18+
Milly hanya bisa memendam perasaannya terhadap seorang pria tampan yang merupakan teman kakaknya sendiri.
Pria itu dingin, sulit digapai. Pria yang irit bicara. Dan hanya kepada Milly pria itu bersikap tak acuh.
Hingga suatu ketika Milly mulai menyerah akan perasaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Octaviandri23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Milly Tidak Salah Lihat
"yah, Nat. Nggak jadi jalan-jalan dong," seru salah satu siswa kecewa.
"iya nih. Padahal gue udah belanja baju buat jalan-jalan ke Bali."
"nggak jadi ketemu Bule bahenol dong."
"yaaahhh.. padahal gue udah ngomong ke emak gue kalau mau pergi ke Bali. Kagak jadi update status ke Bali dong,"
Ruby mendengus mendengar kicauan kecewa teman-temannya. Sekarang ini kelas 3 IPS 1 sedang menggelar rapat perihal tour ke Bali. Nathan menyampaian hasil akhir, Bu Ella tidak mengijinkan mereka berangkat kesana, demi kenyamanan dan keselamatan bersama. Maklum, Bu Ella nggak mau menanggung beban dari para orang tua jika mereka mengalami kendala disana.
Nathan mengerti akan posisi itu, pasti berat juga jika dia juga harus ikut mengawasi para teman-temannya, bukannya jalan-jalan yang ada Nathan malah kewalahan. Nathan juga nggak mau mengambil resiko.
"iya temen-temen, dengan berat hati acara jalan-jalan kita ke Bali di cancel. Tapi kita bisa jalan-jalan ke tempat lain, bisa ke Bandung, Bogor, atau kita nonton bioskop bareng-bareng, atau kita bisa main Ice Skating," tawaran Nathan didesah kecewa oleh teman-temannya.
"nggak seru, Nathan."
Nathan hanya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Sementara Ruby melirik Milly yang masih betah diam dalam lamunannya. Lama-lama Milly bisa kesambet beneran kalau melamun terus.
Ruby menyenggol lengannya. Seketika Milly tersentak dan berteriak,
"iya, gue setuju !"
Semua pandang tertuju pada Milly saat ini, membuat gadis itu mengerjap bingung tak mengenal situasi, sepertinya Milly salah ngomong.
"lo setuju apa Mil ?" tanya salah satu temannya. Arah pandang masih bertahan menatap Milly kikuk.
"jalan-jalan ke Bali kan ?" Milly malah bertanya balik. Semuanya mendesah malas.
Ruby berbisik ke telinga Milly untuk mengoreksi apa yang Milly katakan. Lalu Milly mulai mengangguk paham akan situasi.
"atau kita main Bowling aja, itu juga seru kok. Habis itu bisa nonton bioskop deh," Milly memberi saran dengan wajah sumringah. Tetapi teman-temannya tidak. Nathan tersenyum puas, setuju dengan pendapat Milly.
"ya sudah gue catet nama-nama yang mau ikut aja. Yang nggak mau juga nggak apa apa, nggak dipaksa kok."
Selagi Nathan mencatat nama siswa yang ikut, Ruby kembali menyenggol lengan Milly.
"seneng banget nyenggol gue sih ?" desis Milly risih. Ruby jadi berdecak kesal.
"lo yang maksa gue buat nyenggolin lo. Melamun mulu sih !"
"kenapa lagi si El ? Bukannya lo harus lupain dia ? Lo kan lagi move on," tanya Ruby dengan nada ketusnya. Kayaknya Ruby harus ganti julukan sebagai Miss Ketus deh, dapet banget perannya.
"kok lo tau gue pikirin kak El ?"
Ruby menepuk jidatnya. Kesal sendiri.
"nenek gayung juga tau lo mikirin tuh orang."
Milly memutarkan maniknya seraya mencibir.
"udah, lupain tuh orang. Emang dia mikirin lo ? Nggak kan ?"
"jangan sia-siain hidup lo Mil. Umur lo masih panjang, jangan memperpendek umur karena mikirin orang itu !"
Pedes kaya cabe. Itulah Ruby kalau sudah kepalang kesal pake banget. Milly tahu kalau Ruby seperti itu karena care, selain pedes kayak cabe petuahnya juga tajam kayak silet.
Milly sudah biasa.
**********************************
Ruang tengah minimalis bernuansa coklat kayu, siapa yang tidak betah untuk memandangi warna kalem yang dapat memanjakan mata. Serta aroma masakan menggelanyar Milly dan mengelitik perut. Aroma daun jeruk menggugah selera makan Milly, dari duduk di ruang tengah Milly beranjak menuju Bi Ana untuk mengintip kegiatan masaknya.
Benar saja apa yang Milly duga, tumis daging dengan irisan kol menjadi menu makan malamnya nanti. Ditambah tempe bacem dan sambel terasi sebagai pelengkap, Milly segera naik ke atas untuk berganti pakaian dan tak sabar untuk segera menikmati makan malam.
Selang kegiatan Milly melahap nasi, Adit baru tiba di rumah dan langsung duduk di kursi makannya. Yang diikuti oleh El yang juga duduk disebrang Milly.
Suasana ruang makan jadi canggung. Bi Ana pun ikut merasakan kalau diantara Adit dan El sedang ada masalah, namun beliau pura-pura tidak tahu. Bi Ana hanya beranggapan jika itu hanya dugaannya saja.
Walaupun memang dugaannya benar.
Milly menatap Adit dan El bergantian. Mereka menikmati makanan dengan bibir membisu, tidak ada suara atau obrolan ringan. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu.
Milly berdeham membuat Adit dan El spontan menatap Milly.
"aku udah selesai makan. Aku ke kamar dulu," sebelum berhasil berdiri, Adit memanggil nama Milly mencegah gadis itu pergi. Milly kembali duduk dan kembali melirik Adit dan El bergantian.
"kakak mau ngomong,"
"ngomong apa kak ?" tanya Milly.
Secara kompak Adit dan El meletakkan sendok dan garpu, sesaat Milly mengernyit. Kenapa kegiatan mereka harus berbarengan gitu ?
"Milly beneran udah maafin kami kan ?," jelas Adit. Terlihat Adit masih menyesal atas kelakuannya kemarin malam. Sebagai seorang kakak dia gagal mencontohkan sikap yang baik kepada sang adik, takut nanti Milly akan meniru perilaku buruknya.
"aku udah maafin kok. Aku udah maafin kak Adit sama kak El,"
Adit tersenyum lega, namun berbeda dengan El. Bibirnya diam seribu bahasa.
"ya sudah aku naik ya kak, mau ngerjain PR."
Milly melangkah meninggalkan mereka berdua di ruang makan.
*******************************
Milly membuka gorden jendela, menatap langit yang dihiasi ribuan kelap-kelip bintang. Dia tatap bintang itu lekat, sesaat Milly merindukan orang tua nya yang sudah pergi meninggalkan bumi. Dulu Adit pernah bilang kalau orang tua mereka masih disini namun berwujud bintang di langit, yang akan terus menjaga Adit dan Milly selama di Bumi.
Jika Milly mendoakan mereka, bintang itu akan menunjukan cahayanya, menandakan bintang itu adalah orang tua mereka.
Di dalam hati Milly berdoa, semoga Tuhan selalu menjaga orang tua nya di atas sana. Dan tak luput Milly memberikan pesan jika dia merindukan Ayah dan Ibu nya. Setelah berdoa, Milly menatap bintang itu lagi, dia tersenyum mendapati beberapa bintang menunjukan cahayanya. Seolah kelipan cahaya itu adalah orang tua nya yang sedang menyapa Milly.
Sebelum Milly menutup gorden, dia melihat El sedang duduk di taman, sibuk mengetik sesuatu di laptop dan pandangannya sangat fokus. Udara dingin malam tidak menggelitik kulit El yang terbuka karena memakai tanktop putih bercelana pendek.
Seperti yang kita tahu kalau dinginnya El seperti es batu. Udara dingin tak akan mengalahkan hatinya yang membeku.
Hati El nggak beku kok, dia akan menghangat jika bersama wanita yang dia sukai.
Siapa lagi kalau bukan Karmila. Ya nggak ?
Namun mau bagaimana pun Milly akan selalu luluh memandangi El. Dari sudut manapun El selalu terlihat menawan di manik hitam Milly. El benar-benar berhasil membelenggu hatinya, walau Milly berusaha lari sejauh mungkin, tetap saja Milly akan pulang ke hati dingin El. Meski pria itu tidak melakukan apapun padanya.
Begini ya rasanya dibilang Bucin ?
Matanya tak henti meneliti pria itu. Dari rambut coklatnya yang semakin memanjang hingga berbentuk jambul, berkuping caplang, tulang rahang yang berbentuk, serta guratan leher menjalar disana, terlihat seksi.
Otot di kedua lengan menunjukan pria itu memang suka berolahraga. Guratan lengannya juga terlihat, dilihat dari jauh saja membuat Milly meneguk ludah. Lalu dada bidang yang tertutup kaos tanktopnya, sudah pasti nyaman jika kepala Milly bersender disana.
Lalu belahan dagu yang dimiliki pria itu, seperti fetish, berhasil memaku pandangan Milly. Lalu hidung mancungnya, kemudian bibir ranum yang sedang tersenyum, dan kedua mata El yang memikat. Warna mata El berwarna coklat membius Milly. Ditatap dari kejauhan saja bikin meleleh gimana kalau dari dekat.
Eh, tunggu bentar..
Senyuman Milly memudar ketika dia menyadari jika El benar menatapnya.
Benar, pria itu sedang menatapnya. Pria itu berdiri di tengah taman, tepat memandangi Milly sambil tersenyum.
Iya benar, El benar sedang tersenyum ke arah Milly. Milly nggak salah lihat, sekali lagi El memandangi Milly sambil tersenyum.
Milly memastikan penglihatan matanya, apa minus Milly makin bertambah ? Tapi jelas El sedang berdiri disana. Apa benar itu El, atau mungkin hantu berwujud El ?
Tapi pandangan Milly tidak salah, itu benar El. El yang juga terpaku menatap Milly.
Milly meneguk ludah lagi. Ketangkap basah jika Milly memandanginya sesari tadi, dia sudah tidak bisa mengelak jika berpura-pura nggak melihat.
Gadis itu mulai bergerak gelisah, tapi pandangan mereka belum terputus. Bahkan sudut bibir pria itu semakin ditarik ke atas. Seperti ada makna sesuatu, membuat jantungnya berdetak cepat.
Buru-buru Milly melangkah mundur dan menutup jendela kamarnya dengan kain gorden. Lalu ia bergegas menuju tempat tidur.
Detak jantungnya memaksa Milly meraup oksigen sebanyak-banyaknya, memutar kejadian yang baru lewat beberapa detik lalu membuat Milly gelagapan.
Kemudian Milly menyentuh dadanya yang masih berdetak kencang, berharap jika kejadian barusan hanyalah sebuah mimpi. Mungkin akan lebih baik seperti itu, daripada hatinya kembali berharap lebih dan kembali menoreng luka.
***********************************