"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28. Suasana kritis
Suara berdengung panjang dari monitor jantung itu bagaikan sembilu yang menyayat dinding ruang resusitasi. Garis hijau yang tadinya membentuk gelombang lemah kini merata sempurna. Angka saturasi oksigen di layar merosot tajam menuju titik nol.
"Charger defibrillator! Setel ke dua ratus joule!" teriak Danu tanpa menunda satu detik pun. Wajahnya yang biasa tenang kini mengeras dalam konsentrasi penuh.
"Siap, Dok! Dua ratus joule!" sahut perawat senior sembari mengoleskan gel konduktif pada dua petak besi pemacu jantung.
Danu menyambar kedua petak pemacu tersebut. Tangannya kokoh, tidak ada sedikit pun keraguan, meski pria yang terbaring di atas kasur pasien ini adalah sosok yang pernah menghancurkan hidup wanita yang paling dicintainya. Di mata Danu saat ini, Adam bukanlah musuh, melainkan nyawa manusia yang berada di ambang jurang kematian.
"Clear!" seru Danu tegas.
THUMP!
Tubuh Adam terlonjak kencang di atas brankar saat sengatan listrik bertegangan tinggi menerjang dadanya. Kejang singkat itu memicu embun tipis di dinding dalam masker oksigennya, namun garis di monitor masih tetap lurus membisu.
BEEEEEEEP...!
"Belum ada respon, Dok! Garis masih flatline!" panggil perawat dengan nada cemas.
"Naikkan ke tiga ratus joule! Epinefrin satu miligram lagi, masuk via IV lines sekarang!" perintah Danu, peluh dingin mulai membasahi dahinya. "Clear!"
THUMP!
Tubuh Adam terhentak untuk kedua kalinya. Di balik pendar lampu operasi yang menyilaukan, kesadaran Adam yang tersisa seolah melayang di dalam ruang hampa yang amat gelap. Rasa sakit di dadanya mendadak lenyap, berganti dengan sensasi dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. Di dalam kegelapan itu, Adam melihat bayangan masa lalunya berputar bagaikan film bisu.
Ia melihat kembali hari di mana ia tertawa bersama Rosa, melontarkan kata-kata talak yang teramat kejam pada Fitri. Ia melihat mata basah Fitri yang mendekap Aiden di sudut rumah, tersingkir tanpa membawa apa pun selain baju di badan.
"Fitri... Maafkan aku..." bisik Adam dalam alam bawah sadarnya. Suaranya bergema hampa di ruang tak bertepi. "Aiden... Papa minta maaf, Nak..."
Di luar kaca ruang resusitasi, Fitri berdiri terpaku. Kakinya terasa bagaikan terpaku di atas lantai keramik hospital yang dingin. Jemarinya meremas tas kain lusuh milik Adam semakin erat. Amplop tes DNA yang sedikit terlipat di dalam tas itu terasa menekan dadanya, seolah mengingatkan Fitri pada seluruh penderitaan dan perjuangan panjangnya membesarkan Aiden seorang diri.
"Dokter Fitri..." Yudi terisak pelan di sampingnya, terduduk lemas di atas kursi besi. "Adam emang salah... Dia jahat banget sama Mbak Fitri dulu. Tapi beberapa bulan terakhir ini... dia bener-bener tersiksa, Mbak. Dia kerja serabutan, makan sehari sekali cuma buat ngumpulin ongkos ke Bandung. Dia cuma pengen bilang maaf... Dia tau Mbak gak bakal bisa maafin dia, tapi dia cuma pengen Mbak tau kalau dia bener-bener nyesel..."
Kata-kata Yudi menembus pendengaran Fitri bagaikan tetesan air raksa. Mata Fitri berkaca-kaca. Logikanya menyuruhnya untuk berpaling, untuk membenci pria yang pernah menorehkan luka paling dalam dalam hidupnya. Namun nuraninya sebagai seorang manusia dan seorang perawat yang disumpah untuk menyayangi kehidupan tak mampu membohongi rasa iba yang teramat sangat.
"Mas Danu... Tolong..." bisik Fitri lirih, matanya menatap tajam punggung Danu yang masih terus berusaha memompa dada Adam secara manual lewat tindakan RJP (Resusitasi Jantung Paru).
Di dalam ruang resusitasi, Danu terus menekan dada Adam dengan ritme konstan. *Satu, dua, tiga, empat...* Otot fisiknya mulai menegang, namun konsentrasinya tak sedikit pun goyah.
"Ayolah, Pak Adam! Lawan!" gumam Danu di antara hembusan napasnya yang memburu. "Jangan menyerah di sini! Katakan penyesalanmu sendiri pada Fitri! Bangun!"
THUMP!
Sengatan defibrillator ketiga dilancarkan. Untuk sekelumit detik, ruangan itu mendadak sunyi senyap. Hanya ada desah napas berat para tim medis yang bersimbah keringat.
Lalu, sebuah keajaiban medis terjadi.
BEEP...
Garis lurus di monitor mendadak meliuk kecil. Sebuah gelombang pendek muncul, disusul gelombang berikutnya yang semakin jelas dan berirama.
BEEP... BEEP... BEEP...
"Ada denyut! Sinus rhythm kembali, Dok! Tekanan darah mulai merayap naik!" teriak perawat girang.
Danu menghembuskan napas lega yang teramat panjang. Ia menyapu keringat di keningnya dengan lengan baju scrub-nya, lalu menatap layar monitor yang kini menunjukkan ritme jantung Adam walau masih sangat lemah dan rapuh.
"Stabilkan ventilator. Pindahkan pasien ke ICU isolasi sekarang juga. Awasi ketat pernapasan dan grafik EKG-nya setiap lima belas menit," perintah Danu seraya merapikan sarung tangan medisnya.
Begitu Danu keluar dari ruang resusitasi, Fitri langsung menyambutnya. Wajah Fitri tampak pucat dan penuh dengan gejolak emosi yang bercampur aduk.
"Gimana, Mas?" tanya Fitri dengan suara gemetar.
Danu tersenyum tulus, menatap mata Fitri dengan kehangatan yang selalu berhasil menenangkan jiwa wanita itu. Ia merengkuh kedua pundak Fitri pelan. "Jantungnya berhasil kita panggil kembali, Fit. Tapi kondisinya masih sangat kritis. Dia koma. Kerusakan pada otot jantungnya cukup luas akibat keterlambatan penanganan, ditambah adanya infeksi paru-paru yang berat."
Fitri menghela napas panjang, matanya terpejam sejenak menyerap kenyataan pahit itu. "Bisa bertahan?"
"Empat puluh delapan jam ke depan adalah masa paling krusial," jawab Danu jujur tanpa menutup-nutupi. "Kalau dia bisa melewati masa kritis ini tanpa serangan susulan, ada harapan dia sadar. Tapi..." Danu menggantung ucapannya sejenak, membuat napas Fitri tertahan.
"Tapi apa, Mas?"
Danu menatap ke arah pintu ICU tempat Adam mulai dipindahkan. "Dokter spesialis saraf dan jantung harus memeriksa kemungkinan adanya komplikasi kerusakan otak permanen akibat hipoksia yaitu kekurangan oksigen waktu jantungnya berhenti tadi."
Kata-kata Danu bagaikan petir di siang bolong. Adam mungkin selamat dari kematian, tapi pria itu berisiko kehilangan ingatan atau bahkan mengalami kelumpuhan total.
Beberapa jam berlalu. Suasana koridor ICU Medika Utama semakin lengang menembus sepertiga malam. Yudi tertidur lelap di bangku tunggu karena kelelahan luar biasa. Sementara itu, Fitri masih berdiri di depan kaca besar ruang ICU isolasi.
Di balik kaca, Adam terbaring kaku di atas tempat tidur khusus. Selang-selang infus, kabel monitor EKG, dan pipa endotrakeal ventilator menempel di tubuhnya yang makin tirus. Pria yang dulu selalu berpenampilan rapi dan arogan itu kini tampak begitu rapuh, seolah sentuhan lembut saja bisa menghancurkannya menjadi debu.
Fitri merogoh tas kain usang milik Adam yang tadi diberikan Yudi. Ia menarik keluar sebuah buku diary ber-cover kulit cokelat yang ujungnya sudah terkelupas. Dengan tangan gemetar, Fitri membuka halaman demi halaman.
Halaman-halaman awal berisi tulisan tangan Adam yang rapi catatan harian saat mereka baru menikah. Namun, begitu memasuki lembaran pertengahan, tulisan tangan itu berubah menjadi acak-acakan, penuh noda bekas tetesan air mata yang mengering dan menghitamkan tinta.
14 Agustus 2026
"Fitri, maafkan mas... Mas blind, Mas terbuai sama harta dan kepalsuan Rosa. Mas udah buang permata demi se kerikil racun. Tiap malam Mas mimpi lihat kamu nangis sambil gendong Aiden. Mas panggil nama kamu, tapi kamu makin jauh... Mas pantes dihukum, Fit. Mas pantes mati... Tapi tolong, ijinkan Mas lihat Aiden sekali aja sebelum mata Mas tertutup selamanya..."
Airmata Fitri menetes deras tanpa bisa ditahan lagi. Titik-titik air matanya jatuh membasahi kertas diary yang kusam itu. Dinding pertahanan batin yang selama ini ia bangun rapat-rapat , rubuh seketika oleh penyesalan terlambat dari pria di balik kaca.
Tiba-tiba, sebuah genggaman hangat mendarat di jemari Fitri. Fitri menoleh dan mendapati Danu berdiri di sampingnya, menyodorkan selembar tisu bersih.
"Kalau kamu mau masuk dan bicara sama dia, masuklah, Fit," ujar Danu pelan dan penuh pengertian. "Meskipun dia koma, pendengarannya mungkin masih berfungsi. Suara kamu mungkin bisa jadi alasan buat dia bertahan hidup."
Fitri menatap Danu dengan pendar rasa bersalah. "Mas Danu... Apa ini gak bikin Mas cemburu atau sakit hati? Aku..."
Danu menggeleng pelan, mengulas senyum paling tulus yang pernah Fitri lihat. "Fitri, aku mencintai kamu karena ketulusan dan kebaikan hatimu. Kalau kamu tega membiarkan mantan suamimu sekarat tanpa rasa iba, kamu bukan Fitri yang aku kenal. Aku paham bedanya rasa cinta dan rasa kemanusiaan. Pergilah, bicara sama dia."
Fitri mengangguk dengan rasa haru yang membuncah. Setelah mengenakan baju sterilisasi dan masker, Fitri melangkah pelan memasuki ruang ICU yang dingin dan berbau antiseptik menyengat.
Langkah kaki Fitri berhenti tepat di samping ranjang Adam. Suara detak monitor BEEP... BEEP... BEEP... mengalun teratur, menjadi latar belakang keheningan ruangan.
Fitri menatap wajah Adam yang pucat pasi. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh ujung jemari Adam yang terasa dingin bagaikan es.
"Mas Adam..." bisik Fitri dengan suara parau menahan tangis. "Ini aku... Fitri."
Tidak ada respon dari Adam. Hanya dada pria itu yang kembang kempis secara mekanis mengikuti dorongan mesin ventilator.
"Kenapa Mas harus hancur sampai kayak gini?" sambung Fitri, air matanya kembali menetes menimpa seprai putih. "Kenapa Mas baru nyesel setelah semuanya hancur? Kenapa Mas..."
Tiba-tiba, di luar dugaan Fitri, jemari Adam yang berada dalam genggamannya mendadak bergerak pelan!
Jemari dingin itu meremas pelan jemari Fitri. Dari sudut mata Adam yang terpejam rapat, setetes air mata bening keluar dan meluncur perlahan melewati pipinya yang tirus.
Garis di monitor jantung mendadak melonjak naik secara tidak teratur! Alarm monitor mulai berbunyi bip pendek berulang kali.
BEEP-BEEP! BEEP-BEEP!
Fitri panik. "Mas Adam? Mas!"
Dada Adam terangkat tinggi seolah sedang berjuang keras menghirup udara secara mandiri, menolak pipa ventilator yang terpasang di tenggorokannya. Kelopak matanya bergerak-gerak liar, berusaha keras untuk terbuka.
"Mas Danu! Sus! Tolong!" teriak Fitri histeris memanggil tim medis dari luar.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.