Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Sesal?
Sejak tinggal di rumah Rashid, Marissa semakin terbiasa dengan kehidupan mewah yang sebelumnya hanya bisa ia bayangkan. Kehamilannya membuat Rashid berusaha memenuhi hampir semua kebutuhannya. Pada awalnya, Marissa merasa cukup dengan perhatian dan fasilitas yang diberikan. Namun, setelah beberapa minggu, keinginannya mulai berkembang.
Siang hari itu, Marissa keluar dari sebuah pusat perbelanjaan ternama dengan beberapa kantong belanja di kedua tangannya. Seorang asisten rumah tangganya bahkan harus membantu membawa sebagian barang yang tidak sanggup ia pegang sendiri. Ada pakaian bermerek, sepatu, tas, perhiasan, hingga beberapa perlengkapan bayi yang sebenarnya belum diperlukan.
“Yang ini juga masukkan ke mobil,” ujar Marissa sambil menunjuk sebuah kotak besar. “Cepat, Mita.”
Mita, asisten rumah tangga yang baru dipekerjakan oleh Rashid untuk membantu Marissa tampak ragu. “Nyonya, bukankah tadi Anda sudah membeli—”
“Masukkan saja.” Marissa tidak ingin mendengar nasihat. Ia baru saja melihat sebuah barang yang disukainya, dan ia tidak terbiasa menahan keinginan.
“Rashid tidak akan mempermasalahkannya,” katanya ringan.
Apalagi sebagian besar transaksi menggunakan kartu kredit tambahan yang diberikan Rashid kepadanya. Marissa merasa itu adalah haknya.
Bukankah ia sedang mengandung anak Rashid? Dan sebentar lagi mereka akan menikah. Maka ia merasa memenuhi semua kebutuhan dan keinginannya adalah tanggung jawab Rashid sepenuhnya.
Dengan pemikiran seperti itu, ia sama sekali tidak merasa bersalah ketika kembali memasuki butik lain. Hari itu saja, beberapa transaksi bernilai besar tercatat atas nama kartu kredit Rashid.
Malam harinya, Rashid baru menyadari sesuatu ketika asistennya di perusahaan menyerahkan laporan pengeluaran kartu kredit. “Pak, ini laporan transaksi kartu tambahan selama beberapa hari terakhir.”
Rashid yang sedang membaca dokumen perusahaan mengambil lembar tersebut tanpa banyak berpikir. Namun baru beberapa detik membaca, keningnya langsung berkerut. “Ini apa?”
“Asal transaksinya dari kartu tambahan yang digunakan Nyonya Marissa.”
Rashid kembali melihat daftar tersebut. Nilainya terus bertambah. “Semua ini dalam satu hari?”
“Sebagian besar, Pak.”
Rashid terdiam. Ia menghitung cepat jumlah pengeluaran tersebut. Matanya lalu melebar sempurna, antara terkejut sekaligus tidak percaya. “Dia membeli semua ini?”
“Sepertinya begitu, Pak.” Asistennya menunduk sesaat.
Rashid memijat keningnya yang mendadak terasa berdenyut-denyut. “Baiklah, kau boleh pergi.”
•••
“Apa semua ini, Marissa? Kau membeli semua ini?” tanya Rashid begitu tiba di rumah, melihat belanjaan Marissa yang menumpuk di ruang tamu.
Marissa langsung memasang wajah tidak senang. “Iya, Mas. Aku sangat puas hari ini. Terima kasih sudah mengizinkan aku belanja, ya,” ucapnya manja tanpa melihat wajah Rashid yang kesal dan lelah.
Rashid duduk di sofa, tepat di depan Marissa, menatap perempuan yang akan menjadi istrinya itu dengan tatapan serius dan menusuk. “Aku memang mengizinkanmu belanja. Tapi, Mar, bisakah kau berpikir dulu sebelum belanja?” tanyanya pelan.
“Aku sedang hamil, Mas. Aku tidak mungkin terus memikirkan harga setiap kali ingin membeli sesuatu.” Marissa berucap acuh tak acuh, pandangannya justru tertuju pada tas mahal yang baru dibelinya, sama sekali tak memandang Rashid.
Rashid terdiam, lebih tepatnya terdiam karena tak menyangka akan mendapatkan respons seperti itu. Tiba-tiba saja, ia teringat pada mantan istrinya.
Selama lima tahun menikah, Kinara hampir tidak pernah menggunakan kartu kredit miliknya untuk membeli barang-barang mewah. Bahkan ketika Rashid pernah memintanya membeli tas baru, perempuan itu hanya tertawa dan mengatakan tas lamanya masih bagus.
Ketika mereka pergi ke pusat perbelanjaan, Kinara lebih sering berhenti di toko perlengkapan rumah daripada butik.
Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam memilih peralatan dapur. Bukan karena tidak menyukai barang mahal, Kinara hanya selalu berpikir berkali-kali sebelum mengeluarkan uang.
Rashid masih ingat bagaimana perempuan itu pernah mengembalikan sebuah jam tangan yang disukainya karena menurutnya harganya terlalu mahal. “Lebih baik uangnya digunakan untuk mengembangkan bisnismu, Mas.”
Dulu, Rashid bahkan sempat menganggap sikap itu berlebihan. Sekarang, entah mengapa, ingatan tersebut justru muncul begitu jelas.
“Kenapa kau diam, Mas?” tanya Marissa. “Kau marah karena aku belanja?”
Rashid tersadar, lalu menggeleng lemah. “Kinara tidak pernah seperti ini,” gumamnya tanpa sadar menyulut emosi Marissa.
Begitu nama itu keluar dari mulutnya, wajah Marissa langsung berubah. “Apa yang kau katakan tadi? Kau mau membandingkan aku dengan mantan istrimu lagi, Mas?”
Rashid sendiri seolah baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. Namun, ia sudah terlanjur mengatakannya. “Selama lima tahun bersamaku, Kinara hampir tidak pernah menggunakan uang sebanyak ini hanya untuk membeli barang-barang yang tidak terlalu diperlukan.”
Marissa tertawa pendek, tetapi jelas terdengar sinis. “Jadi sekarang kau membandingkanku dengan mantan istrimu?”
“Aku hanya mengatakan kenyataan.”
“Tidak. Kau sedang membandingkanku.”
Rashid menghela napas. “Aku tidak bermaksud—”
“Lalu apa maksudmu?” Marissa menatapnya dengan kesal. “Kinara hemat, Kinara tidak suka barang mewah, Kinara tidak pernah meminta banyak hal dan aku sebaliknya. Begitu?”
Rashid tidak menjawab. Karena dalam pikirannya, memang itulah yang sedang ia bandingkan. Namun ada satu hal yang tidak ingin ia akui. Dulu ia merasa Kinara terlalu sederhana. Sekarang, kesederhanaan itu justru terasa sangat berharga.
“Dia juga tidak pernah membuatku harus memeriksa tagihan kartu kredit seperti ini,” ujar Rashid akhirnya, jujur saja ia lelah harus berdebat seperti ini, tetapi sesekali Marissa juga harus diingatkan.
Marissa membeku. “Jadi kau menyesal sudah mengizinkan aku belanja dan menggunakan kartu kreditmu? Jika seperti itu, kau sebaiknya mengatakannya sejak awal, Mas!”
“Jangan memutarbalikkan perkataanku.” Rashid mulai menghela napas lelah, kepalanya mulai terasa berdenyut-denyut lagi.
“Kalau begitu, jangan bandingkan aku dengannya!” sentak Marissa lalu berjalan pergi dari hadapannya sambil menjinjing tas mahal dan barang-barang belanjaannya.
Rashid menutup mata sejenak. Ia tidak ingin bertengkar, tetapi melihat jumlah pengeluaran itu membuat kepalanya semakin pusing. Bisnisnya sedang membutuhkan banyak dana dan ia tidak bisa membiarkan pengeluaran pribadi membengkak tanpa kendali.
Ia kembali duduk perlahan. Matanya jatuh pada laporan pengeluaran di atas meja. Untuk beberapa saat, pikirannya kembali kepada Kinara. Dulu, ketika mereka masih bersama, perempuan itu selalu memastikan kebutuhan rumah terpenuhi sebelum memikirkan dirinya sendiri.
Ia bahkan sering menyisihkan uang untuk membeli sesuatu yang disukai Rashid. Dan yang jelas, Kinara tidak pernah menuntutnya dan tidak pernah menghitung apa yang telah ia korbankan. Rashid mengusap wajahnya kasar, “Kenapa sekarang aku baru menyadarinya?”