Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Dibuat Tujuh Tahun Lalu
Nama Mirael masih bercahaya di telapak tangan Aelora.
Huruf-hurufnya tipis, berwarna keemasan, seperti ditulis menggunakan ujung jarum yang sangat panas. Tidak terasa sakit, tetapi setiap kali Aelora mencoba menghapusnya dengan ibu jari, cahaya itu justru semakin terang.
Tidak seorang pun di ruang kerja berbicara.
Lord Vael memandang Kael dengan tatapan penuh perhitungan. Lady Varessa masih berdiri di dekat meja, kedua tangannya bertumpu pada gulungan hukum yang sejak tadi tidak dibuka. Bahkan Ryn, yang biasanya tidak dapat menahan komentar, memilih diam.
Aelora hanya memandang Kael.
“Kenapa Ibu menulis begitu?”
Kael tidak segera menjawab.
“Dia bilang aku tidak boleh membiarkanmu menyerahkanku kepada Surga.”
“Aku membacanya.”
“Berarti kau mengerti maksudnya.”
Kael mengambil sisa segel dari atas nampan, lalu memeriksanya sekali lagi seolah berharap ada kalimat lain yang tersembunyi di balik lilin. Tidak ada.
“Semua orang keluar,” katanya.
Lady Varessa mengangkat kepala. “Yang Mulia, surat itu merupakan bagian dari urusan diplomatik—”
“Keluar.”
Nada suara Kael tidak keras. Namun bayangan di bawah meja bergerak sedikit, cukup untuk membuat ahli rune segera memasukkan peralatannya ke dalam tas.
Lord Merek berdiri dengan bantuan tongkat. Lord Vael menyentuh bahu Ryn dan membawanya menuju pintu. Ryn sempat melihat Aelora, seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi ayahnya tidak memperlambat langkah.
Lady Varessa menjadi orang terakhir yang pergi.
Sebelum pintu ditutup, ia berkata, “Dewan tetap membutuhkan penjelasan mengenai kemungkinan perjanjian dengan Elyrion.”
“Kalian akan mendapat penjelasan yang diperlukan.”
Varessa tampak tidak puas dengan kata diperlukan, tetapi akhirnya keluar.
Kini hanya Aelora, Kael, dan Orin yang tersisa.
Kael memandang kepala pelayannya. “Kau juga.”
Orin tidak langsung bergerak. Tatapannya berpindah kepada Aelora.
“Putri mungkin membutuhkan seseorang.”
“Aku tidak apa-apa,” kata Aelora.
Itu tidak sepenuhnya benar, tetapi ia tidak ingin ada orang lain saat Kael akhirnya menjawab.
Orin membungkuk dan meninggalkan ruangan. Pintu menutup perlahan di belakangnya.
Kael berjalan ke jendela, lalu menarik tirai sampai rapat. Setelah itu ia memeriksa rune di dinding satu per satu dan mengaktifkan penghalang suara.
Aelora memperhatikannya dari dekat meja.
“Kau melakukan banyak hal sebelum menjawab.”
“Aku memastikan tidak ada yang mendengar.”
“Berarti jawabannya buruk.”
“Jawabannya panjang.”
“Yang panjang juga bisa buruk.”
Kael tidak membantah.
Ia mengambil teko dari meja, tetapi ketika menuangkan air, hanya beberapa tetes yang keluar. Teko itu kosong. Kael memandangnya sejenak, seperti baru saja dikhianati oleh benda mati, lalu meletakkannya kembali.
Aelora menarik kursi dan naik ke atasnya.
“Aku siap.”
“Kau seharusnya beristirahat.”
“Kalau kau menyuruhku tidur sekarang, aku akan duduk di depan pintu sampai kau bicara.”
Kael menatap wajahnya dan tampaknya percaya ancaman tersebut.
Ia akhirnya duduk di seberang.
“Tujuh tahun lalu,” katanya, “Mirael datang ke Nocthara menjelang tengah malam. Dia terluka dan membawa seorang bayi.”
“Aku.”
“Ya.”
“Siapa yang melukainya?”
“Penjaga Elyrion.”
Aelora menggenggam Piko lebih erat. “Kenapa malaikat mengejar Ibu?”
“Karena dia membawamu pergi.”
“Dari mana?”
“Dari Gerbang Langit.”
Aelora diam.
Ia pernah mendengar nama itu dalam pelajaran Gereja Fajar. Gerbang Langit disebut sebagai jalan suci yang hanya dapat dilewati jiwa pilihan. Pendeta Mareth menggambarkannya sebagai pintu menuju alam tanpa dosa.
Namun dalam ingatannya tentang masa depan, tempat itu dipenuhi rantai.
“Ibu menculikku?”
“Tidak.” Kael menjawab tanpa ragu. “Kau anaknya.”
“Kalau begitu kenapa dia harus membawaku pergi?”
“Karena Elyrion tidak menganggapmu miliknya.”
Aelora mengerutkan dahi. “Aku tidak mengerti.”
Kael menyandarkan kedua tangan di atas meja.
“Ibumu manusia. Ayahmu seorang malaikat tinggi. Anak dari dua garis darah itu dilarang lahir menurut hukum Elyrion.”
“Jadi Seraphiel benar-benar ayahku?”
Kael memandangnya beberapa saat sebelum mengangguk.
Nama itu terasa lebih berat setelah menjadi nyata.
Aelora mencoba membayangkan wajah seorang ayah, tetapi tidak ada yang muncul. Hanya sayap putih dan darah emas pada bulu yang ditemukan Kael.
“Apakah dia masih hidup?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau mengenalnya?”
“Pernah bertemu sekali.”
“Seperti apa dia?”
Kael berpikir sebentar. “Menyebalkan.”
Aelora menunggu penjelasan yang lebih berguna.
“Dan?”
“Dia terlalu banyak bicara tentang kehormatan untuk seseorang yang melanggar hampir semua hukum alamnya sendiri.”
“Apakah dia jahat?”
“Tidak sesederhana itu.”
Jawaban orang dewasa lagi. Aelora mulai membenci kalimat-kalimat yang tidak benar-benar memilih sisi.
“Apakah dia menyayangi Ibu?”
Kael memandang telapak tangan Aelora yang masih memuat nama Mirael.
“Ya.”
“Kepadaku?”
“Aku tidak tahu.”
Aelora menunduk.
Kael menambahkan, “Dia mempertaruhkan kedudukannya agar kau bisa dilahirkan. Itu bukan tindakan kecil.”
“Tapi dia tidak bersamaku.”
“Tidak.”
Jawaban itu tetap menyakitkan meskipun disampaikan dengan hati-hati.
Aelora mengusap tepi telinga Piko yang baru dijahit. “Lalu apa yang terjadi ketika Ibu datang ke sini?”
“Mirael meminta perlindungan. Pasukan Elyrion sudah mencapai perbatasan Nocthara. Mereka menuntut agar kau diserahkan sebelum fajar.”
“Dan kau menolak?”
“Awalnya.”
Aelora mengangkat wajah.
“Sampai apa?”
Kael berdiri dari kursinya, berjalan menuju lemari, lalu membuka bagian bawah yang dilindungi dua kunci. Dari sana ia mengambil sebuah kotak kayu hitam.
Kotak itu tidak besar. Permukaannya penuh goresan dan salah satu sudutnya hangus. Kael meletakkannya di meja, tetapi tidak langsung membuka penutupnya.
“Pasukan mereka membawa sesuatu yang disebut Cahaya Penghakiman. Kalau dilepaskan, setengah kota Nocthara akan terbakar.”
“Karena aku?”
“Karena mereka tidak ingin garis darahmu diketahui.”
Aelora memandang sekeliling ruang kerja, seolah dapat melihat kota di balik dinding. Tujuh tahun lalu, orang-orang Nocthara hampir mati karena keberadaannya, padahal ia bahkan belum bisa berjalan.
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku membuat perjanjian.”
Kael membuka kotak.
Di dalamnya terdapat lempengan tipis berwarna putih, seperti pecahan kaca. Tulisan emas bergerak di permukaannya. Sebagian huruf sudah retak, tetapi tanda tangan di bagian bawah masih terlihat.
Nama Kael.
Di sebelahnya terdapat simbol enam sayap.
Aelora tidak perlu bertanya lagi apakah itu perjanjian dengan Elyrion.
“Apa isinya?”
“Pasukan mereka mundur. Mirael dan kau mendapat waktu untuk meninggalkan Nocthara.”
“Sebagai gantinya?”
Kael menutup kotak setengah bagian.
“Jika darah malaikat dalam tubuhmu bangun sebelum usia kedelapan, aku harus menyerahkanmu kepada perwakilan Elyrion.”
Ruangan seolah kehilangan udara.
Aelora menatapnya tanpa berkedip.
Sayapnya muncul tadi malam.
Ia belum berusia delapan tahun.
“Maka Ibu mengatakan yang sebenarnya.”
“Ya.”
“Kau memang berjanji menyerahkanku.”
“Aku berjanji agar mereka mundur dari kota.”
“Tapi tetap saja kau berjanji.”
“Benar.”
Aelora turun dari kursi.
Ia tidak tahu hendak ke mana. Ia hanya tidak ingin duduk begitu dekat dengan Kael.
“Apakah itu sebabnya kau mengambilku dari hutan? Karena tandaku bangun dan kau harus mengirimku kepada mereka?”
“Tidak.”
“Bagaimana aku tahu?”
“Karena kalau itu tujuanku, aku sudah membuka gerbang pemanggilan kemarin malam.”
“Mungkin kau sedang menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Dewan setuju. Atau para malaikat datang. Atau aku sembuh supaya lebih mudah dibawa.”
Kael berdiri. “Aelora.”
“Jangan mendekat.”
Ia berhenti.
Aelora merasakan panas di wajahnya. Ia membenci dirinya sendiri karena hampir menangis. Ia sudah mendengar jauh lebih buruk dari orang-orang Asteria tanpa meneteskan air mata. Namun mendengar Kael pernah berjanji menyerahkannya terasa berbeda.
Karena selama beberapa hari terakhir, ia mulai percaya bahwa Kael benar-benar memilihnya.
“Waktu aku bertanya kenapa kau membiarkanku tinggal, kau bilang karena aku butuh tempat tinggal.”
“Itu benar.”
“Kau memberiku nama.”
“Juga benar.”
“Lalu kenapa kau tidak pernah memberitahuku soal perjanjian ini?”
“Karena kau baru tujuh tahun, terluka, demam, dan dikejar pembunuh.”
“Itu selalu alasanmu.”
“Karena keadaanmu memang selalu seperti itu sejak datang!”
Suara Kael naik sedikit.
Aelora terdiam.
Kael memejamkan mata dan menurunkan suaranya lagi.
“Aku seharusnya memberitahumu sebelum kau mengetahuinya dari surat Mirael.”
“Tapi kau tidak melakukannya.”
“Tidak.”
“Apa kau masih terikat dengan janji itu?”
Kael memandang lempengan putih di dalam kotak.
“Secara hukum sihir, ya.”
“Jadi mereka bisa memaksamu?”
“Mereka bisa mencoba.”
“Itu bukan jawaban.”
Kael mengambil lempengan perjanjian tersebut.
Cahaya emas langsung merambat ke tangannya, membakar kulit di antara jari-jari. Bau kain hangus memenuhi ruangan, tetapi ia tidak melepaskannya.
“Aku terikat pada kalimat perjanjian,” katanya. “Bukan pada kehendak mereka.”
“Apa bedanya?”
“Perjanjian menyebut aku harus menyerahkanmu kepada perwakilan sah Elyrion.”
Aelora menunggu.
Kael menatapnya lurus-lurus.
“Aku tidak mengakui siapa pun yang datang untuk membunuh atau memenjarakanmu sebagai perwakilan yang sah.”
Cahaya pada lempengan semakin terang. Luka tipis muncul di telapak tangan Kael.
Ia tetap menggenggamnya.
“Dan setelah kau menerima nama Vesperion, kau bukan lagi anak tanpa perlindungan yang dapat mereka tuntut sesuka hati. Kau bagian dari rumah kerajaan Nocthara.”
“Apakah itu sebabnya kau memberiku nama?”
Pertanyaan tersebut membuat Kael terdiam.
Aelora merasakan dadanya kembali mengeras. “Supaya kau bisa melawan perjanjian?”
“Itu salah satu alasannya.”
“Salah satu.”
“Bukan satu-satunya.”
“Apa alasan lainnya?”
Kael meletakkan lempengan kembali ke dalam kotak. Kulit telapak tangannya memerah, tetapi luka itu mulai tertutup oleh bayangan.
“Aku sudah mencarimu selama tujuh tahun.”
“Karena janji kepada Ibu?”
“Awalnya.”
“Lalu?”
Kael mengusap dahinya. Ia tampak lebih tidak nyaman menjawab pertanyaan itu daripada menghadapi Dewan Bulan.
“Lalu aku menemukanmu.”
Aelora menunggu lagi.
Kael menghela napas.
“Kau kecil, kurus, demam, dan mencoba menyerang serigala bayangan menggunakan ranting.”
“Itu ranting yang kuat.”
“Rantingnya patah bahkan sebelum mengenai apa pun.”
“Itu bukan salahku.”
“Kau juga terus memeluk boneka yang jelas-jelas berhantu.”
“Piko tidak berhantu.”
Boneka itu mengeluarkan suara kecil.
Kael meliriknya. “Tentu.”
Aelora hampir tersenyum, tetapi mengingat bahwa dirinya masih marah.
Kael kembali menatapnya.
“Aku membawamu ke istana karena tidak ada tempat lain yang cukup aman. Aku memberimu nama karena aku tidak ingin siapa pun bisa mengambilmu hanya dengan menunjukkan surat atau lambang suci.”
“Termasuk Elyrion?”
“Terutama Elyrion.”
Aelora melihat wajahnya, mencari tanda kebohongan.
Kael tidak menghindari tatapannya.
“Kalau mereka datang besok dan mengancam membakar kota lagi, apa yang akan kau lakukan?”
Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi.
Kael tidak memberi jawaban cepat. Aelora justru menghargai itu. Jawaban cepat akan terdengar seperti sesuatu yang dibuat hanya untuk menenangkannya.
“Aku akan mengevakuasi kota,” katanya. “Menutup gerbang. Mengirim pasukan ke perbatasan. Lalu mencari cara mematahkan Cahaya Penghakiman.”
“Kalau tidak ada cara?”
“Aku akan membuatnya.”
“Kalau tetap gagal?”
Kael berjalan mendekat satu langkah. Kali ini Aelora tidak menyuruhnya berhenti.
“Aku pernah memilih keselamatan kota dengan mengorbankan hak Mirael menentukan nasib anaknya,” katanya. “Aku tidak akan membuat pilihan yang sama dua kali.”
Aelora menatap telapak tangannya sendiri.
Nama Mirael mulai memudar, tetapi belum hilang.
“Apakah Ibu membencimu?”
“Mungkin.”
“Karena perjanjian itu?”
“Karena aku tidak langsung membunuh semua utusan Elyrion.”
“Itu memang terdengar seperti sesuatu yang akan kaulakukan.”
“Aku masih mempertimbangkannya.”
Aelora menarik kursi kembali dan duduk. Kakinya mendadak terasa lemas.
Kael tidak kembali ke tempat semula. Ia duduk di lantai dekat meja, menjaga jarak agar wajah mereka hampir sejajar.
Aelora memandangnya heran.
“Apa?”
“Kursi ada di sana.”
“Aku tahu.”
“Raja tidak duduk di lantai.”
“Raja sedang lelah.”
Aelora memikirkan semua yang baru didengarnya. Masih ada terlalu banyak bagian yang tidak cocok.
“Kalau Ibu tahu tentang perjanjian, kenapa dia meninggalkan Nocthara?”
“Dia takut aku akhirnya dipaksa menepatinya.”
“Jadi dia membawaku ke Asteria?”
“Tidak langsung. Selama hampir satu tahun, Mirael terus berpindah tempat. Setelah itu jejak kalian hilang.”
“Aku tidak ingat pernah hidup bersamanya.”
“Kau masih bayi.”
“Tapi aku seharusnya mengingat sesuatu.”
Kael melihat Piko. “Mungkin sebagian ingatanmu disegel.”
“Oleh siapa?”
“Itu yang sedang kucari.”
Aelora menyentuh gelang perak di pergelangan tangannya. “Maura bilang seseorang mengambilku dari istana.”
Kael mengangkat kepala. “Maura bicara kepadamu?”
“Dia bilang aku pernah tinggal di sini sebelum mereka mengambilku.”
“Kapan?”
“Tadi, sebelum Ryn mematikan lampu.”
“Apa lagi yang dikatakannya?”
“Belum sempat banyak. Dia takut pada seseorang.”
Kael berdiri dengan cepat.
“Di mana Maura sekarang?”
“Aku tidak tahu. Dia pergi ke lorong pelayan.”
Kael berjalan menuju pintu, lalu berhenti dan melihat Aelora.
“Tetap di sini.”
“Aku ikut.”
“Tidak.”
“Dia bicara kepadaku. Mungkin dia hanya mau menjawab kalau aku ada.”
“Aelora—”
“Kalau kau meninggalkanku di sini, aku akan mengikuti diam-diam.”
Kael memandangnya cukup lama untuk memastikan itu bukan ancaman kosong.
“Pakai sepatu.”
Mereka menemukan Orin di luar ruang kerja.
Begitu mendengar nama Maura, wajah kepala pelayan berubah.
“Saya tidak melihatnya kembali ke ruang tenun.”
“Cari di kamar pelayan,” perintah Kael. “Tutup pintu keluar sayap barat. Jangan buat keributan.”
Orin segera memanggil dua penjaga. Aelora berjalan di samping Kael melewati tangga belakang menuju tempat terakhir ia bertemu Maura.
Ruang penyimpanan kain sudah sepi. Alat tenun perempuan tua itu masih berada di sudut. Benang hitam menggantung dari rangkanya, belum dipotong.
Di lantai terdapat satu potong kain putih.
Aelora memungutnya.
“Aku melihat ini tadi,” katanya. “Maura sedang menenun kain hitam, bukan putih.”
Kael mengambil kain itu. Pada salah satu sisinya terdapat noda kecil berwarna emas.
Darah malaikat.
Bayangan di bawah kakinya langsung menyebar, memeriksa seluruh ruangan. Bayangan itu masuk ke bawah meja, rak, dan pintu samping. Ketika mencapai dinding dekat lemari linen, bentuknya berhenti.
Kael mengetuk batu di sana.
Bunyinya kosong.
Ia mendorong lemari ke samping. Di belakangnya terdapat pintu sempit tanpa gagang. Sebuah lambang bunga Arvand terukir pada batu.
Aelora mendekat.
“Ini sama dengan segel Ibu.”
Kael mencoba membuka pintu menggunakan bayangan, tetapi ukiran tersebut mengeluarkan cahaya putih dan menolaknya.
Aelora mengangkat telapak tangannya.
Nama Mirael yang hampir hilang menyala kembali.
“Jangan sentuh,” kata Kael.
Namun sudah terlambat.
Begitu tangan Aelora menyentuh ukiran bunga, pintu terbuka ke dalam.
Udara dingin keluar dari lorong gelap. Baunya lembap dan penuh debu, tetapi di antara semua itu Aelora mencium aroma bunga yang samar.
Aroma yang sama dengan gelangnya.
Di lantai lorong terlihat bekas sesuatu diseret. Garis tersebut masih baru dan mengarah ke bawah.
Kael membentuk cahaya ungu di telapak tangan.
“Kau tetap di belakangku.”
Mereka masuk.
Tangga batu turun cukup curam. Aelora harus memegang dinding agar tidak terpeleset. Kael berjalan pelan menyesuaikan langkahnya, meski jelas ingin bergerak lebih cepat.
Setelah dua puluh anak tangga, mereka mencapai ruang kecil.
Maura terbaring di lantai.
Kedua tangannya terikat menggunakan benang emas. Mulutnya ditutup kain, dan di lehernya terdapat lambang matahari yang masih menyala.
Aelora berlari mendekat.
“Maura!”
Perempuan tua itu membuka mata. Ia masih hidup, tetapi napasnya pendek.
Kael memutus benang emas dengan bayangan dan melepaskan penutup mulutnya.
“Siapa yang melakukan ini?” tanyanya.
Maura batuk beberapa kali. “Dia tahu Putri menemukan saya.”
“Siapa?”
Maura mencoba duduk. Aelora menopang punggungnya.
“Orang yang membawa Putri keluar dari istana tujuh tahun lalu.”
“Namanya,” kata Kael.
Maura memandangnya dengan mata penuh ketakutan.
“Dia tidak pernah pergi, Yang Mulia.”
Langkah kaki terdengar dari tangga.
Kael berdiri dan menempatkan tubuhnya di depan Aelora. Bayangannya berubah menjadi bilah panjang.
Seseorang turun perlahan dari kegelapan.
Orin muncul membawa lampu rune.
Ia berhenti ketika melihat Maura di lantai.
“Yang Mulia,” katanya. “Saya menemukan pintu terbuka.”
Maura menjerit.
Tubuhnya berusaha mundur meskipun punggungnya sudah menempel pada dinding.
“Jangan biarkan dia mendekat!”
Aelora memandang Orin.
Kepala pelayan itu berdiri diam di bawah cahaya ungu. Wajahnya tetap tenang, tetapi tangan yang memegang lampu perlahan mengencang.
Kael mengangkat bilah bayangannya.
“Orin,” katanya, “letakkan lampunya.”
Orin tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya sejak Aelora datang ke istana, senyum sopan di wajah kepala pelayan itu menghilang sepenuhnya.