NovelToon NovelToon
Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.

Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.

Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.

Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.

Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Pagi itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Biasanya pada jam seperti ini aroma masakan sudah memenuhi rumah. Tapi hari ini, dapur masih sepi. Tidak ada bunyi wajan, tidak ada bau bumbu yang digoreng. Hanya keheningan yang diisi oleh suara tangisan Janu dari kamar dan keluhan Rukmini yang semakin keras.

Ceklek....

Begitu pintu kamar utama terbuka, Mia dan Kayla keluar dengan penampilan yang sudah rapi. Mia mengenakan blus putih bersih dan celana kain, rambutnya diikat rapi. Kayla memakai dress kecil berwarna kuning, sepatu putih, dan rambutnya disanggul kecil oleh ibunya. Keduanya terlihat siap pergi.

Rukmini yang sedang duduk di ruang makan langsung berdiri. Wajahnya tegang.

“Kamu ngapain saja? Kenapa belum ada makanan?” tanyanya sambil menatap tajam menantunya. Suaranya nyaring, memenuhi seluruh ruangan. “Sudah jam tujuh! Kami lapar! Janu juga sudah rewel!”

Mia hanya memutar bola matanya dengan malas. Tidak ada rasa takut seperti dulu. Tidak ada lagi keinginan untuk segera berlari ke dapur.

“Masak sendiri. Aku ada urusan” jawabnya acuh tak acuh.

Rukmini terbelalak. “Apa katamu?!”

Mia tidak menjawab lagi. Ia hanya menunduk ke arah putrinya, tersenyum lembut, lalu menggandeng tangan kecil Kayla.

“Ayo, sayang.”

Ia berjalan melewati mertuanya dengan langkah tenang, membuka pintu rumah, dan keluar tanpa menoleh. Kayla ikut melambaikan tangan kecil ke arah ayahnya yang masih berdiri di dekat sofa.

Rukmini menatap punggung menantunya yang menjauh dengan penuh amarah. Rahangnya mengeras.

“Lihat istrimu, Rian!” teriaknya sambil menunjuk ke arah pintu. “Dia sudah berani melawan Ibu! Sudah tidak tahu diri! Baru pulang satu hari, sudah sombong begini!”

Rian menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya, lelah menghadapi drama pagi-pagi begini. “Mia hari ini ada perlu, Bu. Ibu masak sendiri dulu saja. Di kulkas masih ada sayur dan ayam. Tinggal dimasak.”

Rukmini berbalik cepat, menatap anaknya seolah baru saja dikhianati.

“Kamu mulai membela istrimu?” suaranya bergetar, penuh drama. “Kamu tidak ingat siapa yang mengurusmu waktu kecil? Siapa yang digendong sampai malam? Siapa yang susah payah membesarkanmu sampai jadi orang? Sekarang kamu bela dia, lawan Ibu sendiri?”

Ia selalu mengungkit masa lalu. Seolah setiap kali merasa tersinggung, ia bisa menarik Rian kembali ke masa kanak-kanak, mengingatkan jasa yang sejatinya memang sudah menjadi kewajibannya sebagai orang tua. Rian sudah sering mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Setiap kali ia mencoba membela Mia, ibunya akan mengeluarkan senjata yang sama.

Rian terdiam. Di dadanya bercampur antara rasa bersalah dan rasa kesal. Ia tahu ibunya sedang berlebihan. Ia juga tahu Mia memang sudah berubah sejak pulang dari rumah orang tuanya. Tapi menghadapi raut wajah Rukmini yang penuh kekecewaan palsu, lidahnya kembali kelu.

Dari luar, suara mesin mobil menyala. Mia sudah membawa Kayla pergi dengan mobil yang kemarin ia klaim sebagai miliknya.

Rukmini masih berdiri di tengah ruang makan, napasnya memburu. “Ini semua salahmu, Rian. Kamu terlalu membiarkan istrimu. Sekarang dia sudah tidak hormat sama mertua. Nanti semakin parah!”

Rian hanya duduk di kursi, menatap meja makan yang masih kosong. Di kepalanya terlintas wajah Mia yang tadi begitu tenang saat berjalan keluar. Ada sesuatu yang berbeda pada istrinya. Sesuatu yang membuatnya sedikit takut, sekaligus… lega.

Kini Mia tidak lagi menjadi orang yang selalu mengalah. Dan Rukmini, untuk pertama kalinya, harus menghadapi kenyataan bahwa menantunya tidak lagi mudah dikendalikan.

Rian berdiri dari kursinya. Ia mengambil tas kerja yang sudah disiapkan di dekat sofa, lalu menatap ibunya yang masih berdiri dengan wajah penuh amarah.

“Sudahlah, Bu. Aku harus berangkat kerja. Tukang ojeknya sudah datang,” ucapnya pelan ketika melihat driver ojek online yang ia pesan sejak tadi sudah menunggu di depan pagar.

Rukmini membelalakkan mata. “Ojek?! Kamu serius mau naik ojek ke kantor? Padahal mobil ada!”

Rian tidak menjawab panjang. Ia hanya mengangguk singkat. “Mobilnya dibawa Mia. Kan Mia sudah bilang kemarin.”

Ia berjalan menuju pintu. Rukmini masih terus berbicara di belakangnya, suaranya semakin tinggi.

“Rian! Kamu tidak perduli dengan ibu, dengan keponakanmu, dengan Lukman. Sekarang ini kami kelaparan"

Rian membuka pintu, lalu menoleh sebentar. Wajahnya lelah. “Bu, di kulkas masih ada bahan. Ibu bisa masak. Aku terlambat nanti.”

Tanpa menunggu jawaban, ia keluar dan menaiki ojek yang sudah menunggu. Helm dipasang, mesin dinyalakan, dan motor pun melaju meninggalkan rumah. Di belakang, Rukmini masih berdiri di ambang pintu dengan tangan di pinggang, napasnya memburu karena marah.

Di dalam rumah, suasana langsung berubah tegang. Sonya keluar dari kamar sambil menggendong Janu yang masih menangis.

“Bu… mau makan apa kita?” tanyanya pelan, sedikit takut.

Rukmini memutar badan, wajahnya masih merah. “Masak sendiri! Ibu tidak mau diginiin terus oleh menantu kurang ajar itu. Rian juga sudah mulai membela dia. Sudah, kamu bantu Ibu di dapur.”

Sonya mengangguk patuh, lalu berjalan ke dapur. Lukman yang sejak tadi hanya duduk di ruang tamu sambil memainkan ponsel hanya menghela napas panjang, tidak mau ikut campur.

Sementara itu, di jalan, Rian duduk di belakang ojek dengan pandangan kosong. Angin pagi menerpa wajahnya. Di kepalanya terus berputar mengingat msalahnya di rumah. Rumah yang dulu tenang, dan harmonis, berubah menjadi arena pertengakaran setiap hari.

Rian mengusap wajahnya di balik helm. Dan Rian, di atas ojek yang melaju menuju kantor, mulai bertanya pada dirinya sendiri. Sampai kapan ia harus terus memilih diam di antara ibunya dan istrinya?

*

*

Sementara itu di tempat lain, Mia baru saja tiba di rumah orang tuanya.

Mobil berhenti di depan pagar. Begitu pintu terbuka, Maya dan Wahyu langsung keluar menyambut. Wajah ibunya cerah, sementara ayahnya tersenyum lega melihat putri dan cucunya kembali.

“Sudah sampai,” kata Maya sambil membuka pintu mobil. Ia langsung mengulurkan tangan. “Kamu sudah sarapan? Ayo, kita sarapan dulu.” Tanpa menunggu jawaban, ia mengambil alih Kayla dari gendongan Mia. Bocah itu dengan senang hati berpindah ke pelukan neneknya.

Mia tersenyum kecil. “Ayo, Ma. Kebetulan aku juga belum sarapan.” Ia mengikuti langkah ibunya masuk ke dalam rumah.

Di ruang makan, meja sudah ditata rapi. Nasi hangat, telur dadar, tumis kangkung, dan sambal terhidang. Mereka duduk berempat melingkari meja.

Wahyu yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. “Rian mana?” tanyanya sambil menyendok nasi.

Mia menjawab singkat, tanpa banyak ekspresi. “Sudah berangkat kerja. Aku kesini mau menitip Kayla"

Ibunya menatapnya sebentar, seolah ingin bertanya lebih jauh, tapi menahan diri. Suasana sarapan berlangsung tenang. Kayla makan dengan lahap, sesekali tersenyum pada kakek-neneknya. Mia sendiri makan pelan, menikmati kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan di rumahnya sendiri.

Setelah beberapa saat, Maya mengelus punggung putrinya. “Tidak apa-apa biar Kayla di sini dulu sama mama. Kalau kamu capek, bilang saja. Rumah ini selalu terbuka kalian”

Mia mengangguk. Di hati, ia merasa lega. Pagi ini ia sudah mengambil keputusan kecil, tidak lagi selalu tersedia untuk disuruh. Dan sekarang, di tengah keluarga yang menyayanginya tanpa syarat, ia bisa bernapas lebih lega.

"Aku mau cari kerja ma" ucap Mia.

Maya dan Wahyu saling tatap. Mereka tahu, dulu sang putri berhenti kerja karena Rian. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba mau kerja lagi?

"Kamu serius? Memangnya Rian mengizinkannya?" tanya Maya.

"Rian tidak punya pilihan lain ma. Gajinya tidak cukup menghidupi kami dan keluarganya" jawab Mia.

1
Oma Gavin
tinggal tunggu waktu keluarga rukmini jadi gembel jalanan
Ma Em
Bagus Mia kamu hrs berani dan tegas ambil keputusan jgn mau dijadikan pembantu di rumahmu sendiri , ada suami tdk pernah membela istrinya malah selalu berpihak pada keluarganya , daripada rumah tangga Mia selalu bertengkar dan tdk bahagia keputusan Mia sdh tepat untuk bercerai dgn Rian .
Agus Tina
Thor double up kalau bisa ya ...
Oma Gavin
jgn goyah jgn mundur jgn luluh sama rian bila perlu pakai pengacara yg baik biar proses cerai mu cepat dan tutup semua akses mediasi
Agus Tina
Bagus Mia
Anonim
rumah punya sendiri mobil punya sendiri orh tua juga punya…ngapain mia gpblok bget msih bertahan sm keluarga benalu suaminya…jd bosan baca ceritanya muter2 terus
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuuuuut
Putri Wulandari
lanjut thor udah dipukulin numpang tapu ga ada karmanya
Anita Rahayu
SI MIA BEGO KEBANGETAN UDAH TAU MASUK SARANG HARIMAU HABISLAH BODOH YG GK BERSUDAHAN 😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
Susan Paulina
Lanjut Thor
Lee Mba Young
di pukul bisa buat laporan ke polisi itu.
Oma Gavin
laporkan polisi biar dipenjara orang ngga guna banget hidup cuma numpang napas aja
Lee Mba Young
mia lbih baik jng pulang apa lagi bawa anak nya, nnti pasti Ada pertengkaran kasian Kayla akn trauma.
Oma Gavin
sukurin kalian benalu parasit silahkan angkat kaki tanpa uang sepersen pun hbs ini mia gugat cerai jgn mau lagi hidup dgn suami ketoy plin plan ngga tegas
Agus Tina
Syukurin, nanti kalau Rian marah ajukan proses cerai saja langsung
Agus Tina
Jenf .. jeng .. jeng
Lee Mba Young
Surat Surat penting bawa rumah ortu, mending jng pulang lah. anakmu mental down nnti bisa bisa trauma. mending tinggal di rumah ortu mu lah.
Oma Gavin
sertifikat asli lebih baik disimpan di rumah ortu mu demi keamanan jgn sampai dibawa pulang lagi nanti di curi grandong
Agus Tina
Pergi saja, cerai ... ambil milikmu kembali ..
Lee Mba Young
Sdh tau laki nya bgitu knp balik lagi ke rumah, hrse lngsung beres beres ambil Surat penting, sertifikat trus pergi urus Surat cerai.
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!