NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Bukan Kinanti

"Kamu sengaja bikin saya lumutan nungguin kamu di sini?!"

Hening sejenak di seberang sana, sebelum sebuah suara berat yang sangat ia kenal menjawab.

"Den... ini saya, Pak Mamat."

Rahsya tersentak. Ia menjauhkan ponsel dari telinga dengan gerakan refleks, menatap layar dengan mata membelalak lebar. Nama kontak yang tertera di sana jelas-jelas adalah 'Amel'.

'Benar, ini nomor Amel. Bukan nomor Pak Mamat,' batinnya kebingungan.

Ia kembali menempelkan ponsel ke telinga, raut wajahnya berubah dari marah menjadi heran bercampur cemas. "Kenapa yang menjawab teleponnya Pak Mamat?" tanya Rahsya, suaranya merendah.

"Oh, ini, Den. Tadi saya tidak sengaja mendengar nada dering telepon dari arah kamar Non Amel. Karena penasaran, saya masuk saja untuk mengecek," suara Pak Mamat terdengar agak panik di seberang sana. "Ternyata ponsel Non Amel ketinggalan di atas kasur, Den."

'Sial,' umpat Rahsya dalam hati.

Rahsya memijat pangkal hidungnya yang terasa pening seketika. Ia menatap ke arah pintu masuk pasar malam yang hiruk-pikuk dengan perasaan campur aduk. Amel pergi sendirian, tanpa membawa ponsel, di tempat seramai ini. Rasa kesalnya kini perlahan berganti menjadi kecemasan yang mulai merayap di tengkuknya.

"Ya sudah, Pak. Bapak tetap di vila saja, biar saya cari dia secara manual di dalam," ucap Rahsya pasrah sebelum akhirnya mematikan sambungan.

Ia mengunci motornya dengan gerakan cepat, lalu melangkah lebar memasuki area pasar malam. Matanya yang tajam mulai menyisir kerumunan di antara stan-stan baju dan penjual martabak, berharap bisa segera menemukan jaket hoodie hitam yang dipakai Amel sebelum malam semakin larut.

Namun, kesialan sepertinya sedang berpihak pada Rahsya malam ini. Di bawah sorot lampu pasar malam yang terang benderang, wajahnya yang mirip idola K-Pop itu justru menjadi magnet masalah baru.

Seandainya saja ia tadi memakai hoodie bertudung atau minimal topi, pasti penyamarannya akan lebih aman. Ia sempat berpikir untuk kembali ke parkiran dan memakai helm fullface-nya, tapi logika medisnya langsung menolak; berjalan di tengah keramaian pasar malam dengan helm tertutup rapat hanya akan membuatnya disangka begal motor atau pasien gangguan jiwa yang sedang kabur dari rumah sakit.

Ingin meminta kantong kresek hitam pada penjual martabak untuk menutupi wajah pun rasanya terlalu dramatis. Proses pencarian Amel terpaksa terhenti total saat ia terjebak di tengah kerumunan pengunjung yang saling berdesakan. Bukannya menemukan hoodie hitam Amel, Rahsya justru dihadang oleh sekumpulan gadis remaja pecinta K-Pop.

Mata mereka berbinar-binar penuh histeria, dan tangan mereka sudah siap dengan ponsel di posisi selfie. Seperti Amel, mereka kompak mengira Rahsya adalah Jaemin NCT versi kearifan lokal yang sedang menyamar.

"Ya ampun! Kakak ganteng banget sih, mirip Jaemin!" seru salah satu gadis sambil menarik ujung jaket kulit Rahsya.

"Boleh dong kalau kita tahu nama Kakak ganteng ini? Minta nomor WhatsApp-nya juga boleh..." timpal yang lain dengan nada memohon.

"Sudah punya pacar belum, Kak? Kalau belum, aku mau daftar jadi calon istri Kakak!" celetuk seorang gadis paling berani yang sukses membuat telinga Rahsya memerah seketika.

Rahsya hanya bisa melempar senyum canggung yang dipaksakan. Ia merasa seperti manekin pajangan yang sedang dikerubungi pembeli diskon akhir tahun. Tangannya bergerak gelisah, mencoba mencari celah di antara kepungan gadis-gadis remaja tersebut.

"Maaf ya, Dek... saya lagi buru-buru, ada urusan penting," ucap Rahsya sebisanya, berusaha tetap sopan meski batinnya sudah menjerit frustrasi.

Dengan sisa tenaga dan sedikit trik menyelinap untuk menyibak kerumunan gadis yang mengerubunginya macam lalat itu, Rahsya akhirnya berhasil meloloskan diri. Ia setengah berlari menuju area yang lebih gelap di dekat wahana Tong Setan, berharap tidak ada lagi "fans dadakan" yang mengenali wajahnya.

Rahsya menyandarkan punggungnya pada tiang kayu penyangga wahana Tong Setan yang bergetar hebat akibat raungan motor di dalamnya. Ia menyeka keringat di dahi, napasnya masih tersengal-sengal satu-satu.

"Hah... capek juga. Gila, ternyata mencari bocah TikTok itu sama susahnya kayak mencari jodoh," gerutunya pelan sembari memperbaiki letak jaket kulitnya yang sempat miring akibat ditarik-tarik gerombolan remaja tadi.

Namun, di sudut lapangan yang remang-remang dan jauh dari jangkauan lampu warna-warni pasar malam, suasana justru berubah mencekam.

Amel berdiri mematung, dikepung oleh empat pemuda yang aromanya sudah bercampur bau minuman ciu murahan. Mereka adalah Regan dan Rehan—kakak beradik yang terkenal "minus akhlak"—bersama dua sohib kental mereka, Irham dan Eza.

"Mau ke mana sih, buru-buru amat? Mending gabung sama kita, senang-senang di sini," ucap Rehan dengan seringai nakal. Matanya yang merah menatap Amel dari ujung kaki hingga kepala.

Amel mundur satu langkah, namun punggungnya justru menabrak dada bidang Irham yang berdiri kokoh di belakangnya. "Minggir! Aku mau pulang!" bentak Amel ketus, mencoba mendorong bahu Regan yang menghalangi jalannya.

Regan tertawa sinis, lalu dengan cepat mencekal pergelangan tangan Amel hingga gadis itu meringis kesakitan. "Jangan sok jual mahal begitu dong. Pulangnya nanti saja bareng gue... tapi ke rumah gue, ya?" ucap Regan dengan nada melecehkan, disambut tawa riuh dari tiga temannya.

Amel mulai didera kepanikan luar biasa. Matanya mencari-cari sosok penolong di kegelapan, namun area sudut lapangan itu terlalu sepi. Regan menarik paksa lengan Amel menuju ke arah kegelapan hutan jati.

"LEPASIN! KAK RAHSYAAA! TOLONGG!"

Sementara itu, di sisi lain pasar malam yang terang benderang, Rahsya justru mematung. Alih-alih mencari Amel, matanya menangkap sosok yang selama beberapa hari ini membuat kewarasan logikanya goyah. Gadis itu sedang berdiri di depan gerobak martabak yang menebarkan aroma margarin gurih, menunggu pesanannya selesai dibuat.

Rahsya berdiri diam, mengamati dari jarak beberapa meter. Gadis itu sendirian, tanpa ada suami ataupun teman yang mendampingi. Dengan keberanian yang ia kumpulkan sekuat tenaga, Rahsya melangkah maju. Ia bertekad, jika benar gadis ini adalah Kinan yang telah menikah, ia akan menyerah, menjauh, dan mengubur perasaannya sedalam Palung Mariana.

"Ehem," Rahsya berdeham pelan tepat saat ia berdiri di samping gadis itu.

Gadis itu menoleh. Alisnya bertaut rapat, dan dahinya berkerut menunjukkan ekspresi kebingungan yang sangat murni.

"Kinan... kamu ke mana saja?" tanya Rahsya dengan nada bicara yang bergetar, terdengar sedikit menyedihkan di telinganya sendiri.

"Apa benar kalau kamu sudah menikah? Terus... kenapa malam itu kamu datang ke kamar aku?"

Gadis itu tertegun, menatap Rahsya seolah pria di depannya baru saja bicara menggunakan bahasa dari planet lain.

"Maaf, Mas ini siapa ya?"

Rahsya terpaku. Dadanya terasa sesak luar biasa. "Kamu bercanda, ya? Jangan pura-pura enggak kenal begitu. Padahal saya sudah menolong kamu waktu itu. Masa kamu lupa?"

Baru saja bibir gadis itu terbuka untuk membalas, suara tukang martabak memecah ketegangan di antara mereka.

"Neng, ini sudah jadi. Semuanya enam puluh ribu," ucap si mamang sembari menyerahkan dua kotak martabak hangat.

"Oh, iya, Mang. Makasih. Ini uangnya," sahut gadis itu cekatan.

Ia menyerahkan lembaran uang pas dan menerima bungkusan tersebut. Ia kembali menatap Rahsya dengan tatapan tegas. "Saya beneran enggak kenal sama Mas ini, dan saya bukan—"

"Kak Kinara!"

Sebuah teriakan memotong kalimat gadis itu. Rania, wanita berusia 23 tahun, datang menghampiri bersama seorang pria tampan berusia awal 30-an yang tak lain adalah Rahman—suami Kinara.

"Sudah belum, Kak?" tanya Rania ceria.

Kinara mengangguk pelan. "Sudah."

Rahman yang menyadari keberadaan Rahsya menatap istrinya dengan heran. "Dia siapa, Ra?"

"Aku enggak tahu, Kang. Tiba-tiba saja bicara yang aneh," jawab Kinara jujur.

Rania yang mengenali wajah Rahsya segera menyela pembicaraan. "Oh, dia ini dokter dari Jakarta itu, Kang. Dokter Rahsya."

Rahman hanya mengangguk sembari memberikan senyum tipis—tipikal pria dewasa yang ramah namun penuh wibawa. "Kalau begitu, kita pulang sekarang. Mari, Pak Dokter," ucap Rahman sembari merangkul pundak Kinara untuk mengajaknya pergi dari sana.

Rahsya hanya bisa mengangguk kaku dengan tatapan kosong. Ia mematung memandangi punggung suami istri itu yang perlahan menjauh. Dunianya seolah runtuh seketika.

'Kinara... namanya Kinara. Dia ternyata bukan Kinanti,'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!