Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.
Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.
Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.
Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Hadang
Di pinggiran kota Glacoria. Aurelia berjalan dengan langkah tenang. Sebelumnya, ia sempat mampir di toko obat yang tidak jauh dari perpustakaan milik Eira.
Setidaknya, meski ayahnya selalu memandang sebelah mata dan menganggapnya tidak ada, Tetua Frost masih memiliki sedikit hati nurani dengan memberikannya beberapa keping perak setiap bulan.
Jumlahnya memang tak seberapa bagi seorang bangsawan, namun bagi Aurelia dan ibunya, itu sudah cukup untuk kebutuhan hidup mereka.
Langkah kaki Aurelia mendadak terhenti. Sepatunya berdecit di atas salju saat lima bayangan tinggi berdiri tepat di hadapannya.
Ia mendongak. Sepasang matanya menyipit tajam, mengenali wajah kelima pria di depannya. Pria-pria bangsawan sombong yang selalu menindas yang lemah.
"Lihat siapa yang ada disini," cibir Isa. Langkahnya maju satu demi satu, sebuah senyum sinis terkembang di wajahnya yang congkak. "Tuan Putri Aurelia... atau haruskah aku memanggilmu... Putri Sampah?" Pria itu terkekeh, suara tawanya menggema hambar di jalanan yang mulai sepi.
Eros, yang berdiri di sebelahnya, menyela dengan nada suara yang dibuat-buat, seolah menengahi namun sarat akan racun.
"Jangan terlalu kasar, Isa. Bagaimanapun juga, darah Tetua Frost mengalir di tubuhnya. Kita tidak ingin dihukum hanya karena salah bicara, bukan?" Meski kata-katanya terdengar membela, sudut bibir Eros terangkat tipis, menikmati setiap detak penghinaan itu.
"Hukum? Jangan bercanda," Arnon mengibaskan tangannya ke udara, meremehkan. "Tetua Frost tidak akan membuang energinya untuk menghukum kita. Semua orang tahu dia sendiri menganggap putri haramnya ini sebagai aib klan yang harus dilenyapkan."
Isa mengangguk puas, melipat tangan di dada. "Benar sekali. Disini, mereka yang lahir tanpa setetes pun sihir es di nadinya, tidak lebih berharga daripada tumpukan sampah di pinggir jalan."
"Tapi setidaknya," Felix menyahut, tatapan matanya menyapu tubuh Aurelia dari atas ke bawah dengan kurang ajar. "Sampah ini memiliki wajah yang sangat cantik. Bukankah sayang jika keindahan seperti ini dilewatkan begitu saja? Kita bisa menikmatinya bersama."
Seketika, gelak tawa vulgar meledak di antara kelima pria itu.
Namun, wajah Aurelia tetap tenang, sedingin es yang tidak bisa ia kendalikan. Kulitnya pucat, ekspresinya datar tanpa cela, seolah badai hinaan yang baru saja menerpanya hanyalah angin lalu yang sudah ratusan kali ia dengar.
"Sudah selesai?" suara Aurelia keluar, begitu tenang, begitu datar, dan benar-benar kosong dari emosi. Ia menatap lurus ke arah mata mereka yang mulai goyah karena reaksinya. "Jika pertunjukan kalian sudah selesai, bisakah kalian menyingkir? Kalian menghalangi jalanku."
Kelima pria itu saling lempar pandang. Amarah mulai menyulut ego mereka saat menyadari bahwa intimidasi mereka tidak mempan sama sekali pada gadis tak bersihir ini.
"Menyingkir?" Finn, pria kelima yang sejak tadi diam, akhirnya melangkah maju dengan tatapan mata yang dipenuhi hasrat mesum. "Tidak semudah itu, Putri Kecil. Kami bahkan belum mulai bersenang-senang denganmu."
Mereka berlima serentak melangkah maju, mempersempit jarak dan mengunci rute pelarian. Aurelia mundur beberapa langkah dengan perlahan untuk menjaga jarak, namun sepasang matanya tetap tenang, menyimpan misteri yang tak mampu mereka baca.
Aurelia mundur beberapa langkah. Tempat itu seolah menjadi sempit, namun tidak ada ketakutan di wajahnya. Matanya sedingin es murni—tenang dan penuh perhitungan.
Dengan gerakan lambat namun pasti, tangan kanan Aurelia bergerak ke bahu. Menjangkau hulu pedang yang tergantung erat di punggungnya. Itu adalah pedang pemberian Eira, sebuah hadiah yang menurutnya sangat berharga.
Tanpa keraguan sedikit pun, mata pedang yang berkilau itu terhunus lurus ke arah dada kelima pria sombong di hadapannya.
"Berhenti," ucap Aurelia. Singkat, tajam, dan penuh penekanan.
Kelima pria itu saling berpandangan selama satu detik, sebelum akhirnya tawa terbahak-bahak pecah di antara mereka. Suara tawa yang mengejek dan merendahkan.
"Hei, Tuan Putri... apa yang sebenarnya ingin kau lakukan dengan pedang mainan itu?" tanya Arnon di sela tawanya, menatap Aurelia dengan tatapan meremehkan. "Kau pikir pedang tanpa sihir bisa melindungimu dari kami?"
Isa terkekeh pelan, melangkah selangkah lebih dekat sambil menyilangkan tangan di dada. "Mungkin dia sudah frustrasi dan kehilangan akal sehatnya karena dilahirkan tanpa sihir sedikit pun di dunia ini. Begini saja, Aurelia... aku sedang berbaik hati. Aku akan mengajarimu satu mantra sihir es tingkat menengah. Tapi tentu saja tidak gratis. Sebagai bayarannya, setelah ini... kau harus melayaniku dengan baik."
"Percuma saja," Finn menyela dengan nada mencemooh." Dia tidak punya inti roh murni... meskipun dia di ajarkan mantra-mantra sihir es... di tangannya hanya akan ada sampah."
Finn tertawa terpingkal-pingkal, disusul oleh gelak tawa kotor dari Isa, Arnon, Felix, dan Eros. Di sekeliling mereka, beberapa orang yang ada disana hanya diam menonton.
Tak ada satu pun yang berniat melerai. Bagi mereka, ini hanyalah pertunjukan hiburan yang seru—melihat si 'Putri Sampah' ditindas.
Namun, Aurelia tidak membuang energinya untuk membalas makian itu dengan kata-kata.
Sret!
Hening seketika.
Tawa kelima pria itu mendadak tersangkut di tenggorokan. Udara seolah membeku. Mata Finn, Eros, Arnon, Isa, dan Felix terbelalak lebar saat menyadari apa yang baru saja terjadi.
Hanya dalam satu kedipan mata, Aurelia telah bergerak secepat kilat. Ujung pedangnya telah merobek lengan pakaian mahal mereka secara bersamaan dalam satu tebasan horizontal yang presisi.
Kain sutra berharga mahal itu kini terkoyak, menyisakan sayatan tipis di kulit mereka yang mulai meneteskan darah.
Semua penonton di sekitar mereka terkejut. Tidak ada yang menyangka jika Aurelia akan senekat itu menyerang para bangsawan penyihir.
Aurelia menurunkan sedikit pedangnya, menatap mereka datar. "Kalian terlalu banyak bicara," cetusnya dingin tanpa rasa takut sedikit pun. "Apa kalian tidak diajarkan... bahwa dalam sebuah pertarungan, yang digunakan adalah pedang, bukan mulut?"
Wajah kelima pria itu seketika memerah padam karena amarah dan rasa malu. Mereka mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau akan menyesali kelancanganmu, sampah sialan!" raung mereka murka.
Secara serentak, kelima pria itu menarik senjata mereka. Udara di sekitar mendadak turun drastis saat kelimanya melepaskan kekuatan magis.
Pedang-pedang es tercipta di tangan mereka, berkilau kebiruan layaknya es murni yang mematikan. Cahaya itu memantul di dinding-dinding batu sekitar, memancarkan aura membunuh yang pekat.
"Putri sampah yang sombong! Kau pikir hanya dengan memegang pedang, kau bisa menandingi kekuatan es kami?!" desis Felix geram, matanya menyalang penuh kebencian.
Tanpa aba-aba lagi, mereka maju bersamaan, mengayunkan senjata mereka dari berbagai sudut. Ini adalah pertarungan yang tidak adil: satu pedang melawan lima pedang sihir es.
Aurelia memang tidak memiliki bakat sihir es setetes pun di dalam dirinya. Namun, bukan berarti dia adalah mangsa yang lemah. Selama bertahun-tahun, dia telah belajar memegang pedang dengan benar dan menggunakan nya meskipun tanpa sihir.
Berlatih setiap hari di bawah malam dingin, hanya dengan bermodalkan sebilah pedang tua yang berkarat.
Saat lima bilah es tajam melesat ke arahnya, Aurelia menutup matanya sekilas, membiarkan seluruh indranya menajam. Saat ini, dia hanya mengandalkan satu hal: insting pedangnya yang telah menyatu dengan jiwanya.
Tanpa Aurelia sadari, di puncak menara tertinggi yang menjulang ke langit, ada sepasang mata tajam yang mengawasi setiap jengkal pergerakannya dari balik bayangan.
Arthur berdiri di sana, sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan arti.
Jelas sekali, di balik tatapan matanya yang biasanya sedingin es, terselip rasa kagum yang mendalam atas keberanian dan kegigihan luar biasa yang ditunjukkan oleh gadis yang mereka sebut 'putri sampah' itu.