anindira yang baru Wisuda terpaksa harus menikah dengan Dimas dan merawat anaknya yang baru lahir demi keinginan terakhir sang kakak yang meninggal setelah melahirkan anak pertamanya.
dilain sisi Anindira menyayangi kakaknya karen sejak kecil mereka sering bersama karena kedua orang tua mereka yang sibuk bekerja, namun disisi lain Dimas terpaksa menikahi Anin Adik iparnya karena keinginan terakhir alm istrinya
lalu bagaimana kisah mereka? bagaimana mereka menjalani rumah tangga atas dasar "turun ranjang" ? akankah Anindira bisa menggantikan posisi kakaknya di hati Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsihe98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Dimas terdiam di meja kerjanya sambil menatap foto pernikahannya dengan Kirana yang tepajang di sana, ia masih belum bisa melupakan istri pertamanya yang melahirkan anaknya. disebelahnya ada foto pernikahannya bersama Anindira yang baru selesai ia bingkai beberapa hari lalu.
Dimas teringat saat pertama kali ini bertemu dengan wanita itu yang ternyata adalah karyawannya, bahkan dengan sabar Kirana mau menerima Dimas dan menunggunya sampai benar-benar mencintainya dan terbukti Dimas luluh dengan Kirana, namun Tuhan berkata lain, Kirana meninggalkannya lebih dulu.
Dimas memijit pelepis matanya, ia menyandarkan badannya di kursi, baru saja ia selesai rapat dan banyak permasalahan yang harus ia hadapi di kantornya, masalah kerjasamanya yang tiba-tiba batal dengan perusahaan asing juga membuatnya merasa pusing, padahal kerjasamanya saat itu sudah diresmikan namun tiba-tiba saja mendapat kabar pembatalan, Dimas merasa merugi pada kerjasamanya kali ini.
*toktoktok*
"Masuk." ucap Dimas.
"Maaf pak, ini data yang anda minta, dan ini hasil laporan dari rapat sebelumnya," ucap sekretaris Dimas.
"Terimakasih." ucap Dimas.
"Maaf pak, saya juga ingin memberitahu anda apa tidak sebaiknya anda cek kamera cctv,"
"Ada apa memang?" tanya Dimas heran.
"Tidak saya hanya curiga saja pak, karena ada laporan dari satpam ada yang diam-diam menyelinap keruangan anda saat anda pergi," ucap Hendra sekretaris Dimas.
"Menyelinap?" tanya Dimas terkejut.
"Saya hanya ingin memberitahu anda saja pak, ini hanya laporan dari satpam saya juga tidak tahu tapi lebih baik anda melihatnya," ucapnya kemudian pamit.
Dimas terdiam di ruangan kerjanya, dengan laporan yang baru saja ia terima dari sekretaris yang juga kepercayaannya apakah benar ada karyawannya yang berkhianat padanya dan diam-diam menyelinap keruangannya? Dimas mencoba bersikap tenang ia memang sudah curiga karena saat ia masuk ruangannya memang sedikit berantakan. Namun ia tak curiga karena ia pikir ruangannya belum dirapihkan saat terakhir kali ia masu .
*-*-*-*-*
Anindira masih terdiam di kamarnya, ia merasa kecewa dengan keputusan orangtuanya yang tidak memberitahunya akan menjual rumah mereka dan berpindah ke Bogor, sejak kecil Anin dan keluarganya tinggal di Bandung, memang keluarga Mamahnya berasal dari Bogor namun Anin tak pernah terpikir orangtuanya akan menetap disana menikmati masa tuanya di kota kelahiran Mamahnya itu.
"Assalammualaikum," ucap Dimas membuka pintu.
"Waalaikumsalam." ucap Anin kemudian menyalami tangan Dimas.
"Afifa udah tidur?" tanya Dimas.
"Suda Mas," ucap Anin kemudian mengambil tas Dimas dan langsung masuk kedalam kamar.
Dimas melihat Anin yang terlihat tidak semangat dan banyak pikiran, namun Dimas enggan bertanya dan memilih untuk mandi menyegarkan badannya dan pikirannya yang sedang bercabang karena masalah di kantornya.
Anin menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, menunya selalu berbeda Anin terkadang memasak masakan Sunda campur dengan Jawa sesuai dengan lidah Dimas, dan Dimas pun tak pernah banyak berkomentar dengan apa yang di masak Anin karena memang masakan Anin selalu enak di lidahnya.
"Tsdi pagi Mamah sama Papah datang," ucap Anin sambil menunduk memainkan sendoknya.
"Ada apa?" tanya Dimas binggung.
"Rumah kita udah di jual, Papah pindah kerja ke Bogor dan mereka mau menetap di sana," ucapnya dengan mata memerah.
"Di jual? Kenapa harus di jual?" Tanya Dimas terkejut.
"Gak tahu, mungkin karena gak ada yang nempatin dan gak ada yang urus jadi mereka jual,"
"Kapan ke Bogornya?"
"Lusa." ucapnya menatap Dimas.
"Lusa? Kenapa cepat?" ucap Dimas mengerutkan dahinya.
"Anin juga gak tahu, mereka baru bilang hari ini, Papah bilang yang beli rumah mau langsung tempatin, jadi besok Anin harus ambil semua barang-barang Anin,"
Dimas menghetikan makannya dan menatap Anin yang menunduk, ia tahu Anin pasti tidak setuju dengan keputusan orangtuanya yang memilih pergi dan menjual rumah mereka tanpa persetujuan darinya, Dimas mencoba menenangkan Anin agar selalu yakin bahwa ia bisa menjaga Anin dan melindunginya.
"Anin udah biasa tinggal jauh dari orangtua, tapi kalau mereka mutusin buat menetap di kota lain Anin kecewa, apalagi Anin gak punya saudara di sini selain mereka," ucapnya sendu.
"Nin, kamu sudah menikah dan saya suami kamu, sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab saya jadi jangan merasa diri kamu sendirian di sini," tegas Dimas.
"Makasih, besok Mas bisa anter Anin buat ambil barang-barang?" tanyanya tersenyum kecil.
"Iya besok pagi sebelum ke kantor kita ke sana," ucap Dimas kemudian melanjutkan makannya.
*-*-*-*-*
Hari sudah makin larut malam, Dimas sudah tertidur setelah meminum obatnya, sedangkan Anin semejak pulang dari Jogja kemarin Insomnianya kembali kambuh, ia hanya duduk bersandar di ranjang dengan pikiran tentang orangtuanya.
Anin tak pernah habis pikir orangtuanya begitu tak peduli dengan dirinya dan memutuskan untuk tinggal jauh, Anin tahu ia sudah menikah dan punya keluarga baru tapi ia tak mau jauh dari orang tuanya padahal ia berharap setelah menikah ia ingin memperbaiki hubungannya dengan orangtuanya.
"Masih belum tidur?" tanya Dimas mengucek matanya.
"Belum ngantuk Mas," jawabAnin terkejut.
Dimas bangkit dari tidurnya dan berjalan ke kamar mandi, Anin hanya menatap punggung Dimas yang kokoh itu, ia bertanya dalam hatinya apakah ia sudah bahagia dengan keputusannya menikah dengan Dimas? Padahal mereka tahu tidak saling mencintai satu sama lain, Anin juga tak tahu mengapa ia bisa ditakdirkan seperti ini.
Setiap kali bersama Dimas, Anin selalu merasa Dimas adalah kakak iparnya, bahkan sifat dan tingkah lakunya masih sama memperlakukannya seperti adik ipar, begitupun sebaliknya Dimas juga merasa Anin sebagai adiknya setiap kali bersama Anin ia tak merasakan apa-apa, apakah mereka akan selalu seperti ini? Entahlah.
"Mau tidur jam berapa? Ini udah larut malam," ucap Dimas saat kembali dari kamar mandi.
"Belum tahu Mas, belum ngantuk,"
"Jangan banyak pikiran, coba tenangin dulu dirinya, hilangin semua pikiran, ambil wudhu terus baca doa inshallah bisa tidur," ucap Dimas membaringkan badannya kembali.
Anin menatap Dimas yang membenarkan selimutnya, sebenarnya ucapan Dimas bisa dicoba juga, lagipula ia tidak mau insomnia terus menerus. Dokter juga memberitahu insomnia Anin memang dikarenakan kecemasan dan pikiran yang banyak, Anin juga semejak kuliah jarang menerapkan hidup sehat, karena ia sering bekerja larut malam dengan pikiran yang bercabang.
Anin bangkit dari kasurnya dan memilih mengambil wudhu, ia mencoba menenangkan pikirannya dari segala permasalahan dihidupnya, ia menatap Afifa yang nampaknya tidurnya begitu nyenyak, Aninpun memanjatkan doa, tiga surat terakhir di Al-Qur'an ia bacakan dan mencoba memejamkan mata menghadap kanan.
01:32 wib
*oeekk oeeekk*
Suara tangis Afifa makin kencang terdengar di kamar mereka, Dimas yang mendengar suara tangis Afifapun langsung bangun dan mengecek anaknya, ternyata ia menangis karena pipis, dengan gesit Dimas langsung menganti celana Afifa dan membuatkan susu untuknya kemudian mengendongnya agar tertidur kembali, Dimas melihat ke arah Anin yang tertidur pulas.
Biasanya Dimas tidak pernah terbangun karena Afifa karena Anin yang selalu terbangun mengurus Afifa dan hari ini giliran Dimas yang terjaga dan menidurkan Afifa kembali.
Setelah Afifa sudah pulas kembali Dimas menidurkannya di ranjang tidurnya, Dimas melihat ke arah Anin yang benar-benar tidur dengan tenang sepertinya ia mengikuti sarannya untuk menghilangkan pikirannya sejanak agar bisa tertidur lelap dan benar saja Anin menurutinya, seulas senyum terpancar di wajah tampan Dimas saat menatap Anin yang begitu cantik saat tertidur. Anin memang cantik natural ditambah kulitnya yang putih dan leher jenjangnya tanpa bedakpun ia terlihat cantik.
Dimas tak pernah menyangka Tuhan berkehendak lain padanya di saat ia tahu Anin menjadi adik ipar kini berubah menjadi istri sah nya. Dimas berharap semoga ia bisa mencintai Anin seperti yang diinginkan Kirana dan diharapkan olehnya juga.
*-*-*-*-*
Anin dan Dimas sudah bersiap untuk pergi ke rumah orangtua Anin mengambil semua barang Anin yang masih berada di sana karena besok orangtuanya akan berangkat ke Bogor dan menetap di sana. Mereka menitipkan Afifa pada Ibu dan Bapak karena Dimas membantu Anin membereskan barang-barang.
Sesampainya di rumah Mamah dan Papah sedang berada di luar rumah, Mamahnya sibuk dengan ponselnya sedangkan Papahnya sibuk menelepon dengan seseorang hingga tak sadar dengan kedatangan mereka.
"Dimas Anin kalian datang pagi-pagi?" tanya Mamah.
"Iya Mah, mau beresin dulu barang-barang," ucap Anin yang langsung masuk ke dalam setelah menyalami orangtuanya.
Anin memasuki kamarnya yang sudah hampir kosong karena beberapa pakaiannya sudah di pindahkan ke rumahnya bersama Dimas, ia menatap dinding kamarnya yang hampir penuh dengan foto berukuran 2R yang ia tempel, Aninpun mencabut semua foto itu pelan-pelan dan mengambil buku bindernya dan menempelkannya di kertas binder.
Beberapa baju yang tersisa ia lipat dan di masukan ke dalam kopernya, meskipun hanya baju kaos biasa namun ia tak mau jika nanti orang yang akan menempati rumahnya memakainya, Anin juga mengambil dream catcher yang digantung di dindingnya ia akan memajangnya nanti dikamar Dimas untuk menangkap mimpi-mimpi baik bagi mereka.
"Sudah semua?" tanya Dimas.
"Sudah Mas." ucap Anin menutup kopernya.
Anin menatap ruangan kamarnya sebentar, sudah banyak kenangan yang tercetak di sana sejak kecil bahkan sejak bersama Kirana kakaknya, kamarnya yang selalu menjadi tempatnya menangis berkeluh kesah dan tempatnya bisa menenangkan dirinya kini takkan lagi bisa ia tempati.
Dimas membawa koper Anin ke mobilnya, Mamah dan Papah masih berada diluar menunggu orang yang membeli rumahnya yang akan datang berkunjung.
"Mah itu yang beli rumah datang," tunjuk Mamah pada mobil yang baru datang.
"Nin, kamu jangan dulu pulang biar kita kenalkan sama yang beli rumah kita," ucap Papah.
Dimas dan Anin akhirnya setuju, mereka juga penasaran dengan orang yang membeli rumahnya karena bagaimanapun Anin juga ingin tahu siapa yang akan menempati huniannya.
"Halo selamat pagi." ucap perempuan cantik yang berjalan dengan anggun.
"Selamat pagi." ucap Papah dan Mamah Anin menyalami perempuan itu.
Dimas menatap lekat wajah wanita yang baru saja turun dari mobil, badannya yang bak model dengan tinggi badan pas dan wajahnya yang tetap cantik, Dimas mencoba menatap lekat wanita itu yang kini sama menatapnya.
"Dimas." ucap Wanita itu terkejut
"Friska?" tanya Dimas tak percaya.
Anin terkejut saat Dimas menyebutkan nama Friska. Bukannya Anin tak tahu ia hanya pernah mendengar nama Friska dari alm kakaknya dulu yang mengatakan jika Friska adalah mantan Dimas yang paling ia cintai, meskipun tidak terlalu tahu jelas tentang hubungan mereka namun terlihat jelas diwajah mereka berdua saling terkejut dan merindukan?m
"Ada apa dengan mereka? Kenapa tatapannya seperti ini?" tanya Anin di dalam hati.