NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Akun Alter yang Keceplosan

Malam harinya, sekitar pukul sepuluh, kamar mewah Rendra kembali bermandikan cahaya temaram dari lampu backlight monitornya. Di atas meja, ponselnya bergetar konstan. Rendra baru saja menyelesaikan sesi latihan e-sports dengan tim anonimnya dan langsung membuka Discord demi mencari satu nama yang menjadi pusat rotasi dunianya: NIGHTMARE.

Rendra buru-buru menekan tombol unmute di mikrofonnya begitu melihat lingkaran hijau menyala di profil Naya.

"Nayaaaaaa! Capek banget gue hari ini, refleks tangan gue rada lambat gara-gara kurang tidur," keluh Rendra dengan suara cempreng aslinya yang manja, langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja PC.

Dari seberang voice channel, terdengar suara kunyahan keripik kaca yang renyah, disusul suara malas Naya. "Halah, lu kebanyakan alesan, Ren. Tadi pas match kedua lu mati konyol gara-gara salah positioning. Lu mikirin apa sih? Tumben bener otak top global lu nge-blank."

Rendra langsung menegakkan punggungnya, memanyunkan bibirnya ke arah monitor seolah Naya bisa melihatnya. "Gue gak nge-blank, Nay! Gue cuma... lagi seneng aja. Mood gue hari ini lagi bagus banget dari pagi!"

"Dih, kesambet setan apa lu? Biasanya lu dateng-dateng langsung nangis bombay komplain soal cewek-cewek di sekolah lu," cibir Naya di seberang sana, terdengar suara ketukan keyboard mekaniknya yang berisik. "Eh, tapi ngomong-ngomong soal mood bagus, gue juga hari ini dapet rezeki nomplok tahu."

Jantung Rendra langsung berdegup kencang. Saklar obsesinya mendadak bergetar hebat. Dia tahu persis arah pembicaraan ini. “Ayo, Nay... ceritain soal kopi dan croissant dari gue!” batin Rendra bersorak lebay.

"Rezeki apaan, Nay? Lu menang gacha?" tanya Rendra, mencoba menahan nada suaranya agar terdengar natural dan penasaran seperti biasa.

"Bukan. Tadi pagi pas gue dateng ke kelas dalam kondisi kelaparan karena ga sempet sarapan, tiba-tiba di meja gue udah ada paketan kopi caramel macchiato premium sama croissant cokelat anget. Gila, pas bener momennya. Langsung gue sikat sampai bersih," cerita Naya dengan nada yang terdengar sedikit lebih ceria dari biasanya.

Mendengar sang pawang mental memuji makanan kirimannya, batin Rendra langsung menggelar pesta kembang api. Dia guling-guling di kursi gaming-nya sambil menggigit ujung bantal kursi saking kegirangan. “YES! Dia suka! Dia suka banget kopi sama roti dari gue! Berhasil, rencana gue berhasil total!”

"Wah, serius lo, Nay? Gila, elite bener yang ngirim. Jangan-jangan itu dari secret admirer lo yang kaya raya?" pancing Rendra dengan nada usil.

"Kagak tahu gue. Tadi anak-anak kelas pada heboh ngegosip, katanya dari anak basket lah, dari kakak kelas lah. Tapi bodo amat, yang penting perut gue kenyang," sahut Naya santai. "Tapi yang bikin gue bingung, di cup kopinya itu ada stiker kucing hitam pake kacamata. Mirip logo server kita, kan? Makanya gue sempet mikir, apa jangan-jangan ada anak server kita yang satu sekolah sama gue?"

Mendengar analisis Naya, sisi anxious Rendra mendadak mendepak sisi obsesifnya. Wajah Rendra langsung pucat pasi. Dia baru ingat kalau pagi-pagi sekali dia menempelkan stiker itu tanpa berpikir panjang.

"E-eh? Stiker kucing hitam?" Rendra mendadak gagap, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

"Iya. Tapi kayaknya ga mungkin deh. Anak sekolah gue kan isinya bocah-bocah borjuis yang sok keren semua, terutama si pangeran sekolah yang duduk di tengah kelas gue itu. Gak mungkin ada yang sehobi wibu kayak kita," lanjut Naya tanpa dosa, memberikan pukulan telak tepat ke ulu hati Rendra di dunia nyata.

Rendra merengut kesal di kamarnya. “Heh, Naya sayang, wibu borjuis sok keren yang lo maksud itu gue! Dan yang ngirim makanan itu juga gue!” batin Rendra meronrong frustrasi. Karena terlalu emosi dan panik secara bersamaan, otak Rendra mendadak mengalami korsleting fatal.

"Sembarangan lo kalau ngomong! Pangeran sekolah lo itu ga sok keren ya! Lagian mana ada kakak kelas anak basket yang ngirim makanan subuh-subuh jam enam lewat sepuluh pas koridor lantai dua masih sepi senyap! Itu murni kerjaan setan baik hati yang pengen lo kenyang, tahu!" semprot Rendra berapi-api, membela dirinya sendiri dengan nada tinggi.

Hening.

Suara ketikan keyboard Naya di seberang voice channel mendadak berhenti total. Hanya terdengar suara dengung statis dari mikrofon mereka selama beberapa detik yang terasa sangat menyiksa bagi Rendra.

Rendra membeku di kursinya. Matanya melotot menatap layar Discord. Tangannya yang memegang mouse mendadak kaku sekeras batu.

“No.. no... gue tadi ngomong apa?” batin Rendra menjerit histeris. Otaknya memutar ulang kalimatnya barusan. Jam enam lewat sepuluh? Koridor lantai dua?

"Ren..." panggil Naya pelan, suaranya kini tidak lagi terdengar malas atau ketus, melainkan sangat dingin, tajam, dan penuh dengan nada selidik yang mengerikan. "Gue tadi cuma bilang kalau makanan itu udah ada pas gue dateng. Gue sama sekali gak ada nyebutin jam berapa makanan itu ditaruh. Dan gue juga gak ada nyebutin kelas gue ada di lantai berapa."

Rendra menelan ludahnya dengan sangat berat. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun Sahara. "E-eh? Masa sih, Nay? Kayaknya tadi lo ada bilang deh..." jawab Rendra dengan suara yang gemetaran parah, mencoba melakukan gaslighting tingkat amatir.

"Gak. Gue gak ada bilang," potong Naya cepat tanpa ampun. "Kok lu bisa tahu sedetail itu? Jam enam lewat sepuluh? Koridor lantai dua? Lu... tahu dari mana, King_Ren?"

"G-gue... gue cuma nebak, Nay! Iya, nebak doang! Kan biasanya sekolah emang sepi jam segitu! Terus... terus lantai dua kan emang zona kelas XI!" Rendra mulai berbicara ngalor-ngidul dengan kepanikan tingkat dewa. Dia menjambak rambutnya sendiri di kamar, rasanya ingin membenturkan kepalanya ke meja karena kebodohannya sendiri.

Di seberang sana, Naya menyipitkan matanya di depan layar monitor. Otaknya yang tajam sebagai admin komunitas besar mulai menghubungkan titik-titik kecurigaan yang selama ini dia abaikan. Detail jam, lokasi lantai, hingga suara getaran panik dari akun @King_Ren yang mendadak terdengar sangat mirip dengan seseorang yang dia kenal di dunia nyata.

"Lu nebak... atau lu emang ada di sana pagi tadi, Ren?" tanya Naya dengan nada mengintimidasi, memasang jebakan psikologis yang membuat Rendra semakin terpojok.

"GAK! Gue ga di sana! Gue kan di rumah! Nay, ini game-nya udah siap nih, buruan start match-nya, yuk!" Rendra mencoba mengalihkan pembicaraan dengan suara yang sengaja dicemprengkan, namun getaran ketakutan di suaranya sama sekali tidak bisa disembunyikan.

Naya tidak menjawab lagi, dia hanya mendengus pendek lalu menekan tombol ready. Namun, di dalam kamarnya, Naya sudah mencatat kecurigaan ini di dalam otaknya. “Jam enam lewat sepuluh... koridor lantai dua... stiker kucing hitam... dan suara panik barusan.”

Naya mengetuk-ngetuk dagunya dengan pulpen. Sebuah rencana penyelidikan besar sudah tersusun di kepalanya untuk esok pagi di sekolah. Sementara di kamar mewahnya, Rendra merosot dari kursi gaming-nya ke lantai, menangis tanpa air mata meratapi saklar obsesinya yang malam ini justru berubah menjadi saklar kehancuran rahasianya sendiri. Bom waktu itu... kini detakannya terdengar semakin cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!