Andika Saputra seorang pemuda yang baru memasuki dunia kerja di ibu kota. Dia seorang arsitek, bekerja di perusahaan kontraktor "Satria Group" yang cukup punya nama di ibu kota. Kinerjanya sangat bagus dan kejujurannya menjadi perhatian manajemen perusahaan termasuk Gunawan Presdir perusahaan tersebut. Hingga Gunawan sangat menginginkan Andika menjadi menantunya, suami untuk Karina anak semata wayangnya.
Ujian demi ujian kehidupan dilalui oleh Andika, dari mulai kepergian ibunya utk selamanya, perjuangan meraih karirnya, termasuk perjuangan cintanya.
Akankah Andika berjodoh dengan Karina?
ataukah ada wanita lain yang dicintainya?
Temukan jawabannya.....!
Selamat membaca.
Salam
Umi Haifa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Haifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Marsya
Suasana kantor di Menara Satria Group pagi ini seperti biasa terlihat sibuk. Setiap karyawan melakukan aktifitas pekerjaannya di ruangan masing-masing. Begitu pun di ruangan Marsya , terlihat Marsya sedang di depan monitor komputernya dan memainkan mouse melihat beberapa desain interior yang sedang ia rancang. Sudah lebih dari satu jam ia memperhatikan gambar di layar monitor namun masih belum ada perubahan atau penambahan hasil desainnya. Marsya memang sedang berada di depan layar monitor tapi tidak dengan hati dan pikirannya.
Mungkin penampilanku yang membuat Andika lebih memilih wanita lain, aku bukan tipe wanita yang disukai Andika, tapi kan penampilan bisa dirubah, aku mau kok berubah sesuai keinginan Andika, sekarang saja aku sudah berubah, gak pernah pakai rok pendek, pakaianku lebih sopan walaupun belum bisa pakai jilbab, semua ini demi kamu Andika......Kalaupun harus pakai jilbab aku mau yang penting kamu suka sama aku. Tapi kenapa kamu sudah lebih dulu memilih yang lain? Batin Marsya
Ya ....sejak Marsya menyukai Andika dan mulai mengetahui karakter Andika seperti apa, Marsya sedikit demi sedikit merubah penampilannya, ia tidak pernah lagi menggunakan rok pendek atau baju yang terlihat lebih sexy, karena Marsya tahu Andika tidak menyukainya. Marsya juga mulai sering makan siang bareng di kantin, masuk ke ruangan kerja Andika untuk sekedar ngobrol sebentar walaupun bareng Erick juga. Ya...dimana ada Andika di situ ada Erick, mereka berdua memang rekan kerja yang klop. Masrya selalu berusaha mencari kesempatan supaya bisa dekat dengan Andika.
Dan dua hari yang lalu Marsya mendapat kabar kalau Andika dekat dengan Riska. Gosip Andika dekat dengan Riska memang sudah menyebar ke semua divisi, maklum karena Andika memang sering jadi perbincangan terutama perbincangan karyawan wanita di perusahaan ini.
Sejak mendengar berita ini Marsya jadi tidak bersemangat, tapi ia juga penasaran dengan kebenaran berita ini. Ia ingin bertanya langsung kepada Andika namun belum sempat ketemu karena dua hari kemarin termasuk hari ini Andika bertugas di lapangan.
Aku gak bisa seperti ini terus, jadi gak konsentrasi . Sore ini harus ketemu Andika dan menanyakannya langsung. Pikir Marsya
Marsya mengambil HP di atas meja kerjanya dan langsung menulis pesan, dengan jantung yang berdebar-debar, ia mencoba menarik nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Memberanikan diri mengajak ketemuan dengan Andika membutuhkan keberanian ekstra. Ia pun melajutkan menulis pesannya.
" Andika selesai jam kantor kita ketemuan yah, ada hal penting yang harus dibicarakan, saya tunggu di cafe XX."
" Gak usah ngajak Erick."
" Kutunggu yah."
Pesan pun terkirim.
Yah minimal dengan bertanya langsung kepada Andika ia berharap masih punya harapan kalau berita kedekatan Andika dengan Riska hanya gosip belaka. Dan Marsya masih punya harapan bisa dekat dengan Andika dan bisa menjalin hubungan yang serius.
Setelah mengirim pesan, Marsya mencoba berkonsentrasi dengan pekerjaannya, Marsya tahu kalau Andika tidak akan langsung membaca pesannya karena sedang sibuk di lapangan proyek.
Sementara di proyek perumahan Andika sedang meeting dengan tim lapangan. Meeting pun selesai pas jam istirahat. Andika meminta staf kantor untuk memesan makan siang. Kebiasaan Andika mentraktir makan siang pegawai walau hanya sebungkus nasi padang, itu cukup membuat para pegawai senang. Sambil menunggu makan siang Andika sholat dhuhur di kantor tersebut karena jarak ke masjid lumayan jauh.
Setelah selesai sholat Andika membuka HPnya dan membuka pesan dari Marsya.
Tumben Marsya ngajak ketemuan, mungkin mau nanya-nanya Erick, atau jangan-jangan Erick sudah mengungkapkan perasaannya dan Marsya mau minta pendapat. Batin Andika.
Sebenarnya Andika merasa berat untuk datang memenuhi ajakan Marsya, ia merasa tidak nyaman harus berduaan dengan seorang perempuan walaupun di tempat umum, tapi Andika berfikir kalau Marsya membutuhkan pendapatnya mengenai Erick karena saat ini Andikalah yang dekat dengan Erick.
Andika segera membalas pesan Marsya.
"Ok, mudah-mudahan urusan proyek bisa selesai cepat."
Jam 5 sore Andika sudah kembali berada di kantornya, dia berbicara sebentar dengan Erick melaporkan kondisi perkembangan proyek, kemudian pamit ijin pulang kerja ontime.
"Tumben Lu pulang ontime."
"Mau ada perlu Bang." Andika ingat pesan Marsya kalau Ia jangan mengajak Erick.
Sepertinya Marsya akan membahas hubungannnya dengan Erick. Pikir Andika
Di cafe XX tidak jauh dari Menara Satria Group, Marsya sudah duduk sedang menikmati vanila late sambil membuka HPnya, ia memilih tempat yang tidak terlalu ramai ,sesekali ia melihat ke pintu dan memperhatikan pengunjung yang datang.
Akhirnya Marsya melihat yang ditunggu-tunggunya datang, ia melambaikan tangan ke arah Andika. Marsya kelihatan sangat senang dengan kedatangan Andika.
"Maaf telat yah, baru nyampe kantor jam 5." kata Andika
" Iya gak apa-apa. Mau minum apa? " Tanya Marsya sambil melambaikan tangannya ke arah waitress.
" Cappucino aja." jawab Andika
" Mba tambah cappucino satu yah." Marsya langsung memesankan pesanan Andika
" Baik, mohon ditunggu yah." waitress itu meninggalkan Andika dan Masrsya
"Marsya tumben nih ngundang sy ke sini, gak boleh ngajak bang Erick lagi." Andika memulai percakapan mereka
" Emang sengaja pengen ngobrol berdua sama kamu Andika."
" Wah mau curhat yah, atau mau lebih tau tentang bang Erick, atau jangan - jangan bang Erick udah melamar kamu, kamu belum yakin nerima lamarannya." Kata Andika sambil tertawa.
Hey kenapa kamu bawa-bawa nama Erick....justru aku pengen bahas perasaanku padamu. Batin Marsya
"Bukan...bukan tentang Erick."
Andika mengernyitkan dahinya.
" Kamu lagi ada masalah?" tanya Andika
" Nggak....ada yang mau kutanyakan tentang kamu."
"Saya?"
Ada apa dengan saya. Batin Andika
"Kamu lagi deket sama Riska yah? kamu jadian sama Riska?"
Andika kaget dengan pertanyaan Marsya, kenapa sampai terpikir dia jadian sama Riska.
" Saya gak ada hubungan apa-apa sama Riska, kami berteman baik, kenapa kamu berfikir seperti itu?"
Jawaban Andika membuat Marsya tersenyum dan hatinya merasa plong. Ternyata berita itu hanya gosip belaka.
" Dua hari yang lalu di kantor ramai bicarain kamu, katanya kamu jadian sama Riska, kamu sering berduaan sama Riska."
Oohh....ini pasti temen-temen Riska bikin gosip gara-gara makan siang bareng itu. Pikir Andika
" Masa? kok saya gak denger beritanya?" tanya Andika
" Ya iyalah kamu kan tugas lapangan terus, bener kan gosipnya?" Marsya mencoba memastikan lagi.
" Saya gak ada apa-apa sama Riska, saya pernah beberapa kali ngobrol sama dia, ngobrolin umroh, kebetulan saya daftarin ibu saya umroh lewat kakaknya Riska, dan kemarin kami makan siang di ruangan Riska, dan temen-temen seruangan Riska melihat kami, akhirnya ada gosip ini deh" jawab Andika. Andika sendiri merasa aneh dengan orang-orang yang dengan mudah menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya.
Marsya percaya Andika bicara yang sejujurnya, ini membuat dia tambah senang sampai timbul kekuatan dia untuk mengungkapkan perasaannya kepada Andika.
"Jadi kamu ngundang saya ke sini hanya untuk menanyakan gosip ini? Kirain kamu mau minta pendapat tentang Bang Erick." goda Andika
Entah kenapa Marsya tidak suka Andika menyebut nama Erick. Niatnya untuk mengungkapkan perasaannya semakin kuat. inilah saatnya yang tepat, kapan lagi bisa punya kesempatan berdua dengan Andika. Pikir Marsya. Tapi saat ini jantungnya berdetak semakin kencang, mulutnya terasa kaku untuk mengeluarkan kata-kata.
" Andika......eueueu...ada yang mau aku sampaikan." Bibir Marsya tampak bergetar, wajahnya tampak tegang.
Andika melihat ke arah Marsya dan melihat perubahan wajah Marsya yang tampak tegang.
"Kamu kalau ada masalah cerita saja, siapa tau saya bisa bantu." ucap Andika
Ah Andika kamu betul-betul tidak peka, tidak bisa membaca perasaanku, ...aku tau kamu tidak menyukaiku, tapi aku tetap akan mengungkapkan perasaanku. Batin Marsya
" Andika....sebenarnya aku menyukaimu." Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Masya.
"Perasaan ini aku pendam sejak aku mengenalmu, sejak pertama bertemu kamu aku lihat kamu sangat berbeda dengan laki-laki lain yang kukenal dan semakin mengenalmu aku semakin jatuh cinta sama kamu." Marsya semakin lancar mengungkapkan perasaannya, dia mulai bisa mengendalikan dirinya. Dia sudah siap apapun nanti dengan jawaban Andika, yang penting kini dia merasa hatinya plong.
bersambung
terimakasih