Bumi Pranadipta Abadi, diusianya yang baru menginjak 20 tahun ia sudah memiliki seorang bayi. Tak ayal setiap gadis yang dikencaninyapun menjauh.
5 tahun berlalu, takdir mempertemukannya dengan wanita berhijab yang menjadi OB di tempatnya bekerja.
Siapa sangka Khalea Azalea Zuri, 27 tahun. Wanita muda yang telah memiliki putra berusia 7 tahun hasil pelecehan yang menimpanya bertahun silam mampu menggetarkan hatinya.
Apa yang terjadi jika keadaan memaksa 2 insan itu bersatu?
Mampukah mereka membuka hatinya kembali?
Akankah cerita kelam masa lalu akan menjadi penghalang keduanya untuk tetap bersama?
Bagaimana Bumi menyikapi takdir yang mempertemukan Kanaya dengan orang tua kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Tangan
Pukul 21:30 saat Xenia mas Rana memasuki gerbang rumah. Tak lama 2 insan berjalan dengan wajah semringah masuk kedalam rumah. Mereka terlihat kaget melihatku dan ibu duduk dengan wajah tak bersemangat.
"Buu, ada apa ini?"
"Kau sudah pulang Ran, kenapa tidak mengucapkan salam?" lirih ibu.
"Oh, maaf Bu. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan ibu bersamaan.
"Ran, ibu sudah membatalkan pertunangan Bumi dan Anindya," ujar ibu mengadukan isi hatinya dengan putranya. Tampak mas Rana dan mbak Selfi yang menyimak kaget dengan yang didengarnya.
"Lho ada apa memangnya Bu?" tanya mas Rana.
"Anindya bukan wanita yang cocok untuk Bumi, ia bukan wanita yang pandai menjaga dirinya," lirih ibu menatap dan tersenyum kearahku tak ingin aku bersedih.
Aku yang melihat rona wajah ibu seketika menghampirinya, "Bumi tidak masalah dengan pembatalan pertunangan ini Bu, ibu jangan risau. Bumi bahkan bahagia mengetahuinya di awal sebelum semua terlalu jauh," ujarku.
"Benarkah itu Nak?"
"Iya Bu, bahkan Naya tadi juga berkata pada Bumi bahwa ia tidak suka Anindya, ini sudah jalan terbaik untuk Bumi, Bu," ujarku seraya memeluk wanita yang sangat kusayangi tersebut.
Ibuku memang wanita hebat, ia berjuang sendiri sejak meninggalnya ayah disaat usia kami ke 3 anaknya masih kecil-kecil. Aku saat itu berusia 10 tahun, mas Rana 14 tahun dan Mbak Sekar 16 tahun. Dengan usaha Retail Waralaba yang saat itu baru 1 cabang, ibu mampu menyekolahkan anak-anaknya dengan baik. Bahkan Mbak Sekar bisa menyelesaikan kuliah kedokterannya tepat waktu.
•
•
Kurasakan tangan ibu melepaskan pelukanku, tangan yang tidak lagi berisi seperti saat ia muda, urat-urat yang mulai terlihat jelas seakan menandakan betapa kerasnya ia menjalani kehidupan. Ibuku menatap lekat pada wajahku, ia membasuh kepalaku dan berkata lirih ...
"Maafkan ibumu Nak, hampir saja ibu memberikan istri yang tak baik untukmu."
"Iya Bu, semua berkat do'a ibu yang selalu ingin memberi yang terbaik untuk Bumi. Hingga Alloh menampakkan keburukan Anindya hari ini," ujarku seraya mengecup jemarinya.
"Bum, kau tenang saja ... ibu akan mencarikanmu gadis lain yang lebih baik dari Anindya. Yang bisa menjadi ibu untuk Naya."
"Tidak! Tidak lagi Bu, Bumi yakin tanpa perjodohanpun, jodoh Bumi sudah tertulis. Dan Bumi akan bertemu dengan wanita itu sesuai skenarioNYA. Tanpa memaksa dipercepat, atau khawatir tak mendapat. Bumi yakin ada saatnya. Sekarang biar Bumi menjadi anak yang baik untuk ibu, serta menjadi ayah terbaik untuk Naya," ucapku seraya tersenyum mantap.
"Anakku yang baik. Kau merawat anak orang lain seperti anakmu sendiri, bahkan ibu saat itu meragukanmu. Tapi dengan kemantapan keputusanmu, kau buktikan kau mampu. Demikian pula kemantapan yang ibu lihat hari ini. Ibu akan mengamini seluruh kebaikan untuk hidupmu Nak, semoga bahagia juga selalu bersamamu." Dan ibu menutup ucapannya dengan menarik kepalaku merunduk, sebabb ia ingin mengecup keningku.
Dan mas Rana mendekati kami dan ikut berbaur memeluk kami saat ini.
"Ibu jangan terlalu hawatir, tak perlulah mencari-carikan jodoh seperti ini lagi. Adikku ini cukup tampan, sangat pintar, karirnya-pun mapan ... pasti akan banyak gadis yang tertarik padanya. Betulkan Bum?" ujar mas Rana merangkul bahuku seraya tersenyum menggodaku.
"Kau bisa saja, Mas."
"Bukan apa-apa, Ran. Masalahnya adikmu ini nggak pintar mendekati wanita. Sedangkan wanita baik tidak akan memulai duluan. Bisa saja banyak yang mengejar Bumi, tapi apa mereka benar-benar tulus dan sesuai dengan hati Bumi?"
"Ahh ibu. Pria setenang apapun pasti akan menampakkan jejaknya jika ia merasa tertarik pada wania. Benar tidak Bum? Lagi pula Rana tidak yakin Bumi benar-benar seorang pendiam dihadapan wanita." Dan terkekeh mas Rana, tampak lagi-lagi menggodaku.
"Ah Mas Rana, jangan membuka topengku-lah di depan ibu," ujarku membalas godaan masku seolah membenarkannya. Padahal memang ucapan mas Rana gak semuanya salah. Mas Rana ... ia memang paling tau soal urusan wanita.
"Ya sudah ... aku mau ke kamar, kalau kau mau curhat atau tanya trik mendekati wanita jangan sungkan menghubungi Masmu ini," kelakar mas Rana.
"Hemm," gumam mbak Selfie sangat terlihat ketidaksukaannya pada ujaran mas Rana.
"Bercanda, Sayang, jangan marah dong." Mas Rana seketika merangkul bahu mbak Selfie dan mengajaknya ke dalam.
Dan seketika aku teringat sesuatu ...
"Masss ...."
"Apa lagi?" teriak mas Rana sambil menoleh.
"Kertas kemarin sudah Mas tanda tangani belum?"
Ini dia alasanku sebetulnya pulang ke Jogya, mendapat tanda tangan dan fotocopy KTP Mas Rana dan Mbak Selfie. Semua gak lain untuk keperluan sekolah Naya anakku.
Mau gimana lagi? Aku mengadopsi Naya dalam statusku sendiri alias belum menikah, juga usiaku saat itu masih 20 tahun. Ditambah pula aku mengambil Naya dengan dokumen kosong, tanpa ada akte kelahiran.
Akhirnya akupun membuat surat kelahiran palsu melalui seorang bidan yang sedang membutuhkan uang. Dilanjut menjadi akte kelahiran menggunakan KTP dan data Mas Rana dan Mbak Selfie.
Jadi Naya masuk ke KK mas Rana dan Mbak Selfi, yang artinya secara tertulis Naya anak mereka. Yah sesama saudara kami harus saling menolong, Mas Rana juga gak mempermasalahkan kok. Dan Naya akan tetap menjadi anakku.
Walau susahnya ya seperti sekarang, aku mau mendaftarkan sekolah dan harus mendapat data dan tanda tangan mereka. Meluncurlah aku akhirnya dari Bandung ke Jogya untuk sebuah tanda tangan.
•
•
Dan aku berada di kamar mas Rana saat ini, menunggunya mengambil KTP miliknya dan Mbak Selfi.
"Nih, fotokopiin yang banyak sekalian, tanda tanganku kamu palsuin aja lain kali gpp biar gak mondar-mandir seperti saat ini, kasihan anakmu capek."
"Iya Mass, makasih ya. Maaf aku jadi ngerepoti Mas terus padahal untuk keperluan anakku," ujarku.
"Sip, santai aja. Selama aku bisa bantu. Oh ya, kamu jadi pulang besok pagi?"
"Iya, Mas."
"Bum, hati-hati nyari perempuan. Zaman sekarang banyak yang terlihat alim malah lebih rusak. Jangan lihat orang dari penampilan." Pesan Mas Rana padaku.
"Siap Mas."
"Oh iya 1 lagi."
"Apa Mas?"
"Mbak Selfie Rabu nanti mulai proses bayi tabung. Doakan usaha kami berhasil ya!"
"In syaa Alloh ... semangat Mas."
🌻**KAMAR BUMI**
Di sudut jendela kuberdiri mematung, terhampar pelik yang terjadi hari ini. Berbagai hal datang dan pergi dengan cepatnya, sosok baru yang diharap memberi warna indah bahkan tercelup noda sebelum warna tertoreh. Salahkah takdir diri? Apapun itu namanya ... semua yang terjadi hari ini benar-benar cerita yang terukir nyata dan tak akan terlupa. Anindya ... ternyata hadirmu hanya sementara, bagaimana kau menjaga anakku sedang menjaga dirimu saja kau tak mampu. Dan kini kututup lembaran tentang Anindya dengan secuil senyum bahagia.
Kugapai kertas di atas meja kotak di sisi ranjangku kini. Kutatap judul dengan tulisan berhuruf kapital disana, FORMULIR PENDAFTARAN TKIT INSAN CENDIKIA MUSLIM.
Ternyata anakku sudah besar, sepertinya baru kemarin ia masih merangkak menghampiriku. Dan kini ia akan berseragam, memiliki teman baru, lingkungan baru, melakukan berbagai hal baru.
Anakku ... kudekati ia, kukecup pipi halusnya saat ini, rasa yang sama, pipi halus yang sama ... sama seperti saat kuraih tubuh mungilmu dalam dekapanku hari itu. Hari itu, entah berapa banyak kecupan kudaratkan pada pipi mungilmu saat kau tertidur Sayang.
Kutatap kertas dalam genggamanku kembali, kini pandanganku terarah pada tulisan disana ...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🐢Tebak-tebakan lagi yuk😊
🐢Tulisan apa yang Bumi lihat saat ini??
🐢Happy reading**❤❤**