Devina Stefani Germanotta, wanita yang tengah hamil tua berusia 25 tahun berjalan masuk ke dalam rumah setelah memeriksa kandungannya ke rumah sakit Sejahtera Harapan Bunda.
Wanita itu menyeret dirinya ke rumah sakit, karena suaminya tidak punya waktu untuk mengantar dirinya dengan alasan sibuk mengurus perusahan yang sedang berkembang pesat.
Devina berjalan menuju kamar, karena tubuhnya terasa pegal sekali. Dan ia ingin segera mandi, agar tubuh pegalnya bisa kembali segar.
Baru separuh pintu di buka, Devina malah mendengar suara des*h*n seorang wanita tepat di dalam kamarnya. Ketika ia menghidupkan lampu kamarnya, sontak saja matanya menangkap dua orang berlawanan jenis, sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa ia gunakan untuk berhubungan dengan suaminya.
Namun, kini suaminya menggunakan tempat tidur itu untuk bergumul dengan wanita yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, yaitu Vindy Bernadette Claudia.
Tapi... untuk mengetahui lebih lanjut, ikutin terus dong alur cer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15.
Sinopsis–15.
"Nathan, apa yang kamu lakukan!" Bu Siska menegur anaknya, sambil menepuk-nepuk pipi suaminya berharap suaminya akan segera terbangun dari pingsannya.
"Bab—"
PLAK!
Saat Jonathan ingin meminta wanita selingkuhannya untuk memanggil dokter. Verlyn tiba-tiba turun dari ranjangnya, dan langsung menampar pipi kiri Jonathan.
"Bajingan!!" Verlyn menarik kerah baju yang digunakan Jonathan dengan ekspresi marah dan dingin.
"A—"
Break.
"Awas kalian, nanti akan ku balas!!" tutur Verlyn dengan wajah sangarnya menatap tajam keduanya secara bergantian, setelah mendorong keras tubuh Jonathan hingga terjatuh di lantai.
"Suster? Dokter?!" Dengan amarah yang menggebu-gebu, Verlyn sama sekali tak merasa sakit. Verlyn turun dari ranjang dan keluar untuk memanggil tim medis dengan penampilan seperti orang yang tidak pernah sakit.
"Baby, apa yang terjadi dengan Devina?" bisik Vindy pada kekasihnya dengan ekspresi terkejut sambil menatap Devina melangkah keluar dari ruangan.
"Entahlah... Baby, dia seperti orang yang sedang kesurupan?" timpal Jonathan juga berbisik, ketika Devina sudah berlalu pergi keluar.
Sedangkan para tim medis, setelah mendengar teriakan seseorang langsung datang ke arah sumber suara.
"Astaga... Nona Devina, kok sudah keluar kamar?" tanya suster Fina kaget saat melihat pasiennya keluar kamar, tanpa perduli dengan jahitan perutnya yang sedikit mengeluarkan darah.
"Tolong... bapak yang ada di ruang ku sus, dia pingsan sus dia pingsan?!" ucap Verlyn meminta dengan lagak tidak mengenal Tuan Bagas, karna sebelumnya Verlyn memang tidak tahu siapa nama pria paruh baya itu. Apalagi saat ini pria paruh baya itu sedang pingsan di ruangannya.
"Astaga... kenapa, bisa terjadi?" tanya suster pada wanita di hadapannya.
"Gak tahu suster, tiba-tiba dia pingsan begitu saja?" jawab Verlyn dengan ekspresi bingung, karna tidak tahu harus bertindak apa.
"Ya... udah nona duluan saja, saya mau panggil dokter terlebih dahulu?" timpal suster Fina meminta, lalu di balas anggukkan kepala oleh Verlyn kemudian kembali masuk ke dalam ruangan.
Namun di saat Verlyn masuk ruangan, amarahnya kembali meledek sewaktu melihat wajah Jonathan dan sahabat Devina. Tapi karna Verlyn tak ingin membuat keributan, ia terpaksa memendam amarahnya dalam hati.
Pikirnya meskipun ia dulu seorang pelakor juga, tapi melihat kekejaman Jonathan pada istrinya di masa lalu. Verlyn tidak terima dan malah ikut terbawa suasana, semenjak dirinya kini bersemayam di jasad wanita itu. Verlyn menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskan nya secara perlahan-lahan untuk menstabilkan suasana hatinya.
"kamu gak usah kepo dengan urusanku, urus saja dirimu karna kamu tidak jauh berbeda dengan penghianat itu" tegas roh Devina malah berdebat dengan roh Verlyn yang bersemayam di dalam jasadnya.
"Maksudnya?" tanya Verlyn dalam hati sambil memejamkan mata untuk berkomunikasi dengan roh Devina.
"Keluar dari jasadku, aku gak sudi meminjamkan ragaku untuk pelakor seperti kamu! Lebih baik aku mati saja, dari pada harus berbagi raga denganmu?!" sambung roh Devina dengan amarah yang menggebu-gebu, lalu meminta roh Verlyn keluar dari jasadnya.
"Yakin... kamu mengusir ku dari jasadmu Devina, jika aku keluar kamu akan semakin menderita karna lumpuh? Kecelakaan... yang menimpa mu kemarin, tidaklah kecil dan mereka akan semakin membuat hidupmu menderita?" monolog Verlyn dalam hati sambil berkomunikasi dengan roh Devina lagi. Mendengar hal itu, roh Devina seketika terdiam.
"Jangan... marah Devina, gini-gini aku juga masih punya hati nurani?" monolog Verlyn lagi dalam hati, namun kali ini ucapannya tak di tanggapi oleh roh Devina.
"Oke... begini saja, biarkan suamimu yang kejam itu menceraikan mu, dan beri aku waktu 99 hari untuk membalas semua penghianatan mereka? Jangan... sebut nama ku Verlyn, jika aku tidak bisa membuat suamimu bertekuk lutut di hadapanku dan aku bersedia meninggalkan jasadmu?" janji Verlyn pada roh Devina dengan penuh penekanan. Namun kali ini roh Devina sama sekali tak merespon ucapannya.
"Sebaiknya aku mati saja?" Lalu Devina kembali membuka suara, namun suaranya terdengar menyayat hati karna sepertinya wanita itu benar-benar sudah menyerah dengan hidupnya.
"De—Devina?"
"Ambil saja jasadku, dan aku akan pergi?"
Monolog Verlyn sempat memanggil-manggil roh Devina beberapa kali, sebelum akhirnya Devina menyerah dan pergi meninggalkan jasadnya.
Dan ternyata benar sakit, ketika nyawa sudah meninggalkan jasad. Otomatis raga yang di pinjam oleh Verlyn, ambruk seketika saat Verlyn tiba di depan ruangan sambil mengeluarkan setetes air mata dari sudut matanya.
Dan seketika pula Verlyn dan Tuan Bagas langsung di beri pertolongan oleh para tenaga medis setelah melihat tubuhnya ambruk dan tak sadarkan diri.
Bersambung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya dan sebelum lanjut, jangan lupa ya tinggalkan jejak terlebih dahulu supaya author tetap semangat dalam berkarya. Oke 👍👍
See you again thanks for watching 🙏🙏🙏