Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persit
Di tengah landasan helipad yang mendadak hening setelah raungan helikopter menjauh menembus awan malam, Ayyana masih berdiri mematung.
Angin malam yang dingin mengibaskan mantel dan rambutnya, namun fokusnya sepenuhnya tertahan pada sentuhan hangat yang baru saja membakar sudut bibirnya.
Jemarinya pelan-pelan terangkat, menyentuh titik bekas sekaan mulut Chester.
"Diktator gila," gumam Ayyana pelan, napasnya berembun tipis di udara malam. Suaranya bergetar antara kekesalan yang tertahan dan debar asing yang mendadak menyerang dadanya.
Ia tahu betul perbuatan pria itu sebagian besar adalah sandi pertunjukan untuk kamera pemantau Harris.
Tapi cara Chester melakukannya—dominansi, tatapan matanya, dan kehangatan yang mengunci pergerakannya—terasa terlalu nyata untuk sekadar akting politik.
Ayyana menghembuskan napas panjang, berusaha menguasai kontrol dirinya kembali. Ia berbalik dan melangkah meninggalkan landasan, berjalan menyusuri lorong markas yang sunyi menuju rumah dinas.
Rumah dinas itu kini kembali hening. Tak ada Ocla yang berdiri kaku di sudut ruangan, tak ada Flyn yang sesekali memantau perimeter, dan tak ada Chester dengan aura dinginnya yang menekan.
Hanya ada Ayyana, sendirian di tengah benteng pertahanan yang terkunci rapat dari dunia luar.
Ayyana berjalan ke dapur, meletakkan cup matcha yang sudah kosong ke tempat sampah, lalu menatap kulkas yang kini terisi penuh dengan makanan favoritnya.
Ia tersenyum tipis, menggelengkan kepala.
"Satu minggu..." bisik Ayyana pada ruangan yang sepi. Ia menarik kursi bar, duduk menatap cangkir di mejanya seraya memutar otak.
Chester sudah menjalankan bagian tugasnya dengan pergi ke medan pertempuran; kini gilirannya untuk bertahan dan memastikan permainan politik Harris tidak berhasil menembus pertahanan rumah ini.
Malam pertama berjalan tanpa hambatan, namun keheningan di rumah dinas itu terasa menipu.
Pagi harinya, sekitar pukul 09.00, sebuah ketukan teratur terdengar dari pintu depan. Bukan ketukan paksa, melainkan ketukan formal yang terukur.
Ayyana yang sedang menyesap teh hangat di meja dapur perlahan menurunkan cangkirnya. Pikirannya langsung siaga.
Ia melangkah menuju pintu utama, memeriksa layar monitor kecil di samping gagang pintu.
Di luar, berdiri seorang perwira muda berpakaian seragam dinas tentara dengan map tebal di tangannya.
Di belakang perwira itu, dua prajurit bersenjata berdiri tegap di dekat pagar halaman.
Ayyana membuka pintu sedikit, menyandarkan bahunya di bingkai pintu dengan gestur tenang dan santai—menampilkan porsi keanggunan seorang putri keluarga Sanders sekaligus kewibawaan istri Kapten Sinclair.
"Ada yang bisa saya bantu, Letnan?" tanya Ayyana datar.
Perwira muda itu memberi penghormatan kaku. "Selamat pagi, Nyonya Sinclair. Saya Letnan Ardi, diutus langsung oleh Laksamana Muda Harris. Beliau meminta dokumen inventarisasi dan verifikasi data logistik rumah dinas ini diperbarui selama Kapten Sinclair bertugas di luar markas."
Ayyana menyipitkan mata tipis. Langkah pertama Harris. Memakai alasan administratif konyol untuk memasukkan prajuritnya ke dalam rumah ini dan memetakan bagian dalam bangunan.
"Verifikasi logistik?" Ayyana terkeh secara halus, nada suaranya sarat akan cemoohan yang terpelajar. "Sejak kapan seorang Laksamana Muda mengurusi jumlah piring dan pasokan listrik di rumah dinas kaptennya sendiri? Apakah markas besar kekurangan pekerjaan administratif, Letnan?"
Wajah Letnan Ardi sedikit berubah kaku. "Ini instruksi langsung demi keamanan dan kenyamanan Nyonya selama ditinggal tugas—"
"Keamanan saya adalah urusan suami saya," potong Ayyana dingin, melangkah satu tapak maju hingga berdiri tegap di ambang pintu. "Dan Kapten Sinclair sudah memastikan semuanya cukup sebelum beliau berangkat semalam. Jika Laksamana Harris meragukan kapasitas suamiku dalam menjaga rumah tangganya sendiri, minta beliau menyampaikan langsung pada Chester saat dia kembali dari Sektor Bravo."
Ayyana tidak menunggu jawaban perwira itu. Dengan gerakan tenang dan tegas, ia mendorong pintu kayu tebal itu hingga tertutup rapat dan menguncinya dari dalam, memutus pembicaraan begitu saja.
Dari balik jendela berpelapis kaca film tebal, Ayyana memperhatikan perwira itu berdiri terpaku sejenak sebelum akhirnya berbalik pergi bersama dua prajuritnya dengan wajah gusar.
Ayyana menyandarkan punggungnya ke pintu yang terkunci, menghembuskan napas pelan. Serangan pertama dari Harris berhasil dipatahkan dengan menggertak protokol militer mereka, tapi ia tahu betul ini baru permulaan. Perang dingin di markas ini baru saja dimulai.
Dua hari setelah insiden penolakan verifikasi logistik di pintu depan, taktik Harris berubah. Kali ini, serangan tidak datang melalui seragam militer, melainkan lewat jalur diplomasi domestik.
Sore hari pukul 16.00, sebuah amplop tebal berwarna krem dengan stempel timah emas berlogo Persit/Organisasi Istri Prajurit diselipkan di bawah pintu depan.
Ayyana memungut amplop tersebut, membukanya dengan tenang di meja dapur seraya menyesap tehnya.
UNDANGAN RESMI
Dalam Rangka Perjamuan Minum Sore & Silaturahmi Anggota Organisasi Istri Perwira Markas Besar Komando.
Waktu: Besok Sabtu, Pukul 15.00 WIB
Tempat: Gedung Pertemuan Utama Markas Besar
Tuan Rumah: Ny. Harris (Istri Laksamana Muda Harris)
Kehadiran Nyonya Ayyana Sanders Sinclair sangat diharapkan sebagai bentuk dukungan moral bagi para suami yang sedang bertugas di Sektor Bravo.
Ayyana menatap lembaran kertas beraroma parfum mahal itu dengan senyum sinis.
Langkah yang sangat diperhitungkan.
Jika Ayyana hadir, ia akan masuk ke sarang musuh. Ny. Harris dan lingkaran istri perwira senior lainnya akan mencecarnya dengan pertanyaan jebakan, menguliti rumor pernikahan paksa mereka, serta mengamati gerak-gerik Ayyana untuk mencari celah kelemahan Chester.
Jika Ayyana menolak hadir, ia akan dicap sombong, tidak loyal pada organisasi militer, dan memberi bahan bagi Harris untuk merusak reputasi sosial Chester sebagai Kapten yang tak mampu 'membina' istrinya.
Ini bukan sekadar acara minum teh. Ini adalah medan perang tak kasat mata antara para istri pejabat militer.
Ayyana menyandarkan tubuhnya ke kursi bar, jemarinya mengetuk-ngetuk meja seraya mengamati cangkir tehnya. Ia lalu melirik pakaian kasual rapi yang tergantung di lemarinya.
"Kamu ingin lihat bagaimana aku bersikap di depan para senior, Harris?" gumam Ayyana pelan, mata cokelatnya memancarkan ketegasan yang dingin. "Mari kita lihat siapa yang akan terpojok di perjamuan esok sore."