“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kangen Ibu...
Udara malam mulai menusuk kulitnya yang hanya terbalut piyama tipis. Celin meringkuk, memeluk lututnya sendiri. Dari sofa itu, ia bisa menatap langit malam melalui jendela. Bayangan ibunya kembali melintas.
Ibunya pasti akan menangis jika melihat putri kesayangannya diperlakukan seperti barang tak berharga.
"Ibu... aku kangen," bisiknya nyaris tak terdengar.
Di sisi lain kamar, Reja sebenarnya belum tidur. Ia membelakangi sofa itu, namun telinganya menangkap setiap gerakan kecil Celin. Ia mendengar suara giginya yang bergeletuk karena kedinginan.
Ada dorongan aneh di hatinya untuk melempar satu bantal atau selimut tambahan, namun egonya segera membunuh niat itu.
"Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue," batin Reja mencoba membenarkan diri.
Reja tidak bisa memejamkan mata. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang tinggi, namun pikirannya melayang jauh ke tiga minggu yang lalu saat dunianya yang bebas tiba-tiba dirantai oleh keputusan sepihak ayahnya.
Flashback On
Tiga Minggu yang Lalu – Ruang Kerja Adrian Bagaskara
"APA?! MENIKAH?!"
Suara Reja menggelegar, membentur dinding-dinding ruang kerja ayahnya yang penuh dengan deretan buku hukum dan bisnis. Ia berdiri dengan napas memburu, menatap Adrian Bagaskara dengan mata menyala karena amarah.
"Papa gila? Reja masih SMA! Reja punya masa depan, punya pilihan sendiri! Papa nggak bisa seenaknya beli hidup Reja buat dijodohin sama orang yang bahkan Reja nggak tahu siapa namanya!"
Di sudut ruangan, Livia Anggriani berdiri dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang cangkir teh. "Pa, pikirkan lagi. Reja benar. Anak kita harus menikah dengan gadis dari keluarga terpandang, seperti Tania. Bukan dengan gadis asing entah dari mana ini!"
Adrian tidak bergeming. Ia hanya menyesap kopinya dengan tenang sebelum melempar sebuah map cokelat ke atas meja kayu jati itu.
"Lihat itu, Reja," ucap Adrian dingin. "Ayah gadis ini adalah pecandu judi kelas berat. Dia meminjam uang dalam jumlah yang bahkan tidak sanggup kamu bayangkan untuk tujuh turunan. Dan satu-satunya jaminan yang dia punya hanyalah putrinya."
Reja menyambar map itu, membacanya dengan cepat. Lembar demi lembar berisi rincian utang dan bunga yang menumpuk, diakhiri dengan selembar foto seorang gadis dengan seragam sekolah yang terlihat kusam namun matanya menatap tajam ke kamera. Celin.
"Dia tidak punya apa-apa lagi untuk melunasi utang itu," lanjut Adrian. "Papa ingin gadis ini ada di bawah pengawasan keluarga kita. Papa ingin kamu yang membinanya, menjadikannya bagian dari keluarga ini agar dia punya masa depan, sekaligus sebagai jaminan agar ayahnya tidak lari."
Reja tertegun sejenak. Amarahnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap. Sebuah ide gila mulai merayap di kepalanya. Jika gadis ini adalah "barang jaminan", maka dia adalah miliknya.
Barang yang bisa dia pakai, dia rusaki, atau dia hancurkan sesuka hati sebagai pelampiasan atas paksaan ayahnya ini.
Reja perlahan menurunkan map itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyum miring yang jahat—senyum yang membuat Livia bergidik ngeri.
"Oke, Pa. Reja terima," ucapnya tenang, suaranya kini terdengar seperti desisan ular.
"Reja bakal nikahin dia. Tapi jangan harap Reja bakal jadi suami yang baik buat 'budak' itu. Jangan harap ada cinta. Reja bakal pastiin dia nyesel karena udah lahir dari rahim ibu yang gagal dan ayah yang sampah."
Flashback Off
Reja memiringkan tubuhnya ke samping. Di sana, di bawah cahaya bulan yang masuk dari sela-sela gorden, ia melihat punggung kecil Celin yang membelakanginya di atas sofa.
Reja menatap punggung itu dengan tatapan benci yang tak luntur. Setiap kali ia melihat Celin, ia diingatkan pada fakta bahwa kebebasannya telah dirampas. Dan setiap kali itu pula, ia merasa berhak untuk merampas kedamaian gadis itu sebagai gantinya.
"Lo pikir lo bisa dapet perlindungan di rumah ini cuma karena Papa suka sama lo?" batin Reja sambil terus menatap tajam ke arah Celin yang tak bergerak.
"Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo, dan lo sebagai orang yang bakal gue hancurin tiap kali gue ngerasa hidup gue nggak adil."
Reja memejamkan mata, namun bayangan saat ia setuju untuk membeli hidup Celin tetap terpatri kuat di benaknya. Ia tidak akan membiarkan Celin tenang. Tidak malam ini, tidak besok, dan tidak selamanya selama surat kontrak itu masih ada di tangan ayahnya.
Suasana hening itu tiba-tiba pecah oleh suara lirih dari arah sofa. "Hutang bokap gue... tinggal berapa lagi?"
Reja berbalik, menatap bayangan Celin yang meringkuk di bawah cahaya bulan. "Banyak. Kenapa? Lo udah mau menyerah?"
"Nggak," jawab Celin tenang. "Gue cuma lagi ngitung, berapa banyak luka lagi yang harus gue buat di badan gue sendiri. Karena setiap kali lo atau nyokap lo ngehina gue, rasanya lebih sakit daripada sayatan pisau."
Reja terdiam. Kata-kata Celin barusan tidak terdengar seperti keluhan, melainkan sebuah pernyataan fakta yang dingin. Reja melihat tangan Celin yang terjuntai dari sofa, perban putihnya terlihat kontras di kegelapan.
"Lo... kenapa suka nyayat tangan lo sendiri?" tanya Reja tiba-tiba. Suaranya tidak sekasar biasanya, ada sedikit nada penasaran yang ia sembunyikan.
Celin terkekeh pendek, suara tawa yang paling menyedihkan yang pernah Reja dengar. "Karena cuma rasa sakit itu yang bisa gue kontrol. Bokap gue ngontrol hidup gue, bokap lo beli hidup gue, dan lo... lo nyiksa hidup gue. Tapi rasa perih di tangan gue? Itu milik gue. Gue yang nentuin kapan dimulai, dan kapan berakhir."
Reja tertegun. Ia membuang muka kembali ke dinding. Hatinya merasa tidak nyaman. Ia sering membully orang di sekolah, ia sering nakal, tapi ia belum pernah menghadapi seseorang yang sudah hancur sedalam Celin.
"Tidur lo. Besok jangan telat bangun atau gue seret lo ke sekolah," ketus Reja, berusaha menutupi kegelisahannya.
Celin tidak menjawab. Ia menutup matanya, membiarkan dinginnya angin jendela merasuk ke tulang-tulangnya. Di tengah kegelapan itu, Celin kembali meraba luka di pergelangan tangannya.
Di rumah mewah ini, di atas sofa yang keras, Celin menyadari bahwa dia benar-benar sendirian. Satu-satunya teman setianya hanyalah rasa sakit yang selalu ia simpan rapat-rapat.
'Satu hari lagi, Celin. Bertahanlah satu hari lagi,' batinnya sebelum akhirnya kelelahan membawanya masuk ke dalam mimpi yang penuh dengan aroma melati ibunya.
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela besar langsung menghujam mata Celin. Ia terbangun dengan leher yang kaku dan sekujur tubuh yang terasa pegal akibat tidur meringkuk di sofa kulit yang sempit.
Udara pagi itu terasa jauh lebih dingin, membuatnya menyadari bahwa semalam ia tidur tanpa selimut sama sekali.
Di atas ranjang besar, Reja sudah tidak ada. Sprei sutranya berantakan, menandakan pemiliknya sudah bangun lebih awal. Celin menghela napas, bangkit perlahan, dan menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar itu.
Wajahnya pucat, sudut bibirnya masih sedikit membiru, namun matanya tetap menyorotkan ketegasan yang sama.
Ia segera bersiap, memakai seragam putih abu-abunya dengan sangat rapi. Sebelum keluar kamar, ia memastikan jam tangan lebarnya terpasang kencang, menyembunyikan rahasia di pergelangan tangan kirinya.
Bersambung...