Rahwana Bataragunadi, menyamar menjadi Office Boy di kantornya sendiri untuk menguak berbagai penyimpangan yang terjadi.
Pemuda itu mengalami banyak hal, dari mulai kasus korupsi, sampai yang berhubungan dengan hal-hal gaib.
Dalam perjalanannya, ia ditemani entitas misterius yang bernama Sita. Wanita astral yang sulit dikendalikan oleh Rahwana itu selalu membantunya di saat butuh bantuan.
Masalahnya, Rahwana tahu Sita bukan manusia. Tapi semakin hari ia malah semakin jatuh cinta pada Sita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catatan 14 : Pak Rey
Dengan keadaan kesal, Rahwana kembali ke kantor.
“Rujak gue?” tanya Ahmad menagih.
Gara-gara khodam.“Lupa,” gumam Rahwana. Lalu ia berbalik berniat ke tukang rujak sebelah gedung untuk membelikan Ahmad Rujak. Tapi kemudian ia mengernyit, benarkah itu pekerjaan seorang Office Boy? Membelikan karyawan senior rujak? Mana duitnya belum dikasih pula.
Belum ketemu jawabannya, “Iwan, printernya rusak,” seorang wanita dari kubikel paling ujung. Sekali lagi Rahwana berpikir, apa membetulkan printer juga tugas Offce Boy? Kantor bukannya punya vendor untuk servis mesin?!
“Wan, sekalian anterin surat ke lantai 9,” kata Pak Endang.
“Wan, ke bagian umum ya, gue minta ATK,”
“Wan, tolong nanti siang tungguin paket saya sama Junet di lobi, langsung dipasang di ruangan saya, ya,” kata Kadiv Legal.
“Hah? Paket apa Bu?!”
“Saya beli parquete buat lantai biar lebih estetik,”
Dan kalimat lanjutannya yang paling menyebalkan, “Nanti sekalian kamu pasangin ya,”
Rahwan mencebik, tapi “Baik bu,” ia mengalah.
Dalam hatinya ia mengomel, memangnya boleh seenaknya mendekor ruangan kantor?!
Dan request yang paling mengalahkan semua permintaan orang-orang adalah, “Wan, bisa temenin saya ke gedung sebelah, ya,” kata pak Rey.
Disertai tatapan semua orang di ruangan itu.
Pak Rey hanya menyeringai, namun tatapannya penuh permohonan.
“Habis beli rujak?” tawar Rahwana.
“Biar Ahmad beli sendiri, dia kan punya kaki,” gerutu Pak Rey. Terdengar Ahmad mendengus mengeluh. Gagal sudah niat karyawan untuk menyuruh-nyuruh Iwan Gunadi.
Dan selamatlah Rahwana dari semua tugas recehan.
*
*
“Pak, bukan saya,” gumam Pak Rey muram saat mereka berdua berkendara menuju Gedung Garnet Property. Pak Rey khusus menyetir mobilnya sendiri tanpa driver kantor, karena ingin berbicara dengan lebih pribadi ke atasannya, Rahwana Bataragunadi.
“Minta Mas Trevor untuk mutasi kamu ke...”
“Ini jatuhnya sudah fitnah, Pak,” potong Pak Rey.
“Pak Rey, anak kamu sakit sudah berapa lama?”
Pak Rey tertegun.
“Darimana bapak tahu?”Ia tegang.
“Saya mengetahui sesuatu yang kamu sembunyikan rapat-rapat dari orang lain, jadi percaya saja dengan saya,”
Terlihat kalau Pak Rey sangat gusar. Mungkin ia tak mengira kalau Rahwana tahu perihal keluarganya yang ia sembunyikan dari orang lain. “Bekerja di Garnet Land saya akui lumayan sulit, jadi saya merahasiakan semuanya agar mereka tidak terancam,”
“Karena itu kamu menyembunyikan mengenai identitas kamu, kamu tidak mengaku kalau telah berkeluarga, juga kemana-mana selalu sendiri,”
“Saya juga tidak bisa berhenti bekerja, gaji di sini terkadang besarnya tidak masuk akal, kalau owner suka dengan kinerja saya,”
Rahwana masih duduk dengan tenang menatap ke arah depan, “Anak kamu bukan terkena leukimia,”
“Diagnosanya Leukimia Pak,” suara Pak Rey terdengar gemetar
“Mereka membuatnya mirip seperti itu,”
“Mereka siapa?”
“Kamu tahu siapa,”
“Kalau bisa saya tangkap dengan tangan saya, akan saya balas orang-orang yang menyakiti istri dan anak saya,”
“Kalau saja semudah itu, masalahnya tidak bisa ditangkap oleh manusia biasa,” gumam Rahwana pelan dan hati-hati. Ia tahu saat ini mereka juga sedang diamati. Namun Rahwana tidak bisa mendeteksi siapa atau apa. Pemuda itu hanya bisa merasakan adanya suatu energi yang panas dari arah kursi belakang.
Pak Rey menghela napas, lalu melemaskan bahunya, “Siapa pun tahu kalau bekerja dengan Pak Sebastian, pasti ada hal-hal yang diluar batas kemanusiaan. Apalagi dengan jabatan setinggi saya. Namun saya juga manusia, saya bisa jatuh cinta, saya mendambakan memiliki keluarga kecil,”
“Tapi kamu tidak bisa menolak profit yang masuk ke tabungan kamu,” tambah Rahwana.
“Tapi kalau hal itu mengancam keselamatan anak saya-”
“Anak-anak kamu,” sambung Rahwana.
Pak Rey terdiam, ia menggenggam setir mobilnya dengan kencang. Tampak kalau ia sedang menahan kesabarannya.
“Dari mana Bapak tahu semua itu? Apa ada yang memata-matai saya selama ini?”
“Ada, tapi bukan manusia. Mereka cenderung protektif terhadap saya, jadi siapa pun yang ada di dekat saya mereka amati,”
“Termasuk keluarga saya?!”
“Terutama keluarga kamu, karena kamu berpotensi menjadi rival berat saya. Dan lagi sejak kapan kamu diikuti oleh entitas berbahaya?”
“Saya baru tahu sekarang, Pak. Saya pikir posisi saya sudah aman karena mengaku single,”
“Makanya saya harap kamu mempertimbangkan usul saya supaya dimutasi saja,”
“Saya terikat kontrak, minta dimutasi hanya akan menodai kredibilitas saya,”
“Keloyalan kamu terhadap Papa saya tidak lebih berharga dari pada keluarga kamu,”
“Anda tidak mengerti,”
“Bahkan Papa saya yang kamu bangga-banggakan saja lebih mendahulukan saya dan Mama dibanding perusahaannya yang sudah puluhan tahun ia bangun,”
Pak Rey terdiam.
“Saya butuh uangnya untuk penyakit anak saya,”
“Ironis, padahal penyakit anak kamu diakibatkan karena kamu bekerja di Garnet Land, Bukankah lebih baik dimutasi saja,”
Pak Rey meminggirkan mobilnya dan meubahnya ke mode parkir.
Lalu dengan wajah penuh tekad, ia menatap Rahwana.
“Pak,” ia mengawali kalimat yang akan selalu diingat oleh Rahwana seumur hidup, dengan wajah tegang. Tampak matanya berkilat penuh dendam dan rasa sakit yang tertahan. “Loyalitas adalah janji kebenaran untuk diri sendiri dan orang lain. Inti dari kesetiaan bukanlah untuk berubah, melainkan untuk tetap bersama mereka yang tetap bersama kita. Dalam hal ini, Kehormatan saya adalah kesetiaan saya,”
“Walau pun kesetiaan kamu akan mengorbankan keluarga kamu?”
Pak Rey menyeringai, “Saya yakin Pak Rahwana bisa mengusahakan hal itu supaya stabil. Karena itu Pak Yan mengurus Pak Rahwana ke sini kan? Untuk membuat saya lebih setia lagi dengan perusahaan?!”
Rahwana mendengus, namun bibirnya menyunggingkan senyum masam, “Asem...” cibirnya. Ia mengakui kalau Pak Rey benar.
Untuk itu lah ia ada di sini.
Memastikan agar orang-orang yang loyal pada Ayahnya, Yang Mulia Sebastian Bataragunadi, tidak berpaling dan tetap setia sampai mati kalau perlu.
Tentunya, dengan iming-iming bonus akhir tahun yang besar.
Lalu Pak Rey menjalankan kembali mobilnya ke arah gedung Garnet Propert, yang dari kejauhan saja sudah mereka lihat puncak menaranya.
*
*
“Wah, ada apa nih bareng-bareng kemari?!” Pak Arman menyambut Rahwana dan Pak Rey dengan wajah angkuhnya sambil bersandar di konter sekretaris di depan lobby. Tampaknya kedatangan mereka sudah terlihat sejak mobil mereka mengarah ke arah Gedung Garnet Property dalam radius 100 meter, jadi Kepala Divisi Corporate Secretary itu bisa turun dari lantai 50 dan menyambut mereka berdua di sana.
“Eh, kamu lebih cocok pakai seragam itu dibanding Alex,” candanya ke Rahwana.
“Kayaknya budaya menata-matai kinerja karyawan dengan menyamar menjadi OB akan jadi tradisi dinasti ini mulai sekarang ya,” cibis Rahwana.
(Yang dimaksud dengan 'Alex' di sini adalah Alexander Lucas Beaufort, tokoh Protagonis Utama di Novel Septira Wihartanti, berjudul 'Limerance'. Tema novelnya sama, Direktur yang menyamar menjadi OB, tapi lebih mengarah ke drama, bukan horor.)
“Ah, kamu sarkas aja deh. Kalau saya yang jadi manajemen sih, nggak perlu menyamar untuk bisa mengusut kecurangan, ” Pak Arman merapikan kerah baju Rahwana dan membersihkan bahu pemuda itu dari debu.
“Jadi?”
“Todongin pistol aja ke jidat si terduga, nanti juga bicara sendiri,” Arman menyeringai sinis sambil mengarahkan kedua jarinya ke dahi Rahwana.
“Oke, kalau ini tak berhasil, Om Arman yang maju,” sahut Rahwana tak mau kalah.
Lalu pria tampan berwajah Asia itu kehilangan senyumnya saat melihat keadaan Rahwana, “Kenapa luka-luka begini? Dan kenapa ada noda darah di sini?” tanya Pak Arman.
Matanya memang jeli.
“Terlalu banyak menghabiskan energi,”
“Kerjaan Bu Gandhes, pasti ya,”
“Begitulah,”
“Sabar ya,”
“Udah sabar sejak 10 tahun yang lalu, Om,”
Tampak, Pak Arman mengernyit prihatin, “Kamu harus sebisa mungkin menghindari hal-hal yang berhubungan dengan dimensi lain, otak kamu bisa overthinking,”
“Mas Trevor ada, Om?” tanya Rahwana akhirnya, untuk mengaluhkan perhatian. Ia tak ingin di-cereweti- Pak Arman di saat-saat ia letih. Yang ada darahnya semakin mendidih.
“Ada, di cafe lagi makan siang sama Mama kamu,”
Rahwana menghentikan langkahnya, “Mama... di sini?”
“Iya, dia kan Komisaris Independent di sini, rasanya wajar saja kalau sesekali kunjungan,”
Rahwana melirik Pak Rey, yang saat ini sedang menggaruk rambutnya tanda sama kebingungannya, “Om, Yang ingin kami bicarakan lumayan private,”
Pak Arman merangkul pundak Rahwana dan menggiringnya ke lift Direksi, “Percayalah, kalau terjadi sesuatu sama kamu, yang harus pertama kali tahu adalah Mama kamu sendiri,”
“Iya tapi kan Mama jadinya akan kuatir,” keluh Rahwana.
*
*