Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
"Maaf." Jesica segera bangkit dari atas tubuh Albert lalu meraih nampan berisi piring kotor dan segera berlari meninggalkan kamar tempat Albert berada.
"Jesica ada apa?" Maria bingung melihat anak gadisnya berlari seperti di kejar setan.
"Nggak apa-apa kok bu!" Jesica tidak berani menatap wajah ibunya karena malu seolah sang ibu tau apa yang baru saja terjadi padahal itu hanya perasaannya saja.
Iya meletakkan nampan berusaha piring kotor itu lalu segera mencucinya.
"Bu, bagaimana kalau seandainya Albert benar-benar sudah menikah dan saat ini istrinya sedang mencarinya." Jesica yang sedang mencuci piring menghentikan sejenak aktivitas nya.
"Ayahmu sudah mencari kabar dari beberapa desa terdekat tapi sama sekali tidak ada warga yang kehilangan anggota keluarganya. Untuk sekarang sebaiknya kita tunggu saja sampai ingatan Albert pulih. "
"Baiklah. " Jesica kembali melanjutkan mencuci piring kotor itu.
"Karisa makan dulu ya, sudah berhari-hari kamu tidak makan. Tidak baik menyiksa diri seperti ini. "
Ustaz Jamal hampir kehabisan akal menghadapi Karisa yang sampai saat ini masih sangat sulit untuk di ajak berkomunikasi. Dia hanya duduk diam tanpa melakukan apapun. Bahkan makan dan minum pun harus di sulangkan ke mulutnya itu pun hanya sedikit yang ia makan. Hanya dalam beberapa hari saja tubuhnya sudah terlihat sangat kurus.
"Assalamu'alaikum"
Kiyai Usman dan istrinya datang berkunjung ke rumah ustadz Jamal untuk menjenguk Karisa.
"Waalaikumsalam, Pak kiyai mari silahkan masuk. "
Ustaz Jamal langsung menyambut kedatangan besannya itu.
"Bagaimana kondisi Karisa, Ustadz?" Tanya Humaira yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Karisa.
"Tidak baik. Sebaiknya anda lihat sendiri saja." Ustadz Jamal membuka lebar pintu kamar Karisa.
Terlihat Karisa sedang duduk di atas ranjangnya dengan tatapan kosong.
Air mata Humaira langsung menetes. Ia sama sekali tidak menyangka menantunya yang biasanya ceria bisa jadi seperti ini. Humaira mendekat dan langsung memeluk tubuh Karisa.
"Ya Allah, berikan keikhlasan pada menantu hamba untuk menjalani semua cobaan dariMU."
Do'a tulus tak henti-hentinya di ucakan Humaira untuk sang menantu yang sangat di sayanginya itu.
"Karisa ini umi, kamu makan ya biar umi suapi. " Humaira meraih mangkuk bubur yang ada di meja samping ranjang Karisa. Di sendokkannya bubur itu lalu di sodorkannya tepat di depan bibit Karisa hingga bubur itu menempel sedikit di bibir Karisa, namun Karisa sama sekali tidak bergeming ia seolah tak merasakan apa pun. Humaira dengan sabar tetap menyuapi Karisa, meskipun sedikit belepotan tapi Humaira sedikit lega karena ada beberapa suap dari bubur itu yang bisa tertelan oleh Karisa.
"Kamu harus kuat sayang, Farhan pasti sangat sedih jika melihat kamu seperti ini. " Bisik Humaira sambil membersihkan sisa bubur yang belepotan di bibir Karisa.
"Mas Farhan.... !" Tiba-tiba Karisa berteriak memanggil nama Farhan lalu melompat dari atas ranjang dan berlari keluar rumah sambil terus berteriak memanggil nama Farhan.
"Karisa berhenti!" Humaira dengan panik juga berlari mengejar Karisa.
"Ustadz Jamal, Abi cepat kejar Karisa. " Ucanya sambil berlari saat melewati suami dan besannya yang sedang berbincang di ruang tamu.
Akhirnya ketiga orang itu berlari bersama untuk mengejar Karisa. Karena tubuh Karisa yang akhir-akhir ini kurang asupan gizi membuat tubuhnya menjadi lemah sehingga larinya tidak terlalu kencang hal ini memudahkan Humaira, suami dan besannya untuk menyusul Karisa dengan cepat.
"Karisa berhenti nak, ayo kita pulang. " Humaira menarik tubuh Karisa kedalam pelukannya.
"Mas Farhan, dia menungguku. Aku mau menyusul mas Farhan. Aku mau menyusul mas Farhan. " Marisa terus saja berontak hingga akhirnya tubuhnya melemah dan tak sadarkan diri.
Ustadz Jamal langsung menggendong tubuh putrinya dan membawanya kembali ke kamarnya.
"Sepertinya kondisi Karisa semakin mengkhawatirkan, apa tidak sebaiknya kita bawa kerumah sakit saja." Kiyai Usman.
"Bagaimana baiknya saja, aku ikut saja. " Ustadz Jamal pasrah dia hanya ingin anaknya bisa segera kembali seperti sedia kala.
"Begini saja, bagaimana kalau Karisa ikut kerumah kami saja biar saya dan Aisyah yang merawatnya.
Lagi pula Aisyah kuliah jurusan psikologi siapa tau dia bisa menyembuhkan Karisa." Saran Humaira.
"Benar juga. Bagaimana menurut kamu Ustadz Jamal?" Kiyai Usman memandang wajah sahabat sekaligus besannya itu.
"Aku ikut saja, yang penting tidak merepotkan kalian. " Ujar ustadz Jamal.
"Albert ayo bantu aku tangkap ayam itu untuk kita masak. " Jesica sedang berada di dalam kandang ayam dan menggiring seekor ayam yang ingin ia tangkap.
"Oke baiklah. " Albert segera menyusul masuk kedalam kandang ayam yang berukuran 7*6 itu. Dan pinggirannya di kelilingi dengan jaring.
Saat ini kondisi luka Albert sudah membaik bahkan sudah tidak di perban lagi.
"Kamu jaga dari sebelah sana dan aku dari sebelah sini. " Ucap Jesika memberi perintah.
Keduanya bergerak pelan-pelan menggiring ayam itu agar terpojok dan mudah di tangkap. Begitu ayam itu sudah terpojok keduanya bersiap menangkapnya bersamaan. Namun bukannya tertangkap ayam itu malah terbang keluar dari pagar jaring. Justru Albert dan Jesica malah saling berpelukan saat berusaha menangkap ayam itu.
Dengan cepat Jesica langsung mendorong tubuh Albert.
"Kamu sengaja ya?" Jesica melotot sambil berkecak pinggang.
"Kamu ini salalu saja menuduh aku padahal kamu yang selalu mencari kesempatan sama aku!" Albert balik melototi Jesica.
"Kamu!" Jesica menunjuk hidung Albert karena kesal.
"Ah, sudahlah malas debat sama kamu. Lihat tu ayamnya jadi kabur karena kamu. "
"Heh... kamu yang nggak becus nangkapnya kok malah nyalahin aku sih." Protes Albert.
"Ngapain kalian? ngobrol kok di kandang ayam. " Pak Pohan terkekeh.
"Siapa juga yang lagi ngobrol. Kami itu lagi nangkap ayam tapi dia bodoh banget ayamnya kabur deh. " Jesica masih saja ngomel.
"Enak aja ngatain aku bodoh, padahal kamu tu yang nggak pintar!" Balas Albert.
"Ayam ini maksud kalian?" Pak Pohan mengangkat tangannya yang sedang memengang seekor ayam yang tadi ingin di tangkap oleh Albert dan Jesica.
"Lo kok ayamnya bisa sama ayah sih. " Seperti tidak percaya dengan mudahnya sang ayah menangkap ayam yang tidak bisa ia tangkap.
"Tadi ayam ini terbang ke arah ayah, langsung saja ayah tangkap. Memangnya ayam ini mau kamu apakan?" Tanya pak Pohan.
"Mau di masak ayah, tu untuk dia. Kata ibu dia harus makan banyak makanan sehat biar cepat sembuh. " Jesica mengambil ayam itu dari tangan ayahnya dan ingin membawa ayam itu ke warung untuk segera di potong.
Albert terdiam memandang Jesica yang sudah berjalan semakin menjauh.
"Gadis ini, walaupun mulutnya pedas tapi hatinya sangat baik. " Batin Albert.
"Hay... anak muda kenapa bengong di situ, ayo kita ngopi di dalam. "
Lamunan Albert terhenti mendengar panggilan dari pak Pohan.
"Oh, iya pak baiklah. "
"Bagaimana apa ada sesuatu yang bisa kamu ingat?" Pak Pohan.