Althaf Sarfaraz Xaquil (AL)
Bara Arsenio Khasaf (BARA)
Christian Xaverio Smith (CHRIS)
Tiga orang pria tampan, mapan dan memiliki kepribadian, rumah mewah pribadi, mobil mewah pribadi, semua yang sifatnya pribadi dan mewah.
Satu yang tidak mereka miliki, ISTRI!
Trio Duda bercerita tentang kehidupan sehari-hari 3 orang duda yang relah bersahabat sejak dibangku SMA.
Mereka pernah membina rumah tangga namun berujung dengan nasib yang sama alias ketiganya kini menyandang status DUDA!
Bagaimana keseruan TRIO DUDA dalam keseharian mereka yang tentu saja msmbuat kaum hawa disekitarnya ketar-ketir.
Apakah mereka kembali dipertemukan oleh jodohnya?
Semoga dapat menghibur readers semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pradana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hania Lavanya Flora
"Mam, bagaimana Rafael? Chris berat sebenarnya meninggalkan Rafael.
"Rafael sudah sehat, gapapa. Kamu berangkat saja."
"Kalau ada apa-apa segera telpon Chris ya Mam." Chris terlihat masih trauma kejadian sakitnya Rafael kemarin.
"Iya. Sudah sarapan dulu sana. Mam mau memandikan Rafael."
Chris mengikuti perintah ibunya, ia sarapan sebelum berangkat ke kantor.
Dalam perjalanan ditengah padatnya lalu lintas ibukota Chris membalas beberapa chat dan salah satunya chat di group Trio Duda.
"Chris gimana kondisi Rafael masih demamkah?" Al bertanya kondisi Rafael.
"Sudah membaik. Hari ini sudah ga nangis dan anteng. Gw lagi otw kantor." jawab Chris.
"Alow everybody, Ah, senang denger keponakan uncle Bara sudah sembuh 😘." begitulah chat Bara.
"Gw nyet yang ga seneng lo nongol!" Al mulai membuka hari dengan pertengkaran dengan Bara.
"Diem lo nyuk! Nyamber terus kayak kompor! 🤪."
Memang dasar Bara yang selalu ada saja tingkah laku dan tutur katanya untuk membalas Al.
Chris tak menanggapi tom and jerry versi tampan yang kini sedang berbalas pesan di group.
Memilih fokus kembali mengemudi setalah kemacetan mulai terurai.
Meski seorang CEO, Chris bukannya tidak punya sopir pribadi, namun ia lebih senang berkendara sendiri.
Sesekali ia memakai sopir. Selebihnya begitulah Chris.
Chris masuk di sambut dengan sapaai hormat pegawainya.
Tenru saja Dika asisten setia sudah siap menyambut kedatangan bossnya.
"Pagi Pak!" Bagaimana keadaan Rafael?" Dika menanyakan kondisi pitra Bossnya.
"Sudah lebih baik. Apa jadwalku hari ini Dik?"
Dika membacakan semua jadwal Chris dari pagi hingga sore.
"Klien tiongkok? Bukannya mereka masih akan datang 1 minggu lagi? Kenapa tiba-tiba siang ini?" Chris meminta penjelasan.
"Mereka sengaja datang sekakian memenuhi undangan G20 di Bali Pak. Jadi mereka memutuskan untuk sekalian menemui kita." jelas Dika.
"Lalu bagaimana, apa kita punya penterjemah. Kamu bisa bahasa Mandarin?"
"Loh Bapak lupa, kemarin kan kita sudah minta anak magang itu datang mulai kerja hari ini." jelas Dika.
Tok,Tok,Tok!
"Lihat siapa itu." Chris menatap laptop memeriksa beberapa pekerjaannya.
"Pak, maaf ini mahasiswa magang yang kemarin. Kamu perkenalkan nama kamu pada Pak Chris." Dika meminta si mahasiswa memperkenalkan diri.
"Selamat Pagi Pak, Perkenalkan saya Hania Lavanya Flora. Saya mahasiswa yang magang di perusahaan Bapak. Terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada Saya untuk magang di perusahaan yang Bapak pimpin." panjang lebar memperkenalkan diri namun Chris tidak menoleh hanya mendengarkan sambil terus menatap laptopnya.
Melihat sang Boss yang tak merespon, Dika memanggil Chris.
"Pak, Ini Hania. Mahasiswa yang magang diperusahaan kita." Dika sedikit mengencangkan suaranya.
Chris mengangkat wajahnya kemudian menatap ke depan.
"Kamu!"
"Ba,,pak!"
Dika menatap keduanya.
"Kalian saling kenal?" Dika menuntuk kepada keduanya.
"Ya!"
"Tidak!"
Dika mengerutkan dahinya kompak namun jawabannya berbeda.
Hania dan Chris ingat namun beda persepsi dengan kalimat mengenal.
"Pak ini Hania, mahasiswa yang magang disini. Nah Hania ini Pak Chris adalah CEO disini."
"Selamat pagi Pak. Terima kasih Bapak mengizinkan Saya magang disini." Hania menganggukan kepalanya menghormati sang pimpinan.
"Kalau begitu, hari ini kamu ikut Saya dan Dika, untuk menemui klien dari Tiongkok!" Chris langsung to the point.
"Sekarang Pak?" Hania tampak terkejut.
"Bukankah kamu bisa bahasa Mandarinkan?" Chris sedikit kesal saat jawaban ia dengan Hania berbeda.
"Iya Pak. Saya bisa. Tapi ini hari pertama Saya, Saya takut mengecewakan Bapak!" Hania baru kali ini masuk dan langsung diajak meeting menemani Bossnya menemui klien siapa coba yang ga deg degan.
"Ya kamu harus siap. Begitulah dunia kerja. Lagipula kamu kan sudah Ok?terbiasa bertemu banyak orang, iya kan?" tentu Chris ingat Hania adalah wanita yang ia temui menjadi kasir sekaligus mengembalikan black card Chris yang tertinggal.
Chris sengaja mengatakan itu agar Hania ingat mereka pernah bertemu jangan bilang ga kenal.
Sabar Bang Chris, duh segitunya sewot ga dikenalin sama Hania. Makanya kenalan dulu Bang.
Hania kini berada diruang Chris bersama Dika dan Chris.
Karena mendadak, ketiganya menyiapkan apa saja yang akan disampaikan saat meeting.
Tentu Hania diikut sertakan agar Hania bisa tahu topik pembicaraan apa yang akan mereka bahas nanti selama meeting.
Tugas Hania adalah menterjemahkan presentasi Dika dalam bahasa Mandarin kepada klien perusahaan tersebut.
"Pak Saya permisi untuk menyiapkan pertemuan kita dengan klien." Dika meminta izin kepada Chris.
Anggukan kepala Chris menandakan izin telah diberikan.
Sepeninggal Dika, Hania dan Chris kini hanya berdua.
"Pak Chris serem banget ya, jutek lagi. Diem aja!" Hania menatap Boss nya sedikit takut.
"Kenapa kamu bilang ga kenal Saya?" tiba-tiba Chris buka suara.
Tanpa melihat kearah Hania saat berbicara tetap fokus dengan laptopnya.
"Memang benar Saya belum mengenal Bapak." Hania ga salah dong.
"Ya sudah, kalau begitu. Pelajari materi yang disampaikan Dika. Jangan buat kesalahan atau Saya langsung memulangkan kamu ke kampus!" Chris kesal dengan jawaban Hania.
"Jangan dong Pak, Bapak tega banget kalo begitu!" Hania kaget masa baru masuk sudah diancam sama Boss sendiri.
"Suka-suka Saya, lagipula kita kan ga kenal! Chris malah nyolot.
"Bapak kesel karena kita pernah ketemu terus saya bilang ga kenal? Kan memang kita ga kenalan Pak. Saya saja tidak tahu nama Bapak. Bapak dan Saya bertemu waktu di swalayan. Masa Saya bilang kenal hanya karena itu. Nanti Saya dibilang SKSD." jelas Hania.
"Oh jadi maksud kamu, kamu ga kenal sama Saya karena kita belum kenalan, terus harus deket dulu kalau mau kenal?" entah kesambet angin dari mana Boss duda kita kali ini jadi lebih bawel.
"Maafin Saya deh Pak kalau sikap Saya menyinggung Bapak." Hania merasa Bossnya moodyan.
Dika masuk kembali melaporkan bahwa klien meminta bertemu diluar tidak jadi datang keperusahaan.
"Ok, bilang sama mereka. Kita akan menyusul kesana. Kamu siapkan saja jet pribadinya Dik." titah si Boss pada Dika.
"Baik Pak!" Dika keluar lagi.
Hania yang mendengarkan hal tersebut bergumam sendiri antara percaya dan tidak Boss nya mengatakan jet pribadi selayaknya nyewa angkot.
"Pak kita meeting bertemu klien naik jet pribadi?" Hania dengan rasa penasarannya bertanya pada Chris.
"Kenapa tanya-tanya, kita kan ga dekat!"
"Astaga nih Boss ibunya ngidam apa sih! Jutek amat!" Hania kesal namun harus ia redam demi kelancaran masa magangnya 3 bulan kedepan.
Tentu saja Hania memilih diam saja tak mengeluarkan suara, ia fokus dengan memperlajari materi secara kilat yang diberikan Dika.
"Ehekm. Disini ada orang tapi kayak kuburan!" Chris menyindir Hania.
Hania tak meladeni, lebih baik diam saja meski hati kesal.
"Sabar Hania, orang sabar disayang suami!" batin Hania menenangkan hatinya.
😘😘😘
melasseh....rek..!