Karena sebuah kesalahan satu malam, Ayaneru terjebak bersama seorang pria asing yang membuatnya hamil.
Namun Ayaneru yang sebenarnya sudah dijodohkan dengan seorang pria terhormat, memutuskan untuk pergi ke luar negeri karena merasa kotor dan tak pantas. Hingga dia ingin menggagalkan perjodohan itu dan malah berniat untuk merawat bayinya seorang diri.
Namun, 5 tahun kemudian Ayaneru kembali ke Tokyo dengan membawa kedua buah hatinya yang sangat jenius.
Apakah takdir akan mempertemukan mereka dengan sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes DNA
"Tidak masalah, George! Lakukan saja seperti biasa untuk pemeriksaan kesehatan untuk semua karyawan F Group seperti tahun-tahun sebelumnya." ucap Reo yang sedang berbincang bersama seorang pria dengan almamater berwarna putih.
"Baiklah. Mungin medical check up akan dilakukan mulai pekan depan, Reo." sang dokter yang masih cukup muda itu menyauti sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Hhm. Lakukan saja yang yang terbaik untuk semua karyawan F Group, karena seperti itulah pesan dari presdir utama Fukushi Group." Reo menyauti kembali masih dengan gaya wibawanya.
"Reo, sampai saat ini semua orang masih belum mengetahui dan bertemu dengan presdir utama dari Fukushi Group. Bahkan rumah sakitku yang sudah bekerjasama dengan perusahaan dia selama 6 tahun ini, juga masih belum pernah bertemu dengan dia. Apa kamu juga belum pernah bertemu dengan dia? Aku sangat penasaran seperti apa dia? Pria terhormat yang begitu cekatan dan genius dalam bisnis fashion hingga pasar internasional. Aku dengar dia juga masih muda. Dan aku dengar calon istrinya meninggalkan dia ke luar negeri 5 tahun yang lalu, apa itu benar, Reo?"
Tanya dokter muda itu yang rupanya sangat penasaran dengan sosok presdir utama dari Fukushi Group.
"Soal itu aku tidak tau, George. Aku bahkan baru saja ditugaskan di F Group baru dalam beberapa bulan ini. Dan itupun aku hanya sebagai CEO sementara. Jika Lin Mu sudah kembali, maka aku juga akan segera meninggalkan F Group." ucap Reo seadanya.
Belum sempat mereka berdua melanjutkan perbincangan kembali, kini tiba-tiba ada dua anak kembar yang begitu lucu dan sangat stylish mulai menghampiri kedua pria dewasa itu.
"Hallo, Paman Reo!! Kita bertemu kembali!!" seorang gadis kecil mulai menyapa Reo.
Gadis kecil yang tak lain adalah Leona itu mendongak tinggi karena Reo memiliki perawakan yang cukup tinggi.
Reo dan George mulai menunduk menatap kedua anak itu. Dan betapa terkejut sekaligus bahagia, saat Reo menyadari kehadiran Leon dan Leona.
"Siapa mereka, Reo? Mengapa kedua anak ini terlihat begitu tidak asing ya? Hhmm ..." gumam George dengan kening berkerut menatap Leon dan Leona.
"Mereka adalah anak dari salah satu karyawan baruku." jawab Reo seadanya. "Kalian berdua apa yang sedang kalian lakukan di rumah sakit? Dan siapa yang sakit? Kalian datang bersama bibi kalian kan?" tanya Reo mulai beralih menatap kedua anak kembar itu dan sedikit jongkok untuk mengimbangi kedua anak kembar itu.
"Hehe kami datang berdua saja, Paman. Karena bibi Yora sedang berkencan saat ini. Kami datang ke rumah sakit karena sedang ingin melakukan sesuatu." jawab Leona dengan tingkah manisnya dan membuat Reo menjadi semakin gemas padanya.
"Melakukan sesuatu? Apa itu, Leona ?" tanya Reo ingin tau dan tentu saja Reo menjadi sangat penasaran.
Dua orang anak berusia 4 tahun datang ke rumah rumah sakit tanpa seorang wali, dan mengatakan akan melakukan sesuatu di rumah sakit? Pasti saja Reo menjadi sangat penasaran dengan hal apa yang akan kedua anak kembar itu lakukan.
"Sini, Paman. Aku akan memberitahukan paman sesuatu. Karena ini sangatttt rahasia!" ucap Leona meminta Reo untuk semakin mendekat padanya.
Cih ... memang benar-benar si ratu drama. Hehe ...
Batin Leon menahan diri agar senyumnya tak disadari oleh Reo maupun sang dokter.
Reo mulai mendekatkan dirinya kepada Leona, lalu Leona mulai membisiki sesuatu. Hingga selama beberapa saat akhinya Reo mulai mengkerutkan keningnya karena merasa sedikit terkejut.
Anak ini meminta aku untuk menjadi wali dalam pengujian tes DNA? Lalu DNA siapa yang akan mereka uji di labolatorium? Wah ... wah kedua anak ini sungguh bukan anak biasa! Di usianya yang masih begitu kecil, namun mereka sudah begitu memahami hal seperti itu. Hhm ... aku kalah cepat!! Seharusnya aku juga segera melakukan tes DNA untuk mengetahui sesuatu!! Benar!! Aku harus segera melakukan pengujian!
Batin Reo memicingkan sepasang matanya menatap Leona yang saat ini masih menatapnya dengan sepasang mata kucingnya, karena sedang menunggu jawaban dari Reo.
"Baiklah. Paman akan menjadi wali kalian! Ayo kita ke latolatorium!" ucap Reo akhirnya mulai berdiri kembali dengan tegap dan sedikit membenarkan jasnya yang dia anggap sedikit kusut. "George, aku akan pergi karena ada urusan. Lajukan saja semua yang terbaik!" imbuh Reo beralih menatap George.
"Well! Okay!! Kamu tenang saja, Reo!" sang dokter berkacamata itu menyauti dan sesekali menatap Leon dan Leona curiga.
Reo segera pergi bersama Leon dan Leona menuju ke ruangan labolatorium untuk melakukan tes DNA dari sample rambut yang sudah dibawa oleh Leon yang sudah disimpannya di dalam sebuah kantong plastik bening.
Setelah beberapa saat mereka bertiga mulai meninggalkan labolatorium dan melenggang bersama menyusuri sebuah lorong panjang di dalam rumah sakit elit itu.
"Kalau boleh tau, sebenarnya itu sample rambut siapa?" tanya Reo sangat ingin tau.
"Rahasia!" jawab Leon dengan cepat sebelum Leona kelepasan berbicara dan akan membuat Reo curiga.
"Ahhh begitu ya rupanya." ucap Reo seakan merasa malu sendiri, karena ini adalah pertama kalinya keinginannya ditolak oleh seseorang.
Terlebih hal itu dilakukan oleh seorang anak kecil. Namun Reo sama sekali tidak merasa marah ataupun kesal karena penolakan dari Leon untuk memberitahukan hal itu kepada dirinya.
"Benar, Paman. Maaf ini adalah rahasia. Jadi kita tak bisa memberitahukannya kepada paman. Maaf ya, Paman." ucap Leona memperlihatkan wajah yang begitu menyesal.
"Tidak masalah kok. Paman akan menghargai privasi kalian berdua." sahut Reo dengan bijak.
"Oya, Paman. Kapan hasil itu akan keluar? Mengapa kita tidak menunggunya saja sambil bermail dulu bersama?" celutuk Leona mulai memperlihatkan wajah cerianya lagi.
"Tidak bisa, Leona. Hasil dari tes DNA akan keluar dan membutuhkan waktu antara 40 jam hingga 48 jam. Kita tidak bisa menunggunya saat ini. Dan sebaiknya kita segera pulang agar bibi Yora tidak mencemaskan kita." sahut Leon tiba-tiba.
"Wah. Lama juga hasilnya keluar ya, Kak. Baiklah. Sebaiknya kita segera pulang saja!" sahut Leona pasrah.
"Hhm. Memang cukup lama, Leona. Sebenarnya jika menggunakan darah, maka hasil akan lebih cepat keluar." jawab Leon dengan santai.
Wah, bahkan hal seperti ini Leon juga begitu memahaminya? Hhm ... benar-benar anak yang cerdas.
Batin Reo begitu takjub akan kecerdasan dari Leon.
"Oh ya, Paman. Kekurangan uang untuk tes DNA itu akan aku bayar dan aku cicil. Karena aku sungguh tidak menyangka jika harus membayar 9 ribu yen ( kira-kira 10 juta )." imbuh Leon beralih menatap Reo. " Aku tidak punya uang sebanyak itu saat ini."
"Tidak perlu menggantinya, Leon. Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih paman karena saat itu kalian sudah membawakan paman makan siang." ucap Reo dengan tulus. "Ya sudah. Paman akan antarkan kalian pulang. Yuk! Karena paman juga sudah harus pergi ke kantor kembali setelah ini."
"Baik, Paman." jawab kedua anak kembar itu dengan begitu patuh dan sangat manis.
Namun rupanya semua itu diketahui oleh Maria yang kebetulan juga sedang berada di rumah sakit untuk mengantarkan saudaranya berobat.
"Reo? Sedang bersama dengan siapa itu? Siapa kedua anak itu? Dan mengapa mereka terlihat begitu akrab sekali? Bahkan aku juga tidak pernah melihat kedua anak itu sebelumnya. Ini tidak seperti biasanya! Hhm ... sepertinya aku harus mencari tau akan hal itu ..." gumam Maria yang menatap Reo dan kedua anak itu melenggang di sebuah koridor rumah sakit
...🍁🍁🍁...