Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Menu Baru
Bel tanda berakhirnya jam pelajaran keempat berbunyi nyaring, membawa napas lega bagi seluruh penghuni kelas 10D. Waktu istirahat kedua akhirnya tiba.
Kalau pada jam istirahat pertama tadi Zahra absen dari formasi karena sibuk membantu teman sekelasnya mengerjakan tugas kelompok, kali ini formasi trio itu kembali lengkap. Danu, Rio, dan Zahra berjalan beriringan menyusuri koridor menuju kantin yang sudah mulai padat merayap.
Zahra tampak sangat bersemangat. Gadis itu bahkan berjalan mundur sambil menghadap ke arah Danu dan Rio, mengabaikan risiko menabrak orang di belakangnya.
"Weh, katanya ada menu baru di kantin hari ini, dan ini kesukaanku loh! Hayo tebak apa?" seru Zahra dengan mata berbinar-binar antusias.
Danu memegang dagunya, berpikir sejenak. "Hmm... es krim?" tebaknya polos.
Zahra menyilangkan jarinya membentuk huruf X. "Te-tot! Salah besar!"
Rio yang berjalan dengan kedua tangan di dalam saku celana langsung menyeletuk santai, "Pasti seblak, ya gak?"
Mata Zahra terbelalak kaget. Ia langsung berhenti berjalan mundur. "Iya! Kok lu tau sih, Yo?"
"Yaiyalah, dari gosip-gosip anak cewek di kelas pastinya. Beritanya udah nyebar dari pagi," jawab Rio bangga.
Zahra memicingkan matanya, menatap Rio dengan curiga. "Ouhh... ternyata lu diam-diam suka dengerin gosip juga ya?"
Rio gelagapan, buru-buru membantah. "Hah? Gak, bukan gitu konsepnya! Gue cuma gak sengaja dengar aja pas mereka lagi ngerumpi di depan meja gue."
"Ohh, bilang aja kepo," ledek Zahra sambil terkikik. Ia lalu berbalik menatap arah kantin. "Yaudah, kalian berdua tunggu di meja pojok sana aja, biar aku yang pesenin."
Rio menghentikan langkahnya. "Loh, kenapa? Tumben amat lu mau ngantre."
Danu yang berdiri di samping Rio hanya manggut-manggut setuju, memiliki pertanyaan yang persis sama di kepalanya. Tumben sekali seorang Zahra mau berdesak-desakan secara sukarela.
Zahra menyeringai misterius. "Hmm... karena hari ini aku lagi baik dan mau traktir kalian berdua! Tapi syaratnya... kalian juga harus makan seblak level pedas!"
Mata Rio nyaris keluar dari sarangnya. "APAA?! GAK MAU GUE!" tolak Rio mentah-mentah. "Lambung gue bisa protes!"
"Ayolah, ini kan aku yang traktir. Gratis, loh! Masa nolak rezeki?" bujuk Zahra dengan wajah dibuat sok memelas.
Mendengar kata sakti 'gratis', pertahanan Rio langsung goyah. Otak opportunisnya bekerja cepat. Ia menghela napas kasar. "Hmm, yaudah deh. Berhubung ini gratisan, gue terpaksa ngikutin permintaan lu kali ini."
"Heleh, bilang aja mau. Malu-malu kucing dasar," cibir Zahra. "Yaudah, tunggu di situ ya!"
"Y," jawab Rio sangat singkat dan sok cuek, lalu menarik Danu menuju meja kosong di sudut kantin.
Kondisi kantin siang itu benar-benar kacau. Antrean di stan seblak baru itu mengular panjang hingga nyaris menabrak stan siomay di sebelahnya. Danu dan Rio duduk manis, mengobrol ke sana kemari sambil sesekali menertawakan Zahra yang terlihat tenggelam di tengah lautan murid kelaparan.
Setelah hampir lima belas menit berlalu, Zahra akhirnya muncul membawa sebuah nampan berisi tiga mangkuk seblak yang kuahnya berwarna merah menyala. Asap panas mengepul dari mangkuk-mangkuk tersebut, membawa aroma kencur dan cabai yang sangat menusuk hidung.
Begitu nampan diletakkan di atas meja, Zahra langsung mengibaskan tangannya yang kepanasan. "Nih, ambil sendiri cepetan mangkuknya."
Rio langsung mengambil bagiannya sambil bersungut-sungut. "Iya, iya. Kok lama banget sih lu? Keburu lumutan gue nungguin."
Zahra langsung melotot. "Lu gak liat apa pelanggan yang ngantre tadi sebanyak apa?! Gue harus desak-desakan, sikut-sikutan nih demi dapetin ini!"
"Oh," balas Rio tanpa rasa bersalah.
Zahra hanya bisa mengelus dada, memilih mengabaikan perdebatan itu daripada mood makannya hancur. Ia mematahkan sumpit kayunya. "Udah ah, selamat makan!"
Slurrrpppp.
Ketiganya mulai menyuap kuah dan kerupuk seblak itu ke dalam mulut. Di suapan pertama, kelezatan bumbunya memang langsung memanjakan lidah.
"Emmm, enak banget gila bumbunya," puji Rio dengan mulut penuh.
Namun, beberapa detik kemudian, efek sampingnya mulai bekerja. Wajah Rio perlahan memerah. "Huh hah... iya enak, tapi lama-lama pedes banget, njir!" keluhnya sambil mengipasi mulut dengan tangan.
Wajah Danu tak jauh berbeda. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya. Ia buru-buru meminum es tehnya. "Iya... pedes banget sumpah. Kamu taruh tambahan apa sih di kuahnya, Zahra?"
"Cabai ekstra lah, yakali gula merah!" jawab Zahra dengan wajah santai, padahal bibirnya juga sudah mulai memerah.
"Loh, kenapa ditambahin lagi?!" protes Danu dan Rio serentak.
Zahra tiba-tiba menepuk meja pelan, matanya menatap tajam kedua temannya bergantian. "Karena... tantangan baru saja dimulai! Siapa yang nyerah duluan dan gak bisa habisin seblak ini, dia adalah pecundangnya!"
Mendengar deklarasi perang itu, Danu yang sudah kepedesan setengah mati langsung mengangkat kedua tangannya ke udara. "Duh... aku nyerah aja deh. Serius, aku gak kuat pedes, lambungku bisa meledak."
Melihat Danu yang menyerah di menit pertama, Rio mendecak kecewa. "Yahh... payah lu, Dan. Masa baru segini doang udah angkat bendera putih? Yaudah, lu mundur aja, biar gue yang hadapin. Ayo, Zahra, by one kita!" tantang Rio tak mau kalah.
Zahra menyeringai lebar, menerima tantangan itu. "Ayo! Siapa takut?!"
Dan dengan mundurnya Danu sebagai penonton sekaligus wasit dadakan, pertandingan menahan pedas yang mempertaruhkan harga diri antara Rio dan Zahra pun resmi dimulai!
Pertandingan sengit itu pun dimulai. Zahra menyantap mangkuk seblaknya dengan sangat mulus. Suapan demi suapan masuk ke mulutnya tanpa keraguan, seolah kuah merah menyala itu hanyalah kuah kaldu biasa. Sesekali ia mendesis kepedesan, tapi tangannya tak berhenti menyendok.
Di seberang meja, kondisi Rio justru berbanding terbalik. Pria itu sudah mandi keringat. Proses makannya melambat drastis karena ia terlalu sering memberi jeda untuk menenggak es teh manisnya. Bibirnya sudah membengkak merah dan napasnya terdengar berat.
Baru setengah mangkuk, Rio akhirnya meletakkan sendoknya dengan kasar ke atas meja.
"Huh... hah... udahlah, gue nyerah!" seru Rio sambil mengibarkan tangan ke udara bak bendera putih. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas tersengal.
Melihat kekalahan telak lawannya, Zahra langsung tertawa penuh kemenangan. "Hahaha, seru kan!"
Rio mengusap keringat di dahinya, lalu menatap Zahra dengan tatapan sinis. "Seru bagi lu doang sih, usus gue rasanya kayak lagi dibakar!" keluhnya sebal.
"Hahaha, makanya jangan sok jagoan nantangin," ledek Zahra puas.
Mendengar perdebatan konyol itu, Danu yang sejak tadi hanya menjadi penonton setia tak kuasa menahan tawanya. "Hahaha, bener tuh kata Zahra."
Mendengar tawa Danu, Rio langsung menoleh dan menunjuknya. "Loh, Danu, lu ngapain ikutan ketawa juga nih? Ayo sana, by one sama Zahra, gantiin posisi gue!"
Danu buru-buru menggelengkan kepalanya dengan cepat, mengangkat kedua tangan menolak. "Ehh, gak, gak usah. Makasih tawarannya, Yo. Hehe... lambungku masih pengen sehat."
"Haha, iya, gapapa mundur aja, Dan. Cukup buat seru-seruan doang," ucap Rio yang napasnya mulai teratur. Ia lalu menatap Zahra dengan raut wajah sedikit lebih serius. "Tapi beneran deh, kayaknya ini kuah bisa bikin ginjal gue bolong kalau keseringan. Mending lu jangan biasain makan seblak sepedas ini tiap hari deh, Ra."
Mendengar peringatan dari teman laki-lakinya itu, Zahra mencebikkan bibir. "Eleh, bawel. Gue juga tahu kali batasan diri sendiri. Aku tuh cuma makan yang pedes-pedes gini seminggu sekali aja kok buat refreshing."
"Ouhh, gitu. Syukur deh kalau lu nyadar," balas Rio sambil menghabiskan sisa es tehnya.
Danu melirik jam tangan hitam di pergelangan kirinya, lalu menatap kedua temannya. "Hmm, teman-teman... ayo kita balik masuk kelas. Dikit lagi pelajaran terakhir udah mau dimulai nih."
"Ayo!" jawab Rio dan Zahra serempak.
Tepat saat mereka bangun dari tempat duduk, bel tanda masuk berbunyi nyaring ke penjuru sekolah. Suara dentang itu seketika membuat para siswa-siswi yang masih berada di sekitar kantin panik dan mulai berlari menyusuri koridor. Mereka bergegas masuk kelas dengan satu motivasi utama: semangat menyambut jam pulang sekolah setelah seharian lelah belajar.
Selesai membuang sampah mangkuk dan gelas plastik mereka ke tempat sampah, Danu, Rio, dan Zahra berjalan menuju kelas dengan langkah mantap.
Satu jam pelajaran yang terasa panjang akhirnya benar-benar usai.
Bel pulang sekolah yang ditunggu-tunggu menggema. Lorong kelas yang tadinya sepi langsung dipenuhi lautan siswa-siswi yang berhamburan keluar. Mereka berjalan berbondong-bondong menuju area parkiran untuk mengambil motor atau menunggu jemputan.
Suasana sore itu terasa sangat hidup. Selain ada yang sibuk memanaskan mesin motor di parkiran, banyak juga anak-anak yang memilih nongkrong sebentar di depan gerbang. Sementara itu, beberapa siswi tampak asyik memegang ponsel, membuat update status tentang indahnya pemandangan langit sore yang mulai berwarna jingga kemerahan.
Di tengah keramaian itu, Danu, Rio, dan Zahra mulai berjalan beriringan ke arah luar gerbang menuju rumah masing-masing.
Ada yang berbeda dari langkah mereka sore ini. Danu berjalan dengan kepala tegak, membawa rasa percaya dirinya yang perlahan mulai meningkat seiring berjalannya waktu. Keberadaan teman-teman di sisinya memberinya secercah cahaya yang selama ini ia butuhkan.
Di sebelahnya, Rio berjalan sambil terus mengelus perutnya, wajahnya masih bersungut-sungut kesal karena jebakan pedas dari Zahra. Sementara Zahra? Gadis itu berjalan paling depan, tertawa lepas dan seru sendiri menjahili mereka berdua di sepanjang perjalanan pulang.
Hari yang biasa, namun terasa begitu istimewa bagi ketiganya.