Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 14
"Ayah,"
"Leo, kau sudah bangun. Apa kamu lapar hmmm?"
Lucien mengangkat tubuh Leoric dan membawa kedalam pelukannya. Dia mengusap lembut kepala sang putra.
Tak pernah terbayangkan bagi Lucien, tangannya yang selama ini hanya memegang pedang, kini merengkuh tubuh mungil dimana itu adalah darah dagingnya.
"Hei kalian berdua, mari kita makan," ucap Cattleya. Wanita itu tersenyum dengan begitu cerahnya.
Degh!
Dada Lucien seketika berdegup dengan cepat. Cattleya tidak berhias, wanita itu juga tak mengenakan gaun mewah, bahkan wajahnya terkena arang, namun kecantikannya sungguh luar biasa.
Banyak wanita bangsawan yang cantik, bahkan katanya putri Duke Ramos terkenal cantik paripurna, namun Lucien tak pernah menganggapnya cantik.
Tapi Cattleya, sungguh wanita itu memiliki pesonanya sendiri yang mana berhasil membuat jantung Lucien berpacu cepat.
"Sial, dia sungguh cantik," ucap Lucien dalam hati.
"Betul kan kalau Ibu cantik. Makanya ayah buluan dapatkan hati Ibu, sebeyum Ibu diambil olang lain."
Mata Lucien membulat sempurna. Ia juga langsung melihat ke arah putranya. Lucien tak menyangka bahwa Leoric bisa mendengar kata hatinya.
"Apa kamu mendengarkan Ayah bicara?" tanya Lucien sambil menggendong Leoric menuju ke meja makan.
"Tentu saja aku mendenal. Pelkataan ayah jeyas kok."
Lucien menahan nafasnya sejenak. Dia tahu bahwa Leoric memiliki kekuatan sihir juga dalam tubuhnya karena setiap keturuan Kallistar pasti akan mendapatkan berkat sihir. Akan tetapi kekuatan yang bisa membaca pikiran, jelas itu sangat jarang sekali ada. Terakhir adalah kakek buyut Lucien yang memilikinya.
"Apa yang Anda dan Leon bicarakan, mengapa begitu serius?" tanya Cattleya sambil menyiapkan piring yang entah mengapa ada juga di pondok itu.
"Bukan apa-apa. Mari kita makan," jawab Lucien dengan senyum simpulnya.
Mereka makan dengan tenang, Lucien memuji masakan Cattleya sebagai makanan terbaik yang pernah dia makan selama hidupnya.
Ya benar, itu bukan sekedar pujian belaka. Makanan yang dibuat Cattleya memang sederhana, namun Lucien bisa menikmatinya dengan tenang tanpa takut ada yang meracuni makananya. Ditambah ada tawa hangat di sela-sela mereka menikmati makanan.
"Apa kita akan bergerak sekarang?" tanya Cattleya. Dia baru saja menyelesaikan makan siangnya.
"Sebaiknya besok saja, kita istirahat untuk malam ini. Besok aku akan membawamu ke tempat yang telah kujanjikan."
Cattleya diam, namun wajahnya menunjukkan kegelisahan.
"Apa ada yang kau takutkan hmm?"
"Yeah, benar. Aku takut kakakku akan menemukan kita."
Lucien bisa melihat kegelisahan dari wajah Cattleya. Meski wanita itu selalu menunjukkan bahwa dirinya kuat dan baik-baik saja, tapi ia memiliki sisi takut juga dalam dirinya.
Tangan Cattleya menggenggam kain roknya dengan kuat. Bola matanya bergerak cepat.
"Apa kamu setakut itu dengan kakak mu? Maaf Catty, apa mungkin sebenarnya kamu adalah bangsawan?"
Cattleya tidak mengelak, dia menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya saya bukan bangsawan murni. Saya hanya anak haram. Sang Tuan tertarik dengan ibu saya yang seorang pelayan. Yah sepertii itu. Dan soal takut ... "
Cattleya menggantungkan kalimatnya. Dia meremass kesepuluh jarinya. Entah mengapa setiap menyinggung Cale, tubuhnya merinding. Bulu kuduk nya berdiri, dan tengkuknya terasa panas.
"Mungkin ini reaksi tubuh dari Cattleya yang asli. Dia ketakutan," ucap Cattleya dalam hati.
Sreet
Cattleya terkejut saat tangan Lucien meraih dan menggenggamnya. Rasa takut yang membelenggunya perlahan mulai luruh.
"Semua akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu takut Catty. Aku akan membawa mu ke tempat yang sudah aku janjikan. DI sana, tak akan ada yang berani menindasmu bahkan kakak mu sekalipun."
Lucien berkata dengan sorot mata penuh kesungguhan. Cattleya tahu itu, ia pun tersenyum simpul. Namun jelas dirinya tak langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh Lucien.
Bagaimana mungkin orang biasa bisa melindunginya? Begitu lah isi kepala Cattleya. Yang diketahu Cattleya hanyalah Lucien yang seorang pedangan biasa. Jadi dia tak berharap banyak dengan pria tersebut.
"Aku tahu kamu tidak percaya padaku, Catty. Tapi tidak masalah, aku akan memberi mu sebuah bukti dan bukan hanya sekdar janji."
Lucien semakin erat menggenggam tangan Cattleya, dia juga memeluk Leoric. Dalam hati Lucien bersumpah bahwa tak akan ada yang bisa menyentuh Cattleya dan Leoric. Dan Marquis Cale Winslow, Lucien menandai pria itu.
"Sekarang istirahatlah bersama Leo, Catty. Nanti malam kita akan bergerak," ucap Lucien.
"Baiklah, terimakasih Lucien."
Cattleya mengambil Leoric dari pangkuan Lucien lalu membawanya ke sebuah ranjang yang ada di pojok ruangan. Tak butuh waktu lama bagi ibu dan anak itu tidur.
Tatapan lembut Lucien seketika berubah menjadi begitu tajam. Dia berjalan keluar rumah lalu bersiul.
Harder datang, hinggap tepat di lengan Lucien.
"Siapkan lingkaran sihir di kamarku. Bawa Norman bersama mu, minta bantuan norman untuk menggambarnya. Aku akan melakukan teleportasi. Jangan sampai salah!"
Harder menganggukkan kepala. Burung itu segera pergi sengan membawa pesan dari Lucien. Kali ini Lucien tidak menulikan pesannya. Dia menggunakan sihir alih suara pada Harder, yang mana nanti akan bisa tersampaikan kepada Erson.
"Catty, Leo, kalian akan aman."
Harder terbang dengan bergitu cepat. Dengan sihirnya, burung hantu milik Lucien itu tiba di kantor kaisar hanya dalam waktu setengah jam.
"Harder? Apa lagi?"
Erson beranjak dari duduknya, menyambut kedatangan Harder.
"Siapkan lingkaran sihir di kamarku. Bawa Norman bersama mu, minta bantuan norman untuk menggambarnya. Aku akan melakukan teleportasi. Jangan sampai salah!"
Mata Erson membelalak. Baru kali ini dia melihat kemampuan lain dari binatang sihir milik Lucien.
"Itu suara Baginda?" tanya Erson.
"Ada apa, Erson?"
Norman masuk setelah mengetuk pintu. Dia lalu berjalan ke tempat Erson berdiri.
Erson lalu memberitahu perihal Harder. Pesan yang dikirimkan oleh Lucien juga diperdengarkan kepada Norman.
"Apa kamu sudah pernah mendengarnya?" tanya Erson perihal kemampuan Harder.
"Pernah, sering bahkan," jawab Norman.
"Ah ya baiklah. Sekarang kita harus ke kamar Baginda. Tapi tumben sekali Baginda akan memakai sihir teleportasi, biasanya kan tidak pernah. Kata beliau, lebih suka berkuda dari pada berpindah."
"Entahlah, kita lakukan saja."
Erson dan Norman bergerak menuju ke kamar Lucien. Diikuti dengan Harder tentunta.
Dua orang itu menggambar lingkaran sihir yang diperlukan oleh Lucien. Lalu apakah keduanya bisa menggunakan sihir juga? jawabannya adalah tidak. Mereka hanya bisa menggambarkan atas ajaran Lucien. Itu berfungsi untuk membantu Lucien.
"Haah sudah. Nah Harder, sampaikan pada Baginda bahwa lingkaran sihirnya sudah siap. Ah ya aku lupa, sebentar."
Erson mengambil kertas dan pena, dia lalu menuliskan pesan itu dan mengikatkannya di kaki Harder.
Harder terbang dengan cepat. Sedangkan Erson dan Norman berada di sana, menunggu kedatangan Lucien. Mereka berdua yakin bahwa Lucien akan segera tiba.
Sekitar 2 jam, Erson dan Norman menunggu. Karena tak kunjung datang, mereka hendak pergi. Tapi lingkaran sihir itu bercahaya, menandakan bahwa sudah diaktifkan.
"Ah akhirnya Baginda pulang juga," ucap Erson senang.
Cahaya bersinar dengan begitu terangnya. Semua tampak tenang, dan tak ada getaran apapun. Sosok Lucien juga mulai terlihat. Erson dan Norman tersenyum lebar. Namun sat melihat ada sosok lain bersama Lucien, keduanya pun membelalakkan matanya.
"Seorang wanita dan seorang anak. Baginda?" tanya Erson, tubuhnya tampak kaku.
"Sttt, diam. Jangan sampai anak dan istriku terbangun gara-gara mulut besarmu."
APA?
TBC