Dan Dia rahasiakan, kita tak pernah sedikitpun tahu...
Dan Dia jaga, kita tak pernah sedikitpun menerka nya...
Kita selama ini hanya mengeluh sembari seolah jalani saja....
Fii Lauhim Mahfudz... kisah kehakikian kehidupan yang menyuguhkan segala cuplik kehidupan.
Seorang Habibah yang mencintai Habibi dalam diam, dan hanya bisa berdoa dengan berbagai usaha yang menggemaskan.
Di bumbui oleh lika-liku kehidupan yang apik, dengan berbagai kisah persahabatan, persaudaraan dan cinta ❤😘...
selamat membaca 🥰🥰🥰
bisa juga kalian dapatkan buku novelnya melalui online di link nulisbuku.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febby Sadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malik
Suasana baru baginya, hal seperti biasa telah berganti dengan hal yang tak pernah dia lakukan. Kini hal beru itu mungkin yang akan menjadi kebiasaan barunya. Dia hanya nikmati saja hari-harinya yang telah berubah sejak satu bulan berada di pondok pesantren. Dia mencoba jalani sebagaimana biasa, meski kenyataannya kini dia telah tak mempunyai kawan karib lagi.
Sejak satu bulan lalu Ahmad telah meninggalkannya dan pindah keluar kota, untuk lebih memperdalam lagi pemahaman dan kelancaran hafalan Al Qur’annya.
Dia pun kini mencoba menjadi keluarga para penghafal Al Qur’an pula. Dengan menjalani kehidupan sebagai seorang senior, dia tak ingin tertinggal pula menjadi seperti para juniornya yang kemampuannya telah melampauinya.
Pagi itu dia telihat sesibuk seorang sederhana yang sebagaimana mestinya harus bersikap. Dengan Al Qur’an tetap di genggaman, kedua bibirnya terus saja berkomat-kamit tanpa melihat Al Qur’an.
“Assalamu’alaikum, kak Syauqi..?”
Tia-tiba ada juniornya memanggil, spontan dia pun menghentikan lantunannya dan menjawab salam itu,
“Wa’alaikumsalam, ada apa Ma’ruf?!”
“Itu di luar di tunggu kawannya,”
“Oh, iya. Terima kasih.”
“Iya, kak.”
Seperti awal tadi, Ma’ruf pun mengucap salam dan di jawab pula dengan Syauqi. Lalu Syauqi segera beranjak keluar kamar dan menuju kawan yang di maksudkan Ma’ruf tadi.
“Assalamu’alaikum?” ucap Syauqi.
Sedangkan orang yang disebut kawan Syauqi itu pun langsung membalikkan badan setelah mendengar ada ucapan salam untuknya,
“Wa’alaikumsalam, Syauqi! Serunya.
“Astaghfirulloh! Kau Malik! Apa kabar?” seru Syauqi, dia tak lupa untuk langsung
menanyakan kabar kawan lamanya dari kampung. Malik telah di kenal baik di kampungnya. Dia sekawan dengan Syauqi.
“Alhamdulillah… kenapa kawan, kau langsung beristighfar?” tanya Malik dengan tawa renyahnya.
“Haha, ya jelas sajalah! Aku bertanya-tanya siapa yang di maksud kawan itu? Karena baru satu bulan dia pergi kenapa telah datang?. Aku lupa ternyata aku masih punya kawan sepertimu, Malik!” ucap Syauqi. Seketika itu terbesit di hatinya ingin tahu bagaimana kabar Ahmad.
“Siapa dia Syauqi?”
“Ahmad Habibi lengkapnya,”
Malik mengangguk, “Apakah dia kau rindukan, hingga kau berpikir dia yang datang?” tanya Malik kemudian.
Perlahan Syauqi menjawab, “Ya, aku rindu akan keistimewaannya. Aku tahu dia banyak
kekurangannya, tapi aku tak tahu… mengapa aku hanya ingat satu keistimewaannya…”
“Apa itu?”
“Diam. Ya, dia diam. Dia hanya berkata seperlunya.”
“Siapa dia?”
“Ketua pondok disini, sebelum pindahnya dia ke kota lain…”
“Semoga dia baik-baik saja. Semoga Allah meridloinya…” ucap Malik kemudian.
“Amin… terima kasih kawan. Kau telah menenangkanku… baiklah! Dari tadi aku belum
mempersilahkanmu untuk masuk,” ucap Syauqi. Dia baru menyadari percakapannya tentang
Ahmad telah cukup lama.
Dia pun mengajak Malik untuk berbincang di dalam dan memberinya suguhan sebagaimana mestinya tamu menerima hal tersebut. Di dalam percakapannya seputar tentang perkuliahan, tanpa sengaja Malik kembali menyinggungnya tentang hal pribadi. Dan Syauqi pun tak ragu menceritakannya, karena dia telah percaya.
“Ya begitulah, lik… aku masih mencintai kekasihku yang dulu…”
“Yuni?”
“Ah, bukan.”
“Lalu? Bukankah dulu terakhir kau dengannya?”
“Tidak, dia berbeda. Namanya Habibah…”
“Habibah? Sepertinya aku mengenalnya.”
“Ah, tidak. Dia di kampusku…”
“Iya, benar. Aku disini telah satu minggu, kawan… kemarin aku jalan-jalan di sekitar kampus sini, aku sempat menabraknya. Ada bekas luka di lengannya kalau tidak salah…”
“Benarkah?”
“Insya Allah, iya…”
“Lalu, apakah dia baik-baik saja?”
“Insya Allah, iya…”
“Ah, kamu Insya Allah terus, lik!”
“Tenanglah kawan… kau tak tahu apa yang dia katakan saat itu.”
“Beritahu aku…” ucap Syauqi dengan antusias.
“Setelah dia aku awasi sampai menerima pengobatan dari Dokter di Puskesmas dekat
kampus, dia sejenak menghampiriku, dan berkata,
‘Terima kasih… Insya Allah, Allah akan meridloimu…’ saat itu aku langsung bingung. Kenapa seorang yang tersakiti masih bisa
mendo’akan begitu indahnya?
Aku pun langsung bertanya, ‘Apa maksud anda?’ lalu dia menjawab,
‘Itu rahasiaku dengan Allah’ lalu dia tersenyum, seolah hanya untuk menghibur kebingunganku.
Namun aku masih belum puas, ‘Boleh aku tahu siapa namamu?’
‘Ummu Habibah, panggil saja Habibah.’
Dan saat dia tersenyum lagi, aku semakin penasaran dengannya, karena aku tahu dia hendak melangkah pergi. Aku pun kembali bertanya,
‘Tunggu, apakah kamu kuliah disini?’ tanyaku.
Dan itulah menjadi pertanyaan terakhirku,
yang hanya di jawab dengan pejaman mata sejenak dan senyuman yang pasti. Kau tahu Syauqi?
Saat itu juga aku berkata, sungguh aku baru bertemu seorang seperti dirinya…” ucap
Malik mengakhiri ceritanya.
Saat itu juga Syauqi terdiam seribu bahasa. Membayangkan betapa benar segala ungkapan Malik tentangnya. Benar pula siapa seorang yang Malik temui. Seolah membuktikan dia adalah Habibah yang berbeda.
“Syauqi?” Malik memanggil, dia tahu Syauqi pasti langsung menerka-nerka dan membayangkan suasana saat cerita itu di ceritakan.
“Iya…” jawab Syauqi,
“Kau baik-naik saja?”
“Tidak,” perlahan dia melanjutkan, “Aku merindukannya…”
“Ah kau, kawan! Kuliah kan masih bisa bertemu…”
Keduanya pun akhirnya tertawa renyah. Syauqi mengakui kebenaran ungkapan Malik. Bahwa dia terlalu berlebihan. Dalam hati dia pun segera beristighfar.
...****************...
yuuuk mmpir juga dikaryaku berjudul "menikah karena perjodohan (Haris dan Hana) " smoga berkenan, mksh 🥰🥰🥰
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk