Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Pintu kembali terbuka dan Retno datang bersama putra bungsunya
"Bu" Aini menyapa, saat ia hendak mengulurkan tangannya Retno malah melewatinya begitu saja
"Gimana keadaannya Kasih? Kok bisa sih dia sakit gini?" Retno menatap tajam menantunya "Ini pasti karena kamu yang gak becus jadi ibu! Emang gak guna kamu!"
Aini hanya menghela napasnya, mencoba mengatur emosinya agar tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan
Ratih sudah tersulut emosi, sebagai seorang ibu, jelas saja ia marah melihat putrinya disalahkan
"Mbak jangan asal ngomong yaa! Aini itu sudah berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik" Dedi menggenggam tangan sang istri agar tidak membuat keributan mengingat sekarang mereka tengah berada dirumah sakit
"Kamu gak usah belain anak kamu! Emang dia gak becus kan" Retno menatap dengan marah
"Sudahlah Bu! Jangan cari masalah" Ratih kesal karena suaminya malah mencegah
"Bu, harusnya ibu lihat gimana kak Aini semalam! Dia sendirian ngurusin Kasih yang panas tinggi, tapi mas Andra dimana? Anak ibu bahkan gak pulang semalaman" Faris ikut bicara
"Gak usah ngebelain Aini kamu! Lagian Abang mu itu kerja! Dia itu sibuk!"
"Kalau gitu ibu gak usah nyalain kak Aini, kak Aini juga sibuk dan capek semalaman gak bisa istirahat!"
"Udahlah! Kalau kalian masih mau ribut mending diluar aja! Kasih lagi sakit" Ujar Andra membuat semuanya diam
"Sebaiknya kamu cerein aja istri kamu ini! Kamu bisa dapat yang jauh lebih baik, Andra!" Ucap Retno yang semakin membuat Ratih kesal, semakin kesal karena suaminya memintanya untuk diam
"Bu" Andra membentak dan itu membuat Kasih yang tengah terlelap terbangun sampai Aini harus menenangkannya
"Sebaiknya ibu pulang aja! Kasih harus banyak istirahat!" Andra memohon
"Kita pulang aja Bu! Kasian Kasih" Faris menimpali
"Ibu cuma ngomong kebenarannya! Harusnya Abang kamu bisa dapat istri yang baik dan Kasih bisa punya ibu yang becus"
"Jaga ucapan mbak yaa! Saya masih diam karena masih menghargai mbak Retno dan tidak ingin membuat keributan! Tapi kalau mbak terus menghina Aini, maka saya juga gak akan tinggal diam"
Dedi menenangkan istrinya, sebaiknya ia membawa wanita ini keluar karena jelas akan terjadi keributan
"Sebaiknya kita pulang aja Bu! Kasian Kasih sampe bangun gitu!" Dedi menarik tangan istrinya sebelum itu ia berpamitan pada putrinya lebih
"Bapak sama ibu pulang dulu yaa nak! Kamu yang sabar!"
Aini tersenyum "Iya pak, makasih udah dateng jengukin Kasih"
Dedi mengusap kepala putrinya, walaupun Aini sudah berkeluarga dan memliki seorang Putri, Dedi tetap menganggapnya sebagai putri kecilnya
"Ibu juga pamit yaa nak, kalau kamu udah gak tahan kamu bisa pulang kerumah bapak sama ibu" Ujar Ratih sambil menatap tajam besannya itu
"Aini baik-baik aja kok Bu"
"Bapak pamit yaa nak Andra"
"Iya pak, maafin Andra yaa pak" Dedi hanya mengangguk, membiarkan putrinya menghadapi masalah rumah tangganya
"Ibu juga mending pulang aja!" Kata Andra membuat sang ibu membulatkan matanya
"Kamu ngusir ibu?" Tanya Retno tak percaya
"Bukan ngusir, Bu. Andra cuma gak mau ada keributan, kasian Kasih"
Faris mendekati sang ibu "Udahlah Bu, ayo kita pulang!"
Sebelum pergi, sempat-sempatnya Retno menatap tajam pada menantunya itu. Aini hanya bisa menghela napasnya saja melihat mertuanya itu
"Maafin ibu yaa kak Aini"
"Gak apa-apa Faris, kakak baik-baik aja kok" Aini mengulas senyumnya
Setelah semuanya pergi, ruang perawatan Kasih kembali hening dan bayi empat bulan itu kembali bisa istirahat
"Kamu gak usah dengerin ucapan ibu" Ucap Andra pada istrinya
"Mungkin apa yang ibu bilang bener, aku bukan istri dan ibu yang baik" Aini menghampiri putrinya setelah mengatakan itu
Keesokan harinya, Kasih diizinkan untuk pulang. Dengan menggunakan mobilnya, Andra membawa istri serta buah hatinya kembali kerumah
"Aku tidurin Kasih dulu di kamar!" Ujar Aini dan Andra mengangguk
Setelah memastikan putrinya tenang, barulah Aini kembali keruang tamu dimana suaminya tengah duduk
"Mas mau aku buatin kopi?" Tanya Aini saat melihat wajah lelah suaminya, selama dirumah sakit Andra memang tidak beristirahat dengan baik
"Boleh dek"
Tak lama Aini datang dengan segelas kopi, ia letakkan gelas itu didepan suaminya, Andra menyesap kopinya
"Maafin mas yaa"
"Kenapa mas minta maaf?" Tanya Aini
"Kemarin kamu pasti ketakutan, mas sibuk banget makanya mas gak nyalain hp" Ujar Andra yang tidak sepenuhnya jujur, ia memang sibuk, namun sibuk bersama selingkuhan nya
"Gak apa-apa mas, untung Faris datang tepat waktu" Ucap Aini, ia sangat berterima kasih pada adik iparnya itu, jika buka karena Faris entah bagaimana dirinya malam tadi
***
Hari ini Andra kembali melakukan aktivitas seperti biasanya, kedatangannya kekantor ternyata telah ditunggu oleh sang kekasih
"Kamu dari mana aja sih mas? Kemana kamu dua hari gak kekantor?" Cecar Sarah yang merasa kekasihnya ini mulai mengabaikannya
"Aku udah izin kekantor kalau dua hari aku ada dirumah sakit buat temenin Kasih" Andra melangkah lalu duduk dikursinya
"Aku ngerasa kalau kamu udah gak cinta lagi sama aku" Ujar Sarah dengan raut wajah kesal
"Kamu jangan bersikap kekanak-kanakan, Sarah! Kepala aku pusing tau gak" Andra memang didera sakit kepala, sang putri yang sakit belum lagi sang istri yang bersikap dingin, sekarang ditambah Sarah yang berulah
"Kamu kenapa mas? Ada masalah dirumah?" Tanya Sarah, ia harus bersikap lembut. Bagaimanapun ia membutuhkan Andra untuk kelangsungan hidupnya
"Sepertinya Aini curiga kalau aku selingkuh" Andra sampai memijat kepalanya
Sarah duduk diatas pangkuan kekasihnya, ia harus membuat Andra semakin tergila-gila padanya
"Aku bisa bikin kamu gak pusing lagi"
Andra tersenyum, jemarinya meraih dagu wanita itu lalu mengecup bibirnya yang selalu menggoda
"Kamu memang yang paling bisa"
"Kenapa gak kamu cerein aja istri kamu itu? Kamu juga udah bosen kan sama dia" Jemari Sarah bergerak diatas dada bidang kekasihnya membuat gambar abstrak disana
"Ibu juga nyaranin buat aku menceraikan Aini"
"Terus kenapa kamu masih mempertahankan dia?"
"Kamu tau sendiri aku sama Aini itu punya anak, aku gak mau jauh dari Kasih" Kata Andra
"Aku bisa kok jadi ibu sambung yang baik untuk Kasih, kamu tenang aja! Aku akan menganggap Kasih sebagai anak aku sendiri" Bujuk Sarah, segala cara akan ia lakukan agar bisa menjadi istri pria tampan ini
"Aku akan pikirin nanti, sekarang aku butuh bantuan, kepala aku pusing"
Sarang mengerti, wanita seksi itu turun kebawah dan kini ia berada diantara kaki pria itu
Dengan gerakan lincah, Sarah mengeluarkan benda tegak itu lalu memulai aksinya
Pintu tiba-tiba terbuka membuat Andra tersentak, pria itu memperbaiki posisinya agar tegak namun Sarah tidak berhenti dari aktivitas nya
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.