Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.
Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.
Alden.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.
BRAAKK!
Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: TOPENG YANG RETAK
Langit di atas perbukitan malam itu tampak sehitam tinta, tertutup rapat oleh awan mendung yang menggantung rendah.
Angin dingin meniup kencang dedaunan pohon pinus di luar, menimbulkan suara deru konstan yang bergema samar di seluruh penjuru kediaman mewah itu.
Di dalam ruang makan utama, suasana terasa sangat sunyi dan menekan. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan yang redup, memantulkan bayangan-bayangan panjang di atas meja makan kayu jati.
Di ujung meja, Alden duduk dengan santai seraya memotong daging steak di piringnya. Setiap gerakan pisaunya begitu presisi, tanpa menimbulkan denting sedikit pun pada piring porselen.
Di seberangnya, Sesil duduk tenang, hanya mengaduk-aduk sup krim jamurnya yang sudah mulai mendingin.
Sejak keberhasilannya mengakses internet dua hari lalu dan menemukan kenyataan pahit bahwa namanya dinyatakan telah tewas serta keluarganya dihancurkan, Sesil menyadari satu hal: ia tidak bisa selamanya bertahan dengan sikap pasif.
Ia perlu memprovokasi Alden secara halus untuk mengukur sejauh mana batas kewaspadaan pria itu, sekaligus mencari retakan pada topeng kebaikan yang salamanya dipakai sang pemangsa.
Sesil meletakkan sendoknya perlahan. Ia menarik napas panjang, memasang ekspresi wajah yang tampak linglung, bingung, namun menyimpan rasa penasaran yang teramat sangat—sebuah raut wajah yang persis ditunjukkan oleh seseorang yang memorinya mulai kembali secara sporadis.
"Alden..." panggil Sesil dengan suara pelan dan sedikit bergetar.
Alden tidak langsung menghentikan gerakan tangannya. Pria itu menyuap sepotong daging ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan tenang, lalu menyapu sudut bibirnya menggunakan serbet kain sebelum menatap Sesil dengan senyuman hangat yang biasa.
"Ya, Sayang? Ada apa? Supnya tidak enak?" tanya Alden dengan intonasi yang begitu lembut.
Sesil menunduk, meremas jemarinya di atas pangkuan di bawah meja. "Aku... aku bermimpi semalam. Mimpi yang terasa sangat nyata."
Binar mata Alden mengeras selama sepersekian detik—sebuah perubahan mikro yang tidak akan disadari oleh orang awam, namun tertangkap jelas oleh mata jurnalis Sesil yang kini telah pulih seratus persen.
"Mimpi apa, Sesil?" tanya Alden, suaranya tetap datar dan tenang.
"Aku bermimpi sedang berada di sebuah kantor berisik yang dipenuhi kertas dan layar komputer," jawab Sesil perlahan, menyusun setiap kata dengan kecermatan tingkat tinggi. "Ada papan nama di meja kerja itu... nama lengkapku: Sesil Wijaya – Jurnalis Investigasi. Dan aku tidak sedang menulis tentang artikel gaya hidup atau desain interior seperti yang kamu ceritakan, Alden. Aku sedang menyelidiki kasus skandal obat-obatan terlarang."
TAK.
Suara pisau makan Alden yang diletakkan agak keras di atas porselen memecah keheningan ruangan.
Atmosfer di dalam ruang makan itu berubah secara instan. Senyuman hangat di wajah Alden sirna tanpa jejak, digantikan oleh raut muka yang dingin, kaku, dan membeku.
Udara di sekeliling mereka seolah mendadak merosot hingga ke titik beku.
Alden menyandarkan punggungnya ke kursi mahoni, menatap Sesil lurus-lurus. Binar afeksi buatan yang biasanya menghiasi manik mata hitamnya kini menguap sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah tatapan dominan yang sangat gelap dan mengintimidasi—tatapan asli dari seorang sosiopat yang merasa otoritasnya sedang diganggu gugat.
"Mengapa kamu mendadak mempertanyakan hal itu lagi, Sesil?" tanya Alden. Intonasi suaranya kini berubah dari lembut menjadi nada rendah yang penuh dengan ancaman terselubung. "Bukankah kita sudah membahas ini? Pria bernama Rian itu telah meracuni pikiranmu sebelum kecelakaan, dan kamu kembali membiarkan ilusi itu mengganggu otakmu."
"Tapi mimpi itu terasa sangat nyata, Alden," desak Sesil, memajukan tubuhnya sedikit, berpura-pura emosional dan bingung. "Aku bahkan mengingat nama perusahaan yang kuperiksa... PT Mandaroba Medika. Bukankah itu perusahaan milik keluargamu? Kenapa aku merasa pernah bekerja sebagai jurnalis investigasi yang mencoba membongkar perusahaanmu?"
Brak!
Alden memukul meja makan dengan telapak tangannya. Suara benturan itu begitu keras hingga cangkir kristal di atas meja bergetar dan menimbulkan denting nyaring.
Sesil berpura-pura terperanjat, menyusutkan tubuhnya ke belakang dengan raut ketakutan yang dibuat sangat natural.
Alden berdiri dari kursinya. Pria berpostur tinggi besar itu melangkah mengitari meja makan, mendekati tempat duduk Sesil. Setiap langkah kakinya terasa berat dan penuh pemaksaan.
Pria itu berhenti tepat di samping kursi Sesil, lalu membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Sesil.
Sesil bisa merasakan embusan napas hangat Alden yang beraroma anggur merah dan sandalwood, namun kali ini sentuhan itu tidak lagi memancarkan kehangatan sintetis, melainkan teror murni.
Alden mengulurkan tangannya. Jemarinya yang panjang dan kuat tidak lagi mengusap pipi Sesil dengan lembut, melainkan mencengkeram rahang Sesil dengan tekanan yang cukup kuat hingga membuat Sesil menahan ringisan sakit.
"Dengar baik-baik, Sesil," bisik Alden tepat di depan bibir Sesil. Suaranya terdengar sangat tajam, dingin, dan penuh obsesi yang kelam. Topeng pahlawan yang dipakainya selama berminggu-minggu kini benar-benar telah retak dan hancur berkeping-keping.
"Aku tidak peduli apa yang kamu lihat di dalam mimpimu," lanjut Alden dengan cengkeraman rahang yang makin mengetat. "Aku tidak peduli siapa dirimu di masa lalu! Jurnalis, penulis, atau apa pun itu—dunia di luar sana sudah menganggapmu mati! Kamu paham? Kamu tidak lagi memiliki masa lalu di luar sana!"
Mata Sesil berkaca-kaca oleh rasa sakit di rahangnya dan teror yang dipancarkan Alden, namun di dalam hatinya, ia mencatat setiap respons ini. Pria ini telah benar-benar panik. Pertanyaannya telah menghantam titik paling rapuh dari kebohongan Alden.
"Alden... kamu menyakitiku..." ringis Sesil lemah, mengalirkan air mata buatan di pipinya.
"Aku menyakitimu karena kamu tidak bersyukur!" bentak Alden, suaranya meninggi menggema di ruang makan yang luas itu. "Aku telah memberikanmu segalanya! Aku menyelamatkan nyawamu dari jalanan! Aku membawamu ke rumah ini, memberimu kehidupan baru yang aman, dan berniat menjadikanmu istriku! Tapi kamu justru terus-menerus mencoba mencari kebenaran tentang hal-hal busuk dari masa lalumu!"
Alden melepaskan cengkeraman pada rahang Sesil secara kasar, membuat kepala Sesil terdorong ke samping. Pria itu berdiri tegak, mengacak rambutnya sendiri seraya tertawa dingin—sebuah tawa yang dipenuhi oleh kekacauan mania dan obsesi kontrol.
"Kamu adalah milikku, Sesil," ujar Alden dengan nada suara yang kini terdengar seperti sebuah vonis hukuman yang tak bisa diganggu gugat. "Ingatanmu, tubuhmu, dan seluruh jalan hidupmu adalah ciptaanku. Jika kamu terus-menerus membiarkan ingatan jurnalis busuk itu muncul kembali dan mengancam apa yang telah kubangun untuk kita... maka aku tidak akan ragu untuk meningkatkan dosis obatmu."
Sesil memegang rahangnya yang berdenyut sakit, menatap Alden dengan mata lebar yang pura-pura dipenuhi ketakutan dan trauma.
"Aku... aku minta maaf, Alden..." bisik Sesil dengan suara tercekik, berpura-pura menyerah dan pasrah. "Aku tidak akan mempertanyakannya lagi... tolong jangan marah..."
Melihat respons ketakutan dan kepatuhan dari Sesil, gejolak emosi gelap dalam diri Alden perlahan-lahan mereda. Pria itu merapikan kembali setelan kemejanya yang sedikit kusut.
Raut wajahnya yang tadinya liar dan mengerikan perlahan-lahan kembali meniru topeng ketenangan, meski kini terasa sangat tipis dan berantakan.
Alden berlutut di samping kursi Sesil, menyentuh tangan Sesil yang bergetar, lalu mengecup tangan itu dengan bibirnya yang dingin.
"Bagus, Sayang," ucap Alden dengan nada suara yang dipaksa kembali lembut, namun menyisakan hawa ancaman yang tebal. "Aku melakukan ini semua karena aku teramat sangat mencintaimu. Jangan pernah memaksaku untuk menjadi orang lain di hadapanmu lagi."
Alden berdiri, lalu memanggil Ibu Marta dengan suara keras untuk membereskan meja makan, sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang makan menuju ruang kerjanya di lantai atas.
Setelah bayangan Alden menghilang di balik belokan tangga dan gema langkah kakinya memudar, Sesil perlahan-lahan menegakkan punggungnya. Ia mengusap air mata di pipinya. Bekas cengkeraman jemari Alden di rahangnya meninggalkan warna kemerahan yang terasa perih.
Namun, di dalam keremangan ruang makan itu, tidak ada lagi ketakutan di mata Sesil. Senyuman dingin yang sangat tajam terbit di bibirnya.
Topeng Alden telah retak. Pria itu telah menunjukkan wujud aslinya sebagai monster posesif yang tidak ragu menggunakan kekerasan fisik jika kendalinya terancam.
Dan bagi Sesil Wijaya, seorang jurnalis investigasi yang telah kembali utuh, retaknya topeng sang pemangsa adalah celah terbesar yang dibutuhkannya untuk mengeksekusi rencana pelariannya dari neraka perbukitan ini.