**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Kartu Truf di Tangan Bagas
Melati membuka pintu dan kehilangan senyumnya saat melihat Bagas.
"Rangga tidak di rumah."
"Aku datang menemuimu."
"Untuk apa?"
Bagas mengangkat map bening di tangannya. "Menyelesaikan masalah yang kamu mulai."
Rumah di pinggiran Magelang itu disediakan keluarga Adiningrat untuk Rangga selama penugasan. Tidak sebesar rumah mereka di Jakarta, tetapi setiap furnitur dan dekorasinya cukup mahal untuk mengingatkan siapa pemilik sesungguhnya.
Melati tidak ingin Bagas berdiri di depan pintu terlalu lama. Seorang tetangga sudah melirik dari balik pagar. Ia mempersilahkannya masuk ke ruang tamu, lalu sengaja membiarkan pintu utama terbuka.
"Bicara cepat. Aku ada janji."
Bagas meletakkan map di meja. Di dalamnya ada salinan akta cerai, hasil USG, formulir perubahan status keluarga, dan daftar dokumen untuk konsultasi rujuk atau akad ulang secara resmi.
Mata Melati berhenti pada nama Kirana.
"Kalian mau menikah lagi?"
"Ya."
"Setelah dia membuangmu?"
"Itu urusanku."
Melati membuka hasil USG. Wajahnya memucat saat membaca keterangan kehamilan kembar. "Dia hamil?"
Bagas merebut lembar itu dan memasukkannya kembali. "Jangan sentuh dokumen medisnya."
"Keluarganya baru bangkrut. Tentu saja dia datang mencarimu." Melati tertawa pendek. "Kirana tidak mencintaimu. Dia hanya butuh tempat berlindung."
"Aku tidak meminta pendapatmu."
"Lalu apa maumu?"
"Surat pernyataan keluarga Prawira yang dikirim setelah akad pertama memakai alamat korespondensi dan tanda tanganmu sebagai penghubung. Sekarang ada data yang tidak cocok dengan keterangan Kirana. Kamu akan datang bersama kami untuk membetulkannya dan menjelaskan bahwa dia tidak pernah mengirim pengaduan ke kesatuan."
"Aku tidak tahu soal pengaduan."
"Aku belum bilang kamu yang mengirim."
Melati terdiam.
Bagas duduk dengan tenang. "Kamu yang membuatku begini. Sekarang kamu ikut membereskan. Tidak ada jalur belakang, tidak ada pemalsuan. Kamu hanya mengembalikan dokumen yang kamu tahan dan memberi keterangan yang benar."
"Aku tidak akan membantu kalian. Nama Prawira sedang hancur. Kalau Kirana menikah denganmu lagi, orang akan semakin yakin dia memakai kehamilan untuk menyelamatkan diri. Rangga dan keluarga Adiningrat juga bisa ikut dipermalukan."
"Kamu lebih takut Rangga bertanya tentang malam di vila."
Jari Melati membeku di tepi map.
"Apa maksudmu?"
Bagas mengeluarkan ponsel dan membuka tangkapan layar pesan anonim. "Seseorang memakai inisial R untuk memancingku ke kamar 207. Kirana bilang kamu yang menyuruhnya naik ke kamar yang sama. Rekaman hilang. Pelayan memakai identitas palsu."
"Itu tidak membuktikan apa-apa."
"Benar. Karena itu aku ingin menceritakan semua kepada Rangga dan meminta dia membantu mencari bukti. Dia pasti tertarik mengetahui kenapa calon istrinya dulu berakhir di ranjang lelaki lain, sementara kamu mendapat tempatnya di keluarga Adiningrat."
Melati meraih map dan mencoba menyobek formulir paling atas. Bagas menangkap pergelangan tangannya sebelum kertas itu terlipat.
"Lepas!"
Ia langsung melepaskan, tetapi mengambil map dari jangkauan. "Merusak salinan tidak menghapus dokumen asli."
"Kamu mengancamku?"
"Aku memberimu pilihan. Beri keterangan yang benar tentang surat administrasi dan berhenti memakai nama Kirana. Kalau menolak, aku bicara kepada Rangga hari ini."
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluargaku."
"Kalau begitu tidak ada alasan untuk takut."
Wajah Melati berubah merah lalu pucat. Rangga mengenalnya sebagai perempuan yang selama bertahun-tahun bertukar pesan dengannya, perempuan yang memahami semua hal kecil dalam hidupnya. Kalau ia mulai memeriksa siapa yang sebenarnya menulis pesan-pesan pertama, seluruh fondasi hubungan mereka bisa retak.
"Baik," katanya akhirnya. "Aku akan datang dan menjelaskan data keluarga. Tapi kamu tutup mulut tentang malam itu."
"Selama kamu tidak berbohong lagi."
Bagas mengeluarkan selembar daftar. "Besok pukul sepuluh. Bawa salinan kartu keluarga lama, surat keterangan alamat yang kamu pakai saat menjadi penghubung, dan semua surel administrasi setelah akad. Kamu juga menandatangani pernyataan bahwa Kirana tidak pernah menitipkan pengaduan melalui dirimu."
"Kamu menyuruhku membuat pengakuan?"
"Aku menyuruhmu menyatakan fakta yang tadi kamu klaim benar. Kalau memang tidak tahu soal pengaduan, seharusnya tidak ada yang kamu takutkan."
Melati membaca daftar itu. Setiap dokumen tampak biasa, tetapi jika diletakkan berdampingan, tanggal dan alamat korespondensinya bisa membuka jejak siapa yang selama ini menerima surat atas nama Kirana.
"Aku perlu waktu."
"Sampai besok pukul sepuluh. Kita bertemu di kantor layanan, bukan di rumah ini. Petugas yang memeriksa, bukan aku."
"Kalau aku tidak datang?"
Bagas memasukkan ponsel ke saku. "Aku datang lagi saat Rangga ada di rumah."
Melati mencengkeram daftar tersebut. "Aku akan datang."
Bagas mengetik satu pesan singkat kepada Kirana bahwa tahap pertama administrasi sudah dijadwalkan. Ia sengaja tidak menyebut ancaman atau nama Melati, hanya tempat dan jam yang bisa dibuktikan.
"Jangan sok suci. Kamu juga mengambil keuntungan dari jebakan itu."
Bagas berdiri. "Aku kehilangan nama baik dan hampir kehilangan anak-anakku sebelum tahu mereka ada. Kalau itu menurutmu keuntungan, kita tidak punya hal lain untuk dibicarakan."
Ia membawa map pergi.
Begitu pintu tertutup, Melati melempar gelas ke lantai.
Seumur hidup, ia selalu berdiri satu langkah di belakang Kirana. Setelah ibunya meninggal, orang memuji Ratna karena mau merawat anak tiri. Setiap pakaian dan biaya sekolah yang diterima Melati membuatnya seolah berutang budi, sementara Kirana mendapatkan cinta tanpa perlu berterima kasih.
Kirana lebih cantik. Nilai desainnya lebih tinggi. Suryo selalu menyimpan karya putri bungsunya di ruang kerja. Bahkan perjodohan dengan putra Adiningrat dijanjikan kepada cucu kandung Mbah Kartono, bukan kepada Melati.
Melati hanya mengambil satu kesempatan yang menurutnya pantas menjadi miliknya.
Rangga, nama Adiningrat, rumah besar di Jakarta, dan tempat sebagai menantu keluarga jenderal. Semua itu tidak akan diserahkan kembali hanya karena Kirana hamil anak seorang perwira desa.
***
Pada saat yang sama, Kirana berjalan pulang dari koperasi sambil memakai topi anyaman lebar.
Ia membelinya dari seorang kakek di sudut toko karena matahari terasa menyengat. Topi itu sederhana, terbuat dari anyaman bambu yang semula menumpuk berdebu di rak diskon. Kirana melipat sedikit satu sisi pinggirannya dan mengikatkan pita biru sisa kemasan belanja.
Seorang perempuan menghentikannya. "Mbak, topinya beli di mana?"
"Di rak belakang koperasi."
Ketika Kirana sampai di kasir untuk membeli air, tiga perempuan lain sudah mencari model yang sama. Petugas koperasi mengeluarkan seluruh stok. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, topi yang berminggu-minggu tidak laku habis terjual.
Kirana hanya tersenyum dan melanjutkan jalan ke wisma. Ia tidak tahu seorang petugas mencatat namanya untuk ditanyakan kepada pengelola esok hari.
***
Di rumahnya, Melati menyapu pecahan gelas ke bawah meja agar pembantu tidak bertanya.
Ia membuka ponsel, masuk ke aplikasi percakapan yang jarang dipakai, lalu mencari satu akun tanpa foto profil. Akun itu pernah membantunya mengirim dokumen Prawira kepada pengelola berita gosip tanpa jejak langsung.
Jarinya mengetik pesan baru.
`Aku punya bahan tentang seorang perwira dan perempuan pembawa masalah. Bisa dibuat anonim?`
Status akun tersebut berubah menjadi aktif.