Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Di sudut ruangan, Freya masih terpaku. Lengan yang diperban seolah terlupakan. "A-Adrian... dia... dia benar-benar mencoba bunuh diri? Apa ini salah satu trik rendahnya untuk membuatmu merasa bersalah?"
Adrian menoleh ke arah Freya, lalu menatap kembali ke Kayna. Tatapan muak di matanya kini bercampur dengan kebingungan yang luar biasa. Ia telah bersiap menghadapi Kayla yang akan menangis, memohon, atau bahkan mengancam. Ia telah bersiap untuk menghancurkannya dengan kata-kata.
Tapi ini? Wanita di hadapannya ini baru saja mencoba mengakhiri hidupnya dengan ekspresi seseorang yang sedang mengantre di kasir supermarket dan merasa antreannya terlalu lambat.
"Panggil dokter!" teriak Adrian tiba-tiba ke arah koridor, suaranya bergema. "Panggil dokter sekarang juga!"
"Tidak perlu, Tuan Duke," Kayna menghela napas, menunjuk lehernya. "Lukangnya dangkal. Hanya mengenai kulit dan sedikit daging. Tidak ada arteri yang putus. Aku hanya akan kehilangan sedikit darah dan mungkin pusing sebentar."
"Mulutmu!" Adrian menggeram, langkahnya maju dan mencengkeram bahu Kayna. Jarak wajah mereka kini sangat dekat. Kayna bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di mata biru pria itu. "Apakah ini permainan barumu, Kayla? Kau pikir dengan melukai dirimu sendiri, aku akan membatalkan pertunangan ini karena merasa bersalah? Kau pikir aku akan kasihan padamu?"
Kayna menatap mata Adrian lekat-lekat. Tatapan itu... tatapan merendahkan, tatapan yang menganggapnya sebagai sampah. Tatapan yang sama persis dengan ayahnya.
Untuk sesaat, jantung Kayna berdegup kencang. Rasa sesak yang familiar mulai merayap naik ke tenggorokannya. Tapi kemudian, ia menelan ludah, memaksakan senyum tipis yang tulus, bukan senyum sinis Kayla von Ardent, melainkan senyum lelah milik Kayna.
"Tuan Duke," ucap Kayna lembut, suaranya nyaris seperti bisikan. "Kau terlalu menganggap dirimu penting. Aku tidak melakukan ini untukmu. Aku tidak peduli padamu, pada Freya, atau pada pertunangan konyol ini."
Adrian mengerutkan kening, cengkeramannya di bahu Kayna sedikit mengendur karena bingung. "Lalu kenapa...?"
"Karena aku ingin mati," potong Kayna jujur. "Dan jika aku mati di tanganmu lewat hukuman gantung, dewa reinkarnasi mungkin akan melemparku ke tubuh babi yang akan disembelih. Jadi, aku harus mati dengan caraku sendiri. Dalam keadaan suci. Tapi pelayanmu terlalu lengket, dan sekarang kau juga mengganggu."
Ruangan itu kembali hening.
Adrian menatap Kayna seolah-olah wanita di hadapannya ini baru saja berbicara dalam bahasa alien. Freya di sudut ruangan menutup mulutnya, matanya berkedip-kedip tak percaya.
Tepat pada saat itu, seorang pria tua dengan tas medis berlari masuk ke ruangan, terengah-engah. "Tuan Duke! Nona Kayla! Apa yang terjadi?!"
"Periksa lehernya," perintah Adrian kaku, melepaskan tangannya dari bahu Kayna dan mundur selangkah, seolah Kayna adalah bahan peledak yang bisa meledak kapan saja.
Dokter itu segera memeriksa leher Kayna, membersihkan darah dengan kain linen, dan memberikan perban sederhana. "Luka gores, Yang Mulia. Tidak berbahaya. Hanya perlu dijaga agar tidak infeksi."
Adrian menghembuskan napas panjang, bahunya yang tegang sedikit turun. Ia menatap Kayna yang kini sedang duduk dengan santai, menatap perban di lehernya dengan raut wajah kecewa yang sangat jelas.
Dia kecewa, batin Adrian, merasa ngeri. Tunangan saya benar-benar gila.
Adrian adalah seorang pria yang kalkulatif. Ia membenci Kayla, ia ingin menghancurkannya, tapi ia bukan pembunuh. Jika Kayla mati di istananya hari ini terutama setelah ia mengancamnya di depan saksi, maka nama baik keluarga Ardent akan hancur. Para lord dan lady akan berbisik bahwa Duke Adrian yang dingin kejam telah mendorong tunangannya sendiri ke ujung tanduk.
"Kau tidak akan mati hari ini, Kayla," ucap Adrian dingin, mencoba mengembalikan wibawanya yang retak. "Dan kau tidak akan mati dengan cara apapun yang kau inginkan."
Kayna mendongak, alisnya terangkat. "Maksudmu?"
"Mulai detik ini, kau tidak diizinkan meninggalkan kamarmu," titah Adrian, suaranya kembali datar dan penuh otoritas. "Semua benda tajam, racun, atau apapun yang bisa kau gunakan untuk melukai dirimu akan disita. Rosa akan ditugaskan untuk mengawasimu dua puluh empat jam. Jika kau mencoba melarikan diri atau melukai dirimu lagi, aku akan merantai kakimu ke tempat tidur."
Mata Kayna membelalak. Dikurung? Diawasi dua puluh empat jam? Benda tajam disita?
Ini bukan hukuman. Ini adalah neraka bagi seseorang yang ingin bunuh diri.
"Tuan Duke," ucap Kayna, suaranya kini terdengar sedikit putus asa. "Kau tidak bisa melakukan itu. Itu melanggar hak asasi..."
"Hak asasi?" Adrian tertawa merendahkan, meski matanya tidak ikut tertawa. "Kau tidak punya hak apapun di sini lagi, Kayla. Bawa dia ke kamarnya," perintahnya pada dua penjaga yang baru saja masuk.
Kayna tidak melawan. Ia tahu tubuhnya yang baru ini tidak terlatih untuk bertarung. Dengan langkah gontai, ia mengikuti para penjaga keluar dari ruang utama, meninggalkan Adrian yang masih menatap punggungnya dengan tatapan kompleks, dan Freya yang masih duduk bengong di sofa.
Sesampainya di kamar, pintu itu langsung ditutup dan terkunci dari luar. Terdengar suara kunci diputar dua kali.
Kayna berdiri di tengah kamarnya yang megah. Ia menatap jendela yang tadi sempat ia incar. Jendela itu kini sudah ditutup rapat dan digembok dari luar. Ia menatap meja rias; semua benda tajam sudah tidak ada.
Rosa, pelayan gempal itu, berdiri di sudut ruangan, menatap Kayna dengan tatapan ngeri dan waspada, seolah menunggu majikannya akan mencoba memukul kepalanya ke meja lagi.
Kayna menghela napas panjang, lalu menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur empuk yang membencinya.
"Yah," gumam Kayna pada langit-langit kamar yang bergambar dewa-dewa. "Tampaknya misi kematian bersih kali ini... gagal total."
Ia membalikkan tubuhnya, menatap dinding.
"Baiklah, Duke Adrian. Kau ingin bermain kucing-kucingan? Mari kita lihat siapa yang lebih keras kepala. Aku punya dua puluh tahun pengalaman dalam hal menderita, dan aku tidak akan berhenti sampai aku mati dengan tenang."
..gagal terus🤣