Dilamar di hari pernikahan temannya, disaksikan ribuan pasang mata. Anggun merasa dia adalah orang yang paling bahagia di dunia ini kala itu. Namun sayangnya, siapa yang menyangka kalau rumah tangga mereka akan terancam oleh kedatangan orang ketika pilihan dari keluarga kandung yang tidak suka dengan kehadiran Anggun sebagai menantu keluarga mereka.
Akankah Anggun bisa tetap bertahan setelah badai besar itu datang? Bagaimana sikap Dion sang suami saat dihadapkan dengan kedatangan orang ketiga yang orang tua kandungnya pilihkan? Ikuti kisah mereka di sini yah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *15
Setelah lama mengintai Dion. Akhirnya, bi Ina punya kesempatan untuk bicara juga. Dia langsung menarik Dion ke pojokan saat Dion keluar untuk menebus pembayaran atas pengobatan Sisil yang katanya terluka akibat benturan keras itu.
"Ada apa sih, bik? Kayaknya ada hal yang terlalu penting sampai bibi harus narik aku ke sini."
"Ya Tuhan, ini bukan hal besar lagi, Tuan Dion. Tapi hal yang terlalu besar. Sangat-sangat besar."
Ucapan dengan nada panik itu membuat Dion langsung memasang wajah yang sangat penasaran. Dia menaikkan alisnya seketika.
"Hal besar apa, bik? Katakan saja langsung, jangan bertele-tele. Bibi tahu bagaimana posisi aku sekarang, bukan?"
"Bibi tau, Tuan muda."
"Bibi ingin bilang kalau non Anggun menghilang. Dia tidak ada di rumah sakit ini. Bibi tidak tahu di mana dia sekarang, Tuan muda."
"Apa! Anggun menghilang? Yang benar saja, bik. Jangan main-main. Jangan bikin aku yang pusing ini semakin bertambah pusing lagi."
"Tuan muda, sejak kapan bibi pernah main-main dengan tuan muda. Non Anggun tidak kembali setelah dia bibi tinggalkan di kamar mandi tadi. Bibi sudah mencari ke mana-mana. Tapi tidak juga bibi temukan dia. Bibi sudah datangi kamar mandi dua kali untuk memastikan, tidak ada juga."
"Ya Tuhan ... ke mana pula perginya dia? Aduh ... masalah apa lagi ini, Tuhan?" Dion berucap sambil memegang batang hidungnya. Dia merasa cukup pusing sekarang. Beban berat yang datang terus menerus membuat dia seperti sulit untuk bernapas dengan baik.
"Apa bibi sudah menghubungi dia, Bik?"
"Sudah, Tuan muda. Nomor non Anggun tidak bisa dihubungi sama sekali. Nomornya tidak aktif."
Wajah frustasi semakin terlihat pada Dion saat ini. Dia seperti tidak kuat lagi untuk memikul semua beban yang ada di pundaknya. Semua masalah yang terjadi tadi membuat dia berpikir soal hal buruk yang bisa Anggun lakukan. Seketika, perasaan takut langsung menyelimuti hati Dion sekarang.
"Aku harus mencarinya, Bik. Dia tidak boleh kenapa-napa. Dia harus baik-baik saja," ucap Dion sambil ingin beranjak.
Namun, dengan cepat tangannya bi Ina tahan.
"Tunggu, tuan muda!"
"Ada apa lagi, Bik? Aku harus cepat mencari Anggun. Aku tidak ingin dia kenapa-napa, bik. Aku tidak tahu lagi harus bernapas seperti apa jika dia sampai terluka nantinya."
"Bibi tahu apa yang sedang tuan muda rasakan. Tapi, langsung pergi sekarang tanpa mengurus masalah yang ada di sini, itu bukan pilihan yang tepat, tuan muda. Bukannya bisa mencari non Anggun, tuan muda malah akan berada dalam masalah yang lebih besar lagi nantinya."
Ucapan itu membuat Dion terdiam dengan tatapan lurus menatap bi Ina. Sesungguhnya, dia paham dengan apa yang bi Ina katakan barusan.
"Bagaimana cara aku bisa mengurus masalah yang ada di sini, bik? Aku tidak bisa berpikir dengan jernih lagi sekarang. Karena pikiranku sudah sangat kacau saat ini. Anggun tidak ada di sini, itu adalah masalah yang paling besar buat aku. Jadi, aku tidak bisa berpikir hal lain lagi sekarang, bik."
Wajah putus asa kini semakin terlihat dari Dion.
Dia seperti ingin segera berlari, atau bahkan, dia ingin menghilang dari muka bumi ini agar masalah yang dia punya ikut dia bawa. Dengan begitu, dia bisa menyelamatkan orang yang paling dia sayang di muka bumi ini.
"Tuan muda tenang saja. Untuk itu, bibi sudah punya cara buat mengatasinya."
Bi Ina lalu membisikkan sesuatu pada Dion. Kemudian, dia menyerahkan satu bungkus benda kecil yang dia keluarkan dari saku celananya.
"Baiklah. Semoga cara ini berhasil dan aku bisa pergi untuk mencari Anggun dengan cepat."
"Bibi yakin pasti akan berhasil tanpa terlihat efek samping sedikitpun. Yang penting, tuan muda harus melakukan dengan baik semua yang bibi katakan."
"Baiklah, bi. Aku pastikan kalau aku akan berhasil."
Mereka langsung berpisah setelah ucapan itu berakhir. Bi Ina tetap memilih diam di sana untuk menunggu kabar dari Dion. Sementara Dion bergegas kembali untuk menjalankan rencana yang mereka punya.
Sementara itu, di sisi lain. Anggun sudah pun berada di dalam klab malam beberapa menit yang lalu. Dia duduk di tempat biasa dia dan sahabatnya duduki.
Suasana bar masih terasa seperti dulu. Tidak ada yang berubah dari bar tersebut walau dia sudah lama tidak datang ke sana. Sambutan pelayan bar masih sama walau dengan orang yang berbeda.
Anggun masih tidak bersuara saat pelayan bat menyapanya. Dia hanya memperlihatkan senyum sesaat atas keramahan yang pelayan bar itu berikan.
Saat Anggun sibuk mengedarkan pandangan menyapu seluruh bar. Seorang laki-laki langsung menghampirinya. Laki-laki yang masih dia ingat dengan baik wajahnya. Namun sekarang tidak dengan memakai seragam pelayan lagi. Melainkan, menggunakan pakaian kasual yang sangat rapi.
"Kamu .... "
"Mbak masih ingat aku?"
"Tentu saja aku ingat kamu. Bagaimana bisa aku lupa padamu?"
"Ah, sebuah kehormatan besar bagi aku karena mbak masih mengingat aku dengan cukup baik." Laki-laki itu berucap sambil mengukir senyum manis di bibirnya.
"Mm ... di mana adik yang biasa menjadi pelayan bar ini dulu? Apa dia juga susah berubah penampilan seperti kamu sekarang?"
Laki-laki itu langsung tersenyum kembali. Dia tahu siapa yang Anggun maksudkan. Adik pelayan, itu adalah panggilan yang Anggun dan Amelia berikan buat seorang remaja laki-laki yang bekerja di bar tersebut.
Setiap kali mereka datang, mereka hanya ingin adik pelayan itu yang melayani semua yang mereka inginkan. Karena dengan begitu, mereka akan memberikan uang tips yang besar buat remaja laki-laki itu.
Semua yang Anggun dan sahabatnya lakukan bukan tidak ada maksud. Anak laki-laki itu butuh uang untuk membiayai sekolah juga orang tuanya yang sedang sakit. Maka dari itu, mereka menolong dengan cara memberikan tips saat mereka datang ke bar tersebut.
"Dia sudah tidak bekerja sebagai pelayan di sini lagi, mbak. Dia sekarang sudah bekerja di kantor keluarga Prayoga."
"Hah? Dia bekerja di kantor keluarga Prayoga? Sebagai ... apa? Maksudku, jangan bilang kalau dia dipekerjakan sebagai cleaning servis oleh Dirly di perusahaan itu."
Laki-laki itu langsung tertawa karena melihat ekspresi yang sangat lucu dari Anggun. Ekspresi kaget sekaligus kesal itu membuat laki-laki tersebut tidak bisa menahan rasa geli dalam hatinya. Hal itu membuat Anggun mendadak memasang wajah yang semakin kesal karena ditertawakan oleh laki-laki tersebut.
"Kenapa kamu malah tertawa, hm? Apa ada yang sangat lucu dengan kata-kata yang aku ucapkan tadi?" tanya Anggun tidak kuat untuk memendam rasa kesal dalam hatinya.
"Bukan kata-kata mbak yang lucu, mbak. Tapi ekspresi yang mbak perlihatkan itu. Sungguh sangat-sangat mengocok perutku. Masa iya, mbak berpikiran begitu buruk tentang tuan muda. Dia gak sekejam itu kok, mbak."
padahal tadi emosiku
sudah mengebuh_gebuh
sangat halal untuk di binasakan...
bakalan aku buat acara syukuran
besar_besaran😤
bangunkan sisi gelap
dan tujukan taring mu
SIALANG....
bangun dan buat perhitungan
BINATAN...
anak yg kau kandun mati sia² karna kegoisan mertua gila mu itu
jangan di biarka lolos begitu saja
PENGECUT🤬🤬🤬
iiihhsss emosi kali...
1- minta pengertian istri mu
2-nikahi si lonton itu
3-berakting sebaik mungking selama beberapa bulang...
4-Lumpuh kan mereka seumur hidup
percayalah gk ada lagi yg berani mengamcam😃
tapi kasian
si anggun yg tersiksa secara fisik dan bating
*SU
SETANG IBLIS 😤😤😤