik dan papanya terjebak dalam situasi seperti itu. Reyhan hanya menghela napas kasar.

“Kak, kenapa bisa begini lagi sih ?” Tanya Papa sembari mendekat ke arah anaknya.

“Yaahh, emang udah begininya kali, Pa.” Reyhan menjawab pasrah.

“Pernikahan kamu tinggal menghitung hari lho, Kak. Cepet sembuh dong.” Ucap Mama.

“Ma, jangan kasi tau Nadhira kalau Reyhan lagi sakit, ya ?” Reyhan menggenggam tangan mamanya memelas.

“Nadhira kan calon istrimu, Kak. Dia juga berhak tahu dong keadaan calon suaminya.”

“Reyhan nggak mau Nadhira kepikiran dan khawatir. Reyhan mohon, Ma.”

Mama mengangguk dan membalas genggaman anaknya.

“Pa, kerjaan dikantor belum Reyhan selesaikan. Tapi, tadi udah Reyhan bilang Farhan minta bawakan berkas-berkasnya kesini. Biar semuanya Reyhan kerjakan saja disini.”

“Fokus saja pada kesehatanmu. Masalah kerjaan nanti Papa yang handle.”

“Tapi, Pa...”

“Istirahatlah, Nak. Kesehatanmu lebih penting dari apapun.”

“Maaf, Pa, Ma. Reyhan ngerepotin lagi.” Reyhan berucap dengan nada menyesal.

“Kak, udah jangan bilang gitu lagi. Itu sudah menjadi tanggung jawab Papa dan Mama sebagai orang tua kamu.”

___

Tok. Tok. Tok.

“Abang!” Nadhira mengetuk pintu kamar Bara seraya memanggilnya.

Pintu terbuka dari dalam menampilkan Bara dengan baju santainya.

“Kenapa, Dik ?”

“Ada yang mau aku tanyain sesuatu sama Abang. Aku boleh masuk ?”

Bara mengangguk dan menyingkir memberi jalan masuk untuk Nadhira. Bara mengikuti Nadhira yang sudah masuk lebih dulu ke kamarnya. Nadhira duduk dipinggiran ranjang king size milik Bara.

“Ada apa, Dek ?”

“Abang sama Kak Reyhan itu temenannya udah lama, kan ?”

“Iya udah lama. Kenapa ? Tumben kepoin calon suami.” Jawab Bara dengan tawa menggoda.

“Bang, aku serius.”

“Iya. Iya.”

“Abang tau kehidupan Kak Reyhan ?”

“Hampir semuanya kok Abang tau.”

“Tadi pas nganter aku pulang dia mau balik ke kantor. Nah, tiba-tiba pegang dadanya gitu, Bang. Terus mukanya juga pucat. Apa Kak Reyhan sakit ?”

Bara sedikit kaget mendengar pertanyaan Nadhira. Mendengar penuturan adiknya, Bara berpikir bahwa Reyhan memang sakitnya kambuh lagi.

“Bang ?”

“Ehhh..mmmm.. mana Abang tau, Dek. Kan seharian nggak bareng Reyhan.” Bara terlihat gugup.

Nadhira menatap curiga kakaknya.

“Abang kenapa ?”

“Nggak apa-apa kok, Dek.”

“Gimana fitting baju pengantinnya ? Persiapan yang lainnya gimana ?” Bara mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Udah selesai, Bang. Tadi juga sekalian nyari cincin. Jadi tinggal sebar undangan aja.”

“Adek bahagia nggak ?”

Nadhira menatap Bara setelah mendengar pertanyaannya.

“Tentu. Bahagia banget.” Jawab Nadhira dengan sumringah.

“Dek, nanti kalo udah jadi istri. Adek harus siap menerima segala kekurangan pasangan adek. Selalu mendampingi pasangan adek dalam keadaan suka dan dukanya. Mensuport segala apa yang dilakukan pasangan adek selama itu dalam hal kebaikan.”

“Iya, Bang. Aku ngerti.”

“Terimakasih ya, Bang. Udah nasehatin aku.” Lanjut Nadhira.

Bara mendekati Nadhira yang duduk di pinggiran ranjang. Mengelus lembut tangan Nadhira penuh kasih sayang. Nadhira membalas dengan menggenggam tangan Bara.

“Abang, pergi sebentar ya, Dek.”

“Iya, Bang.”

Bara mengambil kunci mobil yang tergeletak dikasur. Bara melangkahkan kaki keluar kamar diikuti Nadhira. Dan berpisah didekat tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.

Bara mengendarai mobilnya menuju rumah Reyhan. Berharap ia bertemu dengan Reyhan dalam keadaan baik-baik saja.

Sesampai dirumah Reyhan. Bara mengetuk pintu berulang kali. Namun, tidak ada yang membukakan pintu. Bara mencoba sekali lagi. Tak berselang lama, pintu terbuka memunculkan seorang wanita paruh baya. Terlihat dari penampilannya yang sederhana, Bara tau jika wanita itu adalah asisten rumah tangga dirumah Reyhan, Bi Inah.

“Assalamu’alaikum, Bi Inah.”

“Wa’alaikumussalam, Mas Bara. Ayo masuk dulu, Mas.”

“Terimakasih, Bi.”

Bara berjalan mengikuti Bi Inah memasuki rumah megah tersebut. Bara dipersilahkan duduk dan menunggu sembari Bi Inah membuatkan minum.

“Kak Bara ?”

“Eh, Farhan.” Bara berdiri setelah melihat kedatangan Farhan.

“Duduk, Kak!”

“Kak Bara mau cari Kak Reyhan ?”

“Iya, Far. Reyhan mana ?”

“Kak Reyhan masuk rumah sakit, Kak. Ini Farhan baru saja pulang. Tapi, nanti mau balik lagi.” Bi Inah kembali dengan membawa segelas jus jeruk.

“Terimakasih, Bi Inah.”

“Reyhan kenapa lagi, Far ?”

“Biasa lah, Kak. Sakitnya kambuh lagi. Apalagi tadi kambuhnya pas lagi dijalan sepulang nganter Kak Nadhira.”

“Kalo gitu Kak Bara ke rumah sakit sekarang.”

“Minum dulu, Kak.”

Bara menyeruput jus jeruk yang sudah dibuatkan Bi Inah. Lalu berjalan meninggalkan Farhan menuju rumah sakit.

___

Bara membuka pintu ruangan dimana Reyhan dirawat. Menampilkan Reyhan dan kedua orang tuanya yang sedang berbincang.

“Assalamu’alaikum.” Bara menghampiri Reyhan dan kedua orang tuanya.

“Eh, Nak Bara.” Ucap Mama.

“Ma, Papa balik ke kantor dulu ya. Sebentar lagi papa ada ketemu kolega.”

“Iya, Pa.”

“Kak, lekas sembuh.”

“Iya, Pa. Terimakasih.” Ucap Reyhan dan tak lupa tersenyum ke arah papanya.

“Mama anter Papa sampai depan dulu, Kak. Bara titip Reyhan ya.”

“Iya, Tante.”

Sepeninggal Mama dan Papa. Tersisalah Bara dan Reyhan didalam ruangan bernuansa putih dengan aroma obat-obatan yang menyeruak di indera penciuman. Satu ciri khas sebuah rumah sakit.

“Kenapa lo bisa kayak gini ?” Bara memecah keheningan.

“Emang udah begininya, Bar.” Reyhan menjawab dengan sedikit bercanda.

“Lo tau darimana gue masuk rumah sakit ?”

“Nadhir...”

Reyhan mebulatkan matanya tak percaya dan memotong ucapan Bara.

“Nadhira tau gue sakit ?”

“Nggak. Tapi tadi dia nanya ke gue apa lo sakit atau nggak. Soalnya tadi pas lo mau balik, katanya dia liat muka lo pucat gitu. Ya udah gue langsung ke rumah lo dan ketemu Farhan. Dan Farhan bilang lo masuk rumah sakit. Makanya gua tau lo disini.”

Reyhan membuang napas lega.

“Jangan sampai Nadhira tau ya, Bar ?” Reyhan memasang muka memelasnya.”

“Iya tenang aja. Tapi suatu saat dia juga pasti akan tau gimana kondisi lo yang sebenernya.”

Reyhan hanya menunduk lesu.

___TBC___

1
fantasiku49
bgs
Salman Hafiz
Owhhh ..
Wahyu Ningsih
gag ad tor , bisa liat dimna tor tak cari gg ad tor
ynurnun: Judulnya "Napas Baru", Kak.
total 1 replies
Fatih n Queen
bs liat dimana ya kelanjytannya?
ynurnun: "Napas Baru" bukan "Nafas Baru", Kak.
total 4 replies
Rakyal Aen
coba baca
kelihatannya mebarik....
Lilis Yuanita
lnjt
ynurnun: Sekuelnya sudah bisa dibaca, ya, Kak.
total 1 replies
🌷
ksih lanjutannya thor...msih kepo kisah mereka sad or happy
ynurnun: Mari, Kak, baca lanjutannya di akun baru Othor. Judulnya "Napas Baru"
total 3 replies
Zee🖤
bikin lagi thor, aku selalu setia menunggu. sehat selalu dan semangat buat nulisnya🤗
ynurnun: Siap, Kakak 🤩
Baca juga cerita yg lain karya Othor, ya, Kak.
total 1 replies
Yuli Ana
mungkin setelah reyhan istirahat 3 hari Aleaa hamil ya..😊
ynurnun: Nggak perlu istirahat. Aleea-nya udah hamil. Mau lahiran pula 🤭
total 1 replies
Karyati Sholapari
aku baru tahu ada orang alergi strawberry
Karyati Sholapari
baru tahu... ada orng yg alergi sm jeruk... hmm... hmm
Suri Kharimah Asdi
aku kasih sepuluh jempol untuk kamu. Kata2 indah banget. Jujur sebagai penyuka sastra aku serasa membaca novel karya penulis terkenal seperti Asma Nadia. Cantik banget bahasanya.
Ratna
semangat y Thor
Ratna
semangat y thor
Lilis Yuanita
lho kok gtu he he🙄🙄🙄
Zee🖤
thor😭😭😭
Zee🖤
thor serius reyhan meninggal😭
Windi Asih
masih bingung deh sama nama"nya, suka berubah" antara Reyhan dan Abraham
🌷
semoga endingnya bukan farhan yg harus donor jantung buat reyhan...gk suka dehhhh thor
Kristina
apa Farhan gak bisa disembuhkan ya ? kakak beradik sama2 TDK sehat.......
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!