"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Kemarahan Zidan
"Apa sebenarnya maksud Pak Alva melakukan semua ini? Apa yang Bapak inginkan dari saya?" tanya Humaira menuntut kejujuran.
"Jelas saya sudah mengatakan apa yang saya inginkan," jawab Alva.
"Menikah dengan saya dan menginginkan anak dalam kandungan saya? Anda bercanda, Pak Alva!"
"Di luar sana, Pak Alva bisa mencari wanita siapa saja untuk dinikahi dan dijadikan istri! Wanita mana pun pasti mau mengandung benih dari Pak Alva sendiri. Kenapa harus memilih saya?" Lanjut Humaira menatap curiga pria itu.
"Menikahi wanita hamil dan menginginkan anak yang sama sekali tidak ada hubungan darah daging dengan Pak Alva... tindakan ini benar-benar tidak masuk akal! Pak Alva sangat mencurigakan. Apa sebenarnya tujuan Anda yang sesungguhnya?" Tambah Humaira.
Alva tidak langsung menjawab. Pria itu tetap memegang kendali setir dengan satu tangan, sementara tangan satunya terangkat merapikan jas mewahnya. Sudut bibirnya terangkat tipis, mengukir senyum yang sulit dibaca.
"Tujuan saya?" Alva mengulang pertanyaan itu dengan nada tenang. Ia memiringkan kepalanya sedikit, melirik Humaira.
"Saya tidak suka wanita," lanjut Alva.
Humaira kaget dan melihat pria itu dengan pandangan aneh.
"P-Pak Alva... barusan bilang apa?" tanya Humaira terbata-bata.
"Saya tidak tertarik sama wanita," ulang Alva santai.
"M-maksudnya... Pak Alva suka sama pria?!" Tanya Humaira dengan raut wajah syok.
"Ya, sepertinya begitu."
Humaira melongo, tak sanggup berkata-kata lagi. Dia baru tahu, pria tampan itu ternyata penyuka sesama jenis, alias gay.
Melihat ekspresi syok dari Humaira, Alva mengulum senyum tipis. Pria itu kembali mengambil sertifikat rumah yang tadi sempat Humaira simpan, lalu menjulurkan tangannya ke belakang lagi untuk mengambil satu berkas penting lainnya.
Alva menyerahkan kedua dokumen itu ke pangkuan Humaira. "Sertifikat rumah ini... kamu bisa ambil dan menyimpannya."
"Pak Alva, mendapatkan ini pasti ada harganya, kan?" tanya Humaira dengan nada yang jauh lebih santai dari sebelumnya—merasa tak lagi terancam setelah mengetahui, kalau pria tampan di sampingnya itu penyukai sesama jenis.
"Itu bukan masalah," jawab Alva singkat.
Pria itu kemudian meletakkan satu berkas lagi yang masih tertutup rapat. "Kalau kau berubah pikiran dan mau menerima tawaran saya, kau bisa membaca ini."
Humaira yang penasaran hendak langsung membuka amplop berkas tersebut, namun jemari Alva dengan cepat menahannya.
"Buka di rumah saja. Sekarang saya antarkan kamu pulang," potong Alva. Ia kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju membelah malam menuju kediaman Zidan.
Sesampainya di depan rumah, mobil berhenti. Humaira bersiap untuk turun.
"Terima kasih, Pak, sudah mengantar saya pulang," ujar Humaira membawa sertifikat dan sebuah amplop yang Alva berikan tadi.
"Humaira," panggil Alva.
Humaira menoleh. "Iya, Pak?"
"Untuk sertifikat rumah itu... saya ingin minta sedikit imbalan."
Dahi Humaira seketika berkerut.
"Saya pikir ini gratis, Pak. Ternyata tidak."
"Saya cuma mau besok siang kamu datang ke rumah saya untuk makan siang bersama," ujar Alva menyampaikan permintaannya.
Humaira semakin dibuat heran. "Tapi saya belum menyetujui keinginan Bapak untuk menikah."
"Saya tahu. Saya cuma minta kehadiranmu besok," sahut Alva datar.
Humaira sebenarnya enggan. Namun mengingat Alva yang sudah mengembalikan sertifikat rumah ibunya, rasanya sangat tidak sopan jika ia menolak mentah-mentah.
"Baiklah, Pak. Saya usahakan. Mudah-mudahan besok tidak ada jadwal pekerjaan yang mendadak."
Alva hanya mengangguk pelan. Humaira pun keluar dari mobil.
Saat Alva masih memperhatikannya dari dalam mobil, Humaira yang baru melangkah beberapa langkah, mendadak menghentikan jalannya. Ia membalikkan badan dan kembali mendekati kaca mobil Alva.
"Pak Alva..."
"Ada apa?"
"Apa Pak Alva yang sudah membayar biaya rumah sakit adik saya?" Humaira terlihat sangat penasaran menunggu jawaban dari pria itu.
Alva tidak menjawab. Pria itu hanya diam menatap Humaira tanpa ekspresi, lalu tanpa sepatah kata menginjak gas dan melajukan mobilnya pergi meninggalkan pelataran rumah tersebut.
Humaira mengernyit bingung melihat kepergian mobil Alva yang semakin menjauh.
"Sepertinya memang dia..." gumam Humaira pelan. Menghela napas, ia memutar badan dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Seperti biasa Humaira pasti akan langsung menuju ke kamar suaminya saat pulang ke rumah itu.
Begitu pintu kamar dibuka dan ia melangkah masuk, sebuah suara dingin dari sudut kegelapan menyapa pendengarannya.
"Jadi itu alasannya kau ingin segera bercerai denganku, Humaira?"
Humaira kaget melihat kearah Zidan.
"Jadi, diam-diam selama ini kau selingkuh dariku?"
Zidan keluar dari sudut kegelapan kamar dan melangkah mendekati Humaira. Raut wajahnya tampak sangat tidak bersahabat, dipenuhi amarah bercampur cemburu.
"Sudah sejauh mana hubungan kalian berjalan? Apa sudah sampai sebatas ranjang?!" tembak Zidan terdengar menyakitkan.
Mendengar penuturan kata yang begitu pedas dan merendahkan dari bibir suaminya sendiri, raut wajah Humaira langsung berubah drastis! Terkejut bercampur sakit hati menyengat dadanya.
"Tuduhan Anda tidak berdasar, Dokter! Seharusnya Anda bertanya baik-baik!" Ujar Humaira membela diri.
"Tidak berdasar?" Tersenyum sinis.
Zidan berjalan mengambil sesuatu dan kembali menghampiri Humaira.
Hap!
Pria itu melempar kasar sebuah kain tepat ke wajah Humaira.
Humaira tersentak kaget saat jas Alva menempel di wajahnya. Humaira meraih jas itu memegangnya.
"Itu apa?!" Geram Zidan dengan napas memburu dan rahang mengeras. "Kau bahkan membawa pulang bajunya! Apa masih kurang jelas kalau kalian memang sudah bertindak seperti sepasang suami istri?!"
"Kau juga ingin menjadi wanita simpanan pengacara itu! Sebegitu murahnya kah kau?"
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂