Dion Nugroho adalah lelaki yang memiliki segalanya.
Wajah tampan, kehidupan mewah, popularitas, dan nama besar keluarga yang membuat siapa pun mengenalnya. Ia adalah putra tunggal pemilik Anggoro Group, perusahaan obat-obatan medis ternama yang bisnisnya telah menjangkau berbagai penjuru dunia.
Namun, di balik semua kemewahan itu, Dion tumbuh menjadi lelaki yang dingin, cuek, angkuh, dan sulit dikendalikan.
Baginya, perhatian dari perempuan hanyalah sesuatu yang mengganggu.
Berkali-kali wanita datang membawa perasaan tulus, tetapi Dion tak pernah menghargainya. Ia terlalu terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan hingga lupa bahwa hati manusia bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan kekayaan.
Sampai suatu hari...
Seorang mahasiswi baru datang ke kampusnya.
Namanya Alya Andini.
Gadis sederhana yang berasal dari sebuah kampung kecil. Penampilannya jauh berbeda dari mahasiswi lain. Rambutnya selalu dikuncir dua, mengenakan kacamata bulat hitam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Ayunda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 Dion takut ruangan tertutup
Hari-hari berikutnya perlahan berubah.
Sejak Dion memutuskan untuk serius belajar bisnis, kehidupannya menjadi jauh lebih sibuk.
Pagi hari, ia berangkat kuliah seperti biasa.
Namun berbeda dari sebelumnya, Dion tidak lagi datang ke kampus dengan wajah malas atau sekadar mengikuti kelas tanpa benar-benar memperhatikan.
Ia duduk di bangku paling depan.
Mencatat.
Bertanya kepada dosen.
Bahkan sesekali berdiskusi dengan teman-temannya mengenai materi yang berkaitan dengan ekonomi dan manajemen.
"Aku masih tidak percaya."
Salah satu teman sekelasnya menatap Dion dengan heran.
Dion mengangkat alis.
"Tidak percaya apa?"
"Kamu sekarang rajin."
Dion tersenyum tipis.
"Kenapa? Aku memang pintar."
Temannya terkekeh.
"Percaya diri sekali."
Dion hanya tertawa.
Namun ada satu hal yang membuat perubahan itu terasa berbeda.
Alya.
Gadis itu tetap berada di sisinya.
Bukan untuk mengerjakan tugas Dion.
Bukan untuk memaksanya belajar.
Tetapi hanya untuk menemani.
Setiap kali Dion keluar dari ruang kelas, Alya sering sudah menunggunya di lorong.
Kadang dengan dua botol minuman.
Kadang membawa makanan ringan.
Kadang hanya berdiri sambil memainkan ponselnya.
Begitu melihat Dion keluar, wajah Alya langsung cerah.
"Dion!"
Pria itu otomatis tersenyum.
"Hmm?"
"Makan."
Alya mengulurkan roti kepadanya.
Dion menerimanya.
"Kamu beli?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena kamu pasti lupa makan."
Dion tertawa kecil.
"Kamu sekarang seperti ibuku."
Alya langsung memukul lengannya pelan.
"Kalau begitu jangan dimakan."
Dion buru-buru menarik roti itu menjauh.
"Jangan. Aku makan."
Alya tertawa.
Dan tanpa mereka sadari, tawa itu menjadi semakin sering terdengar.
Wajah Dion yang dulu begitu dingin perlahan berubah.
Begitu pula Alya.
Gadis yang dulu selalu menyembunyikan senyumnya di balik raut wajah tenang kini semakin sering tertawa.
Bukan senyum kecil yang dipaksakan.
Bukan tawa untuk menyenangkan orang lain.
Tetapi senyum yang benar-benar muncul dari hatinya.
Keduanya terlihat seperti dua orang yang perlahan menemukan kembali kebahagiaan yang sempat hilang.
Sepulang kuliah, kehidupan Dion belum selesai.
Begitu sampai mansion, ia langsung menuju ruang kerja.
Jas kampusnya terkadang bahkan belum sempat dilepas.
Laptop dibuka.
Buku-buku bisnis diletakkan di meja.
Laporan perusahaan yang diberikan ayahnya kembali dipelajari.
Alya biasanya berada tidak jauh darinya.
Kadang membaca buku di sofa.
Kadang mengerjakan tugas kuliah.
Kadang hanya duduk sambil menikmati camilan.
Dan sesekali...
ia mengganggu Dion.
"Dion."
"Hmm?"
"Capek?"
"Sedikit."
"Berarti istirahat."
"Nanti."
"Dion."
"Sebentar."
Alya berdiri dari sofa.
Kemudian berjalan mendekat.
Ia menutup laptop Dion.
Klik.
Dion langsung menatapnya.
"Alya."
"Istirahat."
"Aku belum selesai."
"Kamu sudah tiga jam duduk di sini."
Dion menghela napas.
"Aku harus belajar."
Alya tersenyum.
"Kalau kamu sakit, siapa yang mau belajar?"
Dion terdiam.
Alya kemudian menunjuk sofa.
"Duduk."
Dion menurut.
Alya mengambil segelas air dan menyerahkannya.
"Minum."
Dion menerimanya.
"Siap, Bu Guru."
Alya tertawa.
Dan untuk beberapa saat, ruang kerja itu dipenuhi suasana hangat.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada kesunyian yang terasa berat.
Hanya dua orang yang sedang menikmati kebersamaan sederhana.
Namun kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung selamanya.
Beberapa hari kemudian.
Siang itu, setelah menyelesaikan beberapa urusan di kampus, Dion dan Alya kembali ke gedung perusahaan.
Ayah Dion meminta mereka datang untuk menghadiri sebuah pertemuan singkat.
Mereka berada di lantai dua puluh.
Setelah pertemuan selesai, Dion dan Alya keluar dari ruang rapat.
"Ayo turun."
Dion mengangguk.
Mereka berjalan menuju lift.
Pintu lift terbuka.
Keduanya masuk.
Alya berdiri di samping Dion.
Dion menekan tombol lantai dasar.
Pintu perlahan menutup.
Awalnya semuanya normal.
Lift bergerak turun.
Lantai dua puluh.
Sembilan belas.
Delapan belas.
Alya sedang bercerita mengenai tugas kuliahnya.
Dion sesekali menjawab.
Namun ketika lift melewati lantai lima belas...
Tiba-tiba—
BRAK!
Lift berhenti mendadak.
Lampu berkedip.
Alya terhuyung dan spontan memegang pegangan di sampingnya.
"Dion!"
Pria itu tidak menjawab.
Alya menoleh.
Wajah Dion berubah.
Sangat pucat.
Tangannya mencengkeram sisi lift.
Napasnya mulai tidak beraturan.
"Dion?"
Tidak ada jawaban.
Alya mendekat.
"Kamu kenapa?"
Dion menelan ludah.
"Lift..."
Suaranya bergetar.
"Aku..."
Ia menarik napas panjang.
Namun justru semakin sulit.
Ruangan sempit itu tiba-tiba terasa seperti semakin mengecil.
Udara seakan menghilang.
Dinding logam di sekeliling mereka terasa mendekat.
Dion memejamkan mata.
Kenangan lama yang selama ini berusaha ia kubur mendadak kembali.
Ruangan sempit.
Gelap.
Tidak bisa keluar.
Tidak bisa bernapas.
Tangannya gemetar.
"Alya..."
"Iya, aku di sini."
"Aku takut."
Kalimat itu membuat Alya membeku.
Dion.
Pria yang selalu terlihat tenang.
Pria yang selalu berusaha melindunginya.
Kini justru sedang ketakutan.
Alya menggenggam tangannya.
"Lihat aku."
Dion membuka mata.
"Aku di sini."
Alya berusaha tersenyum meskipun wajahnya mulai cemas.
"Kita akan keluar."
Dion mengangguk kecil.
Namun napasnya semakin cepat.
"Dion, tarik napas."
"Aku..."
Dion memegang dadanya.
"Aku nggak bisa..."
Alya mulai panik.
"Dion!"
Pria itu mencoba berdiri tegak.
Namun tubuhnya kehilangan tenaga.
"Dion!"
Tubuh Dion tiba-tiba jatuh.
Alya berhasil menangkap sebagian tubuhnya sebelum kepalanya membentur lantai.
"Dion!"
Alya berlutut.
Ia mengguncang bahunya.
"Dion! Bangun!"
Tidak ada respons.
"Dion!"
Alya mulai menangis.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Jangan bercanda..."
Tangannya menyentuh pipi Dion.
Dingin.
"Dion, buka mata kamu..."
Tetap tidak ada jawaban.
Alya langsung menekan tombol darurat.
"Tolong!"
Suaranya bergetar.
"Lift kami mati! Tolong!"
Tidak ada jawaban yang terdengar jelas.
Alya kembali menatap Dion.
Napas pria itu begitu lemah hingga membuat kepanikan Alya semakin menjadi-jadi.
"Dion..."
Tangisnya pecah.
Ia teringat perkataan Dion beberapa hari lalu.
Aku ingin menjadi orang yang bisa kamu andalkan.
Dan sekarang...
justru Dion yang terbaring tidak sadarkan diri di hadapannya.
"Aku belum sempat bilang..."
Suara Alya bergetar.
"Kalau aku..."
Ia menelan tangis.
"Kalau aku sebenarnya bahagia kamu berubah."
Alya menepuk pipi Dion perlahan.
"Tolong bangun."
Tidak ada reaksi.
Alya mulai semakin panik.
Ia mencoba mengingat apa yang pernah dipelajarinya tentang pertolongan pertama.
Kemudian matanya tertuju pada wajah Dion.
"Aku..."
Alya ragu.
Tangannya gemetar.
Ia tahu apa yang harus dilakukan.
Namun membayangkan dirinya memberikan napas buatan kepada Dion membuat wajahnya memerah meskipun dalam keadaan panik.
"Dion..."
Alya menghapus air matanya.
"Maaf."
Ia mendekat.
Sangat perlahan.
Namun ketika wajahnya hampir menyentuh wajah Dion, ia kembali berhenti.
Tangannya gemetar hebat.
"Aku takut salah..."
Air mata kembali mengalir.
"Tapi aku lebih takut kehilangan kamu."
Alya akhirnya memberanikan diri melakukan pertolongan pertama sesuai yang ia ingat, sambil terus menangis dan memanggil nama Dion.
"Dion..."
Ia terus berusaha.
"Bangun..."
Suaranya pecah.
"Kamu belum boleh pergi."
Alya menatap wajah Dion.
"Karena kamu belum menepati janji kamu."
Tangannya kembali menggenggam tangan Dion erat.
"Kamu bilang mau menjadi seseorang yang bisa aku andalkan."
Tangisnya semakin keras.
"Jadi jangan tinggalkan aku sekarang..."
Di dalam lift yang gelap dan sempit itu, Alya terus berusaha mempertahankan Dion sambil menunggu bantuan datang.
Dan untuk pertama kalinya...
Alya menyadari sesuatu yang selama ini tidak berani ia akui.
Ia bukan lagi sekadar nyaman berada di dekat Dion.
Ia takut kehilangan pria itu.
Sangat takut.
Di luar lift, suara langkah kaki mulai terdengar.
Kemudian suara petugas terdengar dari balik pintu.
"Pak! Mbak! Apakah kalian bisa mendengar saya?"
Alya langsung menangis lega.
"Tolong!"
Ia menggenggam tangan Dion semakin erat.
"Tolong selamatkan dia!"
Namun di balik pintu lift yang masih tertutup itu...
Dion belum juga membuka matanya.