NovelToon NovelToon
The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: BAGERAAA

Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi

Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.

Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.

Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.

Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.

Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.

Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.

Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.

Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.

Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.

Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.

Sampai akhir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERINTAH SANG KAISAR

Setelah Kaisar turun dari tangga dan tiba di aula utama, ia mulai menyambut para tamu yang hadir.

Anehnya, ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Aku hanya terdiam.

Dia tidak membahas keributan tadi?

Aku melirik ke arah pintu.

Jonatan sudah digotong keluar dari istana oleh anak buahnya karena masih tidak sadarkan diri.

Kaisar hanya tertawa tipis ketika melihatnya.

Seolah-olah kejadian tersebut hanyalah hal kecil.

Kemudian Kaisar mulai berbicara kepada seluruh bangsawan yang hadir.

"Para tamu sekalian, hari ini kita berkumpul untuk merayakan beberapa kemenangan besar Kekaisaran Varellion."

Suasana langsung menjadi serius.

Kaisar kemudian menjelaskan keberhasilan pasukan Kekaisaran dalam menahan serangan dari kerajaan lain di wilayah barat.

"Pasukan musuh yang menyerang diperkirakan mencapai tiga ratus ribu prajurit."

Aku langsung terkejut.

Seratus ribu saja sudah sangat banyak... ini tiga ratus ribu!

Namun Kaisar melanjutkan dengan tenang.

"Meski jumlah mereka sangat besar, pasukan Kekaisaran berhasil menahan serangan tersebut dan mempertahankan wilayah kita."

Aku bergumam,

"Tiga ratus ribu pasukan musuh berhasil ditahan oleh pasukan Kekaisaran..."

Aku merasa kagum.

Itu benar-benar luar biasa.

Aku semakin penasaran dengan orang yang memimpin pasukan Kekaisaran di wilayah barat.

Namun Kaisar tidak menjelaskan siapa jenderal yang bertugas di sana.

Ia juga mengatakan bahwa jenderal tersebut masih berada di medan perang dan tidak dapat dipanggil ke ibu kota.

Karena itu, Kaisar hanya bisa memberikan penghargaan atas kemenangan besar tersebut kepada pasukan yang telah bertempur.

Setelah itu, Kaisar mengalihkan pembicaraan kepada keberhasilan pasukan gabungan Kekaisaran dan Gereja di wilayah selatan.

"Selamat kepada Silvia dan Jonatan atas keberhasilan kalian menaklukkan beberapa wilayah milik Raja Iblis di selatan."

Beberapa bangsawan bertepuk tangan.

Aku melirik ke arah Silvia.

Ia hanya tersenyum dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat.

Kemudian Kaisar mengubah ekspresinya menjadi lebih serius.

"Namun, tidak semua kabar yang kita terima adalah kabar baik."

Suasana kembali hening.

"Kita juga harus menyampaikan belasungkawa atas gugurnya beberapa jenderal dan pasukan yang dikirim untuk menghadapi para bajak laut di wilayah laut."

Kaisar menghela napas.

"Situasi di wilayah laut utara juga masih belum jelas."

Beberapa bangsawan mulai saling menoleh.

Kekalahan di wilayah laut menjadi pembicaraan serius karena jumlah bajak laut yang semakin banyak.

Belum lagi kemunculan monster-monster laut yang berkeliaran di perairan.

Aku hanya mendengarkan.

Jadi, Kekaisaran juga menghadapi masalah dari laut...

Beberapa saat kemudian, Kaisar menoleh kepadaku.

"Dan tentu saja..."

Ia tersenyum.

"Kita juga tidak boleh melupakan keberhasilan Jenderal Iyan."

Semua orang langsung menoleh kepadaku.

Aku sedikit terkejut.

"Kekaisaran Varellion menerima kabar mengenai keberhasilanmu merebut kembali benteng-benteng di wilayah timur."

Bisikan langsung terdengar di antara para bangsawan.

"Dia berhasil merebut benteng timur?"

"Padahal wilayah itu sudah dikuasai monster selama bertahun-tahun."

"Aku mendengar banyak jenderal terkenal gugur di sana."

"Benar. Bahkan Kekaisaran pernah menghentikan ekspansi ke wilayah timur karena mengalami kekalahan besar."

Aku mendengar semua bisikan tersebut.

Jadi, mereka benar-benar tahu betapa berbahayanya wilayah timur.

Kaisar kemudian mengangkat tangannya.

"Atas keberhasilan tersebut, aku memberikan kenaikan gelar kepada Jenderal Iyan."

Aku terdiam.

"Kau sekarang akan mendapatkan gelar Baron."

Beberapa bangsawan langsung bertepuk tangan.

Namun bukan hanya aku.

Kaisar juga memberikan gelar Baron kepada Silvia dan Jonatan atas pencapaian mereka di wilayah selatan.

Aku melirik ke arah tempat Jonatan tadi berada.

Namun tentu saja...

Dia sudah tidak ada.

Silvia tiba-tiba mendekatiku.

"Waoo! Selamat atas kenaikan pangkatmu!"

Ia bahkan memelukku dengan santai.

Aku sedikit terkejut.

"Eh?"

Silvia tertawa.

"Selamat, Baron Iyan."

Aku hanya tersenyum kaku.

Kemudian aku melirik ke arah pintu.

"Jonatan juga mendapatkan gelar Baron?"

Silvia mengangguk santai.

"Jangan terlalu memikirkannya. Kejadian seperti tadi sudah sering terjadi."

Aku terdiam.

Pantas saja Kaisar bersikap santai.

Sepertinya keributan antarbangsawan memang bukan hal yang aneh di tempat ini.

Setelah memberikan beberapa penghargaan lainnya, Kaisar meninggalkan aula.

Namun perjamuan tetap berlanjut.

Para bangsawan yang mendapatkan kenaikan gelar mulai berpesta dan merayakan pencapaian mereka.

Aku sendiri masih menikmati suasana ketika seorang pengawal pribadi Kaisar datang menghampiriku.

"Baron Iyan."

Aku menoleh.

"Yang Mulia Kaisar memanggil Anda dan Lady Silvia untuk menemuinya secara pribadi."

Aku dan Silvia saling berpandangan.

"Baik," jawabku.

Tidak lama kemudian, aku dan Silvia tiba di sebuah ruangan pribadi.

Kami duduk berhadapan dengan Kaisar.

Hidangan telah tersedia di atas meja.

Suasananya jauh lebih tenang dibandingkan aula utama.

Kaisar bahkan terlihat santai sambil menikmati makanannya.

"Hahahaha! Makanlah."

Ia tertawa.

"Seharusnya Jonatan juga berada di sini."

Kaisar melirik ke arah kursi kosong.

"Sayangnya dia masih tidak sadarkan diri. Jadi hanya kalian berdua yang datang."

Aku sedikit canggung.

"Yang Mulia..."

Aku menundukkan kepala.

"Maaf atas keributan yang terjadi sebelumnya."

Kaisar hanya melambaikan tangannya.

"Sudahlah."

Ia tersenyum.

"Jangan terlalu memikirkannya. Makan saja."

Aku mengangguk.

"Baik, Yang Mulia."

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka.

Seorang wanita berambut kuning masuk dan berjalan santai menuju meja.

Ia kemudian duduk tidak jauh dari Kaisar dan mulai mengambil makanan.

Aku meliriknya.

Mataku langsung membesar.

Dia...

Aku mengenalinya.

Bukankah dia wanita yang kutemui di luar ibu kota?

Wanita yang sebelumnya sedang berdebat dengan pedagang budak.

Namun penampilannya sekarang benar-benar berbeda.

Saat pertama kali bertemu dengannya, ia mengenakan pakaian sederhana seperti seorang petualang.

Kini...

Ia mengenakan gaun mewah berwarna emas.

Rambut panjang berwarna kuning keemasan terurai dengan indah.

Penampilannya terlihat anggun seperti seorang putri kerajaan.

Kaisar kemudian memperkenalkannya.

"Kenalkan."

"Ini putri bungsuku."

"Namanya Elinor."

Aku hampir tersedak.

APA?!

Jadi dia putri Kaisar?!

Aku menatap Elinor dengan sedikit tidak percaya.

Elinor hanya melirikku sebentar.

Kemudian kembali makan seperti tidak terjadi apa-apa.

Kaisar melanjutkan,

"Aku sebenarnya ingin mengenalkan enam anakku yang lain kepada kalian. Sayangnya, mereka sedang tidak berada di kediaman."

Aku hanya mengangguk.

"Begitu rupanya."

Pembicaraan kemudian beralih kepada masalah Kekaisaran.

Aku dan Silvia mendengarkan penjelasan Kaisar mengenai peperangan dan alasan Kekaisaran terus melakukan ekspansi.

Kaisar memiliki tekad yang sangat kuat.

Ia ingin menyatukan Benua Salamander.

"Selama ribuan tahun, benua ini tidak pernah benar-benar mengenal kedamaian."

Kaisar menatap kami.

"Perang terus terjadi."

"Kerajaan melawan kerajaan."

"Manusia melawan monster."

"Raja Iblis melawan Kekaisaran."

Ia mengepalkan tangannya.

"Aku ingin mengakhiri semua itu."

Aku diam mendengarkan.

"Tujuanku adalah menyatukan Benua Salamander di bawah satu kekuasaan."

"Jika semua wilayah musuh tunduk kepada Kekaisaran Varellion, perang besar yang telah berlangsung selama ribuan tahun akhirnya dapat berakhir."

Aku mendengarkan dengan serius.

Jadi, dia ingin menyatukan seluruh benua dengan kekuatan Kekaisaran.

Kemudian Kaisar mulai membicarakan pencapaianku.

Ia menyebutkan keberhasilanku di wilayah timur.

Aku langsung terkejut.

Hah?

Bagaimana kaisar bisa mengetahui semua ini?

Aku kemudian teringat kepada Josep dan Serof.

Astaga...

Jadi dua bajingan itu melaporkan semua pencapaian di wilayah timur.

Aku mulai khawatir.

Semoga saja mereka tidak membocorkan masalah Necromancer dan kekuatan pemanggilku.

Kaisar kemudian tersenyum.

"Terima kasih, Jenderal Iyan."

"Kau berhasil melakukan sesuatu yang bahkan Kekaisaran gagal lakukan selama bertahun-tahun."

Aku hanya mengangguk.

Kaisar melanjutkan,

"Aku juga mendengar bahwa kau sedang membangun kembali benteng-benteng di wilayah timur."

"Dan kau bahkan mulai mengumpulkan lebih banyak rakyat."

Aku terdiam.

Kemudian tanpa sadar aku melirik Elinor.

Elinor juga sedang menatapku.

Ia kemudian mulai berbicara.

"Ayah mendapatkan informasi itu dariku."

Aku mengangkat alis.

"Darimu?"

Elinor mengangguk.

"Aku mengirim beberapa mata-mata ke wilayah timur."

"Mereka melihat sendiri pembangunan besar-besaran yang sedang berlangsung."

Ia menatapku.

"Mereka juga melaporkan bahwa wilayah timur mulai mengalami perkembangan dan ekspansi baru."

Elinor kemudian bertanya,

"Jadi, apa rencana Jenderal Iyan selanjutnya?"

Aku menjawab datar.

"Aku ingin memperluas wilayah timur."

Aku berhenti sebentar.

"Dan mengumpulkan lebih banyak material serta rakyat."

Kaisar tersenyum tipis.

"Begitu rupanya."

Ia kemudian bertanya dengan nada santai.

"Jadi, apa yang sebenarnya ingin dilakukan seorang jenderal yang memiliki kemampuan untuk memperluas wilayah timur?"

Aku terdiam.

Ini pertanyaan jebakan.

Aku tahu aku harus berhati-hati.

Namun setelah berpikir beberapa saat, aku berdiri.

Aku menatap Kaisar secara langsung.

"Aku ingin menguasai seluruh Benua Salamander."

Ruangan langsung hening.

Aku melanjutkan.

"Caranya adalah dengan membuat seluruh musuh Kekaisaran tunduk kepada satu bendera."

Kaisar terdiam beberapa detik.

Kemudian...

Ia tersenyum.

Senyum yang semakin lebar.

"HIAHAHAHAHAHA!"

Tawanya memenuhi ruangan.

"Kau memang anak yang menarik!"

Aku hanya berdiri diam.

Sementara di dalam pikirannya, Kaisar mulai menilai ambisiku.

Anak ini memiliki ambisi yang luar biasa besar.

Bahkan lebih besar daripada ambisiku.

Ambisiku hanya ingin menguasai Benua Salamander.

Namun anak ini ingin menguasai seluruh wilayahnya.

Kaisar kembali tertawa kecil.

Kemudian ia mengangkat tangannya.

"Sudahlah."

"Kita lanjutkan makan."

Aku akhirnya duduk kembali.

Namun pembicaraan belum selesai.

Kaisar kemudian menoleh kepada Elinor.

"Elinor."

"Ya, Ayah?"

"Kau akan pergi bersama Jenderal Iyan ke wilayah timur."

Elinor langsung membeku.

"...Apa?"

Aku yang sedang minum langsung tersedak.

Khek!

Silvia juga hampir tersedak.

Kami bertiga menatap Kaisar.

Elinor kemudian berdiri.

"Ayah serius?"

Kaisar mengangguk.

"Ya."

Elinor terlihat tidak percaya.

"Kenapa aku harus pergi ke wilayah timur?"

Kaisar menjawab tegas,

"DIAM."

Elinor langsung terdiam.

"Kau akan pergi bersama Jenderal Iyan."

"Kau akan membantunya memperluas wilayah timur."

Elinor mengerutkan dahi.

Ia kemudian menatapku.

Aku hanya bisa berkeringat dingin.

Astaga...

Wanita cantik ini ternyata bisa seseram itu ketika marah.

Kaisar kemudian menjelaskan alasannya.

"Aku mendapatkan informasi bahwa kerajaan di wilayah barat kemungkinan akan membentuk aliansi besar untuk menyerang Kekaisaran."

"Jika serangan mereka berhasil menembus pertahanan barat, aku membutuhkan lebih banyak kekuatan untuk mempertahankan Kekaisaran."

Ia menatap Elinor.

"Karena itu, kau akan pergi ke timur bersama Jenderal Iyan."

"Aku juga akan mengirim 3.000 prajurit elite Kekaisaran untuk mendampingimu."

Aku hanya terdiam mendengar keputusan tersebut.

Kemudian aku melirik Silvia.

Ia juga terlihat cukup terkejut.

Kaisar kemudian mengalihkan pandangannya kepada Silvia.

"Silvia."

Silvia langsung berdiri.

"Yang Mulia?"

"Kau dan Jonatan akan tetap berada di wilayah barat untuk membantu menahan kemungkinan serangan gabungan."

Silvia menundukkan kepala.

"Baik, Yang Mulia Kaisar."

Aku mulai menyadari bahwa keputusan Kaisar benar-benar mutlak.

Tidak ada ruang untuk menolaknya.

Aku akhirnya harus kembali ke wilayah timur.

Dan kali ini...

Aku tidak akan pergi sendirian.

Aku akan membawa Putri Elinor, bersama 3.000 prajurit elite Kekaisaran Varellion.

Keberangkatan kami ditetapkan...

Tujuh hari lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!